Fantasiku Menjadi Kenyataan

Fantasiku Menjadi Kenyataan
Chapter 18


__ADS_3

Ke esokan harinya diruang tahta hanya ada dark dan Rio, "Oh iya, petinggi yang satu lagi kemana, waktu turnamen juga dia tidak ada" tanya Rio santai. "Apa jangan-jangan si pemgawas adalah petinggi itu?" Tanya Rio sambil memasankan kedua tangan nya di mulut, seperti sedang berpikir.


"Itu bukan dia" jawab dark dengan santai. "Sebenarnya petinggi dari kalian itu ada urutannya?, Coba sebutkan!". Tanya Rio lagi. "Baik, yang pertama adalah saya lalu.." sebelum dark melanjutkan bicaranya Rio memotong nya "sebutkan dengan nama juga dong" saut Rio sambil menatap dark. "Baik yang mulia" dengan nada tidak senang. "Yang pertama adalah saya nama dark" dan lagi-lagi Rio memotong omongannya dark "tunggu-tunggu tinggi badan?, Umuur?, Masa gak disebutin" Ucap Rio sengaja agar membuat dark kesal. "Baik yang mulia!" Nada kesal dan dark mengistirahatkan tangannya di belakang sambil mengepalkan tangannya. "Kalau dia bukan satu-satunya harapan, akan ku bunuh dia dengan licik!? Pikir dark dengan muka kesal nya


"Saya adalah yang pertama dark, ting.." "mmm" Rio meregang kan tubuhnya. Dark semakin kesal.. "mungkin sebaiknya , ku hentikan dulu, haha" pikir Rio menahan tawa. Lalu dark pun melanjutkan pembicaraan nya "tinggi 160 cm, umur rahasia, aha!" ucap dark. "Apaa!" Ucap Rio terkejut, ya ya aku tahu, kata-kata terlarang untuk pe.." dark langsung memotong omongan Rio dengan auranya, Riopun melanjutkan pembicaraannya "pelajar, ya pelajar, hehe,," ucap Rio sedikit panik. "Aku lupa kalau ada orang di dalam bayangan itu" ucap Rio dalam hati. "Ekhem, Teruskan!" Ucap Rio. Yang kedua Joni tinggi 180 cm umurnya 133 tahun , yang ketiga si pemarah itu namanya bolt.." Rio memotong omongan nya dark lagi "pfft,haha itu nama asli atau samaran, kalau samaran bagus red atau anger, ahahahha" Rio tertawa terbahak-bahak sambil memukul pahanya sendiri. "Itu nama aslinya" saut dark, "oh" ucap Rio.


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Dan Riopun memberi isyarat untuk melanjutkan yang tadi.


Tinggi nya 175 umurnya tidak di ketahui. "Yang keempat ??????" Dia yang gak pernah muncul itu. Yang kelima "Blue" umur?? Tinggi 170, lalu yang ke enam adalah shine tinggi 176 dan umurnya 60 tahun.


"Kutebak dia pasti yang paling tua" pikir Rio sambil melihat dark "oh, jadi si empat , lalu kemana dia?" Tanya Rio serius. "Akhir-akhir ini dia bertingkah aneh" saut dark. "Apa dari awal dia memang lahir disini?" Ucap Rio "iya, tapi ibunya adalah manusia , ayahnya mati mengenaskan, dan orang-orang bilang dia dibunuh ibunya lalu kabur, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Waktu itu saat aku melihat-lihat rumah lamanya, disana seperti ada banyak bekas cakaran yang di hancurkan, awalnya kupikir batu itu hancur oleh gempa, karena waktu itu memang ada gempa, tapi di pecahan batu itu tidak alami, tapi seperti ada bekas pukulan, dan dalam pecahan batu itu ada cakaran, mana mungkin manusia bisa melakukan itu apalagi dia itu perempuan. sebenarnya dia seperti di paksa untuk benci manusia, saat ayahnya mati semua ras disini seperti menyalahkan ibunya dan membodohi si empat yang masih kecil agar menyalahkan ibunya. Jadi dia benci manusia". Ucap dark serius. Rio melongo dari tadi, Rio sangat serius mendengarkan cerita dark "hmm, mungkin saja dia ingin membunuhku, sesuatu yang dia benci malah menjadi pemimpin" ucap Rio "yah, mungkin saja" saut dark, lalu Rio berdiri dari kursinya "baiklah kita kan cari dia, dan selidiki desa ini mungkin ada ruangan tersembunyi atau semacamnya". Ucap Rio dengan tatapan serius lalu berjalan keluar dari ruang tahta itu.


Sementara itu di dalam ruang tahta Dark mengangguk ke bayangan. Lalu mengikuti Rio dari belakang. Beberapa saat kemudian "jadi dimana rumahnya itu?," Tanya Rio diatas batu sambil melihat dan merasakan sekitar. "Yang kurasakan hanya beberapa hewan dan lebatnya pohon, tidak ada bentuk yang aneh" pikir Rio. "Baik, Rumahya itu bukan seperti rumah yang mulia tau" jawab dark sopan sambil menundukan kepalanya, "Kau tidak perlu menjawab formal kalau kita sedang berdua, sekarang tidak ada orang-orang dibayangan itu," ucap Rio "baik" saut dark. "Lahh,, emangnya beda, rumahnya si empat?, sama rumah kalian" tanya Rio sambil lompat dari batu itu. "Iya" jawab dark. "Lalu!!??" Tanya Rio. Dark hanya menengadahkan kepalanya ke Rio. "Cewek ini!!" Ucap Rio di hati kesal. "Jadi bentuk rumahnya gimanaa!?" Ucap Rio sambil melihat dark tajam dan serius mengeluarkan auranya. Dark pun sedikit gemetar lalu menjawab pertanyaan Rio dengan serius "Rumahnya di bawah pohon besar pohon hanya sebagai jalan masuk dan keluar, itu sangat tersembunyi". Dan Rio pun terkejut dengan jawaban dark "wow, apa aku harus mengeluarkan auraku dulu baru dia menjawab dengan benar??, Tidak, tidak kalau keseringan dia malah akan terbiasa" pikir Rio sambil berjalan dan melipat tangannya dan kepalanya mengangguk-angguk. Dark yang dibelakang menatap dengan heran kekonyolan Rio.


Beberapa jam kemudian


"Kita sudah hampir sampai" ucap dark, "apa!, Pohon yang mana?" Ucap Rio semangat. "Pohon itu" ucap dark sambil menunjuk pohonnya. Rio langsung menengok pohon itu, "pantas saja aku tidak merasakan pohon aneh, ternyata pohon nya sama semua,njrr" pikir Rio sambil senyum aneh. "Kalau begitu ayo" ucap Rio sambil melompat-lompat kearah pohon itu. "Tu-tunggu, disana ada jebakan" ucap dark yang perlahan suaranya mengecil di kata jebakan, karena Rio langsung main terobos, tapi betapa kagetnya dark karena semua jebakan itu tidak aktif. "Sial, seharusnya aku tidak terkejut lagi, dia punya kekuatan di luar nalar bahkan untuk ras ku juga" pikir dark mengepalkan tangannya. "Dulu saja aku masih kena jebakannya meskipun sudah di beri tahu si empat" ucap dark sambil menuju pohon itu dan berkosentrasi melewati jebakan.


Di depan pohon itu, Rio fokus untuk merasakan tanah yang dalam nya kosong, dan hasilnya nihil Rio tidak bisa menemukan nya bahkan untuk masuk ke pohon itu, Rio sudah merasakan seperti tombol lalu dia menekannya, tapi tidak terjadi apa-apa. Sampai darkpun sudah ada di belakang Rio. "Kok tidak berfungsi ya" ucap Rio sambil membelakangi dark, "kau harus punya yang berhubungan dengan si empat itu sendiri" jawab dark. Sambil mendekati sesuatu di belakang batu, lalu dark menyimpan sepeeti kalung di belakang batu itu. Dan mendekati Rio lalu menekan tombolnya, dan terbukalah pintu masuk itu dan di pohon itu ada tangga menuju kebawah. "Wooooahh" Rio sambil mengacungkan jempolnya. "Sebenarnya mereka juga sudah modern, dari lama" pikir Rio. Dan Riopun masuk di ikuti oleh dark, Rio langsung berhenti dan matanya melihat kebelakang, di gelapnya ruangan garis mata Rio bersinar. Dark terkejut dengan tatapan Rio "ada apa?" Ucap dark "bukan, apa-apa, sepertinya pemilik rumah sudah ada disini" ucap Rio sambil melanjutkan langkah nya. "Apa??" ucap dark di hati sambil menengok langsung ke belakang, namun tidak ada siapa-siapa disana. "Benar-benar di luar nalar, aku tidak merasakan kehadiran apapun di belakang, apa dia memang tahu itu si empat?, Yah mau bagaimanapun juga tempat ini tidak ada yang tahu kecuali aku dan siempat itu sendiri" pikir dark. Dark melihat ke depan Rio sudah menghilang dari pandangan nya. Dark pun melanjutkan jalannya menuruni tangga itu. Setelah beberapa saat.

__ADS_1


"Tempat ini, sangat bersih dan rapih" ucap Rio, disaat Rio melihat-lihat ruangan itu, dark pun muncul "tempat ini sangat berbeda saat terakhir aku datang kesini" ucap dark. "Kau benar, seolah-olah tempat ini memang masih di huni". Saut Rio. "Bukan seolah-olah lagi, aku seorang memang tinggal disini." Saut orang yang jauh di belakang dark. "Apa!!??, Aku tidak merasakan hawa kehadirannya, meski aku sudah dikasih tau yang mulia" pikir dark sambil melompat ke arah Rio dan waspada, "jadi kau akan menampakan diri ya, kukira kau akan terus bersembunyi seperti katak" ucap Rio. "Hahahaha" sambil tepuk tangan, Tak,.... tak,.... tak..... suara langkah kaki di iringi dengan tepuk tangan santai semakin mendekat, "kau memang cocok jadi penerus ya, skill yang tertinggi dari menyembunyikan diripun tidak berguna di hadapan mu". Ucap si empat lalu muncul dari tangga gelap itu dengan tersenyum. "Apa dia si empat, dia sangat berbeda sekali, dari terakhir kali kita bertemu". Pikir dark heran.


>Flash back on<


7 bulan yang lalu, saat Rio berada di gua melakukan ujian. Dark yang sedang bersama dua anak gadis kecil itu bermain "keluar, jangan bersembunyi" ucap dark melihat pohon itu. datang lah seseorang dari balik pohon itu. "Kalian kedalam dulu" ucap dark pelan kepada kedua anak kecil itu, "baik" saut kedua anak itu, lalu masuk ke dalam. "Aku curiga, sebenarnya kamu ini laki-laki dingin atau ibu penyayang" ucap si empat. "Mau, apa kau kesini!?" Ucap dark serius. "Wow wow, tenang aku tidak akan mengigit mereka kok" ucap si empat. Dark menarik nafas "jadi, Alan mau apa kamu kesini?" Ucap dark. "Aku tetap tidak setuju manusia itu jadi raja." Ucap Alan. "kenapa, dia sudah menerima darah itu, dan juga secara berlebih tapi tidak apa-apa, bahkan bisa masuk gua itu dan melakukan ujian" ujar dark. "Tch, semoga saja dia tidak berhasil, dark kamu sangat berbeda setelah bertemu dengannya, apa kau menyukai nya?" Ucap Alan tersenyum. "Apanya yang berbeda, kau taukan kalau aku dari kecil selalu suka mengagumi orang kuat dan menarik, dengan dia pun juga sama". Ucap dark. " Yah kau memang gadis seperti itu, bahkan alasanmu ingin menyamar jadi laki-laki adalah karena itu, haha" ucap Alan sedikit kecewa. "Haha, kau benar" saut dark. Alan tersenyum, Lalu Alan pun pergi dan terlihat seperti sedang sedih. "Aku melakukan ini karena aku sayang padamu" ucap Alan dari hati. "Ku harap kau menyukai nya" ucap Alan sambil tersenyum.


"Apa, ada apa dengannya" pikir dark bingung, lalu masuk menghampiri kedua gadis kecil di dalam.


>Flash back end<


"Ah dark sayang, tidak.. tidak.. Sherly sayang, kamu disini untuk melihat ku?" Ucap Alan senyum mesum. "Sherly???, Ahahaha, ternyata kau pacar si empat, buka aja hodie mu ini" ucap Rio tertawa sambil menarik hodie nya Sherly. Rambut peraknya yang lurus langsung terlihat. "Wow, wow , wow" Rio mengacungkan jempolnya. Sherly terlihat malu dan langsung memukul Rio, Rio pun menangkap tangannya "kau secantik ini kalau dilihat dari dekat, sia sia saja menyamar jadi laki-laki," ucap Rio tersenyum menggoda Sherly, Rio hanya main-main, tapi Sherly seperti menganggapnya serius, wajah Sherly semakin memerah "kau, sialan" ucap dark sambil melepas tangannya dengan paksa lalu memakai hodie nya kembali. "Sial kenapa aku bilang seperti itu, padahal biasanya, aku sangat kaku kalau di hadapan orang apalagi cewek, pasti ini efek dari ujian, dia tidak salah pahamkan??" pikir Rio serius. Alan yang melihat mereka berdua terlihat sangat kesal. " Kau!!!! , Terus aja seperti itu karena sebentar lagi kau akan tamat" ucap Alan.


"Aku cantik, aku cantik, aku cantik" ucap Sherly di hati dengan wajahnya yang memerah dan kedua telapak tangannya memegang pipi. Saat Rio mau memegang pundak Sherly "ada yang aneh dengan sikapnya" ucap Rio lalu kedepan dan melihat Sherly, "sial". Ucap Rio memegang kepalanya dan menghadap ke atas.


Disisi lain Rina sedang mengambil gelas, tiba-tiba gelas itu tergelincir dari tangannya dan pecah.


Crash "ada apa Rina?" Ucap ayah Rina sambil menuju kedapur. "Tidak apa-apa ayah" saut Rina.


"Tunggu jangan bergerak bahaya" ucap ayahnya sambil kembali untuk membawa sapu. Ayah Rina mengambil bagian besar pecahan lalu memasukannya kedalam dus bekas dan menyapukan bagian kecil ke dalam pengki. Setelah beberapa saat sesudah ayahnya mengubur pecahannya di belakang rumah. "Rina kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu" ucap ayahnya. "Eh, ti-tidak kok" saut Rina lalu wajahnya memerah. "Apa, putriku yang imut menyukai seseorang" ucap ayahnya kaget. "Apa sih ayah" ucap Rina malu. "Bajingan mana dia, beritahu ayah!!" Ucap ayahnya kesal. "Ti-tidak kok, ayah tidak perlu khawatir." Ucap Rina "baiklah, tapi kalau ayah melihat mu menangis, gara-gara bajingan itu, ayah tidak akan memaafkan nya." Ujar ayahnya sambil mengepalkan tangannya. "Ih ayah, ayah fokus aja bekerja" saut Rina."apa ini firasat seorang istri" pikir Rina dengan memegang pipinya sambil berbalik dan masuk ke kamarnya. "Apa sih yang kupikirkan" ucap Rina sambil melihat langit-langit rumahnya. Lalu Rina mengangkat tangannya, "kuharap dia baik-baik saja". Ucap Rina dalam hati sambil tersenyum.

__ADS_1


"Anakku sudah terkontaminasi, dulu dia bahkan benci laki-laki" pikir ayah Rina.


Beberapa jam kemudian mereka berdua keluar dari tempat Alan, dan sampai sekarangpun Rio belum mengetahui nama si empat. "Ka-kalau begitu aku pergi dulu" ucap Sherly lalu langsung melompat. "Hadeuh 3 jam membuat nya sadar" ucap Rio menghela nafas. Lalu pergi mengikuti Sherly.


3 jam yang lalu


"Halo, sherly",, "hy" sambil memegang pundak kanan kiri, lalu melihat wajah Sherly. Matanya berputar kusut. "gara-gara aku bilang seperti itu" ucap Rio lalu duduk santai menunggu Sherly sadar.


Kembali ke waktu sekarang. Saat di ruang tahta. "Melihat sikanya pasti dia yang menyebar kan berita, dia penghianat" ucap Rio memukul kursinya. "Tapi, dulu dia bukan orang seperti itu yang mulia" ujar Sherly, "oh iya namanya siapa dan juga dia bahkan tau dirimu juga". Tanya Rio. "Dia teman masa kecilku namanya Alan yang mulia". "Dia pacar mu dulu, lalu kau putusin dan sikapnya berubah?, Benar-benar anak bucin" ucap Rio "apa!!, Bukan kok dia temanku saja" saut Sherly. "Hmm, pantas saja Alan bersikap begitu, Alan mungkin gak terima, haha" ucap Rio.


Sherly baru sadar percakapan nya tidak jelas bahkan hampir membongkar identitas sebenarnya.


Sherly pun berbisik pada Rio "jangan membahas itu disini yang mulia, dan panggil aku dark" ucap dark. "Owh, iya, baiklah" ucap Rio.


"Apa prajurit sudah siap melawanku?" Ucao Rio, beberapa sudah siap, kalau begitu kita mulai.


Dark mengangguk ke bayangan. Dan orang-orang itu langsung menghilang.


dan orang-orang pun berkumpul di lapangan itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2