
Setelah beberapa hari polisi mencari, tetap tidak ada hasil "kami sudah berusaha yang terbaik untuk menemukan Rio, maaf" ujar polisi Rendi. "Gawat, dia tidak akan berfikir rasional". Ucap bu Tuti dalam hati. Dan ternyata Rina hanya diam, dia tidak bereaksi apapun. Dan bu Tutipun memeluk Rina, "ayo Rina kita pulang, kita beritahu keluarga Rio". Rina hanya bisa menganguk. Lalu bu Tuti membuat janji dengan orang tua Rio, kalau mereka mau datang kerumah Rio. Setelah itu Bu Tuti dan Rina pun pergi ke rumah Rio untuk memberitahu keluarganya, awalnya mereka pake mobil angkutan umum, namun untuk masuk ke dalam kampung Rio terpaksa mereka berjalan karena jalannya yang hanya bisa di lalui motor ataupun sepeda. Di tengah perjalanan ada seorang anak laki-laki yang sedang bersepeda, dia kelihatan terburu-buru, dari belakang "awas-awas" ucapnya teriak, Rina yang melamun tidak sempat bereaksi dan bu Tuti pun akhirna menarik tangan Rina dan jatuh kepinggir jalan, si anak itu pun jatuh keseberangnya. Rina kurang mood untuk memarahinya, tapi bu Tuti menghampiri anak itu "apa kau tidak apa-apa". Ucap bu Tuti mengulurkan tangan. "lain kali hati-hati ya, jangan kebut-kebutan di jalan yang sempit ini" . "i -iya aku minta maaf". Ucapnya menundukan kepala sambil tangan di belakang kepala.
"kakak yang disana, apa baik-baik saja" tanya anak itu khawatir. "Iya, aku ba..." Rina bicara sambil melihat anak itu, Rina belum menyelesaikan kalimat nya dan diapun "Ri-Rio?, kamu baik-baik saja?" ucap Rina kaget dan bersemangat, yang awalnya lesu Rina bersemangat karena melihat anak itu. "bukan, aku bukan Rio, Rio itu kakakku, namaku Rehan" jawabnya.
"dia Rio?" ucap bu Tuti dalam hati.
"Apaa! kamu adiknya? Ucap Rina kaget, lalu Rina mendekat dan ingin memberitahunya, dan bu Tutipun memegang pundak Rina sambil menggelengkan kepala bu Tuti tanda jangan memberitahu.
>2 hari yang lalu<
Ibu Rio mau menjemur pakaian, saat dia keluar dia melihat burung di tempat menjamur pakaiannya, dan dia menghampiri nya, "loh, biasanya burung akan terbang kalau di dekati" ucap ibu Rio penasaran, lalu bu Rio pun lebih mendekat keburung itu dan melihat ada yang di tali di belakang kaki burung itu. Bu Rio pun melepasnya dan membuka kertas itu, dan ternyata di dalamnya ada surat dari Rio. Ibu Riopun membacanya, "geez anak ini". Ucap bu Rio merasa lega karena anaknya tidak apa-apa, dan ibu Rio pun menjelaskannya kepada Ayah, dan adikmya Rio.
"emang ada apa sih, sampai kirim surat pake burung segala, seperti fantasi yang sering dibaca kakak". Ujar Rehan penasaran.. "halaah biarlah, mungkin dia ingin hidup sendiri, ayah tidak tega melihatnya lesu terus, dan hal ini membuatnya tertarik jadi biarlah" ucap ayah Rio semangat.
"yah, mau gimana lagi." saut ibu Rio.
__ADS_1
"Kakak yang kutu buku itu membuat kegaduhan apa sih di sekolah" ucap Rio. "Entahlah, mungkin sebentar lagi pihak sekolah akan menelpon" ujar Ayah Rio.
>Kembali ke masa sekarang<
"Kalian kenal kakaku, si kutu buku itu?" ucapnya ngeledek, disisi lain "hachiw" Rio bersin
"kedua gadis cantik ini, teman kakaku, sulit dipercaya" ucap Rehan dengan muka serius dan tangan didagu. "hmm, ya? " ucap Rina bingung. "dua gadis cantik?" pikiran buTuti kemana-mana sambil memegang pipinya.
"kalau gitu, aku pergi dulu" ucap Rehan lalu mengambil sepeda nya. "tu-tunggu antarkan kami kerumah mu" ucap bu Tuti. "hmmp, apa kamu mau melamar kakak?" tanya Rio polos. "buzz" angin keluar dari mulut Rina tanda kaget. "haha, tidak kok" saut Rina "kasian, dia tidak tau kalau abangnya hilang di hutan" pikir Rina memasang muka khawatir.
Mereka pun sampai di rumah Rio, "tunggu sebentar ya" ucap Rehan lalu masuk,
Terdengar suara teriakan di dalam rumah "apaa, ambil sekarang" teriak seorang wanita di rumah itu, "ba-baik bu" saut Rehan berlari keluar. Ekspresi bu Tuti dan Rina hanya melongo.
"maaf ya, kalian jadi melihat hal yang memalukan" ucap wanita itu lembut dan tersenyum . "ti-tidak apa-apa kok" jawab bu Tuti, lalu bu Tuti pun bertanya"apakah anda ibunya Rio".
__ADS_1
"iya, silahkan masuk" ucap Ibu Rio mempersilahkan masuk. Lalu keduanya pun masuk "silahkan duduk, maaf ya hanya ada air, anak itu malah kelupaan barangnya" ujar Ibu Rio. "ti-tidak apa-apa kok, hehe" ucap bu Tuti menahan panik, karena dia juga tau Rehan terburu-buru tadi mungkin karena ini. "Ibu maksud kedatangan kami disinii.. Rina mulai menundukan kepala ... Mau memberitah sebelum bu Tuti meyesaikan kalimatnya " tunggu, hosh hosh " teriak Rehan, jeng jeng sambil menunjukkan makanan ringan nya, ibu Rio ada tanda marah lalu melambaikan tangan ke Rehan menyuruh nya untuk kesini. "Terima kasih ya" ucap Ibu Rio senyum dingin.
"Siap bu, no problem, hehe" saut Rehan lalu duduk di samping ibunya. Wajah ibu menunjukkan senyum kemarahan, tapi di tahan. Bu Tuti dan Rina hanya melihat, dan ada setetes air keringat yang besar di belakang ke palanya.
"aduh maaf terganggu ya, silahkan lanjutkan" ujar Ibu Rio lembut. Lalu bu Tuti pun menjelaskannya secara detail. Namun setelah selesai menjelaskan bu Tuti tidak melihat ekspresi kaget ataupun sedih. Yang terlihat hanya ekspresi khawatir saja. "aneh, kok dia tidak kaget atauun sedih" pikir bu Tuti heran. Tapi tiba-tiba "wooah ternyata kakaku keren juga yah, aku gak tau dia bisa beladiri" ujar Rehan kagum. Dan ibu Rio mulai tersenyum kesal lagi.
Disisi lain "hachuw" aduh bersin lagi ujar Rio, "yang ini pasti membicarakan kebaikanku" ujar Rio sombong dan muncul ilustrasi hidung pinokio.
"Apaa!" Rina kaget, "itu kakakmu loh dia hilang di hutan" ucap Rina tegas. Rehan mau menjawab ucapan Rina itu tapi di tahan oleh Ibunya "tunggu, Rina kan?" tanya Ibu Rio.
"Sebelumnya dua hari yang lalu sebelum kalian kesini Rio sudah memberi surat dan lagi surat itu pake burung" ucap Ibu Rio menjelaskan lalu memberikan surat itu. "kalau memang seperti itu berarti Rio di jadikan test subjek, tapi mengingat dia berhasil mengirim surat berarti percobaanya berhasil". Ucap Ibu Rio menjelaskan dengan serius.
"apaa tes subjek" Rina kaget dan pingsan.
Note: Ada apa dengan Ibu Rio, kenapa dia bisa tau?
__ADS_1