Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
9. KENAPA ARI TIDAK?


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


"Mak setelah Ari mengambil air di sungai kita akan pergi mendaftar sekolah, kan? Kalau ingin mendaftar sekolah tunggu Ari! Ari mengambil air dulu."


Itu yang dikatakan Ari yang kemudian melangkah pergi meninggalkan sosok emaknya yang kini terdiam mematung menatap area pintu.


Emaknya menghela nafas panjang, ia duduk di atas kursi dengan tatapannya yang menatap ke arah pintu, sosok bayangan Ari dengan kalimatnya seakan masih terbayang serta juga terngiang-ngiang dan berhasil membuatnya mematung untuk beberapa menit di kursi duduk.


...****************...


Ari meneggelamkan sebuah ember berwarna hitam mengisi ruang ember hitam itu dengan air yang mengalir melewati bebatuan besar sungai. Air sungai ini merupakan sebuah harapan untuk para penduduk yang tinggal di pinggiran sungai walaupun banyak yang mengatakan jika ini telah tercemar namun, itu tidak pernah membuat warga di sekitar sini menjadi khawatir.


Dulu sungai ini merupakan sungai yang begitu sangat bersih, jernih, tanpa ada sampah namun, seiring waktu berjalan ditambah lagi dengan para pemilik pabrik yang membuang ampas tempe serta tahu ke sungai membuat air sungai ini terasa gatal jika tubuh direndam terlalu lama.


Bapak pernah mengeluh gatal-gatal jikalau ia menggali pasir di sungai ini tapi itu bukan sebuah halangan atau hambatan, demi uang bapak rela menahan rasa gatal itu untuk sesuap nasi.


Otot-otot kecilku menegang saat aku memaksakan diri menjinjing ember itu daru sungai ke rumah. Walaupun jarak antara rumah dan sungai tidaklah terlalu jauh tapi tetap saja membutuhkan tenaga yang banyak untuk membawa air ini.


Bagian betisku basah dikarenakan air yang tumpah ke bagian kaki saat terbentur-bentur. Aku tak menghiraukannya aku memaksakan diri agar cepat sampai di rumah aku berlari kecil masih menjinjing ember itu dan menuangkannya ke dalam kendi serta wadah besar khusus untuk air.


Aku mengusap keringat yang mengalir di dahiku yang membasahi wajah memperlihatkan betapa lelahnya diriku. Bukan hanya sekali aku mengambil air tapi berulang kali hingga kendi dan beberapa wadah tempat air itu menjadi penuh.


Aku terduduk di pinggir sungai tepatnya di atas batu besar. Kedua lengan tanganku telah lelah untuk menjinjing ember-ember berisi air untuk mengisi wadah, sepertinya tenagaku sudah habis aku benar-benar lelah sekarang. Salah satu mataku sempat merasa kepedesan saat air keringat mengalir dan membasahi bagian mata.


Pandanganku yang penuh harap ini menatap indahnya aliran sungai, suara aliran terdengar bagai menjadi penghantar tidur. Aku tersenyum kecil perjuangan untuk sekolah merayu sang emak yang sepertinya sulit untuk dirayu tapi Ari harap emak ingin dan mau mendaftarkan Ari sekolah.


"Ari!"


Suara teriakan dari atas bukit terdengar, itu adalah suara emakku. Aku menoleh, tersenyum menatap sosok sang emak yang nampak berdiri di sana.


Dengan buru-buru aku bangkit walau kedua betis ini sudah terasa pegal dan tak sanggup lagi untuk berjalan.

__ADS_1


"Ada apa, ma?" tanyaku yang penuh dengan rasa gembira.


Senyumku merekah tiada tara, bayangan ajakan mendaftar sekolah itu seakan telah terbayang dan aku tak sabar untuk mendengarnya.


"Mandilah! Tubuhmu juga sudah basah," itu yang emakku katakan dan setelahnya ia melangkah pergi.


Aku langsung melompat-lompat ke gerangan. Apakah itu berarti emak menyuruhku untuk mandi dan setelahnya kami akan mendaftar? Ya sepertinya akan jadi seperti itu.


Senyum indah itu tak pernah luntur dari wajahku dan dengan buru-buru aku membasahi tubuhku setelah aku membuka pakaianku. Entah karena faktor terlalu bahagia hingga aku tak memakai sabun untuk mandi, mengunggosok bagian tubuhku dengan rasa bahagia dan setelahnya aku berlari ke pinggir memakai pakaianku lalu dengan cepat berlari ke rumah.


Aku tidak ingin emakku terlalu menunggu. Yang ada di pikiranku hanyalah aku harus cepat sampai.


Sekolah ya akhirnya Ari akan sekolah seperti teman-teman, Ami, Ririn, Angga dan Cai.


Tidak lama lagi Ari juga akan memakai pakaian sekolah, memakai tas, sepatu dan perlengkapan lainnya seperti anak-anak di pinggir jalan yang aku lihat saat membeli alat panci.


Langkahku yang begitu cepat itu kini terhenti bagaikan rem sebuah mobil yang akan masuk ke jurang, tetapanku kosong menatap sang emak yang nampak sedang asyik menyapu lantai rumah.


"Emak!" bisikku pelan membuat emak menoleh. Ia menatapku sejenak hingga akhirnya kembali bicara, "Pakai bajumu!"


Aku kembali tersenyum dan entah mengapa setiap kalimat yang diucapkan oleh emak selalu membuat aku tersenyum. Aku berlari masuk ke dalam kamar dan mencari baju baru yang akan aku pakai untuk mendaftar sekolah.


Aku melebarkan sebuah baju, baru baju batik-batik yang emak beli beberapa bulan yang lalu. Aku melihat pantulan tubuhku di cermin usang memperlihatkan wajahku yang terlihat begitu gagah memakai baju ini. Jika baju ini membuat aku terlihat menjadi gagah apalagi jika aku memakai seragam sekolah, ya tentu saja akan membahagiakan.


Aku menyisir rambutku sedemikian rupa begitu rapi saat rambutku masih basah. Setelahnya aku berlari keluar menatap sang emak yang nampak sedang asyik memasak air.


Aku meneguk saliva mengatur nafasku yang begitu sesak dan masih terasa ngos-ngosan. aku mendekati sang emak berdiri di sampingnya dan kembali berujar dengan ada berbisik," Emak!"


Emakku menoleh. Ia mataku sedikit kebingungan.


"Kenapa kau pakai baju barumu?" pertanyaan itu langsung membuat senyumku menjadi hilang, lenyap tak tersisa namun, sedetik kemudian aku mengembalikan senyumku.

__ADS_1


"Bukankah hari ini emak akan mendaftarkan Ari sekolah?"


Seketika gerakan tangan emak yang mendorong kayu bakar itu terhenti ia menatapku dengan wajah datar agak sedikit terkejut dengan ujaranku.


"kenapa emak tidak mengganti pakaian emak dengan pakaian yang bagus?"


"Orang-orang akan menertawai Ari jika emak tidak mengganti pakaian. Ari sudah memakai pakaian yang bagus untuk mendaftar sekolah hari ini."


"Ayo mak nanti kita terlambat masih ada waktu 1 jam."


"Mak kita harus cepat! Ari sudah tidak sabar ingin sekolah Ari juga tidak sabar akan belajar membaca, menulis dan menghitung seperti Angga. Angga sudah pintar membaca menulis dan menghitung, Mak."


Emak nampak membelakangiku seakan tak memperdulikan aku.


"Emak!" panggilku.


Tak ada jawaban dari sang emak, ia terlihat diam seakan tak memperdulikan aku.


"Emak!"


"Em-"


"Kau tidak sekolah," potong Emak.


Bagaikan disambar petir saat aku mendengarnya, kalimat yang diucapkan oleh emakku begitu terdengar dingin bahkan menusuk ke bagian dada.


"Apa?"


"Kau tidak sekolah."


"Tapi kenapa? Teman-teman Ari sekolah? Kenapa Ari tidak?"

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2