
...✏️✏️✏️...
Angin sejuk menerpa wajahku yang kini telah berada di belakang bapak yang sedang asyik mengayuh sepeda tuanya menuju kota, tepatnya di tempat toko penjualan alat panci.
Seperti biasanya aku kini selalu menjadi penumpang yang selalu setia mengikuti ke arah mana bapak mengendalikan sepedanya. Sengatan panas matahari pagi ini tak membuatkan aku goyah.
Lapisan kulit terasa panas namun, angin yang berhembus membelai wajah dan rambutku dengan begitu sangat lembut merasakan setiap hembusan angin yang menggoyang-goyangkan rerambutku. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan yang sesekali mendongak menatap ke arah bangunan-bangunan kota yang tinggi. Ari harap Ari bisa memiliki rumah yang besar seperti itu.
Tak hanya memandangi bangunan-bangunan kota yang begitu besar dan indah, aku juga sesekali menunduk menatap jalan beraspal berharap aku melihat lembaran uang yang tercecer di sana.
Ya sebenarnya aku juga pernah mendapat uang 5.000 di jalanan mungkin uang itu terbang dari saku pemiliknya dan mendarat di aspal dan setelah hari itu aku selalu memutuskan untuk melihat jalanan berharap aku kembali menemukan uang untuk membeli kerupuk yang ada di toko.
Kini aku kembali dihadapkan pada lampu merah, seperti biasanya orang-orang menetapku seakan aku adalah orang yang aneh tapi sebenarnya bukan aku yang aneh tapi kendaraan yang aku gunakan sekarang ini.
Dimana orang menggunakan kendaraan yang mewah seperti mobil dan motor yang memiliki bentuk beragam sementara aku dan bapak hanya menggunakan sepeda butut tua.
Aku bahkan bisa mendengar suara tawa kecil di belakangku membuat aku menoleh menatap sosok gadis yang berpakaian cantik, menunggangi sepeda motor besar sambil sesekali menatap ke arahku.
Mereka sepertinya sedang menertawaiku, yah aku bisa melihat dari mata mereka yang sesekali menatap ke arahku lalu tertawa kecil. Mungkin karena rambutku yang agak memerah karena sengatan matahari atau bajuku yang terlihat sangat kotor di hadapan mereka. Padahal aku sudah memakai baju yang menurutku sangat bagus dan hanya aku gunakan ketika aku berpergian ke kota.
Memangnya aku salah, ya? Kalimat itu selalu muncul di dalam pikiranku menanggapi mereka semua, orang-orang kota dan kaya raya yang nasibnya tidak seperti aku yang bisa dikatakan sangat-sangatlah miskin dan jauh dari kata sederhana.
__ADS_1
Tak berselang lama lampu merah yang berada di atas sana berubah menjadi lampu hijau membuat semua kendaraan melaju meninggalkan aku beserta bapak yang setengah mati menggoyangkan kaki untuk mengayuh sepeda.
Aku dan bapak tertinggal jauh di belakang sana bahkan nyaris mendapatkan lampu merah kembali namun, bapak terlihat begitu sangat santai dan tidak memikirkan tatapan serta bisikan-bisikan orang-orang kota yang sepertinya sudah mengejek kami.
Hal yang membuat aku bernafas legah adalah ketika telah melewati lampu merah dan semua orang telah pergi meninggalkan kami di sini. Aku kembali merasakan sesuatu hal yang sangat bahagia yaitu ketika aku telah tiba di toko penjualan alat pancing.
Bapak kembali meletakkan sepedanya, menyandarkan sepeda itu di sebuah tiang dan ia seperti biasanya kembali bertanya,
"Apakah kau ingin masuk ke dalam toko atau kau ingin menunggu di sini saja?"
Aku menggangguk membuat bapak pada akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko. Aku ikut melangkah berniat untuk melangkah masuk ke dalam toko itu namun, langkahku dibuat terhenti ketika aku melihat sebuah patung yang telah dipakaikan dengan seragam sekolah merah putih.
Aku tersenyum bahagia lalu tak berselang lama aku berlari mendekati patung anak laki-laki itu dengan tatapan yang benar-benar berbinar. Aku menatapnya kagum, menatap dan memandangi dari atas sampai ke bawah. Aku bisa melihat seragam putih yang begitu sangat indah dan celana yang terlihat begitu sangat sangat bagus.
Seragam sekolah ini, aku selalu melihatnya pada anak-anak sekolah yang ingin berangkat atau pulang sekolah. Bahkan aku pernah melihat seragam ini juga dikenakan oleh Angga dan itu berarti jika aku sekolah di tahun ini aku juga akan mengenakan seragam sekolah yang sama seperti yang ada di patung ini.
Bagaimana rasanya jika menyentuh kain ini?
Aku menggerakkan jemari tanganku yang gemetar sedikit terhenti saat aku berusaha memastikan tak ada orang yang sedang menatapku dan setelah memastikan tak ada orang yang melihatku aku menggerakkan jemari tanganku lalu menyentuh permukaan celana merah itu yang begitu sangat bagus.
Aku tersenyum bahagia, senyum merekak yang tiada tara serta mataku berbinar di saat aku benar-benar telah menyentuh kain celana itu. Dibuat penasaran dengan bajunya, aku kembali menggerakkan jemari tanganku dan menyentuh permukaan kain putih yang melekat pada bagian tubuh patung itu.
__ADS_1
Tuhan, baju ini bahkan lebih baik dengan baju baru yang aku gunakan saat lebaran dulu. Benar-benar sangat membuat aku terkagum, pantas saja teman-temanku terlihat sangat senang saat sekolah. Itu semua karena mereka menggunakan seragam sekolah yang sangat keren seperti ini. Rasanya aku tidak sabar sekolah jika menggunakan seragam sekolah yang sama seperti yang aku pegang sekaran ini.
"Hei!"
Aku terperonjak kaget, tersentak dengan teriakan seorang wanita yang sedang memegang sebuah kayu panjang yang digunakan untuk meraih tas-tas yang sangat tinggi. Aku bisa melihat sorot mata wanita itu yang terlihat begitu marah ke arahku dan sontak aku dengan cepat menjauhkan jemari tanganku yang telah menyentuh baju itu.
"Kau ini mencuri, ya? Hah, kau ingin mencuri?" tanyanya sambil menunjuk ku begitu sangat hina.
Aku sontak mengepalkan jemari tanganku dan menggeleng cepat.
"Tidak, aku tidak mencuri. Aku hanya melihat saja."
Wanita itu sepertinya tidak percaya setelah aku mengatakannya lalu ia melangkah mendekatiku membuat aku dengan cepat melangkah mundur. Aku tak ingin jika ia malah memukulku.
Ia menatapku tajam seakan aku telah mencuri ia menoleh menatap kain putih memastikannya bahwa kain itu tidaklah rusak setelah aku menyentuhnya.
"Awas kau, ya! Jangan sentuh baju ini kalau baju ini kotor bagaimana? Ini baju putih, akan cepat kotor kalau kau yang menyentuhnya!" teriaknya membuat aku menoleh menatap beberapa orang yang sedang menatapku.
Rasanya aku begitu ketakutan, kedua mataku berair seakan aku ingin menangis setelah wanita itu memarahiku. Aku dengan cepat berlari pergi memasuki toko menghampiri bapak yang rupanya tidak mendengar suara wanita itu yang sedang marah-marah dan tentu saja sedang memarahiku.
...📗📗📗...
__ADS_1