Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
27. BEBERAPA FAKTA


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Aku tersenyum bahagia menatap bayi mungil yang sedang tertidur di atas selimut tebal yang dilipat-lipat agar tubuh bayi mungil itu merasa nyaman saat berbaring. Aku sesekali menyentuh pipinya, tak sedikitpun bayi itu bergerak.


Aku bisa mendengar suara dengkuran kecil dari bibir mungilnya. Kata orang yang berkunjung ke rumah, wajah bayi itu mirip denganku. Bukan hanya mereka yang berpendapat seperti itu tapi emak dan bapak juga. Mereka mengatakan hal yang sama, hanya saja yang membedakannya adalah bayi mungil ini adalah bayi perempuan sementara aku laki-laki.


Anak laki-laki dan anak perempuan. Lengkap sudah anak bapak dan emak. Sepasang anak yang kini menjadikan kebahagiaan sepasang suami istri itu.


"Namanya siapa, Mak?" tanyaku.


Emak dan bapak saling bertatapan lalu tak berselang lama mereka menatapku yang masih mengelus pipi bayi mungil itu.


"Loh? Bukankah bapak sudah memberitahu kau semalam kalau kau harus mencarikan nama untuk adikmu itu?"


Aku tersenyum malu. Sejujurnya tadi malam aku tidaklah tenang sepanjang malam. Aku berusaha dan memaksakan diri agar bisa cepat tidur tapi tidak bisa.


Aku bahkan sengaja menutup kedua telingaku dengan bantal agar tidak mendengar suara-suara yang menakutkan di luar sana. Sebenarnya aku tak mendengar suara-suara yang menurutku menakutkan. Sepertinya itu hanya sebuah pikiran saja yang membawaku pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Aku tak mendapatkan sebuah nama untuk adikku itu.


"Kenapa? Kenapa kau diam? Apakah kau tidak tahu cara memilih nama yang baik untuk adik kau?"


Bapak tertawa kecil membuat emak juga ikut tertawa.


"Iya, Ari tidak tahu memilih nama yang cantik untuk adik Ari."


"Kau tidak tahu?"


Bapak kembali tertawa lagi. Entah mengapa bapak belakangan ini selalu tertawa. Yah mungkin saja karena ia terlalu bahagia mendapatkan anak baru. Sebut saja diriku ini adalah anak lama.


"Ari tidak tahu memilih nama untuk adik. Apa Ari harus berpikir dulu untuk memilih nama yang cantik untuk adik?"


"Kau tenang saja Ari! Emak sudah punya nama untuk adik kau itu."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya."


"Lalu siapa nama adikku itu?" tanyaku penasaran.


Emak tersenyum. Ia mengelus rambut tipis bayi itu lalu kembali menatapku.


"Namanya Ara."


"Ara?"


"Iya, namanya Ara seperti nama kau. Nama kau kan Ari jadi nama adik kau itu adalah Ara. Ari dan Ara."


"Ari dan Ara," ulangku dengan nada berbisik.


Aku mengangguk memahami nama yang emak sebutkan. Aku terdiam sejenak memikirkan nama yang emak ucapkan itu. Benar juga yang dikatakan emak. Wanita yang kini tubuhnya tidak terlalu besar itu ternyata pandai dalam memilih nama yang cantik.


...***...


Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa bayi mungil yang kecil itu yang dulu hanya mampu menangis kini perlahan tumbuh menjadi bayi yang benar-benar sangat lucu, lincah dan suka tertawa.


Walaupun bayi mungil yang baru berusia 6 bulan itu tidak mengerti apa-apa tapi tetap saja aku selalu mengajaknya berbicara dan bermain setiap hari sampai-sampai aku jarang bertemu dengan teman-temanku itu. Tugasku di rumah hanyalah membantu emak menjaga adik sementara emak sibuk melakukan pekerjaan rumah.


Aku berlari kencang sore itu melewati bebatuan berpasir dengan rasa bahagia. Aku berlari sangat kencang bagaikan seekor kambing yang baru lepas dari kandangnya. Maklum saja aku sudah beberapa minggu ini tidak keluar rumah dan bermain bersama teman-teman. Aku rindu mereka.


Jam 05.00 sore, sepertinya mereka semua sedang bermain di bawah pohon kayu cina yang tak jauh dari pembuatan batu bata emak dari Cai dan Ririn.


Betul saja dari kejauhan aku sudah bisa mendengar suara tawa dan jeritan yang sudah aku kenali tanpa harus melihatnya. Dari kejauhan aku sudah melihat teman-temanku itu sedang bermain. Entah apa permainannya yang jelas aku ingin bermain bersama dengan mereka.


"Teman-teman! Aku datang!" teriak ku sambil melambaikan tangan membuat mereka semua menoleh menatap ke arahku.


Setibanya aku memegang kedua lututku yang terasa ngilu setelah berlarian cukup jauh.


"Aku ingin bermain dengan kalian."

__ADS_1


"Kau ingin bermain?" tanya Cai membuat aku menganggap dengan cepat.


"Lalu siapa yang menjaga adik kau itu?" ujar Angga sambil mencoret-coret permukaan tanah dengan ujung sandal yang ia gunakan untuk melempar lawan. Sepertinya mereka sedang bermain lempar sendal dan angga lah yang menjadi pemain dalam permainan ini.


"Emak yang menjaganya dan bayi itu sudah tidur. Aku ingin bermain dengan kalian."


"Bagus kalau begitu kau yang jadi," ujar Ami membuat Angga melemparkan sendal itu ke arah tubuhku.


Prak!!!


Aku meringis merasakan sakit di bagian tubuhku dan mereka semua tertawa lalu berlari. Aku hanya tertawa kecil sambil mengusap tubuh ku dengan lengan bekas pukulan itu, berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Tak ada tangisan dan tak boleh menangis. Inilah syarat dalam permainan. Jika menangis maka itu berarti kita tidak punya teman. Aku yang terlalu merasa senang itu sampai-sampai menggabaikain rasa sakit segera berlari mengejar mereka membuat mereka tertawa begitu pula dengan aku.


Aku bermain dengan sangat bahagia. Keringat bercucuran membasahi tubuh, hampir basah seluruh badan menandakan betapa serunya permainan kali ini. Maklum saja aku sudah berbulan-bulan tidak ikut bermain bersama mereka. Waktuku hanya sibuk mengurus adikku yang bernama Rai itu.


Lihat saja bahkan ada beberapa dari orang-orang yang menegur jika kulitku kini semakin putih, mirip anak orang kaya.


Janga tertawa kawan! Memang seperti itu kenyataanya. Kalau kulit hitam berarti anak orang miskin dan jika melihat anak yang berkulit putih maka dia orang kaya. Sulit dimengerti tapi ini adalah kenyataan.


Anak orang miskin akan bergulat dengan panas matahari sementara anak orang kaya akan bergulat di dalam rumah yang dipasangi sebuah alat pendingin. Ini sebuah kenyataan bukan kebohong belaka.


Jika tidak percaya maka lihat saja di sekitar rumah kalian. Kalian akan melihatnya. Ini bukan sebuah tipuan kawan tapi ini sebuah kenyataan. Aku juga pernah melihat di sekitar rumah terlebih lagi pada anak yang berada di belakang rumah bertingkat dan bercat putih bagaikan istana itu.


Bapaknya adalah seorang anggota DPR, orang kaya raya, mobilnya juga banyak dan sudah tiga kali dia mencalonkan diri menjadi bapak Bupati tapi tidak pernah terpilih. Katanya gagal dalam pemilihan. Anaknya semua putih-putih, bersih, memiliki tubuh gemuk. Aku yakin mereka makan 4 kali dalam sehari dan tentu saja mereka makan dengan lauk pauk seperti ayam ataupun daging sapi.


Berbeda dengan kami semua yang tinggal di rumah tua, sempit dan bahkan bisa dikatakan tidak layak huni. Tidak terlalu melebih-lebihkan, hanya saja ini kenyataan. Contohnya saja Angga. Angga memiliki tubuh yang agak sedikit pendek tapi sepertinya dia juga sering makan karena tubuhnya bahkan terlihat berisi.


Maka tidak perlu jauh-jauh kawan melihatnya. Lihat saja diriku ini? Tubuh kurus karena jarang makan. Jika kalian melihat tubuhku sedikit berlemak itu karena hanya sayur kangkung yang tumbuh di dekat rumah.


Kulitku juga hitam karena aku setiap harinya selalu bermain di bawah terik panas matahari. Lihat saja rambut Ami yang memerah persis seperti di pirang tapi ini bukan sebuah cat warna rambut akan tetapi, karena sengatan matahari yang membakar rambutnya hingga mirip anak bule.


Ah, tolong jangan menertawakan rambut Ami. Ini sebuah kenyataan jika tidak percaya maka tidak perlu tapi harus aku sarankan untuk percaya. Kadang kita harus percaya dengan sebuah kalimat, apalagi jika aku yang mengatakannya karena ini kebenarannya.

__ADS_1


Lihat ke sekitar! Semuanya ini benar, bukan sebuah kebohongan atau bukan sebuah tipuan.


...📗📗📗...


__ADS_2