Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
25. NASI KUNING


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Aku duduk di atas papan berkayu yang ada di sebuah pasar sambil menyaksikan orang yang berlalu-lalang dan sibuk memilih barang-barang yang akan ia beli. Aku kini hanya bisa diam mematung menatap satu persatu kesibukan orang-orang yang ada di pasar ini.


Sudah sejak tadi aku menunggu di sini bahkan aku hampir saja merasa jika wanita yang aku sebut tante itu sepertinya telah meninggalkan aku di pasar ini sendirian.


Baru saja aku dibuat gelisah dengan pikiran negatifku itu kini tak berselang lama aku dibuat kaget lalu dengan cepat bangkit dari sebuah papan yang sejak tadi aku duduki setelah aku melihat tante berpakaian warna merah melangkah mendekatiku.


"Kita pulang sekarang! Aku sudah beli nasi kuning untuk kau. Kau makan dan kau ambil nasi bungkus ini lalu aku akan mengantar kau pulang," ujarnya lalu setelah itu ia melangkah di depanku sementara aku mengikutinya dari belakang persis seperti sebuah ekor.


Aku tak menggenggam pergelangan tangannya lagi karena kedua tangannya telah dipenuhi dengan jinjingan kantong kresek berisi sayur-sayuran dan entahlah aku tidak terlalu bisa melihatnya.


Bukankah itu urusan pribadi dan aku tidak boleh mengintip barang yang ia beli. Hah, aku juga tidak mengerti mengapa sekarang kalimatku jadi sedewasa itu. Apakah mungkin karena efek dari belajar kemarin? Tapi apakah mungkin juga tiga huruf itu bisa mengubah sebuah akal pikiran seseorang?


Ya, Sepertinya akan jadi seperti itu. Belajar memang merubah pandangan ataupun pemikiran seseorang dan sepertinya itulah pentingnya sekolah.


...***...


Rahang aku bergerak saat aku mengunyah suapan demi suapan nasi kuning yang mendarat masuk ke dalam rongga mulutku. Aku bisa merasakan sensasi aroma kunyit dengan bumbu rempah yang begitu sangat nikmat membuat aku mengunyah makanan ini sambil sesekali tersenyum.


Masakan yang dibeli memanglah sangat nikmat terlebih lagi karena gratis dan aku tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan ini. Hanya saja yang membuat aku sedih dan tak melengkapi kelezatan makanan ini adalah kondisi emak sekarang.


Aku merasa khawatir apa yang terjadi dengan emak. Tak ada seorang pun yang memberikan aku sebuah info mengenai keadaan emak sekarang. Jujur atau pun tidak, melebih-lebihkan atau bertutur yang semestinya tapi inilah sebuah kenyataan kalau Ari benar-benar sangat merindukan sosok emak walaupun emak sangat suka marah dan memarahi Ari habis-habisan tapi tanpa ada emak rasanya sangat sunyi sesunyi tempat yang aku lihat saat ini.

__ADS_1


Seperti biasa kini aku duduk di atas tanggul seorang diri tanpa ada teman-teman yang menemani aku di tempat ini. Hari ini adalah hari senin, seperti biasa teman-teman pasti sibuk dengan sekolahnya terlebih lagi kata teman-teman jika hari senin maka ada kegiatan upacara yang baru saja aku ketahui jika upacara itu adalah penaikan bendera merah putih. Aku belum pernah melihatnya dan aku akan bertekad melihatnya nanti jika aku telah sekolah kelak.


Aku mengusap wadah pembungkus nasi kuning itu hingga bersih, menjilatinya sampai tak tersisa. Aku bisa melihat jika pembungkus nasi kuning yang berwarna kecoklatan itu nampak begitu mengkilat, terlalu bersih untuk harus digambarkan dengan sebuah kata-kata.


Aku benar-benar menghabiskannya tanpa menyisakan sebutir nasi pun. Bukan karena kelaparan tapi emak selalu bilang kalau beras yang dijual di pasar sangatlah mahal dan tentu saja nasi kuning yang tante itu belikan untuk aku memiliki harga yang sangat mahal karena nasi bungkus yang telah dibeli itu dilengkapi dengan lauk pauk seperti telur setengah biji, saus sedikit, tempe, mie dan gorengan-gorengan kentang yang diiris tipis-tipis lalu digoreng dan dicampur dengan sedikit penyedap.


Setelah merasa perut aku kenyang, aku meneguk segelas air yang berada di dalam plastik yang tante itu beli di pinggir jalan tadi saat perjalanan pulang.


Aku sangat beruntung diajak ke pasar bersama dengan tante yang telah memberikan aku nasi kuning itu. Setelah kenyang aku pun bergegas untuk pulang ke rumah. Ya, mungkin saja emak dan bapak telah pulang.


Aku sedikit berlari saat sesekali orang menatapku sambil berbisik. Mungkin saja mereka masih membahas tentang emak yang dibawah ke rumah sakit tadi pagi. Aku sedikit tak mengerti dibuatnya. Memangnya apa yang salah jika emak dirujuk ke rumah sakit?


"Ari!"


"Apakah emak kau sudah pulang dari rumah sakit?"


"Ari juga tidak tahu. Ari baru mau pulang ke rumah."


Wanita berhijab coklat itu mengangguk lalu tak berselang lama ia kembali bicara, "Tapi sepertinya emak ada bapak kau itu belum pulang karena aku belum melihat mobil ambulance datang ke rumah kau."


Aku melangkah mendekati wanita itu, sepertinya berbicara dengan jarak jauh hanya membuat orang-orang semakin menatap ke arah aku.


"Memangnya Mama aku lama pulang?" tanya ku yang benar-benar tidak tahu.

__ADS_1


"Tentu saja lama, dia kan harus menginap di rumah sakit."


"Menginap? harus menginap memangnya?"


"Kau tidak tahu? Emak kau itu melahirkan dan ari-arinya tidak mau keluar. Bayinya sudah keluar berjam-jam tapi ari-arinya tidak mau keluar."


"Dukun yang membantu melahirkan emak kau itu tidak berpengalaman jadi ari-arinya tidak keluar. Mungkin saja emak kok menginap paling lama 3 hari."


"3 hari?" tanya ku begitu panik.


"Iya 3 hari. Banyak orang yang seperti itu lalu mereka menginap 3 hari, itu sudah paling lama tapi kalau emak kau sehat-sehat saja dan dia cepat pulih maka dua hari saja tidak sampai."


Aku mengangguk sambil tersenyum tipis lalu beranjak pergi dan benar saja langkahku memelan saat aku menatap ke arah pintu rumah yang nampak masih tertutup rapat, tak ada bedanya dan tak ada perubahan saat aku meninggalkan rumah tadi.


Aku duduk di teras rumah, mendongak menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Emak dan bapak belum juga pulang. Apakah mereka tidak mengingat Ari dan mereka tidak memikirkan Ari sehingga belum juga pulang dari rumah sakit.


Seharusnya jika benar bapak dan emak bermalam atau menginap di rumah sakit seharusnya mereka juga membawa Ari. Jika seperti ini maka siapa yang akan menjaga Ari.


Ari juga tidak ingin menyusahkan tante yang telah memberikan Ari nasi kuning. Aku menghela nafas pendek lalu panjang. Entahlah saat ini aku benar-benar merasa sangat lelah.


Aku menguap lebar-lebar saat terasa kantuk yang telah tiba membuat mataku mengerjakan beberapa kali hingga tertutup membuat aku benar-benar tidak melihat apa-apa lagi. Gelap dan ini yang aku rasakan. Untuk membawa aku pada sebuah kehangatan yang menghanyutkan. Hari ini sepertinya sangat melelahkan dan tidur adalah salah satu solusinya.


Tidur disaat perut kenyang adalah hal yang paling terindah di dalam hidupku.

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2