
...^Happy Reading^...
Saat Di UKS nampak Fiona yang sedang tertidur sambil bercucuran keringat. Ferza tampak sedih dengan keadaan saudaranya tersebut.
Ferza pun terbaring juga di tempat tidur sebelah Fiona, dengan rasa sakit yang dideritanya.
Saat Fiona terbangun dia melihat Ferza.
'Maaf ya Ferza. Karena aku kamu juga ikut sakit.' Kata Fiona di dalam hati.
Setelah itu datanglah Defen dan Ghani ke UKS untuk menjenguk Ferza. Fiona yang mendengar suara langkah kaki mereka, langsung berpura-pura tidur lagi.
"Ferza, Tidurnya pules banget ya. Andai aku juga punya rasa telepati seperti Ferza. Pasti enak." Andai Defen.
"Ya. Enggak lah. Punya rasa telepati kayak gitu bukannya menyiksa ya ? Kalau saudara kembar kita sakit kita juga ikut sakit, kayak Ferza ini." Jelas Ghani.
"Ya, enggak dong. Kalau kita punya kekuatan kayak gitu. Kita gak perlu pura-pura sakit. Jadi kalau jam Olahraga kayak gini kita langsung pergi aja ke UKS kayak Ferza."kata Defen.
"Terserah." Kata Ghani.
Tak lama kemudian Ferza pun terbangun.
"Gimana Fer?" Tanya Defen.
"Udah mendingan kok." Jawab Ferza.
"Tuh, Coba kamu bayangin kayak Ferza ini. Dia yang gak punya keluhan sakit tapi dia sakit karena saudaranya sakit." Jelas Ghani.
"Itu artinya menghargai." Jawab Defen.
"Hah, sudah yuk kita keluar." Ajak Ferza sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
Mereka pun pergi Ke Kantin, meninggalkan Fiona sendirian di UKS.
Fiona pun mengintip apakah mereka sudah pergi atau belum dan setelah mereka pergi Fiona pun terbangun.
"Kayaknya Ferza nanti Kesel deh." Kata Fiona pada dirinya sendiri.
Saat Dikantin, Ferza dan teman-temannya makan dan sambil mengobrol.
"Fer, pasti kamu kesusahan setiap Fiona Sakit." Kata Ghani iba.
"Iya sih. Apalagi bentar lagi aku mau ikut lomba." Kata Ferza sambil merasa sedih.
"Lomba ? Lomba apa ?" Tanya Defen penasaran.
"Lomba Cerdas Cermat lah. Kan Ferza itu orangnya pinter, gak kayak Kamu." Jawab Ghani dengan nada mengejek.
Defen pun hanya berdesis dan langsung melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Ferza ke kelas untuk menemui Fiona. Ternyata Fiona sedang membaca Novel dari Ferza. Ferza pun langsung duduk di depan kursi Fiona yang sedang kosong.
"Fiona" panggil Ferza. Fiona pun langsung menoleh ke Ferza.
"Ada apa ?" Tanya Fiona.
"Jangan menyakiti dirimu lagi. Aku mohon." Mohon Ferza.
"Maaf ya Fer. Karena aku kamu jadi merasakan sakit juga." Fiona merasa menyesal.
"Bukan itu. 3 hari lagi aku lomba, kamu jaga diri dan kesehatan kamu ya." Mohon Ferza sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lomba apa ?"
"Olimpiade."
"O...Oke deh. Aku janji gak akan jaga diri dan kesehatan biar kamu bisa menang."
Ferza yang mendengarnya pun tersenyum lebar.
Hari disaat Lomba, disekolah pada hari itu ternyata ada pelajaran Olahraga. Sebelum berangkat Olimpiade Ferza pun mengingatkan Fiona di sekolah untuk menghindari hal-hal yang akan membuatnya terluka.
"Fiona, Kamu jangan Olahraga dulu hari ini. Ingat, kamu bisa aja lemas." Ingat Ferza.
"Iya. Kamu pergi deh."
"Defen, Ghani aku minta kalian jaga Fiona hari ini ya." Mohon Ferza.
"Iya! Tenang aja." Kata Defen dan Ghani bersamaan.
Ferza pun pergi meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan. Walaupun Ferza sudah menitipkan Fiona dengan Ghani dan Defen, tapi tetap aja hatinya meresa tidak aman.
Saat Di tempat olimpiade, Ferza langsung menelepon Fiona karena hatinya merasa tidak nyaman.
📞 Didalam Telepon.
Ferza : Halo, Fiona sekarang kamu ada dimana ? (Cemas)
Fiona : kamu ini kenapa sih Fer ? Baru aja 30 menit kamu tinggalin aku.
Ferza : Nggak ada apa-apa. Aku cuma khawatir.
Fiona : kan kita punya Telepati. Kalau ada apa-apa kamu juga pasti tau.
Ferza : Tapi....
Fiona pun langsung menutup teleponnya. Setelah itu, Ferza pun dengan berat hati harus Fokus, agar bisa mendapatkan Kemenangan itu.
Di sekolah, Fiona harus meminta izin agar dia tidak ikut pelajaran Olahraga. Dan ternyata gurunya memperbolehkannya karena sudah tau bahwa Ferza dan Fiona adalah Saudar yang mempunyai Telepati yang sangat kuat. Jadi agar Ferza bisa memenangi olimpiade, Mereka harus menjaga Fiona.
Di tempat Olimpiade, Ferza merasa bahagia karena sampai saat ini dia tidak merasakan apapun yang membuatnya kesulitan.
Setelah selesai Olimpiade. Ferza pun dinyatakan meraih Juara 1. Namun setelah menerima penghargaan dan piala, Ferza merasakan hal yang aneh terjadi di dalam tubuhnya. Dia merasakan sakit yang luar biasa namun bukan biasanya. Dia pun dengan rasa sakitnya langsung menghubungi Fiona namun tidak bisa. Dia tidak menyerah dan langsung menelepon Defen, betapa terkejutnya dia, bahwa Fiona kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.
Ferza pun tanpa berpikir panjang langsung pergi ke rumah sakit. Dan menemui Ayah dan Ibunya yang sudah ada di depan ICU.
"Gimana keadaan Fiona ?" Tanya Ferza cemas.
"Dia sedang Kritis dan sekarang dalam keadaan koma." Kata Ibunya sambil menangis terisak-isak.
Kata-kata yang diucapkan Ibunya itu membuat Ferza lemas seketika.
"Aku salah." Ferza pun menangis sejadi-jadinya dan menyalahkan dirinya sendiri.
Kemenangan yang ingin dia banggakan itu tidak ada gunanya sama sekali.
Beberapa saat kemudian Ferza tidak merasakan Telepati yang biasanya dia rasakan.
'Apa-apaan ini ? Kenapa aku gak merasakannya lagi ?' Tanya Ferza pada dirinya sendiri dengan Jantung yang tambah betdetak tidak karuan.
Saat Fiona sedang dirawat diruangan ICU, Ferza tidak pernah menjenguk Fiona dan dia hanya selalu berdiam diri dikamarnya dan absen selama 3 hari.
Setelah pulang sekolah, Defen dan Ghani menjenguk Ferza dirumahnya karena absen selama 3 hari berturut-turut.
__ADS_1
Saat sampai di gerbang rumah Ferza, mereka meragukan Ferza ada di dalam rumah karena mereka tidak merasakan ada kehidupan di dalamnya.
"Ghan, Ferza ada dirumah gak ya ?" Tanya Defen sambil Merinding ketakutan.
"Entah. Coba tekan belnya!" Suruh Ghani yang juga merinding.
Setelah mereka menekan bel rumah Ferza, Gerbang pun terbuka dan seseorang pun menyambut mereka.
"Ada apa ya ?" Tanya Satpam rumah Ferza.
"Pak Satpam, Ferza ada dirumah gak ?" Tanya Defen.
"Ada. Tapi Kalian ini siapa ya ?" Tanya Pak Satpam curiga.
"Kami temannya Ferza." Kata mereka berdua bersamaan.
"O... yaudah ayo masuk. Den Ferza sudah ada di kamarnya." Kata pak satpam.sambil menunjukkan jalannya.
Mereka pun sampai di kamar Ferza.
"Makasih pak satpam." Kata mereka berdua.
Pak satpam hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua di depan pintu Ferza.
"Eh, Def. Kok gelap ya ?" Tanya Ghani takut.
"Entah. Ayo masuk." Ajak Defen sambil membuka pintu Ferza yang tidak terkunci. Betapa terkejutnya mereka, padahal diluar sedang terik namun di dalam kamar Ferza sangat gelap gulita.
"Kok gelap gulita sih? " tanya Defen tidak dapat melihat apapun.
"Coba cari tirai jendelanya !" Suruh Ghani.
"Iya oke." Jawab Defen.
Mereka pun meraba-raba untuk mencari Tirai jendela, dan Ghani pun menemukannya dan langsung membukanya.
"Baru terang." Ungkap Defen Senang.
"Itu dia Ferza." Kata Ghani sambil menuju ke arah Ferza yang menutupi dirinya dengan selimut. Defen pun juga menuju ke arah Ferza dan langsung membuka Selimut yang menutupi Ferza.
"Ferza ! Kamu ini kenapa sih ?" Teriak Defen.
"Kenapa kalian kesini ?" Tanya Ferza lemas.
"Kami mengkhawatirkanmu. Tapi kok kamu kayak gini sih? " Tanya Ghani.
"Ferza,dengerin aku! Fiona apa mau liat kamu kayak gini ? Liat kamu menderita. Nanti dia juga merasakan sakit." Jelas Defen.
"Telepatiku dengan Fiona tiba-tiba menghilang." Jelas Ferza sambil menangis.
"Apa ?" Tanya mereka kaget.
"Apa maksudmu Fer ? Kok bisa hilang ?" Tanya Ghani.
"Aku gak tau. Tiba-tiba itu menghilang." Tangis Ferza pun semakin menjadi-jadi.
"Tapi, Fiona kan masih di ruang rawat dan masih koma kan belum....." Defen tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi,walaupun gitu kamu harus bangkit Fer. Kamu harus sekolah." Kata Ghani menyemangati Ferza
Ferza tidak menjawab apa-apa dan hanya menangis saja. Dan hari Itu adalah hari yang paling menyedihkan dan tidak bisa dilupakan bagi Ferza.
__ADS_1
Mau Tau kelanjutannya Ayo dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite karena dukungan anda bisa membuat Author berkarya lebih baik lagi.