Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
31. PASRAH DENGAN KEADAAN


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Langit yang membiru di atas sana memberikan lukisan berwarna orange pada sudut langit di sekitaran gunung yang tinggi. Burung-burung telah kembali ke sarangnya dan itu menandakan aku sudah harus pulang ke rumah.


Setelah mendengar percakapan emak bersama dengan tante Ati di saat itu pula aku berusaha untuk menyadarkan diri pada sebuah fakta dan situasi.


Kini aku mengerti mengapa aku tidak bisa sekolah seperti mereka semua, teman-temanku. Sepanjang malam aku terdiam sembari menatap langit-langit kamar yang begitu sangat sunyi.


Aku membiarkan lampu kamarku mati, tidak sedang mendalami situasi atau suasana hati, hanya saja aku tidak ingin emak terlalu banyak membayar uang listrik. Aku sayang emak dan itu yang membuat aku tidak ingin menyusahkannya dan salah satunya juga yaitu tidak sekolah.


Mungkin seperti inilah nasibku, takdir Tuhan yang telah digariskan kepada bocah seperti aku ini. Memiliki kedua orang tua yang tidak berpendidikan maka sebuah takdir juga menakdirkan kepada kedua anaknya yang juga tidak sekolah.


Tapi aku berharap kelak jika aku besar aku sangat berharap bisa menyekolahkan anak-anakku seperti apa yang aku inginkan saat ini. Aku tak ingin anak-anakku merasakan apa yang aku rasakan saat ini.Aku sangat berharap jika anak-anakku nanti bisa sekolah dan meraih cita-citanya.


Cahaya matahari yang berada di ujung sana bergerak perlahan naik memanasi bumi ini. Gerakan dedaunan yang bergerak karena tiupan angin begitu sangat indah terlihat menggoyangkan dedaunan yang berukuran besar dan kecil berwarna hijau tua dan muda membuat perasaan begitu sangat nyaman duduk berlama-lama di atas tanggul.


Kini aku tidak sedang duduk di atas tanggul tempat yang sering aku duduki menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman tapi saat ini aku sedang menyendiri. Hari ini aku ingin benar-benar menyendiri, tak ingin ada orang yang mengganggu diriku saat ini.


Mengenai Ara, Ara sedang bersama bapak di rumah. Sepertinya ikan yang selalu aku kagumi banyak itu di sungai sepertinya perlahan mulai habis. Beberapa hari ini bapak tidak mendapat ikan dan memutuskan untuk berleha-leha di rumah. Entah karena tidak ada ikan yang ia dapat atau ia kini suka bermalas-malasan karena sekarang kehidupannya telah dijamin oleh emak yang bekerja sebagai pembantu di rumah saudara haji Asbar. Ya orang kaya itu.

__ADS_1


Aku memejamkan kedua mata, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan kemudian membukanya hingga aku bisa melihat teman-temanku dari kejauhan yang nampak sedang melangkah bersama menggunakan seragam sekolah lengkap dengan tas dan perlengkapan lainnya.


Aku tersenyum tipis ada sambil menatap ke arah mereka yang begitu sangat ceria dan bahagia. Mereka melangkah bersama-sama sambil bernyanyi riang seakan ia sedang digiring ke surga. Mungkin ini agak terlalu berlebihan tapi inilah pandangan seorang bocah yang tidak pernah sekolah sedang melihat bocah yang sedang berangkat ke sekolah.


Dari sini aku bisa melihat sosok Ami dan Angga beserta Cai dan Ririn yang nampak melangkah ke sekolah dengan berjalan kaki. Senyum mereka mengembang tiada tara. Aku bahkan tak bisa menghitung berapa tingkatan kebahagiaan mereka yang jelas mereka terlihat sangat bahagia.


Dulu aku sering menghayal bagaimana rasanya bersekolah seperti mereka tapi sekarang semua hanyalah sebuah khayalan bahkan mengharap pun sudah tidak boleh. Aku tidak boleh terlalu berharap bahkan harapan itu membuat aku menjadi malu.


Bocah sepertiku seharusnya tidak perlu terlalu tinggi bermimpi dan berharap hingga akhirnya aku jatuh meninggalkan sebuah harapan yang hanya menjadi sebuah cerita dan ilusi. Hampa rasanya.


Iya aku merasakannya. Pernahkah kamu makan sebuah masakan yang tak diberi garam? Rasanya seperti itu, hambar! Kau memang hidup di sebuah rumah dengan keluarga yang lengkap tetapi kamu tidak sekolah. Bagaimana rasanya?


Aku kembali tersenyum saat aku kembali menatap teman-temanku yang telah beranjak pergi cukup jauh tapi aku masih bisa melihat mereka bahkan aku bisa melihat salah satu dari mereka terlihat melompat-lompat.


Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena jarak mereka sudah cukup jauh tapi kedua mata ini masih bisa menjangkau mereka.


Wahai teman-temanku, bersekolah lah kalian.


Raihlah cita-cita kalian dan jangan mengabaikan tugas yang diberikan oleh bapak dan ibh guru kalian karena sesungguhnya tugas yang kalian jauhi adalah impian bocah seperti diriku yang ingin merasakannya.

__ADS_1


Kalian yang selalu merasa sedih saat harus bersusah payah bangun pagi untuk berangkat sekolah padahal itu adalah impian anak-anak yang tidak pernah merasakan sekolah bahkan ia selalu berharap bisa bangun pagi-pagi hanya untuk berangkat ke sekolah.


Aku bahkan pernah berpikir tentang pertanyaan dari kakak Nur yang bertanya mengenai apa cita-citaku dan aku menjawab, "Aku ingin menjadi tentara."


Ya impian anak kecil.


Dia kembali bertanya, "Mengapa kau ingin menjadi tentara?"


Aku hanya tersenyum malu dan menjawab, "Aku pernah melihat helikopter yang terbang di atas sana dan aku juga pernah melihat gerombolan tentara yang berjalan begitu gagah dan itu yang membuat aku juga ingin menjadi seperti mereka."


Tapi satu kalimat yang keluar dari mulut kakak Nur membuat harapanku itu perlahan luruh. Satu kalimat ini tak pernah akan kulupakan sampai kapanpun. Dia berkata seperti ini, "Kalau kau ingin jadi tentara maka kau harus sekolah tapi kau tidak sekolah berarti kau tidak bisa jadi tentara."


Dan semenjak hari itu aku berhenti untuk bermimpi. Aku berhenti untuk bercita-cita karena aku telah berhenti bermimpi untuk sekolah. Apakah aku patut lagi berkata kepada emak kalimat seperti ini, "Emak, aku ingin sekolah!"


Dan jawabannya adalah, "Kau tidak sekolah."


...~TAMAT~...


...📗📗📗...

__ADS_1


__ADS_2