Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
12. SOSOK TANTE ATI


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Panas terik matahari pagi ini begitu menyengat di pori-pori tubuhku bukan sebuah sengatan yang begitu menikam setiap lapisan kulit tapi kehangatan panas matahari yang menghangatkan kami. Suara teriakan anak-anak seusiaku tentu saja teman-temanku, mereka berlari berusaha menjauh dariku yang mengejarnya sambil memegang sebuah sandal yang akan aku lemparkan pada teman-temanku yang kini menjadi sebuah lawan dalam permainan ini.


Kali ini permainan yang dimainkan tetap sama dengan permainan beberapa hari yang lalu kami mainkan. Aku terperosot pada sebuah lubang kecil bekas kalian pinggir tempat pembakaran batu bata. Sebuah lubang yang digunakan untuk menampung air agar tidak tergenang dan menghancurkan batu bata kering yang berada di dalam sebuah tempat pembakaran yang kami sebut bansal.


Semua teman-temanku tertawa dan aku hanya tertawa kecil lalu menggaruk kepalaku yang tak gatal. Rasanya cukup malu jika jatuh seperti ini. Aku ikut tertawa menertawakan diriku dan tak berselang lama tawa mereka terhenti saat aku kembali melajukan langkahku untuk mengejarnya.


Aku melajukan lariku sekuat mungkin mengejar sosok Ami yang kini semakin dekat dengan diriku. Aku dengan sikap melempar sendal yang aku pegang entah siapa sendal ini yang aku pegang. Aku melemparnya sekuat mungkin berusaha mendaratkan sendal itu pada Ami.


Pruak!!!


Ami tersungkur di tanah setelah sendal itu berhasil mengenai bagian punggungnya. Semua teman-temanku juga ikut tertawa begitu juga dengan aku. Aku memegang perutku saat aku tertawa terbahak-bahak sambil menunjuknya yang juga ikut tertawa, tubuhnya masih terbaring di atas tanah.


Aku tak berniat untuk menertawakannya hanya saja ini terlalu lucu jika harus dibiarkan berlalu dengan ekspresi wajah datar.


"Makanya kau hati-hati jika ingin berlari!" ujar Angga yang memberikan nasehat.


"Lihat sekarang kau sudah jatuh," tambahku yang setelahnya kembali tertawa.


Suara tawa aku terhenti setelah mendengar suara pertengkaran antara Ririn dan Cai. Aku menoleh menatap dua bocah perempuan itu yang saling mendorong. Ah, lagi Dan lagi kedua orang itu kembali bertengkar beradu mulut dan beradu fisik.


"Kau yang menginjakku tadi."


"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku hanya tidak sengaja. Apa kau tidak punya telinga untuk mendengar?"

__ADS_1


"Berarti kau menginjakku. Jelas-jelas kau tadi menginjakku."


"Iya aku tahu aku sudah menginjak kau tapi aku tidak sengaja."


"Kau sengaja melakukannya!" teriaknya begitu kencang.


"Tidak aku tidak sengaja," belanya lagi.


Cukup lama mereka beradu mulut dan saling mendorong hingga Ririn yang memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan dengan Cai yang memiliki postur tubuh lebih besar malah terhempas ke tanah. Ririn tersungkur hingga lututnya terbentur ke permukaan bebatuan kasar cukup keras. Ia menjerit, menangis sambil mendongak ke langit-langit luas dengan air mata yang telah mengalir membasahi pipinya.


Ririn semakin menjerit saat darah segar keluar dari sobekan kulit bagian lututnya, kakinya berdarah aku bisa melihat hal itu.


"Yah kenapa itu?"


Suara teriakan suara wanita terdengar membuat aku dan Angga dan juga dengan yang lainnya menoleh menatap sosok perempuan berusia sekitar 20 tahun yang merupakan kakak kandung dari Cai.


Ia terlihat menopang pinggang dan menghentikan aktivitas bekerjanya sembari menetap ke arah kami.


"Mereka berkelahi," adu Ami begitu sangat jujur sambil menunjuk ke arah Ririn dan Cai.


"Itu bukan salah aku, dia yang menginjak kakiku lebih dulu," bela Cai sebelum ia benar-benar disalahkan.


"Tapi aku tidak sengaja," bela Ririn yang masih diiringi dengan mengisahkan tangis.


"Berhentilah menangis!" pinta Kakak Nur.

__ADS_1


Bukan malah mematuhi perintah kakak Nur, Ririn bahkan tambah meninggikan nada suara tangisannya membuat kakak Nur nampak membulatkan kedua matanya.


"Hentikan suara tangisanmu itu kalau tidak aku akan memukulmu!" ancamnya sambil meraih sebuah kayu yang tidak jauh dari dirinya.


Tak peduli dengan hal itu, aku bahkan sudah takut jika mendengarnya tetapi Ririn, bocah perempuan yang memang suka menangis itu malah meninggikan nada suara tangisannya membuat kakak Nur melangkah ke arah kami sambil membawa sebuah kayu membuat aku, Angga, Ami segera berlari sementara Cai dengan cepat ikut berlari namun langkahnya terhenti ketika Ririn berusaha bangkit dari tanah aku menghentikan langkahku tak tega melihat sosok dua itu yang telah nyaris didekati oleh kakak Nur.


Satu hal yang membuat aku kagum dari kedua orang itu, Cai dan Ririn walaupun mereka selalu berkelahi tapi tetap saja mereka tidak ingin melihat salah satu dari mereka ada yang dipukul oleh kakak Nur.


Cai terlihat berlari ke arah Ririn lalu membantu keponakannya itu untuk bangkit dari tanah dan berlari walau langkah kaki Ririn terlihat pincang.


Aku melihat sosok kakak Nur yang kini tertawa dan sejujurnya wanita berusia 20 tahun itu tidak sepenuhnya marah, dia hanya mengancam dan tidak sepenuhnya ingin benar-benar memukul. Kejadian dimana Cai dan Ririn yang berlari dengan kaki pincang membuat gelak tawa mereka.


Di sini bukan hanya ada kakak Nur tapi ada kedua orang tua kakak Nur dan juga adiknya yang berusia 18 tahun. mereka sekeluarga bekerja untuk membiayai kehidupan dan kuliah.


Kakak Nur adalah wanita yang kini menempu di bagian perkuliahan jurusan perawat sedangkan kakak Har kini menempuh pendidikan kuliah di jurusan akuntansi. Aku cukup salut pada tante Ati, ibu dari Cai yang telah menyekolahkan tinggi kedua anaknya walau hanya memiliki sebuah pekerjaan yang menurut orang cukup keras dan begitu melelahkan.


Apakah kalian ingin mendengar penjelasan atau cerita tentang Tante ati? Wanita yang selalu memberikan aku ikan saat menantunya telah balik dari mencari ikan di laut lepas.


Iya mungkin saja kalian akan tertarik tapi semoga saja sosok Tante ati bisa menjadi contoh untuk semua orang. Aku terkadang sering melamun menatap aktivitas sosok wanita paruh baya itu, dia adalah sosok wanita yang benar-benar tangguh karena telah menyekolahkan dua anak sekaligus.


Sepertinya bukan hal yang begitu mudah, cukup sulit dan terlebih lagi aku pernah mendengar jika pembayaran untuk kuliah itu sangatlah mahal.


Kini aku percaya pada ujaran sang emak jika sekolah bukanlah hal yang mudah karena aku melihat gambaran rasa kesusahan itu pada sosok Tante ati. Sebuah lapangan besar nyaris penuh setiap hari dipenuhi dengan batu bata yang masih basah dengan alasan agar gaji yang dia dapat banyak dan itu semua agar ia bisa menyelesaikan kuliah kedua putri-putrinya itu.


Cukup kagum aku pada sosok Tante ati bahkan kekaguman ku ini selalu saja muncul setiap hari saat melihat mereka. Mungkin ada banyak orang yang merasa lelah dalam bekerja tapi tidak pada sosok wanita itu. Jika saja aku punya emak seperti Tante ati mungkin aku sudah sekolah seperti Ririn dan Cai tapi Tuhan telah mengirimkan aku pada sosok emak yang terlihat begitu berat untuk menyekolahkan anaknya.

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2