FLO!

FLO!
Bag. 19


__ADS_3

Aku dan Brenda memandangi rumah besar yang ada di depanku. Saat masuk tadi, entah kenapa Brenda diijinkan masuk. Aneh memang, seakan Brenda sudah sering ke tempat ini sebelumnya. Dan saat aku menanyakannya, dia malah mengalihkan pembicaraan. Aku yang sebenarnya tahu tentang hubungannya dengan sang menteri itu, memilih untuk diam dan membiarkan dia merahasiakannya. Bagaimanapun, aku dan Brenda sudah sama-sama dewasa dan aku tahu jika Brenda tidak mau membaginya denganku maka aku tidak bisa melarangnya.


"Kamu tunggu disini aja. Biar aku yang bicara sama dia," bisikku pada Brenda saat perempuan yang aku rasa asisten rumah tangga disini memintaku mengikutinya ke kamar Stella. Brenda menyetujuinya.


Aku mengikuti perempuan itu sambil memikirkan apa yang harus aku tanyakan pada Stella. Ini menyangkut adikku dan aku harus tahu kebenarannya. Dia pernah menjadi sahabat adikku dan saat aku mengucapkan kata-kata bunuh diri, dia seperti terluka. Aku harus tahu tentang itu. Kepalaku terangkat saat mendengar perempuan itu memanggilku.


"Non Stella ada di dalam. Katanya Mbak masuk aja," kata perempuan itu. Aku mengangguk sambil berterima kasih dan dia meninggalkanku.


Aku mengetuk pintu kamar yang ada di depanku dan aku membukanya saat mendengar jawaban dari dalam. Aku melihat Stella tengah membaringkan tubuhnya di ranjang dan matanya kelihatan sedih. Aku melihat tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir aku lihat. Aku jadi kasihan saat melihat wajahnya itu.


"Apa gue harus tanya ngapain lo disini? Please, jangan bilang lo cemas," ujarnya dengan ketus yang membuatku tersenyum tipis. Dia ini meskipun sedang sakit tetap saja judes.


"Kenapa gue nggak disuruh masuk dulu baru lo mulai bertanya?" kataku sambil masih terus berdiri diambang pintu. Dia memutar bola matanya dan menyuruhku masuk. Aku menarik kursi belajarnya ke samping ranjangnya dan duduk di atasnya.


"Kenapa lo disini? Lo mau menghukum gue lagi?" tanya Stella dengan lemah. Aku menaikkan alisku. Memangnya aku seperti sedang menghukumnya?


"Kenapa lo berpikir gue mau menghukum lo?"


"Orang yang menyalahkan gue karena kematian Freya itu artinya lagi menghukum gue."


Mendengar nama Freya keluar dari mulutnya, membuat wajahku mengeras. "Kenapa? Lo merasa bersalah? Memangnya Freya bunuh diri karena lo?"


Aku melihat sesuatu terpancar dari matanya. Sesuatu yang membuatku ngilu melihatnya. Stella langsung mengalihkan pandangannya dan malah menundukkan kepalanya. Saat aku mengulangi pertanyaanku, dia langsung mengangkat kepalanya dan menatapku dengan sengit.


"Iya! Gue yang bunuh dia! Kalau aja gue menerima kenyataan kalau Azka nggak suka sama gue dan gue tetap mempertahankan persahabatan gue sama Freya mungkin dia nggak akan bunuh diri!" teriak Stella yang membuatku kaget. Tiba-tiba dia terisak. "Kalau aja gue nggak ninggalin dia! Kalau aja gue nggak berpaling dari dia mungkin dia nggak akan hamil dan memilih untuk bunuh diri!"


Aku menatap Stella namun aku tidak bisa mengeluarkan satu katapun.


"Caesar ninggalin gue karena dia merasa gue yang bikin Freya sampai kayak gitu. Padahal kami udah berjanji nggak akan berpisah tapi gue yang hancurin semua itu! Padahal cuma Freya satu-satunya orang yang bisa mengerti gue tapi gue malah ninggalin dia karena seorang cowok!"


Stella langsung menangis keras. Aku menatapnya dan tidak ingin melakukan apapun untuk menghiburnya. Aku ingin mencerna semua apa yang ada di depanku saat ini. Entah kenapa, semua pertanyaan yang tadi sudah aku siapkan sebelumnya langsung aku lupakan.


"Freya satu-satunya orang yang dekat sama gue bukan karena status gue. Dia dekat sama gue karena dia tulus sayang sama gue. Saat gue bully dia sekalipun, dia tetap percaya kalau gue akan berubah dan balik jadi sahabat dia. Apa lo kira gue sanggup hidup setelah tau kalau gue yang bikin dia kayak begitu?" teriak Stella yang membuatku meringis.


"Jadi karena itu lo bikin supaya semua orang benci sama lo? Supaya nggak ada lagi yang mau dekat sama lo karena lo takut melukai mereka?" tanyaku yang membuat Stella terdiam.


Stella terisak. "Gue takut. Sejak Freya pergi dengan cara kayak begitu, gue merasa jadi orang paling jahat. Gue malah berpaling dari dia saat dia butuh bantuan gue. Dia anak yang paling dibanggain orang tuanya tapi karena gue, dia sampai hamil dan memilih bunuh diri. Kalau aja gue nggak memĀ­-bully dia..."


"Kenapa dari awal lo bully dia? Hanya karena seorang Azka?" tanyaku tidak percaya.


Stella menatapku dengan begitu terluka. "Apa lo pernah suka sama seseorang, bener-bener suka, tapi orang itu malah diambil sama sahabat lo sendiri?"


Aku memang tahu bagamana rasanya menyukai seseorang, karena sebesar itulah perasaanku pada Davin, tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya jika Davin diambil oleh sahabatku sendiri.


"Padahal gue yang sejak awal suka sama Azka tapi tiba-tiba Freya bilang kalau dia udah pacaran sama Azka. Dia bilang kalau Azka bukan tipenya dan bahkan akan coba mencomblangi gue dengan Azka tapi ujung-ujungnya mereka malah pacaran. Freya bahkan memonopoli semua perhatian guru. Dia membuat gue seakan-akan nggak berguna..."


Stella salah. Kalau saja dia membaca diary Freya mungkin Stella akan mengerti. Freya tanpa sadar melakukannya. Dia ingin menjadi yang terbaik karena dia tahu hanya dia yang mampu mengajari Stella. Freya sendiri yang menulis kalau dia sebenarnya iri pada Stella karena Stella cantik dan jago olahraga, tidak seperti Freya yang lemah. Freya ingin sejajar dengan Stella makanya dia belajar sekeras mungkin agar mampu menjadi yang terbaik.


"Lo kira gimana perasaan kakaknya saat tau kalau lo bully adiknya?" tanyaku yang membuatku langsung tersadar akan kebodohanku. Apa yang barusan kukatakan? Apa aku mau membuka penyamaranku?


Tiba-tiba Stella tersenyum tipis. "Freya paling sering ceritain tentang kakaknya. Kakaknya punya nama yang sama kayak lo. Freya bilang kalau Flo adalah kakak terhebat yang dia punya. Tapi gue benci sama kakaknya!"


Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya. "Kenapa?"


"Dia nggak pernah ada saat Freya butuh dia! Bahkan saat Freya meninggal, dia sama sekali nggak muncul! Itu yang namanya kakak terbaik?"


Entah kenapa saat Stella mengucapkan itu, sesuatu memukul telak hatiku. Apa memang aku bukan kakak terbaik bagi Freya? Stella benar. Dimana aku saat Freya membutuhkanku? Aku malah sibuk mengejar impianku dan melupakan sekelilingku.


"Kenapa muka lo kayak begitu?" tanya Stella pelan yang membuat kepalaku terangkat. Aku hanya menarik sudut bibirku.


"Lo menyesal udah bully Freya?" tanyaku pelan. Wajah Stella langsung muram. Dia tidak menatapku. Dia malah menatap kosong apapun yang ada di depannya itu.


"Andai gue bisa memutar balikkan waktu, Flo. Saat gue, Freya dan Caesar masih jadi sahabat baik. Saat kami nggak terpisahkan. Tapi gue tau harapan gue nggak akan terwujud. Freya udah pergi bahkan sebelum gue minta maaf dan berdamai sama dia." Aku terdiam saat Stella tiba-tiba menangis tanpa suara namun bibirnya membentuk senyuman sedih. "Kata almarhum nyokap gue, kita nggak tau seberapa berharganya orang lain saat orang itu udah ninggalin kita dan dia benar. Gue baru sadar kalau gue udah kehilangan sahabat terbaik sekaligus orang yang paling mengerti gue saat dia udah ninggalin gue."


Aku menatapnya, tidak mampu mengeluarkan apapun. Aku jadi merasa bersalah karena dulu aku berpikir untuk membalas dendam pada Stella. Padahal anak ini jauh lebih menyesal dari aku. Dia jauh lebih menderita dariku. Aku memang kehilangan adikku tapi dia kehilangan orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. Tanpa kusadari, aku menggenggam tangannya. Aku kira dia akan menariknya tapi dia malah membalas genggaman tanganku.


"Anggap aja gue Freya. Bilang apapun yang mau lo bilang ke dia," bisikku. Stella menatapku, awalnya mengerutkan keningnya, namun dia mengangguk dan menarik nafas panjang. Dia berdeham dan menghapus air matanya.


"Gue minta maaf, Frey. Gue menyesali semua perlakuan gue ke lo. Gue baru sadar kalau gue sayang banget sama lo saat semua udah terlambat. Harusnya gue nggak ninggalin elo dari pertama. Harusnya gue tetap disamping lo meskipun gue harus sakit hati saat lihat lo dan Azka. Harusnya gue ikut bahagia saat lo bahagia, kayak yang selalu lo lakuin. Maafin gue, Freya. Maafin gue..."


Dan tanpa sadar, air mataku ikut terjatuh saat melihat wajahnya dan mendengar kata-katanya, seperti dia sedang meluapkan setiap emosinya saat ini.


Saat Stella sudah jauh lebih tenang, dia melepaskan tanganku. Aku tersenyum padanya dan membelai kepalanya dengan lembut. Tanpa sadar, aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku berterima kasih padanya. Saat mendengar ucapan terima kasihku itu, dia sendiri ikut tersenyum.


"Justru gue yang harusnya bilang makasih. Ini pertama kalinya gue mengeluarkan semua ini ke orang lain. Selama ini nggak ada yang mau dekat gue karena image gue," ujar Stella.


"Teman se-geng lo?" tanyaku pelan. Dia malah menggeleng.


"Mereka nggak mau dengar tentang perasaan gue. Yang mau mereka dengar itu mulai dari barang-barang yang gue beli, kemana gue jalan-jalan, kemana gue mau traktir mereka hari ini dan lain-lain yang menguntungkan mereka. Cuma lo satu-satunya yang dengar cerita gue," jawab Stella sambil tersenyum sedih.


"Caesar? Kenapa lo nggak coba berdamai sama dia?"


Lagi-lagi Stella menggeleng. "Kalaupun gue minta maaf dan dia maafin gue, pasti nggak akan bisa kembali seperti semua. Gue nggak akan bisa dekat sama dia."


"Kenapa pesimis? Gue yakin Caesar pasti maafin lo. Percaya sama gue. Untuk urusan kembali seperti semula atau tidaknya, biar waktu yang menentukan. Gue yakin, Caesar sebenarnya sejak awal mau maafin lo tapi dia terlalu gengsi buat deketin lo karena lo malah menjauhi dia."


Aku melihat Stella mengerutkan keningnya yang membuatku tersenyum tipis.


"Make a first move. Kalau lo menunggu dia dan dia menunggu lo, siapa yang akan maju kalau sama-sama menunggu? Nggak akan ada habis-habisnya. Kalau lo mau sahabat baik lo kembali, cobalah meminta maaf lebih dulu. Bilang makasih dan maaf nggak akan bikin lo kelihatan jadi pengecut kok."


Awalnya Stella terdiam. Namun lama kelamaan, sebuah senyuman terukir diwajahnya. Senyuman yang selama ini tidak pernah dia tunjukan padaku. Disana aku baru menyadari betapa cantiknya Stella saat dia tersenyum padaku.


"Lo tau, Freya juga ucapin hal yang sama waktu gue berantem sama mantan gue?" tanya Stella tiba-tiba yang membuat alisku terangkat.


Aku hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahuku. Tentu saja aku tahu karena akulah yang mengajarkan hal itu pada adikku. Yang tidak aku sangka adalah Freya mengajarkannya pada orang lain. Mendengar itu, aku semakin bangga pada adikku.


Aku bangkit dari dudukku lalu menepuk bahu Stella. "Besok masuk, ya? Nggak usah pura-pura sakit," kataku sambil menggodanya. Dia tersenyum sambil mengangguk.


"Menurut lo apa keluarga Freya akan maafin gue kalau gue minta maaf ke mereka, terlebih kakaknya Freya?" tanya Stella yang membuat alisku terangkat.


"Lo mau dengar pendapat gue?" tanyaku dan Stella mengangguk. "Sebenarnya kakaknya Freya udah tau sejak awal gimana perlakuan lo ke adiknya. Tapi lo coba aja minta maaf secara langsung ke dia."


"Tapi gimana caranya? Gue nggak pernah ketemu dia apalagi tau gimana cara berhubungan sama dia!"


Aku menggaruk kepalaku meskipun tidak gatal. Dia benar juga. Mana mungkin aku memberikan alamat e-mailku pada Stella sedangkan yang dia ketahui kalau aku tidak mengenal kakak Freya. Itu sama saja aku mengungkapkan penyamaranku. Tapi tiba-tiba sebuah ide tercetus dari kepalaku.

__ADS_1


"Nyokap gue ada dibawah. Dia kerja di tempat yang sama kayak kakaknya Freya. Mungkin dia tau alamat e-mail kakaknya Freya," cetusku. Stella tersenyum lebar dia langsung bangkit dari tempat tidur.


"Kok gue nggak sadar, ya? Padahal gue udah sering ketemu sama nyokap lo!"


"Masa? Kok nyokap gue nggak pernah cerita?"


"Dia pernah kesini waktu Papa undang dia. Gue kira nyokap lo itu galak banget, tapi waktu dia ngobrol, ternyata orangnya asyik. Wawasannya juga luas. Dia sering cerita tentang bosnya ke gue."


Aku mengangkat sebelah alisku. "Oh, ya? Dia cerita apa tentang bosnya?"


"Gue cerita sambil jalan ke tempat nyokap lo," kata Stella sambil menarikku dan aku berjalan mengikutinya. "Dia cerita kalau bosnya itu kadang nyebelinnya minta ampun. Mana nggak ada dewasa-dewasanya. Dia bilang kalau kakak kembarnya, om lo itu, gabung sama bosnya, selalu bikin dia naik darah. Dia juga bilang kalau bosnya itu tukang suruh-suruh dan kadang egois banget."


Tunggu sebentar! Brenda tidak pernah mengatakan hal itu padaku! Apa? Tidak dewasa? Tukang suruh-suruh? Egois?


"Halo, Tante!" sapa Stella riang pada Brenda yang membuatku sadar kalau kami sudah diruang tamu. Aku menatap Brenda sambil tersenyum kecut. Tatapan Brenda jatuh pada tangan Stella yang menggenggamku erat.


"Udah rukun?" tanya Brenda. Aku dan Stella mengangguk bersamaan. "Kalian ngobrolin apa aja?"


Aku tersenyum. "Banyak. Tapi yang bikin penasaran, Mama kenapa nggak pernah cerita tentang bos Mama kayak yang Mama ceritain ke Stella?" tanyaku sambil tersenyum manis.


Aku bisa melihat mata Brenda tiba-tiba melebar.


"Kamu cerita ke Flo, Stella?" tanya Brenda pada Stella. Sebelum Stella menjawab, aku keburu memotongnya.


"Oh, dia cerita banyak, Ma. Mulai dari bos Mama yang nggak dewasa, nyebelin, tukang suruh-suruh dan egois banget. Kayaknya Mama mesti cerita ke aku, deh. Aku jadi pengen tau tentang bos Mama itu," lanjutku yang membuat Brenda menelan ludahnya.


Stella kelihatannya tidak menyadari hubunganku dengan Brenda, kalau akulah bos yang dimaksud dalam pembicaraanku itu, karena Stella malah membuka mulutnya untuk bertanya.


"Tante Brenda tau alamat e-mail kakaknya Freya, nggak? Namanya Florentia Abdi Kusuma. Soalnya Tante kan satu kerjaan sama kakaknya Flo," tanya Stella. Brenda melirikku dan aku mengangguk, memberikan isyarat padanya.


"Tante tau soalnya dia lumayan terkenal dikantor. Memangnya kenapa?" tanya Brenda sambil menatapku dan mengerutkan keningnya. Aku hanya tersenyum dan kembali mengangguk padanya.


"Ada yang mau aku omongin sama dia. Kira-kira dia balas e-mailku atau nggak, ya?"


"Kalau kamu bilang kalau kamu teman Freya, mungkin dia balas secepat yang dia bisa," jawab Brenda, mengikuti ucapanku yang tanpa suara itu.


Stella tiba-tiba tersenyum lebar. "Boleh aku minta, Tante?"


Aku mengerti kalau Brenda bingung tapi meskipun begitu dia memberikan alamat e-mailku pada Stella. Brenda memberikan isyarat padaku dengan menyipitkan matanya tapi aku hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahuku.


"Menurut lo kakaknya Freya bakal baca e-mail gue?" tanya Stella dan aku mengangguk. Stella tersenyum padaku. "Makasih, ya karena udah mau denger cerita gue. Setelah gue pikir, lo memang mirip sama Freya. Kalian sama-sama nggak nge-judge gue. Aneh, ya, padahal kalian nggak saling kenal tapi sikap kalian mirip banget?"


Meskipun Stella tidak menyadarinya, tapi kata-katanya benar-benar menghangatkan hatiku. Mendengar aku mirip dengan adikku, padahal Freya bukan adik kandungku, membuat perasaanku jadi jauh lebih baik.


"Tapi lo beneran nggak ada hubungan apapun sama Azka?" tanya Stella yang membuat lamunanku buyar. Aku langsung menggeleng.


"Nggak! Gue nggak minat sama cowok pemaksa!" desisku saat mengingat Azka yang terus-terusan mengejarku tanpa berhenti.


Tiba-tiba Stella tertawa. "Iya, lo maunya tipe cool kayak Pak Davin," godanya yang membuat wajahku langsung terasa panas. Aku bisa melihat matanya melebar saat melihat wajahku itu. "Lo beneran suka sama Pak Davin? Astaga, Flo! Dia beda tiga belas tahun dari kita. Lo suka sama cowok yang jauh lebih tua?"


Aku mengalihkan pandanganku. Ingin rasanya aku berkata pada Stella kalau perbedaan umurku dan Davin tidak sejauh itu. Tapi karena tidak ingin mengungkapkan penyamaranku padanya, aku hanya mengangkat kedua bahuku. Perhatianku teralih saat mendengar pintu terbuka dan Phillip, ayah Stella, masuk ke dalam rumah. Saat melihat Brenda, kelihatannya dia agak terkejut.


"Lho? Brenda? Kok kamu bisa ada disini?" tanya Phillip. Aku menatap Brenda yang kelihatan salah tingkah itu sambil memiringkan kepalaku.


"Kok buru-buru banget?" tanya Stella.


"Iya, Ma, kok buru-buru banget?" tanyaku sambil menatap Brenda ingin tahu.


"Gimana kalau sekalian makan malam disini aja?" tawar Phillip. Dan sebelum Brenda menjawab, aku langsung memotong ucapannya.


"Makasih banget, Om. Tapi aku harus pulang. Besok masih harus sekolah. Iya kan, Ma?" ujarku dan Brenda langsung mengangguk setuju.


"Sayang sekali. Padahal saya mau lebih dekat sama kamu," kata Phillip yang membuat alisku menaik dan aku langsung menatap Brenda namun Brenda malah menunduk.


Aku tersenyum pada Phillip. "Lain kali aja, Om. Aku sama Mama masih punya banyak pekerjaan lain," ujarku pada Phillip lalu menatap Stella. "Besok jangan sampai nggak masuk. Gue lihat lo udah jauh lebih sehat."


Stella mengangguk dan aku tersenyum padanya. Lalu aku pamit pada Phillip. Saat aku akan pamit pada Stella, dia bilang dia akan mengantarku sampai ke mobilku. Aku menyetujuinya dan Brenda berjalan mendahuluiku sementara Stella berjalan disampingku.


"Makasih banget karena udah mau dengar gue. Padahal selama ini lo dan gue itu kayak tikus dan kucing tapi ternyata lo jauh lebih pengertian dari perkiraan gue," kata Stella yang membuatku tersenyum. "Tapi by the way kenapa gue merasa kayak lo kenal sama Freya? Ucapan lo seakan lo mengenal baik dia."


"Ah, masa? Perasaan lo aja kali," jawabku sambil memalingkan wajahku.


Stella tertawa. "Iya. Mungkin cuma perasaan gue. Mana mungkin lo kenal sama Freya padahal kalian aja nggak pernah ketemu. Iya, kan?"


Aku hanya tersenyum hambar padanya. Lagi-lagi bertambah satu orang yang jatuh pada tipu dayaku ini. Dan makin lama, perasaanku semakin jauh lebih menyakitkan. Semakin lama, bola salju yang kuisi dengan kebohongan semakin membesar dan hanya tinggal menunggu waktu sampai bola salju itu berubah menjadi longsor yang menenggelamkanku.


...***...


"Kamu nggak mau tanya tentang hubungan aku dan Phillip?" tanya Brenda yang membuyarkan lamunanku. Aku memilih menatap jalanan yang ada disampingku karena saat ini aku memang tidak ingin membicarakan apapun padanya.


"Kalau menurut kamu itu rahasia, kenapa harus aku korek? Kamu punya privasi dan sebaik mungkin nggak akan aku utak-atik," jawabku dengan enggan. Aku bisa mendengar Brenda mendesah pelan disampingku.


"Kalau kamu tanya, pasti akan aku jawab," tambah Brenda yang membuatku tersenyum.


Benar begitu? Pikirku saat mendengar ucapannya saat Natal kemarin. Saat dia malah mengalihkan ucapan dan langsung menutup telepon. Aku tidak menjawab dan terus menatap jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan.


"Kamu udah dapat jawaban kamu?" tanya Brenda. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Bagian Stella, udah. Hanya tinggal ayah dari janin yang dikandung Freya. Dan entah kenapa, perasaan aku bilang lebih baik aku berhenti disini."


"Maksud kamu, kamu mau berhenti?"


"Entahlah. Aku merasa semakin lama aku berada disini, semakin aku nggak bisa melepas tempat ini kalau saatnya tiba nanti. Lagipula aku udah nggak senafsu dulu, mencari tau maksud aku. Lagipula aku terlalu terikat sama satu orang ditempat ini..."


"Davin?" Nada Brenda terdengar meninggi. "Astaga! Ini pertama kalinya kamu jatuh cinta sama cowok sampai bikin kamu kayak begini!"


Aku langsung memutar kepalaku dan menatap Brenda. "Maksud kamu apa yang bikin aku sampai kayak begini?" tanyaku dengan bingung.


Brenda berdeham. "Sebenarnya bukan karena kamu udah nggak bernafsu untuk mencari jawaban atau tentang tempat ini... semua ini karena kamu takut nggak bisa melepas Davin, iya kan?" tanyanya yang membuatku mengerutkan keningku.


"Kamu mencari-cari alasan lain karena kamu nggak mau aku tau tentang perasaan kamu ke Davin. Kenapa? Karena kamu takut aku akan marah? Itu pasti nggak mungkin karena aku pasti akan mendukung pria yang menurut kamu baik," kata Brenda yang membuatku terdiam. "Tapi by the way dia kan nggak tau tentang kamu. Dia taunya kamu berumur delapan belas tahun."


Aku tersenyum tipis. "Dia tau aku, Brenda. Dia udah tau penyamaran aku," potongku yang membuat Brenda langsung menatapku.


"What!?"

__ADS_1


Aku tertawa renyah. "Sebenarnya, sejak awal dia kenal aku. Dia bilang dia tau tapi dia diam aja karena ini bukan urusan dia. Dan yang harus kamu ketahui, dia yang menolong aku waktu di Bali kemarin."


Brenda terdiam dan aku bisa melihat mulutnya ternganga. "Kita harus bicara... dan kayaknya malam ini kamu harus nginap di apartemen karena ini akan jadi pembicaraan yang panjang."


Dan aku tahu kalau Brenda serius dengan ucapannya.


...***...


Aku menguap lebar saat masuk ke gerbang sekolahku. Tentu saja aku mengantuk berat. Semalaman Brenda tidak memperbolehkanku tidur dan aku dipaksa menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Davin mengetahui penyamaranku. Jadi aku terpaksa menceritakan permulaanya saat di Bali dulu. Brenda bahkan sampai terkesiap saat aku menceritakan Davin menciumku. Meskipun Brenda tidak menggodaku, aku tahu kalau Brenda berusaha menghilangkan kekagetannya itu.


Karena Brenda tidak mau aku merasa ditinggalkan, dia juga menceritakan tentang Phillip padaku. Dia bilang Phillip berbeda dari mantan suaminya. Brenda memang pernah menikah satu kali, saat dia baru berumur delapan belas tahun sedangkan mantan suaminya itu berbeda sepuluh tahun darinya. Nick adalah pria kasar dan sering memukuli Brenda. Saat aku mengetahui hobinya itu, aku langsung bertindak. Aku memberitahu Braxton dan kepolisian. Untung saja polisi langsung datang sebelum Braxton membunuh Nick. Setelah itu, Brenda memiliki kekasih yang tidak jauh berbeda dari Nick. Meskipun tidak memukuli Brenda seperti yang Nick lakukan, tapi mantan pacarnya itu gemar selingkuh.


Sejak itulah Brenda merasa semua pria sama saja. Makanya Brenda sampai sekarang tidak memiliki kekasih. Lalu datanglah Phillip. Kata Brenda, Phillip berbeda dari semua pria yang dia kenal. Phillip adalah pria paling gentleman yang pernah dia kenal. Aku mengerti karena aku memang pernah mencari data mengenai Phillip. Dia memang pria yang luar biasa. Buktinya dia masih mempertahankan status dudanya meskipun almarhum istrinya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tapi kalau dia mempermainkan Brenda, aku akan bertindak.


"Bengong aja pagi-pagi!" sapa suara berat disampingku. Aku memutar kepalaku dan menyadari kalau Davin berjalan disampingku.


"Kok Bapak baru sampai sekarang? Bukannya guru itu harusnya datang empat puluh lima menit sebelum bel bunyi?" tanyaku sambil mengerutkan keningku. Astaga, kenapa dia bisa setampan ini? Ingin rasanya aku memeluk lengan kokohnya itu. Dan saat dia tersenyum, aku tahu aku bisa meleleh kapan saja.


"Saya terlambat bangun. Kamu sendiri kenapa selemas ini? Kamu kurang tidur?" tanya Davin. "Kantung mata kamu seram. Harusnya anak perempuan nggak bagus begadang."


Sayangnya saya begadang karena membicarakan Bapak! Jawabku dalam hati. "Saya cuma merasa sedih, Pak. Sebentar lagi saya mau pisah dari sekolah ini."


Aku bisa melihat kalau wajahnya kaget, meskipun dia langsung menghilangkannya. "Memangnya kamu sudah menemukan jawaban kamu? Bagaimana dengan Azka dan Caesar?" tanyanya bertubi-tubi yang membuatku bingung. Ini hanya perasaanku atau memang nadanya terdengar...


Seperti orang panik?


"Bos saya telepon. Katanya saya harus segera kembali. Urgent katanya," dustaku. Aku tidak bisa bilang hal sebenarnya pada Davin. Aku tersenyum padanya sambil menepuk bahunya. "Makasih ya, Pak, karena selama saya disini Bapak membantu saya. Saya akan berusaha membantu Bapak menyempurnakan sistem Bapak."


Aku berjalan meninggalkannya. Aku tidak bisa bilang padanya kalau sebenarnya dialah alasanku meninggalkan sekolah ini. Meskipun dia mengetahui penyamaranku, tapi aku tidak bisa memiliki hubungan dengannya. Saat ini, dia adalah guru dan statusku adalah muridnya. Sejak awal aku berbohong padanya dan dia juga berbohong padaku. Aku tidak tahu siapa dia ataupun jati dirinya. Aku ingin sekali mengatakan padanya kalau aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya tapi itu tidak mungkin terjadi.


Aku memang cinta padanya tapi aku tidak bisa memulai hubungan yang dilandasi kebohongan seperti ini. Lagipula benar kata Brenda kemarin. Kalau aku memang berjodoh dengan Davin, aku pasti akan dipersatukan dengannya, entah seperti apa caranya.


...***...


Sikap Stella benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tidak lagi judes pada semua orang. DIA BAHKAN TERTAWA PADA LELUCON YANG SEBENARNYA TIDAK LUCU! Aku memang agak mencemaskannya tapi dia sendiri yang berkata padaku kalau dia tertawa karena kasihan pada temanku yang mengatakan lelucon garing itu. Bukan hanya itu, dia juga berubah menjadi jauh lebih ramah dari sebelumnya. Dia menyapa semua orang, bahkan Daisy yang disapanya saja sampai kaget. Yang membuatku lebih senang, Stella mengikuti nasihatku dengan berusaha minta maaf pada Caesar. Aku yang menemaninya untuk bertemu dengan Caesar. Awalnya Cesar kaget tapi dia mengerti. Dia sendiri yang bilang kalau dia ingin memaafkan Stella sejak lama tapi Stella tidak mengambil inisiatif lebih dulu. Aku senang karena akhirnya Stella bisa berdamai dengan orang lain.


"Lo kenapa?" tanya Stella saat kami berada di gerbang. Aku tengah menunggu Brenda sedangkan Stella sedang menunggu jemputannya.


Aku tersenyum dan menggeleng. Aku malah menepuk bahunya. "Freya pasti bangga sekaligus senang kalau lihat lo dan Caesar berdamai lagi," kataku dengan tulus.


Stella awalnya kaget tapi dia tersenyum saat mendengar ucapanku. "Makasih," ujarnya dengan tulus.


Mobil jemputan Stella berhenti di depan kami. Dia pamit padaku dan aku mengangguk sambil melambai padanya. Dan tepat sebelum dia masuk ke dalam mobil, dia menatapku. Ekspresinya kelihatan ragu.


"Gue nggak tau apa gue harus cerita ini atau nggak. Bagaimanapun gue nggak tau apa lo bakal menyebarkan cerita ini ke orang lain atau nggak," kata Stella. Jujur, aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Aku menatapnya sambil mengerutkan keningku.


"Maksud lo itu apa, sih? Coba lo ngomong dengan lebih jelas," perintahku.


Stella memainkan tangannya dipintu mobil sambil menatapku. "Lo bisa jaga rahasia?"


"Apa gue pernah nyebarin rahasia lo tentang Freya?" tanyaku. Dia menggeleng. "Menurut lo gue bisa jaga rahasia?" tanyaku lagi dan dia mengangguk pelan. "Lo bisa pegang kata-kata gue. Lo bisa cerita apa aja ke gue tanpa perlu takut gue akan cerita ke orang lain."


Stella menatapku, masih dengan tatapan ragu. Tapi dia membuka mulutnya dan mengucapkan satu hal yang membuatku tersentak.


"Sebenarnya ada alasan kenapa Caesar menjauh dari gue ataupun Freya. Caesar itu gay. Freya cerita ke gue karena bingung mau cerita ke siapa. Waktu Caesar sadar kita tau apa rahasianya, dia langsung menjauhi kita," ujar Stella yang membuat mataku terbelalak. "Tapi lo janji jangan cerita ke siapapun, ya?"


Aku terdiam dan mengangguk. "Lo cerita ke orang lain?" tanyaku dan Stella menggeleng. "Saat lo berantem sama Caesar, apa lo menyebarkan rahasia dia?" tanyaku lagi dan Stella kembali menggeleng.


"Gue nggak sejahat itu. Bagaimanapun dia sahabat gue, Flo," jawab Stella. Wajahnya terlihat kaget saat tanganku terulur dan membelai kepalanya dengan lembut.


"Bagus. Berarti lo tau harus melakukan hal yang baik atau yang buruk. Gue bangga sama lo," kataku dengan tulus. Dia menatapku dan tiba-tiba senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya. Sebelum masuk ke mobilnya, dia melambai padaku dan aku membalasnya.


Sepeninggal mobil Stella, aku mematung. Aku masih bingung dengan info yang baru saja aku dapatkan. Ini artinya tersangkaku tinggal dua. Caesar tidak mungkin menghamili Freya karena dia homo. Azka juga tidak mungkin karena selama setahun belakangan dia tidak kembali ke Indonesia. Hanya tinggal Collin atau Davin. Tapi Davin sendiri yang berkata padaku kalau dia tidak menghamili Freya. Tapi bisakah aku mempercayainya? Aku menutup mataku dan mengambil ponselku. Aku mencari nama Davin di daftar kontak dan meneleponnya.


"Kenapa, Flo?" sapa Davin sebelum aku menyapanya lebih dulu. Aku terdiam. "Flo? Kamu disitu?"


Aku berdeham. "Saya cuma mau bertanya satu hal sama Bapak. Apa saya bisa mempercayai Bapak?" tanyaku.


"Maksud kamu?"


"Apa saya bisa percaya sama Bapak? Sama setiap ucapan Bapak mengenai Freya?" tanyaku dengan dalam. Aku terdiam karena dia tidak mengucapkan apapun. Yang bisa aku dengan hanya suara desahan panjangnya.


"Bukan salah kamu kenapa kamu nggak bisa percaya sama saya," jawab Davin yang membuatku bingung. "Saya akan memberikan sedikit petunjuk ke kamu mengenai jati diri saya. Jika kamu ingat, kamu pasti akan sadar kalau saya tidak mungkin memiliki hubungan apapun pada Freya."


Aku mengerutkan keningku dengan bingung. Apa maksud ucapannya?


"Profotech. Apa kamu pernah dengar?" tanyanya yang membuat keningku semakin berkerut. Apa hubungannya dengan Davin? "Jadi kamu benar-benar tidak memiliki clue, ya? Kalau kamu ingat, kamu pasti akan sadar siapa saya."


Aku tidak bisa bertanya lebih lanjut karena Davin langsung menutup teleponnya. Aku mematung. Aku memang pernah mendengar nama yang diucapkan oleh Davin sebelumnya. Profotech, kependekan dari Protection For Technology, adalah perusahaan yang bergerak dibidang keamanan. Perusahaan itu pernah menginterogasi perusahaanku karena kasus peretasan yang terjadi disebuah intitusi pertahanan Amerika. Tapi apa hubungan perusahaan itu dengan Davin? Tidak mungkin Davin pemiliknya karena umur perusahaan itu seumuran Scott dan seingatku pemilik perusahaan itu masih hidup dan orang itu sepenuhnya berkewarganegaraan Amerika. Aku jadi semakin tidak mengerti. Siapa Davin sebenarnya?


...***...


"Kenapa makanan kamu tidak dimakan, Sayang?" tanya ibuku yang membuat lamunanku buyar. Aku memang sedang memikirkan Davin sehingga aku tidak fokus pada makananku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap ibuku sambil tersenyum.


"Cuma lagi kurang nafsu makan aja, Ma," jawabku dengan setenang mungkin. Ibuku masih menatapku tapi aku tersenyum, berusaha menenangkan kecemasannya.


"Sebenarnya ada yang Papa dan Mama ingin bicarakan," kata Papa yang membuatku memutar kepalaku dan menatapnya. "Papa dengar dari Mama kalau kamu mengajak Papa dan Mama untuk tinggal bersama kamu di Amerika."


"Kenapa? Papa setuju?" tanyaku dengan setengah berharap.


Papa berdeham. "SebenarnyaPapa masih ragu, bagaimanapun rasanya kurang bertanggung jawab kalau Papa meninggalkan pekerjaan Papa ditengah jalan..."


"Lalu...?"


"Mungkin Papa dan Mama baru bisa menyusul sekitar dua sampai tiga bulan lagi. Papa tidak mau menghilangkan kesempatan Papa untuk bersama putri Papa yang satu-satunya ini," jawab ayahku yang membuat mataku melebar.


"Papa serius? Papa dan Mama akan tinggal bareng Flo di Amerika?" tanyaku. Papa dan Mama mengangguk bersamaan. Tanpa sadar, aku langsung bangkit berdiri. "Papa dan Mama nggak usah cemas. Aku yang akan urus semuanya. Pokoknya Papa dan Mama hanya perlu duduk manis dan semua masalah imigrasi akan selesai."


Papa yang melihat wajah penuh bahagiaku itu sampai ikut tertawa. Kelihatannya dia terkesan dengan antusiasnya diriku. Dia sampai menggelengkan kepalanya. Perhatianku teralih saat mendengar suara bel pintu rumahku. Mungkin hanya Brenda. Dia memang bilang padaku kalau dia ingin berkunjung ke rumahku hari ini. Saat pembantu rumahku ingin membukakan pintu, aku langsung menahannya.


"Biar saya aja, Bi," ujarku pada Bibi, sebutanku untuk pembantuku itu. Bibi langsung mengangguk dan meninggalkanku.


Aku berjalan ke pintu depan dengan hati yang sangat senang. Aku akan tinggal bersama orang tuaku di Amerika nanti. Aku tidak perlu lagi tinggal berjauhan dengan orang tuaku. Aku bahkan tersenyum lebar saat membuka pintu itu. Tapi senyumanku hilang saat menyadari siapa yang berdiri di balik pintu. Wajah kagetnya saat melihat wajahku sama seperti ekspresiku saat ini. Kami sama-sama kaget.


"Flo? Ngapain lo disini?" tanya Caesar yang membuat jantungku seakan berhenti.

__ADS_1


__ADS_2