Fantasiku Menjadi Kenyataan

Fantasiku Menjadi Kenyataan
Chapter 22


__ADS_3

"Anu, anu, aku menyelinap keluar dari rumah kak" ucap Rehan sambil memainkan kedua jari telunjuk nya dan kepalanya menunduk. "Ya, aku tau kamu pasti menyelinap, bagaimana kamu bisa kesini?" Ucap Rio. "Apa, dia mengikuti ku?, tapi kenapa aku tidak merasakan nya?" Pikir Rio. "Sebenarnya, dari dulu penciumanku tajam,,,,masa aku harus bilang gitu" pikir Rehan, "aku mengikuti mu kak". "Sudah kuduga, tapi kenapa aku tidak bisa merasakan nya?, Apa dia berbohong?, Akan ku tes" Pikir Rio. "Kenapa kamu mengikuti ku?, apa kamu tau kejadian semalam?" Ucap Rio sambil memegang pundak Rehan. "Sial, lagi-lagi aku tidak memikirkan akan kesana, dasar panikan" pikir Rehan. "Anuu, maaf kak aku berbohong, sebenarnya aku dari dulu punya penciuman yang tajam, aku selalu merahasiakan nya karena takut di angggap aneh" pikir Rehan melamun. "Apa??, Kalau kamu beritahu kakak dulu, kakak gak akan kebosanan, haha" ucap Rio bercanda. "Aku mana tau kakak, dimaafkan nih?" saut Rehan "iya, iya, aku tau perasaan mu kok" ucap Rio tersenyum. "Yah aku juga jadi yakin dengan kemampuan ku ini, setelah ibu menceritakan itu, " ujar Rehan. "Cerita itu?" Ucap Rio penasaran. "Iya kak, sebenarnya......." Rehan menjelaskan apa yang di ceritakan ibu waktu itu. Rio sedikit terkejut disini "apaaa, jadi selama ini fantasi itu ada didekatku, haha, kita adalah keturunan dari ras ini, haha" Rio tertawa terbahak-bahak.


"Halo, Rehan??"ucap Rio menyadarkan Rehan "Eh?,eeh?"ucap Rehan kaget, "apa?, Apa dari itu cuma hayalanku?"pikir Rehan. "Ada apa denganmu Rehan?," Ucap Rio, "aku tidak kenapa-napa, kakak tadi tanya apa ya?,hehe" Ucap Rehan sambil menggaruk kepalanya. "Hadeuuh kau ini, kenapa kau mengikuti ku?" Ucap Rio serius. "Anu kak sebenarnya, kak Rina sangat ingin bertemu kakak, dia merasa sangat berterima kasih pada kakak, makanya ingin mengucapkan langsung dihadapanmu, dan juga dia merasa bersalah, kak Rina bahkan ingin kesini sendiri, makanya aku berinisiatif kesini dulu, agar kak Rina tidak kesini, jadi kakak yang harus kesana,haha" ujar Rehan.


"Kalau urusan dia mencintai dan menangis terus mah biar kakak, yang tau sendiri, masa aku harus memberitahunya, hihi" pikir Rehan.


"Yang benar?," Ucap Rio, "iya benar kak" saut Rehan. "Kalau begitu apa kamu tau kejadian semalam?" Ucap Rio. "aduh, aku harus tenang, gunakan penciuman mu Rehan" pikir Rehan. "oh iya kalau gak salah, saat di perjalanan aku mencium bau darah ada bekas cakar di pohon seperti telah terjadi peperangan, baiklah aku akan bertaruh" pikir Rehan. "Iya kak, aku sembunyi, karena ku pikir ada perang semalam, aku tidak tau detail nya karena aku sembunyi, hanya suara yang terdengar" ucap Rehan dengan mata meyakinkan. "Apa?, Itu terlalu berisiko bodoh, syukurlah kamu baik-baik saja" ucap Rio sambil memeluk Rehan, " dia sepertinya tidak berbohong, tapi kenapa aku tidak bisa merasakan nya ya" pikir Rio. "Kalau gitu ayo pulang" ucap Rio sambil merangkul adiknya , Rio lalu mengangguk ke Dark (tanda untuk mengurus sisanya).. Dark mengangguk kebayangan, "apa dia adiknya?, aku sedikit merasakan ada darah keturunan dari ras manusia serigala dalam dirinya, pasti akan mudah ketemu kalau berada dekat, apa dia berbohong? Haha ini menarik" pikir dark sambil tersenyum dan juga serius memikirkan hal tersebut.


Rio berjalan keluar ruangan tahta itu, "mau ku gendong?, Atau mau jalan sendiri" ucap Rio sambil berjelan kedepan Rehan dan duduk mempersilahkan Rehan kepunggung nya. "Siap kak, haha" Rehan tersenyum. "Gak ada basa basi kah, menolak dulu gitu?" Ucap Rio bercanda. "Haha, kupikir akan lama kalau aku berjalan, dan aku juga lelah" ucap Rehan. "lelah?" Rio curiga. "eh-eh iya, karena takut aku jadi tidak tidur saat bersembunyi" ucap Rehan. "Masuk akal juga" pikir Rio sambil berdiri menggendong Rehan. "Aduh hampir keceplosan, untung gak bilang lelah karena berlari semalaman." Pikir Rehan.


Rehan di gendong di punggung nya Rio, Rio berlari dengan sangat kencang, "woah kakak,.kau keren sekali" ucap Rehan senang. 'hebatkan haha, tapi lain kali kalau tidak ada hal penting, jangan masuk kesini sendirian bilang kakak dulu, bahaya" ucap Rio sambil berhenti. "Lalu aku harus apa kak?" Ucap Rehan "kan ibumu selalu menerima surat dari kakak lewat burung, yah kamu juga buat surat lalu tempelkan ke kaki burung itu" ucap Rio "tapi kak, aku gak mau ibu tau" ucap Rehan "hadeuh,kau ini" ucap Rio "omong-omong tadi juga penting kakak, makanya buru-buru" saut Rehan, "lah emangnya ada kejadian penting apa, hingga harus mengikuti ku? Ucap Rio, "i-itu soal kak Rina tadi" ucao Rehan, "owh, tapi kamu juga gak harus sampai rela jauh-jauh mengikuti ku kesini, gimana kalau kenapa-kenapa?, Siapa yang repot, kamu tau kan tempramen ayah" ucap Rio serius "i-iya kak maaf" ucap Rehan cemberut, "dasar kakak bodoh, apa dia tidak sadar, kak Rinaa jatuh cinta banget padamu, " pikir Rehan greget. "Kau pasti sedang menjelekkan kaka ya?" Ucap Rio pura-pura kesal. "Ti-tidak kok kak, hehe" saut Rehan senyum terpaksa, "nih" ucap Rio sambil lanjut berlari lagi, "apa ini kak?" Ucap Rehan sambil memegang dan melihat benda itu.


"Itu untuk memanggil ku, kau tiup itu maka akan ada burung datang, ya kamu tulis surat tempelkan dikaki burung, selesai" ucap Rio, "itu bukan memanggil, tapi menghubungkan" ucap Rehan, "iya kan setelah menghubungi, kakak mungkin akan datang, kalau sibuk ya enggak" ucap Rio. "Dasar, baiklah dari pada gak ada" ucap Rehan kesal.


Setelah beberapa jam


"Kakak kau tidak lelah?" Ucap Rehan. "Tidak, ini berkat kekuatan ini, haha" ucap Rio sombong.


"Aku yang lelah kakak, hehe" ucap Rehan. "Ini hampir sampai dek, sabar ya, kakak pelan-pelan deh," ucap Rio. "Di hutan daerah kakak sepi banget ya, gak ada hewan buruan atau pemangsa hewan." Ucap Rehan. "Mereka mah ternak babi, tapi kakak mah gak makan babi" ucap Rio. "Karena kita mendominasi jadi gak ada hewan pemangsa di wilayah kita, mereka takut." Ucap Rio. Kalau hewan kecil mah pasti ada." Ucap Rio.

__ADS_1


Mereka mengobrol sepanjang jalan sampai ke rumah, "kakak tadi menyenangkan, baru pertama kali menghabiskan waktu denganmu, hehe" ucap Rehan senang. "Haha, iya - iya" saut Rio sambil mengelus kepala Rehan. "Kakak stop, aku bukan anak kecil" ucap Rehan (padahal senang di usapin kepalanya oleh kakak nya. Dari balik jendela seorang ibu tersenyum.


"Baik lah kalau begitu, kakak pergi dulu ya ke rumah Rina" ucap Rio, "tidak akan masuk dulu kak?," Ucap Rehan. "Kapan-kapan yah, soalnya kakak juga gak akan lama di rumah Rina" ucap Rio. "Baiklah" ucap Rehan cemberut. "Haha, ucapkan salam pada ibu dan ayah ya" ucap Rio sambil mengelus kepala Rehan. "ih sudah kubilang jangan mengelus kepalaku!" Ucap Rehan membalikkan badannya, Rio tersenyum. Saat Rehan membalikan lagi badannya Rio sudah tidak ada. "Dasar kakak bodoh," Rehan menahan tangis, lalu Rehan pun berjalan kepintu lalu membuka nya, Rehan berjalan menunduk kan kepalanya. "Darimana aja kamu?" Ucap Ibu nya dari samping mengagetkan Rehan. "Eh anu, itu ibu, aku, aku.." Rehan bingung mau menjawab apa. Ibu nya hanya tersenyum, "seperti nya kamu lelah, cepat kekamar, untung besok libur" ucap ibunya. "Baik bu" saut Rehan lalu menuju kamarnya. "Ada yang aneh dengan ibu, dia jadi baik, seperti keajaiban dunia akan terjadi saja" pikir Rehan. Lalu duduk di kasurnya dan melihat barang pemberian Rio dan secara tidak sadar Rehan langsung terlelap.


Ibunya membuka pintu Rehan, "anak ini, menyelinap malam-malam, untuk menemui abangnya" ucap ibu sambil tersenyum lalu menutup pintu.


>Tadi malam<


Rehan berhala perlahan menuju pintu. Ternyata ibu dan ayahnya belum tidur.


Rehan mana berani membuka pintu kamar ayah dan ibunya hanya untuk mengecek, yang Rehan pikir karena itu sudah tengah malam. "Dia mau kemana malam-malam gini" ucap ayah nya "eh, siapa?" Saut ibu. "Anakmu" saut ayahnya "app.. sebelum berteriak lengan ayah langsung menutup mulut ibu. "Ih sayang, kita hentikan dia" ucap ibunya sambil bangkit. Namun ayahnya memegang tangan nya, "jangan, mungkin ada hal yang penting, sepertinya dia akan menemui Rio" ucao ayahnya. "Apa??, Tapi kenapa?,lepaskan akan ku bawa Rehan" Ucap ibunya. "Itu kan hanya dugaanku saja, tenang lah sayang, kalau ada apa-apa kita buat lagi, sudah lama kita tidak melakukannya, sekarang kita berdua" ucap ayah sambil menarik ibu. Dan mencium nya , ibu Rio selalu luluh jika ayahnya berbuat seperti itu. "Ah".


Kembali ke waktu sekarang. Rio menuju rumah Rina, "omong - omong rumahnya dimana?, Aku gak punya handphone sekarang" Pikir Rio. Disisi lain Rehan yang sedang tidur tersenyum.


Kebetulan saat itu Rio berada di pintu depan toilet cewek. "Aduh sial, terpaksa deh" pikir Rio.


Rio masuk, lalu ke bilah toilet dan menutup nya. "Ku dengar Rina sakit ya" ucap salah satu suara perempuan. "Iya, dia jadi sedikit aneh sejak, Rio tidak masuk" saut salah satu suara juga. "Apa, tapi kenapa?, Dia menyukaiku?" Pikir Rehan malu-malu.


"Hah, kau benar, dia cuma pintar saja, gak terlalu bersosialisasi, bagaimana bisa jatuh cinta? Ucap salah satu suara itu. "Ih kau ini, dia terlihat dingin tapi keren. Dan tampan juga" ucap salah satu suara. "Apa? Kupikir hanya ibuku yang menganggap ku tampan" pikir Rio kaget.

__ADS_1


Dan selanjutnya mereka berbicara tentang hal gak jelas, lalu mereka pun keluar.


"Akhirnya keluar juga" pikir Rio, saat Rio buka pintu ternyata bareng dengan yang di sebelah, sontak Rio pun kaget, dan ternyata itu adalah bu Tuti. "Ka-kamu?" Rio memotong omongan bu Tuti, "sssttt" sambil menempelkannya jari telunjuk nya di bibir. Bu Tuti mengangguk. "Ibu tau, rumah Rina gak?" Ucap Rio pelan. Bu Tuti mengangguk. "Beritahu aku bu" ucap Rio , dan bu Tuti pun memberi tahu. "Terima kasih bu," Rio tersenyum lalu keluar. Bu Tuti hanya diam membeku gak percaya, dia juga gak sadar , hanya menurut dan mengangguk menjawab perkataan Rio.


Rio bergegas keluar sekolah dengan sangat cepat dan tidak berisik dan keluar lewat tembok belakang. Disaat itu juga seseorang tersenyum, Rio merasakan seseorang,tapi dia menghiraukannya.


"Sial, kalau saja ada benda yang berhubungan dengan nya" aku tidak akan sulit menemukan kannya" pikir Rio. Setelah beberapa saat Rio pun sampai di lokasi, "tapi yang mana rumahnya ya?" Pikir Rio, lalu Rio pun bertanya sekitar, dan ketemu lah rumah Rina. "duuh tekan jangan belnya, seseorang sudah ada di depan pintu.ah tekan aja lah" ucap Rio pelan.


Saat Rio mau menekan bel pintu, pintu tiba-tiba terbuka dan seseorang ingin melihat Rio sedang mau memencet bel. "Hehe" Rio senyum malu dan menggaruk rambutnya. (Disini Rio membuka hodienya, karena akan terlihat mencurigakan kalau dipake) Ternyata itu Rina . Rina menjatuhkan tas yang di pegangnya, sesaat dia diam lalu berlari ke arah Rio dan memukul-mukul dada Rio "kenapa-kenapa" ucap Rina mengulang itu sambil memukul-mukul dada Rio dan menangis. Rio tersenyum dan memeluk Rina. "Maaf kalau membuat mu khawatir" ucap Rio. (Duk duk duk) suara seseorang turun dari tangga, "ada apa Rin...." Ucap ayahnya terhenti karena anaknya di peluk. "Kauu" ayah Rina berteriak dan berlari ke arah Rio. "Lepaskan anaku dasar baj... Sebelum ayahnya menyelesaikan kalimatnya Rio melihat dengan tajam. Ayah Rio kaget dan langsung berhenti. "Heh, maaf, tapi kalau aku melepaskan nya , Rina akan jatuh" ucap Rio sambil memberikan Rina ke ayahnya. "Maaf kalau aku menggangu, sepertinya kau juga membenciku, aku hanya ingin bilang jangan mencariku, sampaikan padanya" ucap Rio tersenyum.


"Maaf kalau aku merepotkan mu, gara-gara aku Rina jadi gak bisa fokus di sekolah" ucap Rio lalu pergi tanpa pamitan. Ayah Rina melihat Rio, "dia orang yang cukup baik, tidak-tidak dia pergi begitu saja, aku gak akan menerima nya, sebelumnya dia....." Ucap Ayah Rina tersenyum lalu membawa Rina dan membaringkannya di tempat tidur. Rina menangis tapi dia juga tersenyum. "Apa??, Di-dia tersenyum, bagaimana aku harus menjelaskan nya" pikir ayah Rina.


Lalu ayah Rina membayangkan ucapan Rio tadi (omong-omong ayahnya tau dia Rio, karena Rina sering mengigau menyebut nama Rio).


Setelah beberapa saat Rina pun bangun, saat Rina membuka mata nya secara buram dia melihat Rio, "Rio??" Ucap Rina tapi setelah melihat dengan jelas ternyata itu ayahnya. Rina kaget dan langsung berhenti "ayah, dimana Rio?" Ucap Rina. "Dia sudah pergi, dia menunggu lama, tapi kamu gak sadarkan diri, haha, benar-benar bajingan" ucap ayahnya tertawa.


"Ih ayah, pasti kamu yang usir kan atau pasti tatapan mu tidak mengenakkan" ucap Rina tertawa kecil. "Haha" ayahnya ikut tertawa. "Aku memang plin plan, bodoh nya aku, kenapa aku harus berbohong?," Ucap ayah Rina sambil melihat senyum bahagia Rina. "Maaf kan ayah Rina, mungkin aku harus ke rumah pria itu, jangan salah paham ini hanya agar Rina bahagia" ucap ayah Rina.


Disisi lain di sore hari, "apa??" Ucap Seseorang kaget. "Eh Rio kamu ke sini, ada apa nak?" Ucap ibunya, "aku lelah bu, boleh aku menginap disini" ucap Rio. " Eh, tentu saja dong ini kan rumahmu" ucap ibunya, " makasih bu, aku mau langsung tidur" ucap Rio sambil berjalan kekamarnya. Ibunya tersenyum melihat tingkah Rio.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu, "aduh apa ayah Rina akan semakin membenciku?" Pikir Rio sambil berjalan santai. "Ah bukan urusan ku, aku sangat lelah, aku akan menginap di Rumah orang tuaku" ucap Rio. Sesampainya di rumah Rio mengetuk pintu. (tok tok tok) "iya bentar (tak tak tak) suara langkah kaki mendekat ke pintu. Lalu membuka nya dan ternyata itu ibunya, "apaa?" Ibunya kaget dengan kepulangan Rio.


"Haaah, hari ini sangat melelahkan" ucap Rio mengeluarkan nafas. Dengan posisi berbaring dan tangannya di dahi, lalu Riopun mulai menutup matanya


__ADS_2