Fitnah Membawa Berkah

Fitnah Membawa Berkah
Beli Tespek


__ADS_3

Pasangan suami istri itu tiba di Jogja pagi hari. kali ini yang menjemput mereka berdua, Mama Donna sendiri. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menitan, mereka tiba di kediaman mewah Pak Indra.


Seperti biasa, suara cempreng itu menyambut Abang dan kakak iparnya dengan riang. Benar saja, Rindu menagih oleh-oleh dari kedua pasutri itu.


"Apa yang abang dan kakak ipar bawa dari Jayapura untukku?" tanya Rindu manja, sambil memeluk lengan Abangnya sayang.


"Tunggu abang dan kakak iparmu masuk rumah dulu sayang, baru kau menagih mereka." tegur Mama Donna pada Putri kesayangannya.


"Maaf mah! aku suka lupa."


"Bi! kresek hitam itu tinggalkan saja di meja ruang tamu, jangan ikut masukkan ke kamar ya, itu oleh-oleh yang kami bawa dari Jayapura untuk keluarga semua di sini! larang Naymar pada ada seorang pembantu yang sedang mengeluarkan barang-barang mereka dari mobil.


"Baik Pak." jawab wanita paruh baya itu.


Rindu segera memeriksa kresek hitam itu setelah mereka semua sudah masuk ke dalam rumah.


"Kok bungkusannya beda-beda Bang?"


"Kata Bang Kevinmu, yang bungkusan berwarna biru itu milikmu Dek. Terus yang 2 bungkusnya lagi, satu untuk mertua Abang, dan satu lagi untuk mama dan papa."Naymar memberitahu adiknya,seperti yang di jelaskan Kevin kemarin padanya.


Rindu segera membuka bungkusan miliknya, dia berteriak kegirangan. "


"Abang Kevin memang the best, dia membelikanku oleh-oleh roti abon gulung kesukaanku.!"


Mereka semua yang ada di ruangan itu menggelengkan kepala melihat tingkah bocah itu.


"Papa Indra di kantor Ma?" tanya Naymar pada Mama Dona.


"Enggak! papamu tidak di kantor. beliau ada di Surabaya, berangkatnya kemarin. usaha Papa yang disana sedikit mengalami kendala. jadi papa kamu sendiri yang harus turun tangan."


Naymar manggut-manggut mendengar penjelasan Mama Dona.


"Mas Bayu sehat kan bang?" tanya Mama Donna menanyakan keadaan kakak iparnya.


"Papa Sehat mah! Tapi beliau sedikit keberatan melepaskan kedatangan kita disini." Naymar berucap sambil tersenyum, Tapi percayalah dalam hati kecilnya dia juga berat meninggalkan Papanya.


Mama Dona melihat kearah menantunya yang sedang duduk bersandar di sofa, mungkin karena kelelahan jadi Reva sama sekali belum mengeluarkan satu katapun sedari tadi mereka tiba di sini.


"Kamu kenapa Reva? tanya Mama Donna pada menantu nya.


"Nggak apa-apa Tante, kepalaku sedikit pusing."


Mama Dona sedikit geram mendengar panggilan yang disematkan menantunya untuk dirinya.


"Abang! bawa masuk istrimu ke dalam kamar dulu. Istirahatlah sebentar, nanti agak sorean baru kalian lanjut ke rumah besan." Titah nama Dona pada anak lelakinya.


"Iya mah! ayo Sayang tidurnya di kamar saja jangan di sini."

__ADS_1


Tapi percuma Naymar bicara, sang istri Sudah terlelap tidur di sofa.


"Jangan bangunkan sayang, kasihan, sepertinya istrimu sangat kelelahan, digendong bawa masuk saja ke kamar."


Naymar manut mengikuti perintah namanya, dan segera menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.


Sore hari, kedua pasutri itu sudah bersiap! tinggal berangkat ke kediaman orang tua Reva. Naymar duduk di pinggir ranjang memperhatikan istrinya yang sedang bersolek di depan cermin.


"Nggak usah kau pakai barang-barang yang begituan sayang. Bagiku kau sudah cantik luar dalam tanpa memakai itu." tunjuk Naymar pada peralatan make up yang tersusun rapi di sebuah tas kecil milik istrinya!


Reva tersipu mendengar kata-kata gombal suaminya.


"Aku juga jarang pakai pakai barang beginian Mas, tapi lihat muka dan bibirku sangat pucat, aku hanya sedikit mengoleskan di wajah dan bibir supaya terlihat segar."


Naymar berdiri dari duduknya menghampiri sang istri, dan memeluknya dari belakang. Dia memberi ciuman di pipi istrinya beberapa kali, sebelah tangannya nya mengelus perut rata istrinya sayang.


"Apakah sudah ada Naymar Junior di sini?"


Naymar Berkata sambil menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh Reva.


"Aku juga nggak tahu Mas, pertama kali berhubungan badan dengan mas, itu waktu masa subur ku." ucap Reva lesu.


"Tapi kenapa kamu seperti tidak semangat segitu sayang, Apakah kamu belum ingin mempunyai anak dari Mas? Bukankah itu bagus, Tuhan cepat memberikan momongan untuk kita." tanya Naymar sambil beberapa kali mengecup kepala istrinya.


Seiring berjalannya waktu cinta itu sudah hadir di hatinya untuk sang istri. dan Naymar menyadari itu.


"Tapi bagaimana dengan kuliahku Mas,"


Reva yang melihat pantulan suaminya lewat cermin sedang berbicara dengan serius, maka dia urungkan niatnya hendak menyatakan bahwa dia belum siap, untuk mempunyai anak sekarang! bukan berarti dia tidak mau mempunyai anak dari suaminya.


"Ya Mas! aku akan menerimanya, akan terlihat kejam sekali, Jika aku menolak darah dagingku sendiri."


"Umurmu memang masih kecil, tapi pikiranmu sangat dewasa sayang, Walau terkadang sifat labil mu masih muncul,"


Neymar membalikkan tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat!!!


"Fitnah itu memang benar-benar membawa berkah untukku!" bisik Naymar dalam hatnya.


"Kalau kita berpelukan terus-terusan seperti ini, kapan kita berangkatnya Mas. aku rasa ibu mertuamu pasti lagi ngomel-ngomel di rumah, menunggu kedatangan kita." Naymar tergelak mendengar ocehan istrinya.


Naymar sudah Tidak segan lagi memilih salah satu mobil mewah untuk dipakainya yang terparkir di halaman rumah pak Indra.


mobil bergerak meninggalkan pekarangan rumah mewah Pak Indra! Reva menunjukkan arah jalan menuju rumahnya. Naymar memberhentikan mobilnya di depan sebuah apotek.


"Tunggu sebentar Sayang."


Reva hanya mengangguk saja mendengar ucapan Naymar. kepalanya kembali pusing Ditambah lagi dengan mual, membuat dirinya untuk bicara pun enggan!

__ADS_1


 


Mereka berdua dua disambut dengan omelan dari Bundanya Reva, ibu mertua Naymar.


"Janjinya datang jam 3, taunya tiba di sini sudah malam. emang jam kalian berdua karet ya bisa ditarik lebih panjang, untuk mengundurkan waktu!"


"Sudahlah Bun, apa Bunda tidak kangen dengan anak bunda?" tegur ayah Reva pada istrinya. beliau merasa tidak enak dengan menantunya.


"Justru itu Ayah, Bunda sangat kangen dengan mereka , makanya Bunda ingin cepat-cepat melihat wajah mereka berdua."


"Maklumilah ibu mertuamu nak, terkadang dia suka heboh jika menyangkut Putri semata wayangnya."


"Iya Ayah! aku mengerti!" dia pun merasa bersalah, atas keterlambatan mereka! wajar ibu mertua mengomel!


"Kenapa wajah kamu pucat sekali begitu sayang?"


"Kurang tahu juga Bun, sepertinya aku motion sickness." Reva menjawab pertanyaan bundanya.


Naymar memandang ke arah istrinya, benar saja, wajah Reva lebih pucat dari yang sebelumnya. dalam hati dia berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa pada istrinya itu.


"Jangan pakai Inggris Inggris begitulah! bunda tidak mengerti."


"Putrimu mabuk perjalanan Bunda," jelas Pak Erik pada istrinya( Bunda Lily)!


"Oh begitu ya, tunggu bunda buatkan teh hangat untukmu biar perutmu enakan."


Bunda Lily bukan hanya menyiapkan teh untuk anaknya saja, tetapi sekalian Menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


Selesai acara makan malamnya, mereka berbincang-bincang sesaat lalu Masuk beristirahat ke kamar masing-masing.


Reva membawa Naymar masuk ke dalam kamarnya.


"Kamar kamu lebih bagus sayang! kelihatan lebih hidup, dibandingkan dengan kamar Rindu."


"Jangan samakan aku dengan rindu Mas, anak itu semua barangnya serba abu-abu, termasuk otaknya juga abu-abu."


Naymar terbahak mendengar guyonan istrinya.


"Sayang kamu sudah tidak apa-apa?"


"Iya! aku sudah enakan setelah meminum teh manis buatan Bunda."


Naymar mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, dan menyerahkan pada sang istri. Reva mengambil barang yang dibungkus dengan plastik kecil hitam dari tangan suaminya.


"Ini?"


Reva memegang sebuah tespek yang baru saja dikeluarkan dari plastik hitam tadi, dan menunjukkan pada suaminya.

__ADS_1


"Ini Mas beli di apotek tadi?" tanya Reva dan Neymar.


"Iya Sayang, besok pagi-pagi subuh pakai lah, kita berdua akan sama-sama melihat hasilnya."


__ADS_2