FLO!

FLO!
Bag. 1


__ADS_3

NEW YORK CITY.


Suara panggilan Brenda yang membuatku mengangkat kepalaku dari laptop yang ada di depanku. Aku yang awalnya sedang sibuk membuat formula baru untuk program yang sedang kukembangkan terpaksa harus meninggalkan kesibukanku sejenak. Aku melepaskan kaca mata yang terpasang dan meletakkannya di samping laptopku dan menatap Brenda.


"Your Dad, line two," kata Brenda sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.


"Tolong bikin kopi lagi dong. Habis," pintaku sambil mengangkat cangkir kopiku yang sudah kosong itu.


"Lagi? Ini baru jam satu siang dan kamu udah menghabiskan tiga cangkir kopi? Kasihani lambung kamu, Nak," ujarnya sambil menggeleng prihatin. Aku hanya menyeringai sambil mengangkat kedua bahuku. Brenda memutar bola matanya lalu membalikkan tubuhnya.


Aku mengangkat telepon yang ada disampingku dan menekan tombol angka dua. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan anehku saat mendengar Papa yang menelepon. Beliau jarang meneleponku, mungkin kalau hanya ada keperluan. Biasanya aku yang lebih dulu meneleponnya. Aku berdeham dua kali dan berusaha mengontrol suaraku.


"Halo, Pa. Ada yang bisa Flo bantu?" tanyaku dengan ramah. Aku memijat-mijat hidungku yang memang pegal karena sejak pagi aku tidak melepaskan kacamataku.


Aku mengerutkan keningku saat aku tidak mendengar ada jawaban. Aku memanggil ayahku lagi dan syukurlah ayahku berdeham karena kalau tidak aku akan menutup telepon itu. Kerutan di keningku semakin bertambah saat aku mendengar suara berat milik Papa dan isakan pelan yang aku tahu milik ibuku juga terdengar.


"Papa? Ada apa?" tanyaku dengan lembut.


"Flo... Bisa kamu kembali ke Jakarta?" tanya ayahku dengan lemah. Aku mengerutkan keningku. Ayahku biasanya tidak terdengar seperti ini. Dia adalah tipe pria yang tegas dan selalu mampu menjaga nada bicaranya. Mendengar suara lemah itu membuatku menaikkan alisku.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyaku dengan pelan.


Ayahku lagi-lagi terdiam. Isakan dibelakangnya semakin terdengar jelas ditelingaku. Aku semakin merasa takut. Apa terjadi sesuatu pada keluargaku?


"Flo... Papa mohon kamu jangan kaget..." ujar Papa dengan pelan dan sangat berat. Aku tertawa halus mendengar nada itu.


"Jangan bilang ada masalah dibisnis katering Papa? Tenang, Pa, aku pasti bantu," jawabku, berusaha mencairkan suasana yang kurasa semakin menegang. Tapi ayahku tidak terdengar tertawa. Dia malah terdengar seperti sedang menahan tangis.


"Ini tentang Freya, Flo. Ini tentang adik kamu."


Aku mengerutkan keningku. Aneh. Baru semalam aku Skype dengannya dan aku mengutarakan hal itu pada ayahku. Tapi Papa malah tiba-tiba menangis.


"Freya... Freya... Dia... meninggal... bunuh diri..."


Kata-kata ayahku yang begitu pelan namun berhasil membuat tubuhku serasa tersambar petir.


Tidak mungkin.


Itu tidak mungkin terjadi!


Semalam kami baru mengobrol. Dia kelihatan ceria seperti biasa. Dia bahkan membicarakan teman-temannya kelasnya. Dia masih tersenyum padaku! Aku mengeluarkan pikiranku dengan setengah histeris.


Itu tidak mungkin terjadi.

__ADS_1


Papa pasti bercanda.


"Flo... Papa minta kamu kembali ke Jakarta secepat yang kamu bisa..."


Aku tidak sepenuhnya bisa mendengar ucapan ayahku. Dikepalaku masih teringat percakapan antara aku dan Freya kemarin. Jadi itu sebabnya kenapa dia mengatakan betapa dia menyayangiku kemarin? Dia ingin mengucapkan selamat tinggal?


Telepon yang ada ditanganku terjatuh. Brenda yang datang sambil membawakan kopi untukku terlihat kaget melihatku yang menangis histeris. Brenda langsung memelukku dan menghiburku tanpa tahu apa yang terjadi. Saat aku sudah lebih tenang, Brenda melepaskan pelukannya dan menatapku. Namun aku tidak bisa mencerna apa yang terjadi.


"Freya, Brenda, Freya... dia... dia meninggal..." ujarku terbata disela tangisanku. Brenda kelihatan terkesiap sambil menatapku tidak percaya.


"Kapan?" tanyanya sambil kembali memelukku.


"Nggak tau. A-aku nggak tau jelasnya... Aku..."


Brenda langsung memotong perkataanku. "Aku pesan tiket pulang ke Jakarta sekarang. Nggak perlu berkemas. Koper kamu dari perjalanan ke Paris kemarin belum aku bongkar. Mau aku temani?" tawarnya tapi aku menggeleng lemah.


"Nggak perlu," jawabku sambil menghapus air mata yang menutupi pandanganku. "Selama aku absen, tolong undur semua jadwal aku. Dan soal program baru, akan aku-"


"Nggak usah pikirin soal pekerjaan, aku handle semua. Saat ini kamu harus kembali ke Jakarta dan cari tau apa yang terjadi," potong Brenda. Dia membalikkan tubuhnya dan menuju mejanya untuk memesan tiket pesawat paling cepat untukku. Tidak sampai lima menit, Brenda mampu membelikanku tiket paling cepat.


"Berangkat tiga jam lagi. Ayo, kita ke flat sekarang dan ambil koper dan paspor kamu. Semakin cepat semakin baik," katanya sambil menarikku bangun dari bangkuku. Aku masih syok dan tubuhku seperti robot yang mengikuti ucapan Brenda.


Brenda menutup laptopku dan memasukkannya ke tas kerjaku bersama dengan kacamata milikku. Aku tidak mampu berbuat apa-apa saat Brenda mendorongku masuk ke mobil dan dia mengendarainya seperti orang gila menuju flat kami. Aku masih berusaha mencerna apa yang terjadi karena ini seperti mimpi bagiku.


Aku tidak sadar kalau aku sudah berada di bandara JFK. Brenda memberikan tas dan koper milikku dan mengatakan padaku kalau semua akan baik-baik saja. Dia membuatku berjanji padanya agar segera meneleponnya. Aku mengangguk dan masuk ke dalam bandara sambil mengingat-ingat masa laluku.


Kalau bukan karena Papa dan Mama, aku pasti tidak akan bisa berada di negara ini. Mereka mengadopsiku dari panti asuhan karena Mama tidak bisa mengandung anak. Dia memiliki kelainan dirahimnya yang kalau dipaksa untuk mengandung akan berbahaya bukan hanya bagi Mama tapi juga pada bayi yang dikandungnya. Karena Papa ingin membuat Mama keluar dari perasaan dukanya, maka dia mengadopsiku. Mereka menyayangiku dan aku juga mencintai mereka dan berusaha yang terbaik bagi mereka.


Tapi semua berubah saat Mama dinyatakan mengandung saat umurku tujuh tahun. Awalnya dokter pesimis kalau Mama dan bayinya tidak akan bertahan. Tapi Mama bersikeras untuk melahirkan bayinya. Dengan begitu banyak perjuangan dan penderitaan yang seakan tidak ada habisnya, akhirnya Mama berhasil melahirkan Freya meskipun prematur. Jujur, awalnya aku iri. Bagaimanapun aku hanyalah seorang anak angkat yang pasti akan digantikan oleh kehadiran Freya. Aku takut kasih sayang orang tuaku akan direbut oleh Freya. Tapi kedua orang tuaku meyakinkanku kalau mereka akan tetap menyayangiku seperti sebelumnya, meskipun itu tidak terjadi. Aku terbiasa dinomorduakan oleh orang tuaku sejak kehadiran Freya. Saat aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke luar negeri, Amerika lebih tepatnya, mereka tidak menolak. Wajah mereka malah kelihatan lega saat aku memutuskan hal itu.


Dan karena hal itu, aku berusaha yang terbaik untuk mereka. Aku masuk ke SMA terbaik yang ada di New York dan berusaha mendapatkan nilai terbaik. Karena nilai-nilaiku yang diatas rata-rata, aku berhasil mendapatkan beasiswa ke MIT dan lulus dengan nilai yang lumayan baik. Aku bahkan lulus lebih cepat dari teman satu angkatanku. Aku berusaha menggapai mimpiku dan membuat orang tuaku kembali menyayangiku dan bangga padaku. Mereka memang bangga, tapi aku tahu itu seperti kewajiban bagiku. Rasanya aku hanya seperti tengah membalas budi pada mereka. Dan karena itu, lama kelamaan aku mulai menjauhi orang tuaku.


Meskipun begitu, aku tidak bisa membenci Freya. Dia gadis paling manis sekaligus paling baik yang pernah aku kenal. Dia mampu membuatku yang awalnya membencinya malah menyayanginya. Dia mengingat ulang tahunku, sesuatu yang mulai dilupakan oleh orang tuaku, dan mengirimkan banyak hadiah untukku. Dia selalu membuatku tertawa diantara rasa dukaku. Orang tuaku memang mulai tidak mempedulikanku tapi Freya yang perhatian padaku. Dia selalu membuat hariku berwarna dengan tawanya. Dan sekarang, tawa itu sudah menghilang. Kenapa aku tidak bisa menangkap tanda-tandanya? Aku jadi ingat percakapanku dengannya semalam.


"Kak, apa kita akan selalu masuk surga?" tanya Freya saat dia selesai membicarakan teman-teman sekolahnya. Aku mengerutkan keningku dan tertawa.


"Kalau kita selalu masuk surga, lalu untuk apa ada neraka?" tanyaku sambil menggeleng mendengar pertanyaan ngawur Freya. Tapi Freya tidak ikut tertawa bersamaku. Saat aku memanggil namanya, dia baru ikut terkekeh.


"Ada apa, Freya? Ada yang ganggu kamu? Siapa? Mau Kakak pukul dia buat kamu?" ancamku dengan nada jenaka. Freya ikut tertawa yang membuatku tersenyum.


"Nggak, Kak, Freya baik-baik aja. Freya cuma kangen sama Kakak," jawabnya yang membuatku tersentuh mendengar nadanya itu.


"Kan Kakak udah ajak kamu untuk tinggal bareng Kakak disini. Setidaknya kalau disini Kakak bisa jaga kamu dan kamu juga nggak akan kesepian," balasku.

__ADS_1


"Aku yang kesepian atau Kakak yang kesepian?" godanya yang membuatku menyeringai. Aku mengangguk dan mengakui kalau aku memang juga merindukannya dan kesepian karena beberapa bulan ini aku belum bertemu dengannya.


"Aku lebih kangen lagi sama Kakak," ujar Freya dengan lembut. "Aku kangen dipeluk sama Kakak dan Kakak akan bilang kalau semua baik-baik aja."


Aku mengerutkan keningku. Baiklah, Freya semakin aneh. "Are you okay, Baby? Apa Papa dan Mama berantem lagi?"


Freya menggeleng. Dia malah tersenyum padaku. "Aku cuma baru sadar betapa aku beruntung punya Kakak kayak Kak Flo. Mungkin kalau Freya nggak lahir, Kakak akan tetap dirumah ini dan nggak perlu pergi. Freya yang bikin Kakak nggak bahagia."


Aku tersentak. Dari mana Freya memiliki pikiran seperti itu? "Dengar, Freya, I love you! I really am. Mau kamu lahir atau nggak, Kakak memang sejak awal memutuskan untuk pergi dari rumah. Kamu tau kalau cita-cita Kakak untuk jadi seorang programmer?" Freya mengangguk. "Jangan pernah bilang kayak begitu! Justru Kakak senang saat kamu lahir. Kakak bahagia karena keluarga Kakak bertambah dengan kehadiran kamu."


"Kakak nggak bohong?" tanyanya dengan pilu.


Aku mengangguk mantap. "Untuk apa Kakak bohong? Kakak sayang sama kamu, Freya. Saat kesibukan Kakak berkurang, Kakak pasti akan pulang dan temani kamu. Gimana?"


Aku bisa melihat Freya seperti membisikkan sesuatu dan aku tidak bisa mendengar apa ucapannya. Freya terlihat bangun dari duduknya dan aku bisa melihat kalau dia sudah berseragam lengkap . Kelihatannya dia akan berangkat sekolah.


"Kak, Freya mau berangkat dulu," pamitnya lalu meniupkan kecupan jauh untukku. Aku tersenyum dan membalas kecupan untuknya. Dan sebelum memutuskan hubungan, Freya menatap kamera, seakan sedang menatap mataku secara langsung. Jujur, aku kaget. Selama ini Freya pemalu dan jarang menatap orang dengan tatapan seperti itu. Apalagi Freya juga terlihat seperti sedang menahan tangis.


"Freya sayang banget sama Kakak. Please, apapun yang terjadi setelah ini, jangan marah sama Freya. Kakak cuma perlu ingat kalau Freya sayang banget sama Kakak dan Freya menyesal karena udah lahir ke dunia ini dan bikin Kakak nggak bahagia. I love you, Kak," ujar Freya seakan sedang menahan isakannya. Aku tidak mampu bertanya lebih lanjut karena Freya langsung memutuskan hubungan. Saat aku mencoba menghubungi kembali, Freya tidak mengangkat.


Aku merasa aneh tapi aku malah tidak mempedulikannya. Aku masih lelah karena baru pulang dari perjalanan dinasku ke Paris pada hari sebelumnya. Kalau saja aku berusaha lebih keras, menelepon Papa atau Mama misalnya, mungkin aku sudah mencegah hal ini sampai terjadi. Aku mengeluarkan laptop yang ada di dalam tasku dan menatap foto diriku dan Freya yang ada di layar. Aku menangis pelan sambil meminta maaf pada Freya. Pramugari yang melihatku menangis tidak bicara apa-apa. Dia malah memberikan sekotak tisu padaku sambil menepuk bahuku dan meninggalkanku. Di dalam hati, aku berdoa semoga aku mendapatkan jawaban.


...***...


Aku tidak sadar taksi yang membawaku kembali ke rumah yang sudah kuhindari selama bertahun-tahun itu ternyata sudah sampai. Rumahku tampak sepi namun masih terpasang tenda dihalaman. Beberapa orang terlihat tengah membereskan meja-meja dan melipat bangku. Sebuah truk juga terparkir tidak jauh dari halaman rumah kami dan orang bolak balik memasukkan bangku-bangku yang sudah di lipat ke dalam truk itu. Kedatanganku kelihatannya menarik perhatian mereka. Aku memang tengah menggunakan kaus turtleneck yang ditutupi mantel hitam sepanjang lutut, karena New York saat aku berangkat tadi sedang berada dipenghujung musim gugur dan udara disana sudah semakin dingin, celana panjang hitam dan sepatu kets. Apalagi aku juga memakai tas punggung dan aku menarik koper. Seorang pria paruh baya mendatangiku sambil menatapku dari atas ke bawah.


"Cari siapa, Mbak?" tanya pria itu. Aku menelan ludahku.


"Saya cari Bapak Tiberius Abdi Kusuma. Ada?" tanyaku dengan ramah, menyebutkan nama ayahku.


"Bapak belum pulang dari pemakaman, Mbak. Mbak kenalannya Bapak?" tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan tanpa berusaha mengoreksi pria itu atau memberitahu jati diriku.


"Saya diberitahu kalau Freya meninggal..." ujarku sambil berusaha menahan tangis. Pria itu menghembuskan nafas panjang. Dia menggeleng dan wajahnya ikut sedih.


"Tragis banget, Mbak. Lompat dari atap sekolahnya. Padahal pihak sekolah udah berusaha bawa Mbak Freya ke rumah sakit terdekat tapi terlambat," jawab pria itu.


Aku menundukkan kepalaku. Aku semakin berusaha menahan tangisku dengan mengepalkan tanganku dengan kuat.


"Bapak dan Ibu syok berat. Apalagi waktu tau Mbak Freya hamil."


Kepalaku terangkat. Aku terbelalak saat mendengar ucapan pria itu.


Aku terbelalak tak percaya. Apa?

__ADS_1


Freya hamil?


__ADS_2