Fantasy Dream World

Fantasy Dream World
13. Babak 3 (2)


__ADS_3

Setelah mereka semua mengalami ingatan mimpi yang menyedihkan, mereka pun tersadar kembali dan mereka pun menangis. Peri Amy yang duduk santai di sebuah dahan pohon langsung menghampiri mereka.


"Kalian sudah bangun." Sambut peri Amy dengan wajah tersenyum bahagia padahal mereka semua sedang menangis.


"Itu tadi ingatan apa ?" Tanya Daisy sambil menangis terisak-isak.


"Baiklah akan aku jelaskan. Setiap orang yang masuk kesini, maka ingatan mereka yang buruk akan menghilang. Dan ingatan buruk itu akan kembali lagi bila kalian melewati pintu kegelapan, pintu ingatan, kartu keinginan ataupun kembali ke dunia asal orang tersebut." Jelas Pery Amy.


Setelah mendengar penjelasan Peri Amy mereka saling memandang satu dengan yang lain dengan rasa kebingungan.


"Kenapa Kalian bingung ya ?" Tanya Peri Amy dengan  Senyuman yang  selalu mewarnai wajahya dalam keadaan apapun. 


Mereka semua tidak menjawab pertanyaan Peri Amy namun mereka memandangi Peri Amy dengan Wajah penuh kebingungan. Namun Peri Amy malah tambah tersenyum dengan sangat lebar, sehingga mereka semua  semakin bingung. Ferza yang hanya memandangi Peri Amy tiba-tiba tersadar, bahwa ada misi yang harus dia selesaikan. Dia pun mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan. "Ya sudah. Ayo kita lanjutkan ! Sepertinya hari sudah hampir senja."


Mereka semua pun langsung tersadar oleh ajakan Ferza, dan melanjutkan perjalanan. Saat di perjalanan Jhony berbisik dengan Daisy, tentang keanehan yang dialaminya barusan.


"Kayaknya ada sesuatu yang aneh deh sama Peri Amy."


Daisy hanya menjawabnya dengan anggukan kecil yang menandakan "Iya"


"Ngomong-ngomong, dia kok dari tadi tersenyum aja ya ?"


"Aku gak tau."


Mia yang melihat Daisy dan Jhony berbisik di depannya, langsung menghampiri mereka.


"Hayo.... ngomongin apa ?"


Sontak saja Daisy dan Jhony kaget, karena Mia yang langsung berada ditengah-tengah mereka.


"Ih, Mia aku sama Jhony gak ngomongin apa-apa tau." Daisy sedikit kesal dengan perbuatan Mia. "Masa' ?" Tanya Mia dengan rasa tidak percaya. Daisy tidak menjawabnya namun dia malah memalingkan wajahnya dari Mia. "Kan cuma Bercanda." Mia mendekati Daisy sambil memegang bahu Daisy tanda meminta maaf, Namun Daisy tetap berusaha memalingkan wajahnya dari Mia selama perjalanan.


Hari sudah mulai Petang, namun mereka belum keluar dari babak 3 dan belum jua menemukan tempat untuk bermalam. Karena hari sudah malam, mereka pun duduk di bawah sebuah pohon besar.


"Hah, kita tidak beruntung. Bahkan kita saja belum menyelesaikan babak 3. Andai saja sudah. Mungkin kita bisa menginap." Keluh Mia.


"Masih untung kita masih ada waktu dan tidak di eliminasi. Kalau dieliminasi , gimana coba ?" Tanya Defen kesal dengan keluhan Mia.

__ADS_1


Mia pun langsung terdiam oleh pernyataan Defen, dan menyesali telah mengtakan keluhan itu.


Tiba-tiba pohon yang berada disebelah mereka, mengeluarkan kertas yang bertuliskan. ~Buatlah 1 permohonan untuk dituruti~ Sontak saja mereka yang membaca kertas itupun kaget dan bingung, sampai Ferza pun bertanya dengan Peri Amy.


"Apa maksudnya ini ?"


"Kalian boleh membuat 1 keinginan. Apa yang kalian inginkan ?"


Mereka pun kebingungan, karena hanya di perbolehkannya 1 keinginan saja.


"Ngomong-ngomong keinginan ini bisa digunakan dimana saja ?" Tanya Defen dengan Perasaan yang bingung.


"Permintaan ini hanya dapat digunakan di babak 3 saja. Apabila sudah melewati babak 3 kalian tidak dapat menggunakan keinginan itu lagi."


Setelah mendengar penjelasan Peri Amy, mereka pun langsung berpikir mantap, bahwasanya mereka memerlukan tempat untuk bermalam.


"Kami Ingin tempat untuk bermalam." Pernyataan Defen membuat semuanya bahagia.


"Baiklah. Ikut aku." Peri Amy pun mengajak mereka semua ke suatu tempat yang luas, dan langsung membuat keajaiban di sana. Dengan menunjukkan kekuatannya terbuatlah suatu rumah yang besar dan  megah untuk mereka bermalam.


Betapa terpukaunya mereka, melihat rumah besar bak istana yang didominasi warna putih dan hitam, yang membuatnya semakin elegan.


"Selama disini kita cuma hanya tinggal di gubuk dan rumah-rumah seram saja. Tapi sekarang...." Defen Takjub hingga tidak berkata apa-apa lagi.


Sedangkan yang lain hanya tersenyum dan ada juga yang bercucuran air mata bahagia.


Setelah itu mereak pun membersihkan badan mereka dan bersiap untuk tidur. Namun ada yang aneh dengan Ferza yang termenung di sebuah sofa di lantai bawah. Defen yang baru keluar dari kamar mandi, langsung berjalan menuju ke arah Ferza dan langsung duduk di sebelah Ferza.


"Kamu gak tidur ? Mumpung kita berada di rumah yang bagus lho."


"Nggak."


"Kenapa ? Apa yang kamu pikirin ? " Defen mulai khawatir tentang apa yang dipikirkan Ferza. Dan Ferza pun mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi tadi di awal pintu menyedihkan.


"Waktu kita di awal Pintu menyedihkan, aku mengingat sesuatu yang kurasa itu semua kesalahanku." Ferza menjelaskannya dengan wajah yang sedih.


"Aku juga berpikir begitu. Dan sekarang aku tau apa yang paling menyedihkan bagi aku. Maafin aku ya Fer."

__ADS_1


"Kenapa Kamu minta maaf ?" Ferza mengerutkan keningnya, tanda bingung.


"Aku ingat sekarang. Kamu berada disini karena aku. Aku membuat kamu celaka." Defen menhelaskannya dengan rasa penuh penyesalan.


"Benarkah begitu ? Aku tidak mengingat hal itu sepertinya. Tapi kamu masih mending bisa meminta maaf, tapi aku aja belum bisa minta maaf, dan aku masih aja merasa bersalah tentang hal itu."


"Maksudmu, kecelakaan Fiona." Defen menjawabnya dengan tepat dan membuat Jantung Ferza seperti terhenti seketika, bahkan tubuhnya pun seperti membeku tidak bergerak. Defen pun berusaha menyadarkan Ferza yang seketika tidak Bergerak itu, sambil melambaikan tangannya di hadapan Ferza.


"Fer, Fer, Ferza. Kamu kenapa ?"


Ferza pun tersadar da langsung bertanya-tanya.


"Hah, ada apa ?"


Melihat sikap Ferza, Defen pun meminta maaf dan mulai mengalihkan pembicaraan.


"Maaf ya Fer. Nampaknya kamu syok deh."


"Nggak apa-apa kok. Lagian itu benar juga kan."


"O... iya ngomong-ngomong Fer, kalau kamu keluar dari sini, Apa yang akan kamu lakukan pertama kali."


"Entahlah. Aku belum punya rencana untuk itu."


"Ih, harusnya direncanaain dong. Jadi nanti kalau udah keluar langsung di jalanin aja."


"Kita aja belum keluar dari sini. Bagaimana bisa merencanakan ?"


"Yaudah deh terserah kamu. Aku pengen tidur."


Defen pun beranjak dari sofa meninggalkan Ferza dan Manaiki Tangga menuju ke kamarnya. Ferza yang masih berada di Sofa diam-diam menutup wajahnya dengan tangan sambil mengeluarkan air matanya.


Ferza yang dingin ternyata memiliki hati yang rapuh. Betapa sakit hatinya, hal yang seharusnya dapat dilupakan itu harus datang kembali dan membuatnya lebih sakit lagi.


Air matanya tetap tidak dapat terbendung, dia tetap menangis walau tidak ada suara tangisan.


Setelah menangis cukup lama dia pun pergi menaiki tangga dan menuju ke kamarnya untuk tidur.

__ADS_1


Mau tau kelanjutannya ayo dukung author, Untuk Like, Comment, +Favorite.


__ADS_2