Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
11. JANGAN MENANGIS ARI


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Bibirku bergetar berusaha untuk tidak menangis di depan sang emak.


"Kau berbeda dengan teman-teman kau itu."


"Beda apa?"


Emak nampak menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Ia terlihat menopang pinggang dengan tatapannya yang menatap ke arah lain seakan menolak untuk menatap aku.


"Emak!" panggilku yang kali ini benar-benar meminta jawaban darinya.


Aku tidak tahu mengapa emak tidak ingin menjawab pertanyaanku. Apakah terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan yang sangat sederhana ini? Apa salahnya jika dijawab anak kecil ini membutuhkan sebuah jawaban, jawaban atas alasan ketidak sekolahnya dia.


"Emak!" panggilku lagi.


Emak menghela nafas panjang, nafas yang benar-benar terdengar begitu berat seakan beban dunia ada pada dirinya. Ia yang sedang asyik berpura-pura dan menyibukkan dirinya untuk mengaduk sayur itu terhenti ia menopang pinggang dan menunduk menatapku tentu saja dengan tatapannya yang tajam seperti biasanya.


"Emak tidak tahu bagaimana caranya emak memberitahu kau tentang hal ini tapi nanti kau juga akan tahu mengapa kau tidak sekolah tahun ini.*


"Jadi Ari benar tidak sekolah?"


"Selamanya?" sambungku seakan menuntut sebuah jawaban lagi.

__ADS_1


Emak memejamkan matanya erat dan kemudian membukanya dengan perlahan membuat kedua iris mata itu memantulkan sosok diriku yang terlihat begitu cemberut di sana.


"Emak tidak mengatakan kau tidak sekolah tapi tahun ini kau tidak sekolah. Tahun depan mungkin kau akan sekolah seperti teman-teman kau itu, seperti Angga, Cai Ririn dan Ami."


"Tak ada bedanya kau sekolah tahun ini atau tahun depan, itu hanya perbedaan waktu kalau teman-teman kau bertanya kapan kau sekolah dan kenapa kau tidak sekolah tahun ini maka beritahu saja mereka kalau kau akan sekolah tahun depan."


"Beritahu mereka seperti itu. Kau akan masuk sekolah dan bertemu dengan teman-teman kau itu. Sekolah tahun depan bukan sebuah masalah.


Aku terdiam membisu karena sejujurnya aku tak tahu harus menjawab apa. Emak nampak tersenyum ia kembali menghilang nafas berat. Tersenyum miris seperti tidak ikhlas, ya aku melihat hal itu.


"Sekolah itu bukan hanya sekedar datang ke sekolah dan belajar. Sekolah itu butuh perjuangan kalau kau ingin sekolah tahun ini maka emak tidak punya uang untuk membelikan kau baju, tas, sepatu dan perlengkapan sekolah."


"Tapi kalau kau sekolah tahun depan tahun emak akan menabung untuk membelikan kau seragam sekolah, tas yang bagus dan juga perlengkapan sekolah lainnya. Apa kau mengerti?"


Wajah ekspresiku datar setelah mendengar penjelasan sang emak hingga tak berselang lama aku tersenyum lebar dan mengangguk begitu semangat. Kini aku mengerti alasan dari ketidak sekolahnya diri ini.


Aku tahu sekolah seperti yang lainnya membutuhkan pakaian seragam sekolah tas dan lain sebagainya jika terburu-buru seperti ini maka dimana emak harus mengambil uang untuk membeli seragam untuk aku. Pekerjaan bapak tidaklah menghasilkan uang yang banyak. Ari mengerti sekarang tapi...


Di saat emak melangkah pergi meninggalkan aku, aku mendongak menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 12.00 waktu pendaftaran telah habis, ya bukan hanya waktu pendaftaran yang telah habis tapi harapan sekolah tahun ini juga telah habis.


Ari tidak sekolah seperti yang lainnya tapi Ari harap Ari bisa sekolah tahun depan semoga saja belajar di sekolah itu bisa Ari rasakan.


...***...

__ADS_1


Suara aliran sungai terdengar seakan menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur, memperdengarkan suara lantunan salah satu suara yang akan dengar di surga nanti.


Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak tapi aku pernah melihat di salah satu sebuah buku yang Ami miliki yaitu, buku tentang surga dan neraka. Aku melihat di lembaran kertas yang tidak berwarna itu surga memiliki sebuah sungai dan tentu saja suara aliran sungai yang aku dengar saat ini juga sama seperti sungai yang aku lihat di gambaran tentang surga.


Ami mengatakan jika ingin masuk surga maka harus berbuat baik kepada manusia atau orang-orang lain yang hidup di sekitar kita. Tak perlu menceritakan apa itu gambaran tentang surga karena yang aku lihat adalah sebuah keindahan walaupun hanya sebuah gambaran tapi aku menghayal tingkat tinggi seakan aku akan masuk ke dalamnya esok hari.


Dan tak perlu aku menceritakan apa itu neraka karena sampai saat ini aku tidak berani melihat atau membuka lembaran kertas tentang neraka. Melihat lembaran tentang penyiksaan di sampul buku itu saja telah membuat aku menjadi merinding rasanya tak ingin hidup dan mati di dunia ini ini hanya sebuah pikiran tentang seorang anak-anak tak usah dipikirkan tapi benar saja buku itu telah merusak mental sepertiku, bocah penakut.


Kedua bahuku naik turun, sesekali punggung tanganku mengusap bagian bawah mataku yang sejak tadi selalu dibasahi oleh air mata. Seberapa besar aku berusaha untuk mencoba menerima sebuah kenyataan dan seberapa besar aku berusaha untuk mengerti apa yang dikatakan oleh sang emak kepadaku tapi tetap saja aku tak mampu menahan tangisan ini.


Sedih? Tentu saja aku merasa sedih. Harapanku dari dulu hanya sekolah tidak ada yang lainnya. Ari tidak apa-apa tidak mendapatkan sebuah mainan yang penting Ari sekolah lagipula Ari tidak punya mainan yang keren seperti teman-teman Ari.


Masih teringat ujaran sang emak yang mengatakan sekolah tahun ini dan tahun depan tidak ada perbedaan tapi menurut Ari itu memiliki sebuah perbedaan. Tahun ini Ari tidak sekolah sedangkan teman-teman Ari sekolah maka itu berarti teman-teman Ari akan lebih dulu pandai membaca, menulis dan menghitung sedangkan Ari belum bisa.


Mungkin ini agak terlalu berlebihan tapi ini hanya sebuah harapan. Siang dan malam aku membayangkan betapa indahnya sekolah. Bangun pagi-pagi, mandi di pinggir sungai dan setelahnya aku akan pulang lalu memakai seragam sekolah yang bagus dan langkah bersama dengan teman-teman, ya itu yang selalu terbayang di pikiranku hingga menjadi sebuah motivasi untuk aku sekolah.


Kini dadaku benar-benar terasa sesak, sakit terasa di dalam sana. Aku sesegukan sampai-sampai kepalaku pun ikut tersentak-sentak menggambarkan betapa sakitnya hati ini.


Ini mungkin lebih menyakitkan daripada sebuah kata patah hati, ya aku pernah mendengar kata patah hati dari TV, sebuah sinetron yang aku lihat di TV Ami. Sebuah rasa sakit hati yang hanya dirasakan ketika sebuah cinta tidaklah terwujud jauh dari sebuah khayalan dan memberikan sebuah kenyataan yang menyakitkan.


Aku menghembuskan nafas yang begitu berat mengusap dadaku berusaha untuk menyabarkan diriku sendiri, menguatkan dada seorang bocah yang begitu merasakan sakit hati.


Aku mendongak menatap ke langit yang membiru, bayangkan sosok Tuhan ada di atas sana sedang menatap aku yang begitu sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Tuhan, Ari hanya ingin sekolah. Ari benar-benar ingin sekolah."


...📗📗📗...


__ADS_2