
...✏️✏️✏️...
Aku menghembuskan nafas sesak di dada setelah berlarian cukup jauh keringat berhasil meluruh turun membasahi kening dan sekujur tubuhku dengan mata sayu yang telah dialiri dengan air keringat lalu aku melirik menatap sosok Angga, Ami, Cai dan Ririn.
Setelah kejadian itu kami semua memutuskan untuk berada di sebuah tanggul, ya tanggul tempat di mana kami selalu menghabiskan waktu untuk menatap area gunung tinggi dan juga derasnya aliran sungai serta mobil truk pengangkut pasir dan batu-batu yang setiap harinya mondar-mandir.
Hal sederhana itu seakan menjadi penghibur untuk melepaskan rasa lelah setelah bermain ditambah lagi kami juga cukup lelah setelah berlari dari amukan kakak Nur yang sebenarnya dan tidak sepenuhnya benar-benar marah ia hanya mengancam di sebuah candaan menggunakan kayu.
"Lihat air di sana!" tunjuk Angga membuat kami semua menoleh menatap pada sebuah permukaan air terlihat menghijau karena pantulan pepohonan besar yang berada di atasnya.
"Apa kalian semua melihat sungai itu?" tanya Angga kepada kami dan dibalas dengan anggukan oleh aku, Ami, Cai dan Ririn yang kali ini benar-benar terlihat begitu bersemangat.
"Kata bapakku tempat itu sangatlah keramat karena tempat bekas penggalian pasir itu sangat dalam dan akibatnya banyak orang yang telah mati di bawah sana," jelas Angga dengan ekspresi wajahnya yang berusaha menakut-nakutkan.
"Aku juga pernah mendengar hal itu," tambah Ami dengan ekspresi wajah yang menambah sebuah ketegangan.
Aku menggangguk di saat Angga menjelaskan tentang peristiwa dimana seorang anak tenggelam di sungai itu ditambah lagi disaat sesekali Ami yang ikut menjelaskan hal-hal terperinci dari kisah itu menjadikan pembahasan ini lebih seru.
Sebenarnya aku juga tahu karena aku juga ikut melihat saat kejadian dimana seorang bocah itu diselamatkan oleh bapak kandung dari Cai. Mungkin usia anak laki-laki itu hampir sama dengan seusiaku sekarang dia meninggal karena tenggelam di sungai bekas galian pasir yang konon katanya cukup dalam. Ada pula yang mengaitkan kejadian itu dengan hal-hal mistis tapi kebanyakan yang aku dengar adalah anak itu tidaklah tenggelam tetapi sang buaya yang dikaitkan dengan nenek moyang yang membawa anak itu ke dasar sungai yang paling dalam.
Bagaimana jika kamu mendengar hal ini? Agak mengerikan bukan? Mungkin ini hanya sebuah mitos tapi siapa yang menyangka jika kejadian ini mungkin saja adalah sebuah kenyataan. Bukan hanya sekali kejadian ini terjadi bahkan kejadian ini sudah beberapa kali terjadi dan korban yang ditemukan selalu berada di tempat yang sama.
"Ami, ayo pulang!"
__ADS_1
Kami sontak menoleh menatap sosok Paman Santoso, bapak dari Ami yang rupanya berada di belakang kami.
Ami dengan cepat bangkit dan mendekati sosok bapaknya. Paman Santoso menoleh menatapku.
"Bagaimana Ari? Apa tadi kau pergi mendaftar sekolah?"
Aku tersenyum pelan, tak bisa kutahan rasa kesedihan itu dari sorot mataku. Aku yakin Paman Santoso bisa melihatnya dari kedua sorot mataku. Aku hanya menggeleng pelan sambil menunduk. k
"Kenapa? Kenapa kau tidak pergi mendaftar sekolah tadi? Bukankah hari ini adalah hari terakhir mendaftar sekolah kalau kau tidak mendaftar sekolah hari ini maka kau tidak akan sekolah tahun ini."
"Kau akan sekolah tahun depan itu pun kalau kau mendaftar untuk sekolah," sambungnya.
Aku mengangkat pandanganku menatap sosok Paman Santoso yang kali ini benar-benar menanti sebuah jawaban dariku.
"Aku pulang duluan, ya besok kita main lagi," ujar Ami dan itu berarti kalimat perpisahan.
"Kenapa kau tidak mendaftar tahun ini saja?"
Kalimat itu seakan langsung menamparku memperlihatkan sosok Angga yang kini benar-benar menatapku seakan menagih sebuah jawaban.
"Aku kan sudah bilang kalau Ari akan sekolah tahun depan," jelas ku mengulang sebuah jawaban.
"Kenapa bukan tahun ini saja?" tanya Ririn.
__ADS_1
"Tinggi kita sama berarti tahun ini kita akan sekolah sama-sama," tambah Cai.
"Betul itu, kita memiliki tahun kelahiran yang sama berarti kita juga harus sama-sama untuk mendaftar sekolah," ujar Ririn kembali bicara.
"Memangnya apa bedanya kalau kita mendaftar tahun ini dengan tahun depan?"
"Tentu saja ada bedanya. Kalau kau sekolah tahun ini maka umur kau akan sesuai dengan dengan usia sekolah sementara kalau kau mendaftar sekolah tahun depan maka kau yang akan menjadi paling tinggi di dalam kelas."
"Kau tidak tahu saja aku punya teman dia sekolah saat usianya 8 tahun dia yang memiliki tubuh yang paling tinggi karena kami semua memiliki usia yang lebih kecil daripada dia dan kami semua mengejeknya karena dia yang paling tua daripada kami di dalam kelas itu."
"Lalu sekarang bagaimana dengan temanmu yang paling tua itu?" tanyaku.
"Tentu saja dia berhenti karena dia merasa malu."
Aku menunduk sejenak mencerna kalimat Angga yang dijelaskan olehnya. Kenapa bocah itu sangat lemah sekali hanya karena dibully ia jadi berhenti sekolah.
"Tidak apa-apa kalau ada yang membully atau mengata-ngatai Ari biarkan saja yang penting Ari sekolah," jelasku berusaha untuk meyakinkan Angga dan juga diriku sendiri. Yang penting kan sekolah urusan dikatai atau mengatai itu urusan belakang.
"Ya sudah itu kan bukanlah urusanku tapi itu adalah urusan kau," ujar Angga yang seakan menyerah.
Aku tersenyum simpul kini aku terdiam dengan pandanganku yang menatap kembali ke arah pemandangan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
......📗📗📗......
__ADS_1