
Apakah ini yang di namakan coba'an sebelum menikah? Di tegur oleh pastor adalah sesuatu yang menyangkut harga diri.Naymar harus benar-benar bersabar dan berluas hati karna calon istrinya ini adalah seorang gadis remaja,Dia harus lebih mengalah dalam hal apapun. Masih dalam diskusi antara mereka berdua tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka, mau berlanjut atau berakhir sampai di sini saja.
Belum sempat Naymar mendengar keputusan dari calon istrinya, Mobil mereka hampir saja menabrak sebuah sepeda motor membuat mereka berdua sangat syok.
Naymar turun dari mobil dan membantu mengambil barang bapak-bapak yang hampir saja di tabraknya tadi.Memang tidak sampai jatuh motor beserta orangnya, tapi semua barang bawa'an bapa itu jatuh semua.untung di pinggir jalan jadi tidak menghalau kendra'an lainnya yang berlalu lalang.
Setelah meminta ma'af, tidak lupa juga dia memberi
dua lembar uang biru laut sebagai ganti rugi karena barang yang di bawa itu berupa singkong yang hendak di jualnya di pasar. Dan beberapa di antaranya hancur karena mungkin terbentur dengan aspal jalan.
"Lain kali hati-hati ya,jangan melamun jika sedang mengemudi..bahaya.." Tegur bapak itu.
"Baik pak," jawab Naymar singkat.Dia kembali masuk kedalam mobil setelah urusannya selesai.
"Bagaimana dengan orang itu! Apa dia terluka?"
"Tidak, dia tidak apa-apa! hanya saja saja barang jualannya sedikit hancur jadi aku harus ganti rugi."
"Abang!"
"Hehhh?" Naymar kaget dengan mendengar panggilan calon istrinya.
Maksud aku abang..ehh ..om.. eh ..mas, apa sih aku harus panggilnya?"
Naymar mengulum senyium melihat calon istri bocahnya salah tingkah menyematkan nama panggilan untuknya.
"Panggil senyaman kamu saja, yang penting jangan om."
"Abang aja deh ya? biar sama'an kayak si Rindu."
Pengucapan polos Reva membuat Naymar berdecak sebal. "Ck, sesuka hatimulah!"
"Mmm..Bang..aku lapar." Naymar menoleh sesa'at melihat calon istrinya, lalu kembali melihat ke arah depan! dia tidak mau kejadian yang belum sampai lima menit tadi terulang lagi.
"Kita akan mampir di warung makan terdekat sini."
Naymar memarkirkan mobil di depan warung makan langganannya. Calon pasutri itu memesan makanan sesuai selera masing-masing.
__ADS_1
"Emang tidak ada restorant di da'erah sini ya!Kenapa harus di warung kita makannya," ucapan Reva seperti bisikan se'akan takut di dengar oleh pemilik warung.
"Ada kok restorant dekat sini, cuma Aku lebih suka makan di warung ketimbang di restorant, lagipula makanan di warung-warung makan tidak kalah enak dengan makanan restorant! Porsinya lebih besar, dan pastinya lebih murah." ucap Naymar datar.
"Gayamu seperti bintang iklan saja." sindir Reva.
"Ini sa'atnya aku mengutarakan perminta'an ma'afku pada abang." gumam Reva.
"Bang soal tadi Aku minta ma'af." cicit Reva.
"Soal apa, soal yang mana?"
"Teguran dari pastor tadi..Aku minta ma'af! aku mohon pengertian Abang ya? ini mendadak bangat buat aku.apalagi kita tidak pernah kenal, tiba-tiba di siruh nikah hanya karena sesuatu hal yang abang lalukan tanpa di sengaja.Tapi aku akan berusaha pelan-pelan mengubah sikap dan sifatku,dan juga belajar untuk menerima abang.Minggu depan kita akan tetap datang ke Gereja untuk mengikuti pembina'an kursus pernikahan." Reva berucap lancar seperti tidak ada beban.
Reflex Naymar mengangkat tangan kanannya dan mengelus rambut Reva pelan.
"Abang apa'an sih, malu di lihat orang."Revi merasa wajahnya memanas sampai ke kupingnya.Dia yakin sekarang pasti mukanya sudah merah seperti Jambu air yang stenga matang, pink warnanya.
"Buat apa malu? orang lain pun akan melakukan hal yang sama pada pasangannya.!"Jawab Naymar santai.
"Lain kali kalau lapar, bilang! jangan tahan-tahan bisa jatuh sakit nanti." Tutur Naymar perhatian.
Untuk sa'at ini belum ada debaran di dada mereka berdua.
Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman Naymar.Orang tua Reva sudah kembali ke Jogja satu minggu lalu, bersama-sama dengan Pak Indra dan keluarganya.
Rumah dalam keada,an kosong."Bang aku langsung masuk kamar ya? pengen mandi, terus rebahan." saat ini Reva menempati kamar tamu setelah kembalinya keluar pak Indra ke Jogja! karena sebelumnya mereka yang mamakai kamar itu.
Naymar hanya berdehem dan berjalan naik anak tangga menuju kamarnya terlehih dahulu memastikan calon istrinya sudah masuk kamar.
Hari berlalu, minggu berganti bulan.
Hari ini adalah hari yang menegangkan.Dengan lantang Naymar bersumpah di rumah Tuhan untuk menerima Istrinya baik atau buruk, cacat atau sempurna di saksikan para saksi terpilih yang di pilih oleh hamba Tuhan, untuk sehidup semati bersama.Cincin nikah sudah rersemat indah di jari masing-masing.Setitik air bening jatuh di pipi mempelai wanita kala merasakan benda kenyal menempel di dahinya.Tangis haru meliputi keluarga pasangan kedua mempelai.
Selesai pemberkatan dan di nyatakan sudah sah di mata agama, kedua mempelai di iringi oleh semua keluarga kembali ke kediaman Naymar.
Keluarga dua belah pihak membayar mahal MUA untuk mendekor rumah Naymar semewah mungkin! Tidak perlu di hotel berbintang untuk meyadakan resepsi pernikahan, karena halaman rumah Naymar cukup luas untuk menampung ratusan orang.
__ADS_1
Sepasang pengantin baru itu di suruh mama Dona untuk beristirahat di kamar satu dua jam ke depan, untuk memulihkan kembali tenaga agar tidak kelelahan bila menerima bayak tamu undangan sebentar.
Sekitar pukul 18:00, pasutri baru itu sudah duduk manis di pelaminan. Banyak tamu undangan berdatangan menyalami pasangan pengantin baru ini dan mengucapakan seuntai doa, "Somoga pernikahan kalian langgeng sampai Tete, Nene atau (Oma Opa)."Ucapan doa para tamu di aminkan mereka berdua...
Malam semakin larut.Banyak tamu undangan yang sudah pamit pulang.Naymar membuang pandangan ke sembarang arah seperti sedang mencari sesuatu.
"Cari apa bang?"Tanya Reva yang sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya yang sepertinya gelisah menunggu seseorang.
"Kok teman-teman abang tidak ada satupun yang hadir ya! apa mereka lupa?"Naymar menjawab pertanya'an istri bocahnya.
Rupanya pemicu kegelisahan suami Reva adalah itu, ketidak hadiran teman-temannya.
"Abang lupa mengundang mereka mungkin!"
"Abang tidak lupa,malah abang sendiri yang mengantar kartu undangannya." Ada setitik kecewa tergambar di wajah tampannya.
Sedangkan di luar tenda orang-orang yang membuat kecewa dan gelisah pengantin pria, masih dengan rencana mereka.
"Tidak boleh ada yang masuk dulu, tunggu sampai dalam tendanya sepi, tamunya sudah berpulang semua baru kita bergerak.Enak saja dia baru memberi tahu kita pas di acara resepsinya emang dia anggap kita apa?" omel salah satu di antar mereka."
"Diakan ngikut jejaknya Anton, maklum merekakan Bestiee," sambung yang lain.
"Jangan begitulah bro, jangan samakan saya dengan orang kaya yang di dalam sana, jalan cerita pernikahan saya dengan dia tidak sama." Anton tidak terima dengan tuduhan teman-temannya.apalagi sang istri tercinta yang menatapnya dengan wajah masam,alamat bisa tidur di kamar tamu.
para istri hanya jadi pendengar setia dan sesekali tertawa jika ada hal lucu yang di bicarakan suami mereka.
Sahabat-sahabat atau teman-teman Naymar kaget dengan pernikahannya, pasalnya mereka tidak pernah lihat Naymar menggandeng pasangan atau dekat dengan wanita, tiba-tiba saja mereka di undang untuk ikut memeriahkan pestanya.Ya jelas mereka marahlah,Merasa Naymar tidak benar-benar tulus berteman dengan mereka.
"Heeeh lihat di dalam sana," Salah satu di antara mereka berseru mengagetkan yang lain.Terlihat Naymar sedang menuntun istrinya turun dari pelaminan,
"Ayo serbu, beri dia pelajaran." Anton selaku pemimpin pasukan berkomando untuk mengikuti intruksinya..
"Mau kemana kau," seru mereka semua, sontak membuat Pasutri baru itu terlojak kaget. "Dasar orang kaya,tidak sopan sekali dengan tamu undangan yang masih berdatangan." ucap Rinto teman Naymar yang bayak ngomelnya di luar tadi.
"Bro,,,. kalian datang?" ucap Naymar sumringah, wajah lesunya langsung cerah seketika.
"Jadi ko berharap kitorang tra usah hadir di ko pu pesta?"
__ADS_1