
...Happy Reading...
Di dalam kebingungan malam, Ferza bersuara.
"Pilih saja ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu bisa mengalahkan seseorang tanpa perlu senjata yang kuat."
"Apa maksudnya itu ?" Daisy kebingungan atas perkataan Ferza.
"Pilih aja. Kan harganya murah itu." Ujar Defen.
Pada Akhirnya mereka memilih ilmu pengetahuan. Namun mereka merasa heran karena tiada buku di hadapannya. Namun mereka semua merasa pintar.
"Mana bukunya ?" Ungkap Mia.
"Emangknya Ilmu itu harus dari buku ? Bahkan kita saja bisa belajar tanpa buku." Ujar Defen.
"Aku mulai merasa pintar tuh." Ungkap Daisy.
"Iya. Aku juga." Ungkap Jhony bahagia.
Beberapa saat kemudian, mereka pun memulai misi untuk bermalam dengan aman.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari kayu dan daun untuk persiapan mereka
Defen dan Jhony pergi mencari kayu sedangkan Mia dan Daisy pergi mencari Daun. Karena Ferza masih lemah dia sendirian menunggu di bawah sebuah pohon.
Setelah beberapa menit menelusuri hutan yang lebat, Defen dan Jhony pun akhirnya mendapatkan ranting-ranting yang banyak untuk membuat Api unggun nantinya.
"Banyak banget rantingnya." Ungkap Defen.
"Iya. Cocok ini jadi kayu bakar" Jawab Jhony.
Akhirnya mereka pun membawa kayu itu ketempat sebelum mereka berpencar.
Begitupun Dengan Daisy dan Maya yang mendapatkan Akar Kayu dan Daun pisang bahkan batang pisang yang mungkin saja bisa berguna nanti.
"Dai, batang pisangnya juga dibawa gak ?"
"Bawa aja. Mana tau perlu."
"Tapi gimana kita bawanya ?"
"Tendang aja itu pohon. Nanti juga tumbang."
"Oke. Aku tendang ya !"
Mia pun menendangnya, dan ternyata ia pun berhasil merubuhkan pohon pisang tersebut.
"Hebat, cepat geret Mia."
"Oke."
Akhirnya mereka pun menyeret pohon pisang itu sekaligus dengan buahnya yang masih menempel pada pohonnya.
Setelah itu, mereka semua pun bertemu. Tapi betapa kagetnya mereka, Ferza menghilang.
"Fer....Fer....Ferza." panggil Defen.
Namun tiada jawaban.
__ADS_1
Mereka pun merasa khawatir karena Ferza masih dalam keadaan lemah. Dan kemana ia sekarang ?
Namun kekhawatiran itu hilang seketika melihat Ferza yang langsung muncul menemui mereka dari arah kegelapan malam.
"Kamu dari mana aja sih ?" Tanya Defen Khawatir.
Namun Ferza tidak menjawab ia hanya tersenyum kepada temannya yang sudah takut setengah mati karena menkhawatirkan dirinya.
"Malah senyum ini anak."
"Sudahlah. Kamu tau gak kalau mau minum ada 10 meter dari sini sungai. "
"Jadi, kamu menghilang cuma cari sungai ? Gak ada bawa air gitu ?"
"Nggak."
"Dasar ya ini anak. "
"Kan aku masih lemes nih. Nanti kalau mau ambil air, ambilin untuk aku juga ya !"
"Tadi perasaan jalan aja kuat. Ini kok nyuruh orang ngambil air sih."
"Bercanda..... Bercanda. Gak usah dibawa hati juga Def."
"Iya."
"Mia ! Apa itu yang kamu geret sampai sini ?" Tanya Ferza penasaran.
"Ini." Mia pun menunjukkan pohon pisang yang sudah ia geret itu.
Betapa tercengangnya mereka melihat pohon pisang yang dibawa Mia dari tempat yang cukup jauh juga.
"Gimana kamu menebangnya ?" Tanya Defen sembari menelan ludah karena saking kagetnya.
"Bukannya ini pisang liar ya. Biasanya buah pisangnya banyak bijinya." Ungkap Jhony.
"Nggak, ini kan dunia Fantasy masa' sistemnya kayak dibumi juga ? Aku tadi juga udah mengecek. Buahnya enak dan manis kok." Jawab Daisy.
"Yaudah. Pisang itu jadi bekal kita aja, Gimana ?" Tanya Ferza.
Mereka semua pun menyetujui usulan Ferza dan mulai membuat Api menggunakan kerikil di sekitar mereka dan ternyata berhasil. Akhirnya mereka pun merasakan kehangatan dari api.
Waktu di babak 4 lebih lama dibandingkan babak-babak sebelumnya. Karena semakin naik tingkat berarti semakin lama pula jamnya.
Setelah itu mereka pun beristirahat menggunakan daun pisang sebagai selimut. Namun Defen, Ferza dan Jhony berjaga beberapa waktu untuk memastikan keamanannya. Keamanan babak 4 lebih renggang dari pada babak-babak sebelumnya oleh karena itu butuhlah penjagaan sebelum tidur.
"Kok seram ya ?" Ungkap Jhony.
"Laki-laki kok takut." Jawab Defen.
"Kakak masih marah ya sama aku ?"
"Nggak"
"Masih dendam ya ?"
"Nggak"
"Kok kakak nampaknya masih marah sih ?"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa."
"Kok jawabnya gitu ?"
"Kok kamu banyak tanya sih ?" Defen merasa marah dengan semua pertanyaan Jhony.
"Maaf." Jhony pun menyadari hal tersebut dan minta maaf kepada Defen.
Ferza yang mendengarnya merasa kesal dan menghentikan pertengkaran mereka
"Sudahlah, kalian kenapa sih mau berantem lagi."
Mereka berdua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, tiba-tiba Jhony merasakan sesuatu.
"Ada apa Jhon ?" Defen Merasa khawatir dengan Jhony yang memegang perutnya.
"Kebelet." Jawaban Jhony itu sontak saja membuat Defen dan Ferza seketika terdiam sesaat.
"Ku kira apaan." Ungkap Defen.
"Kak, temenin aku yuk. Gak tahan ini." Jhony menahan terus menerus kebeletnya itu.
"Aku ? Kenapa aku ?" Tanya Defen Bingung. Namun karena tatapan yang tajam dari Ferza dan Jhony membuat Defen pun menyanggupi permintaan Jhony tersebut.
"Iya, iya."
Akhirnya Defen dan Jhony pun pergi ke sungai yang sudah ditunjukkan oleh Ferza sebelumnya.
Setelah sampai disungai, Jhony meminta Defen untuk menunggunya.
"Tunggu disini ya."
"Iya, iya. Cepat sana !"
Defen pun menunggu Jhony di pinggir sungai sambil berkeliling memandang tempat yang sebenarnya cukup indah itu.
'Kenapa ada tempat seindah ini disini ?' Kagumnya dalam hati.
Ada banyak pepohonan dan bintang-bintang dilangit malam dan suara sungai menambah suasana yang sunyi menjadi nyaman. Sehingga Defen pun tertidur di salah satu di dekat pohon.
Tapi siapa sangka bahwa ada yang mengincar Defen saat ia sedang terlelap di bawah salah satu pohon di balik semak-semak belukar.
Karena Defen mendengar suara berisik dari balik semak-semak, ia pun langsung terbangun dan benar saja. Ular yang mengincarnya pun langsung keluar dan menyerang Defen. Namun, Defen sempat mengelak dengan gerakan kilatnya.
"Ular Nakal !!!" Teriaknya dengan nada yang penuh kesal.
Defen pun langsung menyerang balik Ular tersebut dengan ranting yang ada di sebelahnya.
Tapi ular itu benar-benar sigap ia bisa menghindari semua serangan yang diberikan Defen kepadanya. Pertempuran antara ular dan Defen pun tak terelakkan.
Dan pada Akhirnya Ular menemukan kesempatan yang bagus untuk menyerang Defen balik disaat Defen sangat kelelahan. Defen pun merasa putus asa di saat Ular itu ingin menggigit dirinya. Namun siapa sangka, Entah darimana Ferza dengan kecepatan kaki seribu langsung menyelamatkan Defen dengan menahan mulut ular itu dengan ranting besar.
"Ferza." Defen Kaget karena tepat dihadapannya ada Ferza yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya.
"Kamu gak apa-apa Def ?" Tanya Ferza sambil berusaha menahan ular tersebut.
Defen hanya dapat mengangguk kebingungan sambil memperhatikan Ferza yang sedang menyelamatkan dirinya di depannya.
...Mau tau kelanjutannya ?...
__ADS_1
...Ayo dukung Author dengan Cara like, Comment, Vote dan Follow Author untuk mendapatkan karya lain dari Author....
...Terima Kasih...