Fantasy Dream World

Fantasy Dream World
14. Menuju Babak 4


__ADS_3

...Happy Reading...


Pagi pun Tiba, mereka semua malas bangun dari ranjang mereka yang empuk itu, Kecuali Ferza. Ia bangun lebih pagi karena tidak nyaman dengan kasurnya yang empuk itu, dan langsung bergegas untuk bersiap-siap.


"Kenapa mereka belum bangun-bangun juga sih ? udah jam berapa ini ?" Tanya Ferza pada Dirinya sendiri.


Tak lama Kemudian, Defen terbangun dengan perasaan yang malas.


"Haruskah aku meninggalkanmu kasur ? Tapi mau bagaimana lagi. Harap-harap aku bisa bertemu dengan kasur yang empuk lagi sepertimu." Defen pun memeluk ranjangnya dan tidak ingin lepas.


Setelah itu Defen pun langsung turun untuk mempersiapkan dirinya melanjutkan perjalanan.


"Bangun juga akhirnya kamu Defen." Ujar Ferza.


"Ya, iyalah. Masa' mau tidur terus." Jawab Defen ketus, setelah itu Defen pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Di kamar, Mia juga tidak ingin melepaskan diri dari ranjangnya.


"Kenapa sih, hari cepat banget paginya ?" Tanya Mia kesal. Namun pada akhirnya dalam keadaan yang terpaksa ia pun langsung turun kebawah. Begitupun dengan Daisy dan juga Jhony.


Di bawah, Ferza pun bertanya dengan mereka.


"Kenapa kalian semua bangunnya terlambat. Ingat ya, kenyamanan yang kalian dapatkan sekarang bisa menjadi sesuatu hal yang menyakitkan dalam sekejab."


Mereka semua bingung dengan kata-kata Ferza.


"Cepat bersiap, waktu kita tidak banyak lagi." Suruh Ferza.


Setelah mendengar perintah Ferza, Mereka langsung pergi bersiap-siap dan membersihkan diri mereka.


Setelah mereka Siap, mereka pun langsung keluar rumah, betapa sedihnya mereka untuk meninggalkan rumah yang sudah memberi kenyamanan bagi mereka selama 1 malam.


Di perjalanan mereka semua mengeluh kecuali Ferza.


"Hah, sedih banget rasanya meninggalkan tempat seperti itu." Ujar Defen.


"Iya." Jawab Jhony.


"Kita bisa gak ya, ketemu tempat kayak gitu lagi." Tanya Daisy.


"Mungkin nanti. Suatu saat nanti, apabila kita beruntung." Jawab Mia.


Di perjalanan mereka menemukan sebuah buah bewarna biru seperti bluebarry namun bemtuknya seperti Strawbarry.


"Ini buah apaan ?" Tanya Daisy Penasaran dan hendak mrnyentuh buah tersebut.


"Jangan disentuh buah itu!!!" Larang Mia untuk menghentikan Daisy.


"Kenapa ?"


"Karena buah itu beracun, mungkin tampangnya aja yang cantik tapi dia benar-benar beracun."

__ADS_1


"Benarkah, untung aja aku gak pegang."


Perjalanan begitu panjang dan melelahkan. Tidak ada sesuatu yang istemewa di setiap jalan yang mereka lalui. Yang terlihat hanyalah rimbunan pohon. Bahkan tiada satu orang pu  yang berbicara hingga menambah hampa suasana.


"Heh. Capek ini istirahat dulu ya !" Pinta Maya.


Mereka pun duduk didekat Mia. Memang tidak ada pembicaraan di sana namun, pada saat itu mereka dapat merasakan satu dengan yang lainnya.


"Aku laper lho." Kata Mia.


Mereka kaget dan tiba-tiba langsung merasa laper seketika.


"Aku juga." Kata Mereka semua.


Tapi apa daya mereka tidak diperbolehkan makan. Karena makanan yang ada di dekat mereka semuanya sangat baracun.


Tapi pada akhirnya mereka memaksakan untuk tetap pergi ke babak 4 dengan kelaparan.


Akhirnya setelah berjalan sekitar 10 menit namun rasa 10 jam itu pun sampai di tempat tujuan mereka yaitu pintu babak 4.


"Hah sampai juga." Kata Defen.


Setelah itu Peri Amy pergi dari hadapan mereka dan Datanglah Peri baru yaitu peri Sania penjaga pintu babak 4. Peri Sania langsung memberikan pilihan walaupun para peserta kelelahan.


Peri Sania adalah Peri yang tidak suka dengan Basa-basi jadi dia langsung memberikan pilihan.


"Dengarkan ini baik-baik. Pintu pertama akan membawa kalian menuju tempat angker dan pintu kedua akan membawa kalian menuju ke tempat penuh Fantasy. Cepat pilih, dan tidak ada waktu diskusi cepat." Peri Sania benar-benar tidak suka bertele-tele kalau berbicara.


"Kita pilih Pintu Penuh Fantasy." Ungkap Jhony.


"Oke. Gak ada ganti jawaban. Silahkan semuanya masuk."


Mereka pun masuk ke pintu tersebut. Setelah masuk, mereka berada di atas sebuah bukit besar. Betapa kaget dan tercengangnya mereka melihat ke bawah.


...


...


"Kenapa dibawah seperti medan perang ?" Tanya Daisy.


"Ini kayak Game." Ungkap Defen.


Jhony tersenyum telah memilih tempat ini.


"Apa yang harys kita lakukan ?" Tanya Mia.


"Tuh." Ferza menunjuk sebuah gubuk bertuliskan Armor.


Betapa leganya mereka semua karena ada tempat untuk mereka mempersiapkan perang mereka.


Setelah mereka selesai memilih armor mereka, tiba-tiba dihadapan mereka terdapat layar yang bertuliskan.

__ADS_1


~selamat telah memilih armor


Anda dapat memiliki item lain dengan cara mengumpulkan Poin dan mengerjakan semua misi yang tersedia~


"Apa-apaan ini ?" Tanya Defen sambil menyentuh layar tersebut.


Setelah itu Layar pun menghilang.


"Kemana hilangnya ?" Mia Penasaran.


"Entahlah Ayo pergi !" Ajak Ferza kepada mereka semua.


Akhirnya mereka pun pergi ke tempat misi mereka. Perjalanan begitu panjang karena harus menuruni bukit yang cukup terjal, melewati lembah yang luas dan menyebrangi Sungai.


Ditengah-tengah perjalanan Defen yang berjalan  berada paling di belakang tiba-tiba langsung menarik Jhony yang ada di depannya hingga terjatuh.


"Arkhhh" teriak Jhony yang membuat yang lainnya berpaling dari pandangannya.


"Ada apa ?" Tanya Daisy dengan wajah kaget.


Mia yang melihat kejadian itu langsung ke arah Defen dan menarik kerahnya.


"Ngapa Kakak Menarik Jhony sampai terjatuh ?"


"Kamu gak usah tau." Wajah Defen Berubah 180 derajat dari yang biasanya.


Defen yang biasanya tampak ceria berubah menjadi seram. Bahkan tatapan matanya seperti ingin membunuh.


Mia pun begitu kaget dengan tatapan yang diberikan oleh Defen yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri.


Ferza yang mulanya tidak peduli langsung melepaskan cengkraman Mia dari Defen.


"Stop." Ferza menatap Defen dengan tatapan yang menyeramkan juga. Hal itu membuat Defen langsung memalingkan wajahnya dari Ferza.


"Kamu pasti punya dendam kan sama Jhony. Dari tatapan mu dan cara kamu melakukannya tampak begitu jelas."


Ucapan Ferza itu membuat Defen tercengang. 'Bagaimana dia tau?' Defen bertannya-tanya dalam hatinya.


Perlahan Defen pun membalikkan badannya ke arah Ferza dengan tatapan bingung. Karena jawaban yang diberikan Ferza masih menjadi pertanyaan dalam hatinya.


"Bagaimana kamu tau itu Ferza ?" Tanya Defen penasaran.


"Kamu itu tipe orang yang paling gampang ditebak. Kan kita udah kenal lama bahkan dari SMP kelas 7."


Namun Jawaban Ferza tidak dapat sama sekali menjawab pertannyaan yang ada di dalam Pikiran Defen.


"Sejak tadi aku melihatmu selalu memandangi Jhony dengan tatapan yang penuh dendam. Kayaknya kamu marah soal dia memilih jalannya sendiri tanpa adanya diskusi dengan kita. Tapi syukurlah dia memilih jalan yang ingin aku pilih dari tadi."


Entah Kenapa tatapan Defen langsung berubah seketika setelah mendengar jawaban dari Ferza. Bahkan jawaban itu membuat pertannyaan yang melekat di kepalanya langsung hilang seketika.


Mau tau kelanjutannya Nantikan terus Fantasy Dream World

__ADS_1


Tolong Author dengan cara Like, Comment dan +Favorite.


Jangan Lupa Follow Author untuk melihat karya lainnya Terima Kasih. ^-^


__ADS_2