Fantasy Dream World

Fantasy Dream World
15. Pertempuran


__ADS_3

...Happy Reading...


Suasana Sedikit Canggung dan menegangkan seakan-akan ada pertempuran yang hebat terjadi, walaupun mereka berdua hanya menatap dingin dan sedikit seram.


Daisy yang melihat situasi semakin mencekam langsung menghentikan mereka walau dihatinya ada rasa takut.


"Sudah. Berhenti ! Ayo kita lanjutkan sekarang perjalanan kita !"


Defen dan Ferza pun langsung saling memalingkan wajahnya.


Daisy membantu Jhony yang terjatuh dan terduduk begitu lama melihat pertengkaran Defen dan Ferza.


Suasana aneh mulai terjadi, tiada pembicaraan dari mereka semua bahkan keadaan sangan canggung seperti tidak mengenal satu dengan yang lainnya.


"Ini aneh. Aku belum pernah melihat mereka berdua berantem kayak gitu." Bisik Daisy kepada Mia.


"Iya. Walau hanya saling menatap. Mereka berdua bener-bener manakutkan."


Jhony merasa bersalah atas pertengkaran itu. Walaupun itu terlihat spele namun akibat yang dihasilkan begitu besar. Setiap keputusan yang kita ambil itu pasti ada resikonya.


Waktu berlalu begitu cepat mereka semua sampai di sebuah desa yang damai dan indah.


...



...


Mereka semua berdecak kagumĀ  melihatnya pemandangan yang ada di depan mereka itu. Bahkan keindahannya tidak dapat digambarkan, sehingga tanpa sadar mereka tersenyum.


"Waw... tempat apa ini ?" Kagum Daisy.


"Udah aku gak bisa berkata-kata lagi." Ucap Mia.


Tiba-tiba Panel Android yang mereka lihat di awal babak 4 tadi muncul kembali.


~Selamat telah menemukan Desa. Kalian mendapatkan 1000 poin. Selesaikan misi kalian dan dapatkan armor untuk mengalahkan musuh~


"Kenapa muncul kembali ?" Tanya Mia.


"Kayaknya setiap misi yang kita selesaikan akan mendapatkan kejutan deh." Jawab Daisy.


"Iya kayaknya." Ucap Jhony.


Setelah itu mereka mulai berinteraksi dengan orang-orang yang ada didesa itu.


Mereka semua terkagum-kagum oleh mereka. Karena mereka menganggap bahwa mereka akan menjadi Ksatria yang akan menyelamatkan desa dari kehancuran yang disebabkan oleh monster.


Namun kekaguman itu membuat mereka semakin tertekan. Akankah aku bisa menyelesaikannya ? Itu adalah pertannyaan di hati mereka. Mambuat keyakinan mereka semakin menurun.


Hari mulai Senja, salah seorang penduduk menawarkan tempat tinggalnya untuk mereka semua bermalam.


"Hari sudah mulai malam, sebaiknya kalian semua tidur dirumahku." Ujarnya.


"Terima kasih pak." Ucap Ferza sambil tersenyum.

__ADS_1


Mereka semua pun tinggal dirumah Penduduk itu.


Rumah itu sederhana namun sangat nyaman untuk ditinggali.


Sebelum tidur mereka semua berkumpul di suatu ruangan untuk berbincang-bincang.


"Maaf ya, cuma ini yang bisa saya tawarkan untuk kalian." Ucap Bapak tersebut sambil menyuguhkan minuman dan makanan untuk mereka.


"Tidak apa-apa pak. Ini saja sudah lebih dari cukup." Ucap Daisy.


"Ngomong-ngomong bapak tinggal sendiri disini ?" Tanya Mia.


"Tidak. Dikamar ada anak dan istri saya."


"O... begitu. Kalau boleh tau siapa nama bapak ?" Tanya Jhony.


"Nama Bapak adalah yui-piul."


"Apa ? Yuu i pii ul ?" Tanya Jhony terbata-bata menyebutkannya. Karena nama tersebut aneh.


"Iya."


Setelah itu Mereka berbincang-bincang. Suasana semakin hangat saja bahkan sudah ada beranggapan seperti keluarga sendiri. Namun itu tidak berlaku oleh Defen dan Ferza, suasana mereka semakin lama seperti Es batu yang sangat dingin sekali. Tidak ada satu pembicaraan pun bagi mereka yang berkesan bahkan tiada tawa yang mewarnai wajah mereka, tidak seperti yang lainnya yang tertawa terbahak-bahak sedari tadi.


"Kenapa dengan anak muda ini ? Dari tadi terlihat diam saja ?" Tanya Pak Yui-piul kepada Defen dan Ferza.


Defen dan Ferza tidak menjawab apapun mereka hanya menggelengkan kepala mereka tanda tidak ada masalah apapun yang terjadi pada mereka.


"Kalian berbohong ya. Cepat berbaikan ! Nampaknya kalian teman baik ya ? Biasanya masalah dengan teman baik mudah terjadi." Nasihat Pak Yui-piul membuat hati mereka terbuka sedikit.


Namun tetap saja tiada jawaban dari mulut mereka. Suasana pun menjadi hening.


Namun ada seorang anak kecil yang mendatangi dirinya, ternyata ia adalah Yui-sio anak Pak Yui-piul.


"Kakak kenapa kakak ada disini sendiri ?"


"Kakak tidak bisa tidur. Kamu siapa ?"


"Aku Yui-Sio anak dari Pak Yui-piul."


"O... begitu. Terus kenapa kamu ada disini ?"


"Aku juga tidak bisa tidur."


"Apa yang kamu pikirkan sehingga tidak bisa tidur ?"


"Entahlah. Aku bermain tadi namun aku sepertinya menyakiti hati temanku, dia begitu marah apa yang harus aku lakukan kak." Ungkap Yui-Sio tentang apa yang terjadi Padanya.


Defen terdiam, dia memikirkan Ungkapan Yui-sio yang tadi juga terjadi pada Defen. Ia memikirkan bahwa ia juga menyakiti hati temannya sendiri yaitu Ferza.


"Sebaiknya kamu minta maaf pada temanmu itu." Jawab Defen Tulus.


"Bagaimana kalau dia tidak memaafkan ku ?"


Pertannyaan Yui-sio membuat Defen tercengang. Dia juga memikirkannya kalau dia minta maaf namun Ferza tidak memafkannya apa yang harus ia lakukan ?

__ADS_1


"Coba saja dulu. Karena kalau kita minta maaf dengan tulus kemungkinan teman kita akan memaafkan kita." Jawab Defen.


Yui-sio hanya bisa mengangguk saja tanda ia menyetujuinya. Setelah itu mereka pun tidur di kamar mereka masing-masing.


Keesokan paginya....


Mereka semua berpamitan dengan Pak Yui-Piul.


"Kami pergi dulu ya pak sampai jumpa !" Kata mereka semua sambil melambaikan tangan mereka kepada keluarga pak Yui-piul.


"Iya. Hati-hati ya. Semoga berhasil !" Ungkap Pak Yui-piul.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dengan memasuki hutan belantara yang penuh dengan pohon-pohon yang lebat nan rimbun.


Tiadanya pembicaraan dan tawa membuat perjalanan terlihat jauh dan melelahkan.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di tempat pertempuran tersebut.


...



...


Betapa terkejutnya mereka semua karena suasana pertempuran sangat menegangkan dan begitu kacau.


Lalu tiba-tiba datang kembali layar android di depan mereka.


...~Silahkan melawan para monster....


...Prajurit berada di pihak kalian.~...


"Jadi kita harus melawan dan berada dipihak para prajurit ?." Tanya Mia.


"Iya kenapa kita nggak di pihak para monster aja ?" Keluh Daisy.


"Kita disini mendukung kebaikan bukan kejahatan." Ujar Ferza.


Setelah itu mereka pun melawan para monster tersebut. Mereka memulainya dengan melawan monster yang paling mudah terlebih dahulu. Yaitu monster


Harimau.


...



...


"Hiyaaaa" Teriakan mereka mengiang dan semangat mereka semua membara untuk melawan monster harimau tersebut.


Mereka semua menodongkan pedang mereka masing-masing.


"Hwraw." Suara Harimau yang besar itu pun tidak membuat mereka gentar untuk melawannya karena mereka bertekad untuk menang dan keluar dari tempat yang menyeramkan ini.


Mau tau kelanjutannya ?

__ADS_1


Ayo bantu Author dengan cara di Like, Comment, dan + Favorite ya.


Terima kasih ^_^


__ADS_2