
Paman Pang Rui sudah mengeluarkan kekuatannya yang berada di tingkat Nirwana Menengah, lalu dengan cepat dia menerjang musuhnya dengan Seni Tombak Abadi yang sudah dipelajarinya.
“Meskipun aku kalah dalam hal kultivasi, tapi kamu jangan meremehkan kecepatan dan gaya bertarung milikku bajingan! Maju sini!” teriak Jiang Wen berhasil menahan tombak Pang Rui.
Wang Chen sendiri sudah mengeluarkan sebuah pelindung setengah setengah bulat dengan energi qi miliknya, agar dampak pertarungan kedua orang itu tidak merembet kemana-mana.
*TING!
Awalnya Pang Rui bisa menguasai pertarungan dan memaksa Jiang Wen untuk selalu terpojok di samping arena lapangan itu, namun seiring waktu Jiang Wen menggunakan kelebihannya yakni kecepatan untuk menghindari semua serangan lawannya.
Kejutan tidak berhenti disitu, Jiang Wen bergerak memutari Pang Rui sambil memberikan tebasan menyilang secara beruntun. Ini menyebabkan jarak serangannya semakin dekat.
Bagi Pang Rui yang merupakan pengguna tombak sangat dirugikan, karena dia tidak bisa memberikan serangan telak dan mematikan, dia hanya bisa bertahan dari semua serangan itu.
Namun, setelah 1 dupa berlalu, kini kualitas dari kultivasi sangat berpengaruh, terutama mengenai kapasitas energi qi, Paman Jiang Wen terlihat sedikit menahan diri karena penggunaan energi qinya yang sangat boros tadi.
__ADS_1
Hal ini dimanfaatkan oleh Pang Rui untuk langsung memberikan serangan dan membuat jarak lagi, dia membutuhkan jarak yang agak lebar untuk bisa menggunakan senjatanya.
“Seni Tombak Naga Air : Tusukan Gelombang Air!” Pang Rui berhasil mengeluarkan serangan besar, dari tombaknya muncul sebuah gelombang air yang cukup besar dan langsung menghempaskan Jiang Wen.
“Seni Pedang Api Abadi : Dinding Api Abadi Tak Tertembus!” Jiang Wen membentuk pelindung untuk dirinya, dia berusaha untuk menguapkan gelombang air yang datang padanya itu, sayangnya itu adalah serangan palsu, karena…
“Kena kamu bajingan! Meskipun kamu sangat cepat, tapi karena kamu terlalu banyak menggunakan energi qi, sampai kamu tidak sadar mengenai seranganku ini! Matilah!”
Pang Rui sudah berdiri di samping kanan Jiang Wen, dia menebaskan tombaknya dan mengincar leher dari lawannya itu, hingga menggagalkan serangan dinding api milik Jiang Wen.
Wang Chen bergerak cepat dan berhasil menahan serangan tombak yang hendak mengenai leher Jiang Wen itu hanya dengan tangan kosong.
“Sudah cukup, kamu yang menang. Kamu mengakui hal itu bukan Paman Jiang Wen?” tanya Wang Chen menghempaskan tombak Pang Rui dan berbicara ringan dengan Jiang Wen yang terhuyung di tanah itu.
“Ya aku mengakuinya, aku mengakui kekalahanku!” jawab Paman Jiang Wen. Dia tidak menyangka bahwa mantan sahabatnya itu sudah berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
__ADS_1
“Kamu memang hebat, Pang Rui. Kalau begitu sesuai dengan taruhan kita sebelumnya, maka seluruh aset Rumah Dagang ini akan menjadi milikmu, aku–”
“Tidak usah mengatakan hal bodoh, Rumah Dagang ini akan tetap menjadi milikmu. Aku bertarung denganmu hanya untuk membuatmu sadar atas kesombonganmu sebelumnya,” jawab Pang Rui sambil mengulurkan tangannya.
Jiang Wen sebenarnya juga sudah tahu hal ini akan terjadi, tidak mungkin Pang Rui akan menjadi serakah hanya karena Rumah Dagangnya itu, akhirnya dia menerima uluran tangan sahabatnya itu.
“Ini adalah akhir yang indah, kalian berdua adalah sahabat di masa lalu dan sekarang aku akan menyatukan kalian kembali, jadi tidak ada lagi permusuhan lagi dalam hal ini,” ucap Wang Chen yang berdiri di belakang mereka berdua.
“Terima kasih, Tuan Muda! Anda sudah membiarkan kami untuk bertarung dan membuat temanku ini sadar, bukan begitu Jiang Wen?” tanya Pang Rui tersenyum.
“Benar, aku juga tidak menyangka akan bisa berbicara santai denganmu lagi, Sahabatku!” jawab Jiang Wen ikut tersenyum.
“Kalau begitu mari kita kembali ke dalam untuk membicarakan mengenai–”
*BOOOM!
__ADS_1
“SIAPA DIANTARA KALIAN YANG SUDAH MEMBUAT PERTARUNGAN TANPA IZIN DI IBUKOTA INI?!”