Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
19. TAHUN ITU KINI TIBA


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Jika aku ditanya tentang apa sesuatu yang begitu sangat berat, maka aku akan menjawab sebuah penantian yang cukup membuat tiap hari-hariku menjadi terus terbebani. Mungkin ini terlalu berlebihan bagi bocah kecil yang tahun ini telah berusia 8 tahun tapi ini adalah sebuah kenyataan yang nyata.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan akhirnya tahun yang aku tunggu-tunggu telah tiba. Aku tak bisa mengutarakan rasa bahagia ini ketika mimpi itu telah berada di depan mata. Aku yang begitu tak sabar menanti tahun itu mencoret kan sebuah lingkaran melingkari jumlah tanggal angka pada kalender yang berada di dinding tepatnya di dalam kamarku.


Aku melangkah mundur menjauhi klender dengan mata yang berbinar. Jantungku terasa berdetak sangat cepat hingga seluruh tubuhku terasa sangat panas dan senyum yang merekah tiada tara. Mungkin, ya ini hanyalah sebuah hal kecil bagi banyak orang tetapi bagiku ini adalah sebuah hal yang begitu sangat besar.


Akhirnya tahun itu telah tiba, tidak lama lagi Ari akan sekolah.


"Ari akan sekolah, yeeeee!!!"


"Ari akan sekolah!!!"


Aku melompat-lompat begitu sangat bahagia, aku berputar-putar, menari dan bersorak bahagia bagaikan aku berada di atas awan yang ditaburi dengan bunga-bunga indah. Senyum itu tak pernah lepas dari bibirku, aku benar-benar bahagia saat ini.


Tak bisa aku ungkapkan dengan sebuah kata-kata. Ini tidak terlalu berlebihan kawan, Ini hanya anak ungkapan sebuah rasa kebahagiaan yang benar-benar membara di dalam hati.


Aku berlari sekencang-kencangnya keluar dari kamar menuju daerah dapur dimana sosok emak kini sedang sibuk mencuci piring setelah sarapan pagi tadi.


"Emak!"


Aku memeluknya dengan erat-erat dari belakang membuat emak menggerakkan sikunya berusaha untuk mendorong ku. Aku tidak menghiraukannya bahkan kedua alis emak nampak bertaut marah namun, itu hanya membuat aku tertawa kecil dan kembali memeluknya dengan erat.


"Ari! Kau ini kenapa?"


"Ari sangat bahagia sekarang, Mak."


"Kenapa? Kenapa kau sangat bahagia? Bukannya setiap hari kau selalu terlihat sedih dan duduk di depan kalender kau itu."


"Iya tapi kan itu dulu sekarang Ari sudah tidak sedih lagi."


"Kenapa bisa secepat itu?"


"Iya Mak karena tahun ini Ari telah berusia 8 tahun dan Ari juga akan sekolah. Ari sangat bahagia."


Mendengar hal itu gerakan tangan emak yang sedang asik mencuci piring terhenti diiringi raut wajahnya mendatar seakan tak senang dengan kalimat yang aku utarakan. Aku tak memperdulikan ekspresi emak karena pikiran kebahagiaan ini yang selalu terbayang di dalam benakku membuat aku tak peduli dengan apapun.


"Tahun ini Ari benar-benar akan sekolah kan, Mak?"


Aku bertanya dan emak hanya terdiam tetapi diam itu seakan memberikan aku sebuah jawaban iya. Emak tidak mengatakan itu tapi perasaan bahagia ini yang mengiyakannya.


"Kalau begitu Ari pasti akan menjadikan tahun ini menjadi tahun yang sangat membahagiakan bagi Ari."


"Ari pergi dulu, ya mak. Ari akan memberitahukan hal ini kepada teman-teman Ari."


"Teman-teman Ari, Ami, Angga Cai dan Ririn pasti akan senang mendengarnya. Aku pergi dulu, ya Mak."


Setelah mengatakannya aku berlari pergi tanpa sadar aku tak memakai sendal dan menerobos bebatuan kasar menghampiri teman-temanku yang nampaknya telah asik bermain di sana.


"Heiiiii!" teriakku sambil melambai.

__ADS_1


"Aku juga ingin ikut bermain bersama kalian semua," sambungku dengan rasa yang begitu bahagia.


Teman-temanku dengan sarentak langsung menoleh ke arah ku dan untuk sementara menghentikan permainannya. Mereka semua Cai, Ririn, Angga dan Ami dengan kompak menatapku dengan tatapan yang sama seperti emak.


Kebingungan!


Ya, sepertinya aku benar-benar sangat aneh sekarang. Bagaimana mereka tak kebingungan menatapku, tahun lalu aku dipenuhi dengan wajah yang begitu sedih dan bahkan mereka sendiri yang selalu menanyakan mengapa aku selalu terlihat sedih dan sekarang aku datang dengan senyum yang merekah tiada tara.


Aku menghentikan lariku dengan nafas yang ngos-ngosan, menunduk sedikit sambil memegang kedua lututku yang terasa telah ngilu setelah berlari dari rumah sampai ke tempat ini. Keringat bercucuran mengalir di pelepisku, aku bener-bener berkeringat sekarang.


Aku mengusap keningku sambil tersenyum memperlihatkan gigiku yang rapi kepada teman-temanku yang masih kebingungan.


"Kau kenapa Ari?" tanya Ami.


"Iya kau kenapa? Apa kau sakit sehingga kau terlihat tersenyum seperti itu?" tanya Angga yang menggaruk kepalanya, sepertinya dia juga kebingungan melihat perubahanku yang seperti ini.


Aku menghembuskan nafas panjang, menariknya kembali merasakan rasa bahagia yang benar-benar mengalir dari udara ke dalam paru-paru aku.


Aku menatap teman-temanku satu persatu sambil tersenyum bahagia sepertinya mereka sangat penasaran dengan jawaban yang akan aku berikan. Sejujurnya aku tidak sabar untuk memberitahukan hal ini kepada teman-teman dan mereka pasti akan sangat bahagia setelah mendengarnya.


"Aku akan mengatakannya kepada kalian semua tapi sebelum itu kalian harus menebaknya terlebih dahulu, bagaimana?" tawarku kepada mereka membuat mereka terlihat saling memandang dan sedikit menggerakkan kepalanya lalu tak berselang lama mereka kembali menatap ke arahku.


"Kenapa harus ditebak? Katakan saja!" ujar Angga yang kini kembali menyusun sendal-sendal yang berniat untuk kembali melanjutkan permainannya, permainan lempar sendal.


"Ah itu tidak seru juga kalau kalian tidak menebak," jawabku.


"Ya, baiklah kami akan menebak," ujar Ami membuat aku menoleh menatap ke arah Ami sambil tersenyum bahagia.


Ami meletakkan jari telunjuknya di dagu, mengetuk-ngetuknya dengan wajah yang terlihat berpikir sementara aku menatapnya dengan tatapan yang begitu sangat penasaran, tak sabar rasanya mendengar jawaban dari Ami.


"Apakah kau mendapat baju baru?" tebak Ami sambil menunjuk ke arahku.


"Baju baru? Bapak dan Mama Ari kan tidak punya banyak uang, bagaimana bisa dia membeli baju baru," sanggah Angga yang masih sibuk menyusun sendal.


"Wah bener juga," ujar Ami lalu kembali berpikir.


"Ayo coba tebak lagi!"


"Sabar Ari! Aku sedang berusaha untuk menebaknya," ujar Ami yang sedikit kesal.


"Kau juga Ririn dan Cai, kau berdua harus ikut menebaknya!"


Kedua temanku itu sontak ikut berpikir.


"Kau makan ayam hari ini?" tebak Cai.


"Tidak."


"Kau ulang tahun hari ini?" tebak Ririn sambil tersenyum bahagia seakan tebakannya itu adalah benar.


"Salah."

__ADS_1


"Kau mendapat nasi kotak pembagian dari pak haji asbar?" tebak Ami.


Aku menggeleng sambil memejamkan mata menolak jawaban dari teman-temanku itu.


"Salah, tebakannya sangat salah. Sekarang tebak lagi!"


Wajah teman-temanku itu kini telah berubah menjadi sedikit sangat kesal. Sejak tadi tak ada tebakan yang aku katakan benar.


"Hei, Ari cepat jawab atau tidak aku akan memukul kepalamu dengan sendal ini!" ancam Angga yang terlihat begitu sangat kesal sambil mengarahkan sendal hitam miliknya ke arahku.


Aku tertawa kecil lalu berujar, "Baik-baik sekarang aku akan memberitahu tentang hal yang begitu sangat membahagiakan."


"Ya cepat katakan!" ujar Angga.


Aku menatap teman-temanku satu persatu dengan tatapan yang begitu sangat bahagia lalu menggerakkan kedua bibirku yang tak lama lagi akan mengatakan jawabannya.


"Aku akan sekolah tahun ini," ujarku membuat teman-temanku itu tersenyum bahagia.


"Benarkah?" tanya mereka dengan kompak.


"Iya aku akan sekolah tahun ini. Aku akan sekolah seperti kalian semua."


"Emak kan sudah bilang kalau Ari akan sekolah tahun depan dan sekarang tahun depan itu adalah tahun ini."


"Dan itu berarti Ari akan sekolah bersama kalian semua."


"Wah, itu sangat bagus sekali," ujar Ami gembira.


"Kalau kau akan sekolah tahun ini berarti kita akan sama-sama berangkat ke sekolah," ujar Angga.


"Benarkah?" tanyaku dengan wajah yang begitu sangat bahagia.


"Benar dan aku akan mengajakmu bertemu dengan teman-temanku jika kau sekolah nanti."


"Kita akan bermain bersama-sama dan aku akan mengajakmu bermain bola, ada bola yang bagus di sekolah aku sering memainkannya," jelas Angga sambil merangkul bahuku.


"Ah, jangan dengarkan Angga!"


"Angga hanya mengajakmu bermain terus lebih baik kita pergi di perpustakaan membaca banyak-banyak buku," sambung Cai.


"Benar yang dikatakan Cai. Aku akan memperlihatkanmu buku kancil dan buaya, itu adalah cerita yang sangat seru di perpustakaan," jelas Ririn yang ikut menambahkan.


"Dan aku akan mentraktir kau bakwan buatan Tante Mia," ujar Ami.


"Yah betul, aku juga mau bakwan. Kau mau kan mentraktir aku bakwan buatan Tante Mia?" ujar Angga sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ih enak saja. Aku tidak akan mentraktir kau, ini hanya spesial untuk Ari karena Ari akan sekolah."


Aku tertawa bahagia mendengar jawaban teman-temanku dan rasanya tak sabar untuk menanti hari itu, hari pendaftaran sekolah dan Ari akan sekolah bersama dengan teman-teman.


Terlebih lagi dengan ujaran teman-teman yang semakin membuat aku tidak sabar akan sekolah.

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2