Fantasy Dream World

Fantasy Dream World
19. Babak 5


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah mereka berada di depan pintu gerbang babak 5 datanglah seorang Peri Bernama Riana.


Peri Riana dikenal sangat Cantik nan Lembut. Ia adalah Peri yang paling disukai oleh semua orang karena ia berada di pangkat yang cukup tinggi di Dunia Fantasy Dream World.


Peri Riana pun mulai Memberi petunjuk untuk jalan yang akan mereka semua lewati.


"Hanya ada 2 jalan di Babak ini, namun jalan itu saling terhubung satu dengan yang lainnya dan akan tetap mengarah ke kerajaan. Tapi tetap ada konsekuensi di setiap jalan yang kalian ambil. Jalan  Pertama adalah jalan menuju kebebasan dan Jalan kedua adalah jalan munuju Keinginan. Mana yang akan kalian pilih ?"


Pertanyaan Peri Riana membuat mereka bingung. Dan membuat mereka semua ragu jalan apakah yang harus mereka pilih ?


"Apakah jalan yang kita pilih akan tetap menuju jalan keluar dari Dunia Fantasy Dream ini ?" Tanya Ferza.


"Tentu saja. Semua jalan akan menuju ketempat yang sama. Yang membedakannya hanya konsekuensi yang akan diterima di setiap jalan yang akan dipilih."


Mendengar pernyataan Peri Riana, mereka pun tidak ragu lagi. Dan mereka pun memilih jalan menuju kebebasan dan Tak lupa pula Sang Peri mengikuti dan mengawasi mereka masuk.


Setelah itu mereka pun masuk melalui pintu kebebasan. Disana terdapat semua hewan tampak bebas tidak ada yang dikurung di dalam kandang.



pakah burung-burung itu senang ia tidak di kekang dan dikurung didalam kandang ? Padahal kalau burung-burung itu di alam bebas bukannya ia kesulitan untuk mencari makan ? Pertannyaan itu berada di benak mereka semua karena terkesima melihat burung-burung yang terbang membentuk formasi yang sudah lama mereka tidak melihatnya sejak masuk ke Dunia Fantasy Dream.


Langkah demi langkah mereka lewati dengan perasaan penuh kebebasan dan kesenangan yang sebelumnya mereka tidak pernah rasakan bahkan Dibumi sekalipun. Mereka terus berjalan bahkan sampai ke sebuah pantai yang memiliki air jernih dan pasir putih, yang membuat siapa saja terkesima melihatnya.


...



...


Saat mereka dipantai, mereka sangat bahagia karena merasakan angin sepoi-sepoi yang sejuk bahkan mereka tidak tahan untuk bermain di air pantai.


"Boleh gak kami main air dulu ?" Tanya Jhony kepada Peri Riana.


"Iya boleh." Peri Riana pun menyanggupi permintaan Jhony dan memperbolehkannya.


Betapa senangnya mereka bermain dipantai dengan sinar matahari yang cerah dan angin yang sejuk.

__ADS_1


Suara tawa mereka tak berhenti, yang menunjukkan betapa bahagia dan senangnya mereka menikmati suasana pantai.


Setelah 1 jam kemudian mereka dipantai, mereka semua pun selesai bermain dan kembali melanjutkan perjalanan mereka tanpa adanya terkendala karena setelah keluar dari pantai baju yang mereka pakai akan langsung kering dengan sendirinya.


Setelah dari pantai mereka semua pun melewati lembah Gunung berapi. Yang bisa meletus kapan saja tanpa adanya rasa takut.



Setelah berhasil melewari gunung berapi mereka pun melewati hutan belantara kembali hingga malam pun tiba. Mau tidak mau mereka harus melanjutkan perjalanan mereka karena biasanya hewan-hewan buas sedang mencari mangsa di jam malam.



"Capek banget dah." Keluh Mia.


"Iya." Jawab Daisy.


"Sudahlah, ayo teruskan !" Ujar Defen.


"Gak ngerasain apa capeknya kayak gini ? Udah jalan berapa kilo sih kita ?"


Keluh Mia kesal.


"Emangnya kita gak bisa duduk disini sebentar ya ?" Keluh Daisy dengan nafas yang terengah-engah.


Karena merasa kasihan pada Daisy akhirnya mereka semua duduk sebentar di bawah sebuah pohon yang besar.


Mia merasa cemburu dengan Daisy yang diperhatikan oleh yang lainnya ketika mengeluh. Tidak seperti dirinya yang tidak diperdulikan sama sekali bahkan ketika sudah sangat kelelahan.


Defen yang menyadari raut wajah Mia yang berubah menjadi cemburu tersebut, langsung berbicara dengannya.


"Kamu kenapa ?"


Mia tidak menjawabnya, ia malah memalingkan wajahnya dari Defen dengan muka yang cemberut.


"Kamu kenapa sih Mia ?" Tanya Defen sekali lagi. Namun Mia tetap tidak menjawabnya karena masih ada rasa kesal yang mendalam dari hatinya.


"Marah ya ?" Pertanyaan itu ternyata dapat membuat Mia menganggukan kepalanya yang menandakan bahwa ia sedang marah.


"Kamu marah kenapa sih ?"

__ADS_1


Mia tidak menjawabnya, ia merasa kalaupun ia menjelaskannya akankah teman-temannya itu akan mendegarkan dan mengerti ?


"Cerita aja sama kami Mia !" Kata menyuruh dari Defen membuat Mia tergugah hatinya untuk berbicara tapi apa daya Mulutnya seperti tidak ada kekuatan untuk berbicara dengan teman-temannya tersebut.


Tapi Defen tetap berusaha membuat Mia bercerita tentang masalahnya. "Cerita Aja Mia, kami akan dengerin cerita kamu kok."


Benar saja setelah mendengar kata-kata Defen yang Tulus tersebut, Mia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Ya udah. Tapi aku punya pertanyaan untuk kalian."


"Apa itu ?" Tanya Jhony penasaran.


"Kenapa kalian tidak mempedulikan aku sama sekali sih ?"


"Siapa yang  bilang kalau kami  tidak mempedulikan kamu ?" Tanya Defen.


"Kalian pilih kasih, disaat aku memerlukan kalian tidak mendengarkan. Sedangkan Daisy yang memerlukan kalian turuti." Mia mulai menangis dengan yang ia ceritakan.


"Mia, kami tidak bermaksud menyakiti hatimu, tapi karena kami belum melihat tempat istirahat sebentar  yang bagus." Jelas Defen.


Tapi Mia sama sekali tidak mengerti dengan jawaban Defen dan melanjutkan tangisannya yang mebuat orang terheran-heran sekaligus kasihan dengan Mia karena sifat Mia yang sangat Ceria.


Apakah dengan tampang yang selalu Ceria membuat orang tidak merasakan sakit di hati ? Tentu saja tidak. Mungin itu adalah pertanyaan itu cocok untuk Menggambarkan Mia saat ini.


"Heh, Mia. Kamu mungkin merasa tidak diperhatikan, tapi sebenarnya kita semua memperhatikan kamu dari jarak yang jauh yang jauh sehingga kamu tidak melihat bentuk perhatian itu." Penjelasan Ferza itu seketika membuat Mia langsung berhenti menangis dan mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh Ferza.


"Benarkah begitu ? Kamu bohong kan ? Mana buktinya ?" Mia merasa curiga dengan kebenaran yang disampaikan oleh Ferza dan bertanya dengan teman-teman yang lain.


"Dulu, 2 bulan yang lalu saat kamu hampir terkena gigitan ular, Defen langsung tolong kamu." Jawab Ferza.


"Benarkah begitu ? Tanya Mia kepada Semua temannya. Walaupun tidak semuanya mengetahui hal itu, Mereka semua pun mengangguk iya untuk menanggapi pertanyaan Mia. Setelah melihat semua anggukan teman-temannya akhirnya Mia pun berhenti merengek.


Akhirnya tampak juga wajah Mia yang penuh dengan senyum dan tawa. Wajah yang muram tadi sekarang diisi dengan wajah yang penuh warna dengan senyuman yang terpancar dari wajah manis Mia.


Mia merasa bahagia karena, semua teman-teman yang ia kira tidak memperhatikannya ternyata telah memperhatikannya dari kejauhan sehingga ia tidak merasakan perhatian tersebut.


...Mau tau Kelanjutannya ?...


...Ayo dukung Author denganCara like, Comment, +Favirite ya...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2