
Ayah Rio pun membuka pintu, "ayah Rina?" Ucap Ayah Rio. "Oh dia ternyata sudah cukup tua, berarti dia foto anaknya, lalu kenapa anaku tidak sopan kepada bapak Rehan ini" pikir Ayah Rina. "Dengan bapak Rehan?". Ucap ayah Rina. "Eh bukanya dia mau ke Rio ya" pikir Ayah Rio. "Iya, silahkan masuk" ucap Ayah Rio sambil tangannya mempersilahkan masuk.
Di sana keluarga budiman (keluarga Rio) menyambut ayah Rina. Ayah Rina belum duduk, karena belum di suruh untuk duduk. "Kenapa dia belum duduk" pikir Rehan melirik-lirik (takut tatapannya) ayah Rina. Rio di sana hanya tersenyum ke ayah Rina. "Oh jadi dia anak yang di foto itu" pikir Ayah Rina sambil berdiri melihat Rehan. "Silahkan duduk" ucap Ibu Rio mencairkan suasana. Setelah Ibu Rio bilang seperti itu, Ayah Rina baru, duduk. Perkenalkan saya Toni Budiman," ucap Toni (ayah Rio) sambil menjulurkan tangan dan Ayah Rinapun menanggapi "saya Robi " ucap Robi (Ayah Rina) sambil salaman tangan, sebelum menanggapi Robi sempat berpikir "loh, jadi benar anak itu yang punya anak, mereka berdua ini mungkin kakek neneknya". Toni pun melanjutkan ini istri saya" ucap Toni sambil menunjuk istrinya "saya Dina" ucap Dina (Ibu Rio) sambil tersenyum. Dan mereka berdua adalah putra - putraku, "Rio" ucap Rio tersenyum sambil menundukkan kepala nya. "Sa-saya Rehan" ucap Rehan sambil menundukkan kepalanya dengan badannya sambil duduk. "Eh, jadi?" Pikir Robi penasaran. "Sebelumnya, dimakan kuenya dan minum dulu, ini silahkan" ucap Toni menyodorkan hidangan.
"Sebelum nya saya minta maaf, pak Robi, yang membalas chat bapak adalah istri saya" ucap Toni. "Owh, iya gak papa, saya juga minta maaf sudah menyita waktu kalian" ucap Robi dengan sopan sambil menundukan kepalanya. "Eh gak papa kok pak. Jangan seperti itu pak" ucap Dina.
"Keluarga yang harmonis" ucap Robi tersenyum. "Langsung saja ya, kedatangan saya kesini" ucap Robi dengan muka serius, muka keluarga budiman juga terlihat serius, "nak Rio tolong jaga anakku" ucap Robi sambil berdiri tiba-tiba lalu membungkuk. "Eh?" Rio tidak percaya. "Uwoooh" Rehan yang tadinya seperti takut, jadi bersemangat kembali dengan mata berbinar.
"Pak tidak perlu begitu, saya merasa gak enak" ucap Rio sambil ikut berdiri. "Iya pak tidak perlu berlebihan" ucap Toni (ayah Rio) sambil berdiri. Dan semuanya pun ikut berdiri "aku salah paham tentang keluarga ini" pikir Robi sambil tersenyum. "Sebenarnya, anakku murung akhir-akhir ini, tapi setelah kemarin nak Rio datang, anakku sedikit lebih ceria, jadi aku kesini mau minta tolong dan minta maaf ke nak Rio" ucap Robi dengan sopan. "Aku tidak punya pilihan, wajah Rio ini tidak menunjukkan dia anak nakal" pikir Robi.
"Terima kasih telah meluangkan waktunya, kalau begitu saya pamit dulu" ucap Robi.
"Eh, gak di bawa nih makanan nya" ucap Dina. "Hehe, gak usah, saya pamit dulu" ucap Robi.
"Oh iya silahkan," ucap Toni. Setelah Ayah Rina (Robi) keluar, "tuh kan dia tidak segalak itu" ucap Dina. "Iya bu, tapi tatapannya menyeramkan" ucap Rehan menunjukan ekspresi mengigil ketakutan. "jangan menilai buku, dari sampulnya saja" ucap Dina. "Sayangku kamu tidak mengerti, orang orang sekarang tertarik buku emang sampul" ucap Toni sambil menggelengkan jari telunjuk nya. " Iya ibu, pasti mereka berpikir kalau sampul tidak menarik, apalagi isinya" ucap Rehan. "Peduli amat sama orang lain, ya kita jangan meniru mereka menilai buku dari sampul" ucap Rio. "Betul" saut bu Dina. "Aku tau Rina merasa bersalah, karena aku menyelamatkannya, aku ragu dia menyukai atau mengagumi saja" ucap Rio. Keluarga budiman melongo melihat Rio bilang seperti itu. "jelas-jelas dia menyukai nya, ni anak bego ya?" Pikir Toni. "Aduh kakak kan gak tau Rina selalu menangis" pikir Rehan sambil mengigit jempolnya. Dina hanya tersenyum.
"Reaksi mereka aneh ^_^' ". Pikir Rio. Setelah mereka bangun dari kursi, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Sontak mereka merespon suara tersebut kecuali Rio karena sudah tau ada orang. "Eh apa pak Robi balik lagi" ucap Rehan. "Entahlah, Rio buka oleh mu" ucap Toni. "Lah ayah bukannya kamu sesama pak tua yang harus bertemu biar singkron " ucap Rio tertawa kecil.
__ADS_1
"Dasar, cepat" teriak ayah. "Iya, iya gak perlu berteriak juga" ucap Rio.
Riopun berjalan mendekati pintu. Lalu membuka nya, "eh?, Rina?" Ucap Rio kaget. Rina tersenyum, Rio juga merasakan ada seseorang di balik bangunan itu, "haah" Rio menghembuskan nafas " itu pasti ayahnya" pikir Rio. "Rina ayo masuk". Ucap Rio mempersilahkan masuk. Ayah Rio (Toni) sedang bersiul sambil pergi kekamar dengan istrinya, Rehan juga balik ke kamar.. "Sial apa mungkin mereka sudah tau?" Pikir Rio kesal. "Oh Rina silahkan duduk" Rinapun duduk.
Beberapa saat yang lalu , pas Rio berjalan ke pintu pak Toni berbicara " itu pasti Rina" ucap Toni. "Tau dari mana ayah" ucap Rehan. "Percaya pada firasat ayah" ucap Toni, "sayang firasat mu selalu benar,aku percaya padamu" ucap Dina. "Ah sayang" ucap Toni tersenyum sambil memeluk istrinya. "Tch, malah mesra-mesra an depan anak" pikir Rehan kesal. "Kalau begitu kita pergi, biarkan mereka berdua mengobrol, ayah mau tidur lagi , hari ini hari libur nasional, makanya kemarin kerja lembur" ucap Toni. "Eh iya, ya pantesan Ayah kak Rina kesini" ucap Rehan. Dan mereka pun kekamar. Toni sengaja yang paling akhir ke kamar dan bersiul biar membuat Rio kesal.
Rio mengambil sisa makanan di meja lalu kedapur dan mengganti dengan yang baru. Setelah selesai Rio menghidangkan kueh itu, "mau air putih/ susu, kebetulan hanya punya dua itu saja" ucap Rio. "Ah gak papa kok, gak usah repot-repot, lagian aku gak ada janji langsung datang kesini." Ucap Rina menggelengkan tangannya. Riopun menuangkan air putih "nah silahkan" ucap Rio. Rina malu-malu. "A-anu Rio, emang kamu gak bisa lagi sekolah ya?" Ucap Rina. "Eh?" Ucap Rio bingung, "tau dari mana dia?" Pikir Rio. "I-iya untuk sekarang, kamu lihat kan rambut dan pupil mataku berubah" ucap Rio. "Ta-tapi kan tinggal pake lensa dan pake wig, a-atau warnai lagi rambutmu" ucap Rina. "Iya, tapi ada hal yang harus ku kerjakan dulu" ucap Rio. "Kamu tinggal bersama makhluk itu kan?" Ucap Rina menunduk dengan suara lesu. "Apa?, kerjaan si Rehan nih" pikir Rio sambil melihat kamar Rehan, Rehan yang sedang mengintip pun langsung menutup pintunya. "×-_-" itulah ekspresi Rio. "Haah" Rio mengeluarkan nafas, lalu berdiri dan mendekati Rina yang sedang menunduk. "Sekarang atau tidak pernah" pikir Rio. Rio pun memegang pundak Rina, Rina kaget lalu melihat ke atas, "cuuuu" Rio mencium Rina. Rina kaget matanya sempat melotot, tapi tidak melawan dan Mulai memejamkan mata. Setelah mereka selesai, Rio tersenyum lalu memberikan sesuatu, "nih, kamu tiup nanti, maka akan ada burung, kamu bisa bertukar surat denganku lewat burung itu." Ucap Rio, muka Rina merah dan hanya mengangguk tidak percaya. Tubuh Rina kaku. "Fiuuh, untung aku buat dua" pikir Rio tenang.
Kamar ayah, "sejak kapan bocil itu jadi dewasa, anak jaman sekarang dasar" ucap Toni di balik pintu sedang mengintip, Dina hanya memegang pipinya terlihat tersipu melihat anaknya seperti itu.
"Apa yang baru saja terjadi?, Apa aku sedang bermimpi?, Kenapa aku menerima nya?, Ada apa denganku?" Pikir Rina terus berkecamuk dengan pertanyaan itu. " Rina?, Apa kamu mendengarku?" Ucap Rio. "Eh, i-iya, aku tidak akan sedih lagi" ucap Rina semangat sambil berdiri kaku lalu berjalan seperti robot ke arah pintu. "Rina" teriak kecil Rio. Rina pun berhenti, "kuehmu" ucap Rio sambil menyodorkan plastik berisi kuehnya. "ku antar ya" ucap Rio, lalu melihat kebelakang dengan tajam. Di balik-balik pintu tersenyum. Di sepanjang jalan Rina diam seribu bahasa dan menunduk juga. Rio juga bingung karena dia memang tidak bisa mencairkan suasan. "Anu, Rina.." ucap Rio sambil menggaruk pelan pipinya. Rina lalu melihat Rio, dan Riopun langsung " yang semangat" dengan teriak dan pose aneh. "-_-' " itulah ekspresi Rina, "eh gak lucu ya?" Ucap Rio bingung "pfft, haha" Rina tertawa. Rio tersenyum "seperti nya itu, bukan di buat-buat" pikir Rio. Rio juga tau ayah Rina mengikuti mereka dari belakang. Setelah Rina berhenti tertawa, "kenapa tertawanya telat?" Ucap Rio , "lucu saja melihat ekspresi mu tadi yang gagal membuatku tertawa dengan pose aneh" ucap Rina sambil menyusut air matanya. "Heeeh" ucap Rio tersenyum. "Syukurlah, dia kembali normal" pikir Rio. Tak lama setelah itu mereka pun sampai di rumah Rina.
"Kalau begitu aku pulang dulu" ucap Rio sambil membalikan badan dan berjalan keluar, "Ri-Rio tunggu" Rio membalikan badannya. Dan Rina pun berlari memeluk Rio "terima kasih" ucap Rina sambil tersenyum. Rio tersenyum lalu mengelus kepala Rina. Setelah beberapa saat "aku pergi ya". Ucap Rio "jangan lupa balas suratku" teriak Rina tersenyum lalu masuk. Rina memegang benda pemberian Rio dan memegang erat oleh tangan di depan dadanya dan tersenyum.
"Aku akan pamitan sebentar" Rio. Setelah Rio pulang, disana keluarga budiman sudah menunggu. "Dasar bocah sejak kapan kau berani seperti itu" ucap Toni, "anaku kamu sudah besar" ucap Dina. "besar dari mana sayang, dia masih smp,dasar bocah sekarang" ucap Toni.
"Ish, ayah tenang, aku tidak akan melampaui batas, lagian kita juga bakal jarang ketemu" ucap Rio sambil tangannya (seperti gerakan stop) dan tangannya satunya di dahi. "Kakak, kakak kamu beruntung sekali dapat kak Rina, padahal dulu nolep. " Ucap Rehan. Rio tersenyum "ck, ck ,ck, kamu hanya tidak tau adiku" ucap Rio menggeleng kan kepalanya. "Emang tidak tau" saut Rehan. "Kakak diam-diam belajar seni bela diri." Ucap Rio tersenyum sombong. "Apa??" Rehan kaget. Tapi orang tuanya tidak kaget, melihat mereka seperti itu, Riopun berpikir" apa itu firasat ayah?" Pikir Rio, "kalau begitu aku pergi ya" ucap Rio lalu berlari menjauhi rumahnya.
__ADS_1
"Anak ini" ucap kedua orang tuanya, mereka berdua saling menatap, lalu tersenyum. "Ayo masuk " ucap Toni. Ekspresi Rehan menunduk tidak percaya. Lalu mengikuti masuk.
>Tadi pagi<
Setelah Robi (Ayah Rina) keluar rumah Rio dia berjalan pulang menuju rumah, tapi saat di perjalanannya dia melihat Rina.
"Apa??putriku?," Pikir Robi sambil berlari sembunyi. "Eh, kenapa aku sembunyi?". Lalu Robi pun mengikuti anaknya. Rina juga sempat merasa tidak enak seperti ada yang mengikuti, disisi lain juga Rina merasa aman. Tak lama kemudian Rina pun sampai di rumah Rio. "Kenapa putriku ke sini pagi-pagi." Pikir Robi. "Apa sih yang di sukai putriku dari nya" ucap Robi sambil menyalakan rokok dan menyender di tembok. Setelah beberapa saat (rokok kedua mau dinyalakan) suara pintu terbuka. "Apa mereka keluar?" Pikir Robi lalu melihat Rina yang mukanya memerah. "Sial, apa yang terjadi dengan putriku" pikir Robi sambil meremas rokoknya. Sepanjang jalan Robi mengikuti mereka, "mereka dian saja?" Ucap Robi pelan. Lalu Robi pun melihat Rio akan melakukan sesuatu, awalnya Robi mau muncul, tapi dia mengurungkan niatnya. Dan melihat Rio melakukan pose aneh itu. Lalu melihat putrinya tertawa. Robi juga terlihat lebih tenang dan tersenyum. dan sampai akhir pun Robi ikuti. Setelah Rina masuk, Robi pun masuk.
"Ayah?, Kamu dari mana?" Ucap Rina. "Dari teman ayah" ucap Robi. "Oh,baiklah" ucap Rina senang sambil bernyanyi pelan lalu masuk kekamar.
>Kemarin malam<
"Aduh, aku lupa menanyakan apapun, besok pagi saja" ucap Rina sambil berbaring di tempat tidur dan mukanya memerah mengingat kejadian dia memukul-mukul Rio, lalu Rio memeluk dirinya, "kenapa aku melakukan itu sih" pikir Rina sambil membawa bantal dan memeluk nya.
"Besok tanpa ketahuan ayah, aku akan kerumah Rio" ucap Rina. Besok paginya Rina mencari, "eh ayah kemana?" Pikir Rina, "ayah?" Teriak Rina, "sudah kuduga ayah tidak ada, kalau begitu aku bisa mandi dulu dan bersiap" pikir Rina. Setelah selesai bersiap, Rina pun keluar Rumah.
Note: kemampuan Rio ini hanya bisa mengetahui lokasi makhluk hidup dan tujuan mereka (manusia) karena merasakan auranya, adapaun bentuk dan gender Rio tidak tau.
__ADS_1