Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
28. KAU TIDAK SEKOLAH


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Aku duduk memandangi pemandangan alam, tempat biasa dimana kami selalu menghabiskan waktu sore hari. Kami duduk menikmati pemandangan pegunungan dengan hamparan sawah yang menguning.


Sawah-sawah yang dulunya dipenuhi dengan lumpur kini dipenuhi dengan tumbuhan padi yang bijinya telah menguning. Aroma lumpur kini digantikan dengan aroma hewan belalang dan beberapa burung-burung yang berterbangan menghiasi langit biru yang membentang indah di atas sana.


Kami duduk berjejer menatap dan duduk berhadapan dengan pemandangan alam.


"Ari tahun ini kau akan sekolah, kan?


Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Ami membuat aku menoleh lalu mengangguk cepat.


"Tentu saja aku akan sekolah. Emak kan sudah bilang kalau tahun ini Ari akan sekolah."


"Ari akan sekolah dan bergabung bersama kalian semua," lanjutku.


Mendengar hal itu mereka lalu mengangguk sambil tersenyum, sepertinya mereka juga ikut bahagia mendengar hal tersebut.


"Ari kau tidak tahu, besok sudah bisa mendaftar sekolah. Kau boleh mendaftar sekolah besok," jelas Angga sambil sesekali melempar batu-batu kecil ke bawah sana..


"Apakah itu benar?"


"Benar, besok adalah hari pendaftaran sekolah. Aku dengar hal itu dari ibu guru tadi pagi."


"Aku juga mendengarnya. Mungkin besok sudah banyak yang mendaftar," potong Ami.


"Bagaimana kalau kau beritahu saja emak kau kalau pendaftaran sekolah besok telah dibuka," usul Angga.


Aku mengangguk lalu tak berselang lama aku kembali bicara sambil menatap ke arah teman-temanku satu persatu.


"Baik sebentar malam aku akan memberitahu emak kalau besok pendaftaran sekolah telah dibuka."


"Bagus, kalau begitu besok aku akan menunggu kau di sekolah dan saat kau mendaftar sekolah aku akan mengajak kau keliling-keliling sekolah."


"Benarkah?" ujarku tak menyangka saat Angga mengatakannya.


"Aku juga akan memperkenalkan kau ruangan perpustakaan," sahut Ami yang tak mau kalah.


"Tunggu! Memangnya bisa orang yang tidak sekolah masuk ke ruangan perpustakaan?" tanya Angga kepada Ami sementara aku hanya mampu terdiam menatap Angga dan Ami secara bergantian.


"Benar juga sepertinya tidak bisa. Hah, kasihan sekali padahal aku sudah tidak sabar ingin memperlihatkan buku-buku cerita kancil dan buaya yang ada di perpustakaan."


"Tunggu dulu, Ami!" ujar Angga membuat aku dan Ami menoleh menatap ke arah Angga.


"Percuma saja kau ajak Ari masuk ke perpustakaan, toh dia kan juga tidak bisa membaca."


Aku mengernyitkan dahiku tak setuju dengan apa yang Angga katakan


"Tidak, aku sudah pintar membaca. Aku sudah mengenal tiga huruf A B dan C."

__ADS_1


Mendengar hal itu teman-temanku tertawa begitu pula dengan diriku yang dibuat berhasil tertawa kecil. Memangnya aku salah, ya?


"A B dan C tidak bisa membuat kita pintar membaca. Kau hanya mengetahui tiga huruf tapi kau belum mengetahui kalau yang kita ketahui sebelum membaca ada banyak huruf."


"A sampai Z," lanjutnya.


"A sampai Z?"


"Iya, setelah kau sekolah nanti kau akan tahu karena ibu guru akan mengajari kau cara membaca yang baik dan benar."


"Benarkah?"


"Benar, Angga hanya mengajari kau A B dan C sedangkan ibu guru akan mengajari kau A B C sampai huruf Z," jelas Ami membuat aku menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Baiklah kalau begitu nanti malam aku akan memberitahu emak kalau pendaftaran sekolah telah dibuka."


"Bagus!" teriak teman-temanku, Angga, Ami, Cai dan Ririn dengan kompak sambil mengangkat jempolnya.


...***...


Aku terdiam, membisu, wajah datar dengan jantung berdebar menjadi situasi yang terjadi sekarang. Aku hanya diam menatap emak yang nampak sedang menyusui bayi mungil yang bernama Rai itu.


Sudah sejak tadi aku melihatnya sedang menyusui bayi itu yang tak pernah berhenti menyusu bagaikan bayi itu tak pernah minum susu selama sebulan. Aku sedikit kesal, sampai kapan bayi itu akan berhenti menyusu.


Aku telah lelah duduk berjam-jam di depan emak seperti ini sambil menatapnya sampai aku menjadi mengantuk sendiri.


Aku ingin berbicara dengan emak tentang sekolah itu dan Ari tidak boleh menundanya karena jika terlambat maka pendaftaran akan segera ditutup. Walaupun Ari sejujurnya tidak tahu kapan pendaftaran terakhir tapi aku ingin jika akulah yang pertama mendaftar di sekolah.


"Enak," bisikku pelan.


Aku menatap emak yang nampak serius menatap bayi yang ia gendong, tak ada jawaban dari wanita itu. Perhatiannya terlalu fokus pada anak barunya yang ada di gendongannya itu.


Aku meneguk salivaku sejenak menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan berusaha untuk memberikan semangat dan keyakinan jika aku bisa mengatakannya. Setelah mengumpulkan keberanian yang begitu banyak kini aku memberanikan diri untuk bicara.


"Emak, Ari ingin bicara," ujarku yang meninggikan nada suara.


Emak menatapku sambil tersenyum.


"Apa?"


"Ari ingin bicara."


"Apa? Bicara saja!" ujarnya yang kemudian kembali menunduk menatap bayinya.


"Ari ingin bicara tapi Ari ingin emak jangan marah."


Emak tak menjawab. Ia diam dengan wajahnya yang terus menunduk menatap bayi mungil itu. Aku tidak mengerti mengapa emak terlalu terfokus pada bayinya itu dan mengabaikan ujaranku tapi aku tak boleh menyerah begitu saja.


"Emak, Ari ingin bicara sebentar saja."

__ADS_1


Emak mendecakkan bibirnya dengan kesal lalu menoleh menatapku.


"Iya Ari katakan saja Emak akan mendengarnya," ujarku membuat emak menatapku.


Aku menghela nafas berusaha untuk mengumpulkan keberanianku.


"Aku ingin berbicara sebentar, emak."


Emak menatap ke arahku tapi sepertinya emak tak punya waktu untuk menatapku lebih lama.


"Besok adalah pendaftaran sekolah. Ari ingin sekolah, mak," ujarku dengan wajah yang benar-benar begitu serius.


Seketika emak langsung menoleh menatap ke arahku membuat aku sedikit menahan nafas. Entah mengapa pandangan emak begitu sangat tajam. Apakah emak marah? Itu yang ada pikiranku saat ini saat melihat wajahnya yang terlihat tegang dengan otot wajah yang sepertinya ingin marah.


Aku tidak mengerti. Raut ekspresi wajahnya campur aduk, ada rasa bingung dan juga sedikit kesal.


"Kenapa, Mak?"


Tak ada jawaban.


"Mak kata emak Ari akan sekolah tahun depan dan tahun depan adalah tahun ini."


Emak masih terdiam. Ia tak memberikan sebuah jawaban.


"Kalau emak tidak punya waktu hari ini besok atau besoknya lagi masih ada waktu. Ari tidak apa-apa mendaftar kalau bukan besok."


"Kalau emak sibuk berarti besok saja. Ari juga tidak sabar ingin berkeliling ke sekolah dan juga tidak sabar ingin masuk ke ruangan perpustakaan."


"Ami bilang kalau di sekolah ada buku kecil dan buaya. Kalau Ari sekolah Ari bisa masuk ke ruangan perpustakaan dan Ari bisa baca buku."


"Ari tidak sabar ingin membaca buku tapi kalau emak benar-benar tidak punya waktu besok maka bisa ditunda ke esok harinya lagi. Ari tidak apa-apa kok, Mak-"


"Kau tidak sekolah," potong emak.


Bagaikan disambar petir saat aku mendengarnya saat emak mengatakan hal itu dengan wajah datar dan terlihat sangat santai saat mengatakannya membuat aku begitu tak percaya dengan apa yang emak katakan.


"A-a-apa mak?" tanya aku begitu gugup


Jujur saja rasanya jantungku berdebar saat itu juga dan hatiku seakan disayat-sayat setelah mendengarnya. Air mataku ingin jatuh. Kedua mataku memanas dengan wajahku yang terasa juga ikut terbakar.


Aku ingin menangis tapi berusaha aku tahan. Aku malu jika harus menangis di hadapan emak.


"Apa Mak? Emak bilang apa tadi?" tanyaku sambil tersenyum sedikit.


Aku sedikit tertawa berusaha untuk menutupi rasa kesedihan yang aku alami saat ini. Walaupun aku mendengarnya dengan jelas tapi aku berpura-pura seakan aku tidak mendengar hal itu dengan jelas padahal aku mendengarnya dengan sangat jelas.


"Kau tidak sekolah," pulang emak dengan santai dan kali ini aku benar-benar mendengarnya dengan sangat bahkan lebih sangat jelas.


Aku pikir hatiku tidak merasakan sakit karena telah mendengarnya dua kali tapi ternyata itu salah. Rasa sakitnya bahkan lebih berkali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa Ari tidak sekolah?"


...📗📗📗...


__ADS_2