FLO!

FLO!
Bag. 5


__ADS_3

Aku sampai ke kelas dan mengerutkan keningku. Mejaku tidak ada ditempatnya. Saat melihat Stella, aku tahu kalau itu adalah perbuatannya. Astaga, anak ini kekanakan sekali. Dia pikir aku akan ketakutan? Kalau dia tahu aku memiliki jejak kehidupannya di laptopku, kita akan lihat siapa yang akan ketakutan pada akhirnya. Aku menghela nafas panjang dan menggeleng pelan. Sayang sekali, anak secantik itu memiliki hati yang busuk. Aku mengambil ponselku dan mengambil foto dimana meja dan bangkuku menghilang. Aku mendatanginya sambil memasukkan tanganku ke dalam saku jaketku.


"Kalau lo pikir gue akan ketakutan, lo salah, Cantik. Hati-hati, sikap lo yang kayak begini nggak akan bertahan di dunia nyata. Gue udah pernah lihat orang kayak lo sebelumnya yang pada akhirnya akan menghiba pada orang yang dia bully," kataku sambil mengingat wajah seniorku saat aku di SMA dulu.


Aku membalikkan tubuhku dan bisa mendengar kalau Stella tertawa. Aku tahu maksud tawa itu. Mungkin sebenarnya Stella ingin menutupi kebingungannya dengan tertawa. Aku berjalan menuju ruang guru dan mengetuk pintunya lalu membukanya. Aku mencari wali kelasku, Pak Yusron si guru berperut buncit itu. Aku mengulurkan ponselku padanya.


"Pak, meja saya menghilang, saya minta meja baru," ujarku tanpa menunggu pertanyaannya. Aku memang terbiasa menyerahkan bukti sebelum memberikan perkara pada orang lain agar mereka mempercayaiku.


"Wah, bagaimana ini. Kita tidak ada lagi meja sisa," ujar Pak Yusron. Aku menaikkan sebelah alisku. Dia tidak terdengar menyesal. Disana aku sadar kalau pria ini adalah penjilat yang biasa kutemui dikantorku. Mungkin Stella memaksa pria ini dengan menggunakan kekuasaan ayahnya agar tidak mempedulikanku.


"Jadi maksud Bapak, saya tidak bisa belajar di kelas?" tanyaku dengan suara yang keras agar terdengar oleh guru yang lain. Rupanya itu berhasil karena semua guru yang ada diruangan itu mengangkat kepala mereka dan menatapku.


"Bukan begitu. Maksud saya, bagaimana kalau sementara ini kamu berdiri saja?" usulnya sambil berbisik. Aku mengerutkan keningku. Kelihatannya aku harus mencari tahu tentang si buncit ini. Siapa tahu aku bisa gunakan untuk membuatnya menyesal karena berani menyuruhku berdiri selama delapan jam sekolah.


Aku kembali melantangkan suaraku. "Gimana kalau saya duduk di bangku guru? Toh guru juga sibuk dengan ajaran mereka melalui papan tulis," usulku dengan nada sengit.


Pak Yusron kelihatan terkejut mendengar usulanku. Dia tertawa renyah sambil memelototiku. Jangan salah, Pak, saya pernah disiram oleh jus tomat sebelumnya. Kalau untuk masalah memelototi, saya sudah kebal.


"Lalu bagaimana kalau guru ingin istirahat?" tanyanya sambil menatapku seakan siap menelanku bulat-bulat.


"Memangnya Bapak nggak cukup duduk diruang guru? Atau faktor umur yang bikin Bapak nggak bisa berdiri lama?" balasku yang membuat wajahnya memerah dan berdeham. Saat bicara begitu, aku memang sengaja menatap perutnya yang buncit itu. Terdengar suara tawa dari belakang kami.


"Udahlah, Pak, kasih aja duduk di bangku guru sementara mencari meja lain. Saya dengar kelas satu juga kelebihan meja," usul seorang guru pria yang menyembulkan kepalanya dari bilik samping bilik Pak Yusron. Aku tersenyum sambil menurunkan kepalaku sedikit.


"Tapi kata Pak Yusron sekolah kita nggak punya meja sisa?" tanyaku pada pria itu sambil melirik Pak Yusron yang kelihatan ingin membunuhku saat itu juga.


"Kata siapa? Kelas saya punya meja sisa. Kalau mau, saya bisa minta adik kelas untuk mengantarnya ke kelas kamu," ujar seorang guru wanita yang menarik perhatianku. Aku mengingat wanita ini karena dia adalah guru paling cantik di data sekolah. Kalau tidak salah namanya Mawar dan dia guru biologi, wali kelas X-2 sekaligus dokter sekolah.


Aku mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruang guru. Sambil memutar bola mataku, aku keluar dari ruang guru. Aku menyadari kalau sepasang mata tengah menatapku. Saat aku menengokkan kepalaku, pria berkacamata itulah yang memandangiku. Kenapa Davin melihatku seperti itu? Apalagi dia seperti sedang tersenyum padaku. Aku menaikkan kedua bahuku dan melangkahkan kakiku kembali menuju ruang kelas.


Saat aku membuka pintu ruang kelas, aku menyadari mata seisi penghuni kelas itu tengah menatapku, terlebih Stella. Dia bangkit dari duduknya dan mendatangiku. Dia menatapku dengan senyuman culas yang aku ingat mirip seperti Bellatrix Lestrange-nya Harry Potter, si penyihir wanita jelek itu. Sayang saja gigi Stella rapi, mungkin akan jauh lebih mirip lagi kalau giginya berantakan. Aku berjalan menuju tempatku biasa duduk, yang tidak terisi meja atau bangku, dan menyenderkan tubuhku ke dinding.


"Selamat, ya. Lo berdiri selama delapan jam. Lo udah sarapan, kan?" ujarnya sambil menatap culas diriku.


Tapi aku tidak marah. Aku malah tersenyum padanya. "You think so?" balasku. Aku memberi isyarat menggunakan daguku untuk menunjuk pintu masuk kelas.


Dua orang anak tengah membawa meja lain dan seorang anak tengah membawa sebuah bangku untukku. Aku tersenyum pada mereka dan meminta mereka untuk meletakkan di tempatku berdiri. Aku mengucapkan terima kasih dan mereka meninggalkanku. Stella masih berdiri di tempatnya sambil menatap diriku. Karena dia mengganggu pandanganku, aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya.

__ADS_1


"Gue nggak bisa lihat papan tulis kalau lo berdiri disitu," ujarku lalu duduk dikursiku. "Lagipula lo nggak enak dilihat, jadi bisa permisi?"


Stella membalikkan tubuhnya sambil mendengus dan kembali ke kursinya sendiri. Aku menggeleng pelan dan baru menyadari kalau sepasang mata tengah menatapku. Lagi-lagi Caesar menatapku seperti itu. Tatapan matanya seakan mengucapkan terima kasih padaku. Caesar memang satu kelas denganku, begitu juga dengan Stella dan gengnya. Pantas saja hidup Freya semakin menderita. Dia berada dikelas dengan banyak sekali duri.


Sebenarnya aku merasa sayang saat meja itu terbuang. Ada satu sisi di meja itu bergambar bunga matahari, bunga kesukaanku dan Freya, yang aku tahu digambar oleh Freya. Kelihatannya itu lambang betapa dia merindukan diriku. Aku menggigit bibir bawahku. Tenang Freya, Kakak kamu ini akan menemukan keadilan buat kamu.


...***...


Aku yang sejak dulu tidak terbiasa makan siang, selama bersekolah disini selalu menghabiskan jam istirahat di kelas. Aku hanya meminum kopiku yang selalu kubawa di termos stainless steel kecil milikku sambil aku sibuk dengan laptopku. Untunglah aku berada di tempat paling ujung di kelas sehingga tidak ada yang bisa melihatku sedang memata-matai mereka melalui kamera CCTV yang memang terhubung ke laptopku. Saat seorang gadis berambut panjang dan lebih pendek dariku mendatangiku, aku buru-buru menutup laptopku. Aku ingat, dia adalah orang yang dulu membantuku di laboratorium komputer.


"Hai, kamu nggak makan siang?" tanyanya dengan ramah. Aku menggeleng sambil mengangkat termos milikku. "Memangnya kamu kenyang cuma dengan minum susu?"


Aku mengerutkan keningku. "Ini bukan susu," jawabku sambil membuka termosku. Dia terbelalak saat melihat isi termosku yang berwarna hitam pekat.


"Kamu minum kopi hitam? Nggak kasihan sama lambung kamu?"


Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Mana mungkin aku bilang kalau sejak SMP aku sudah terbiasa minum kopi hitam pekat dan berlanjut sampai aku bekerja? Aku mengerutkan keningku saat tiba-tiba dia memberikan sebungkus roti padaku.


"Aku lihat sejak kamu sekolah disini kamu nggak pernah makan siang atau ngobrol sama yang lain. Kamu sibuk sama laptop kamu. Aku kasihan soalnya kamu kayak nggak punya teman," katanya sepelan mungkin. Dia kedengaran berusaha agar aku tidak sakit hati dengan ucapannya.


"Karena aku memang belum punya teman. Saat aku mendekati kalian, kalian malah menjauhi aku," jawabku sambil menatapnya.


"Kami?"


"Teman sekelas. Sejak Freya meninggal, nggak ada yang berani duduk dibangku ini."


"Freya?" tanyaku, berusaha seakan aku tidak mengenal adikku itu.


"Almarhum teman sekelas kami. Dia meninggal karena bunuh diri. Karena di bully, aku tau kalau pada akhirnya Freya nggak akan tahan. Anak selemah itu pasti nggak akan bisa bertahan kalau terus-terusan menjadi bahan guyonan dan bully dikelas ini. Apalagi Stella juga nggak berhenti memojokkan kami supaya nggak ada yang berani menolong Freya."


Aku mengepalkan tanganku di bawah meja sambil terus berusaha agar aku tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Sebagai gantinya, aku hanya menurunkan pandanganku.


"Jujur, ini pertama kalinya ada yang berani melawan Stella. Kami merasa punya harapan sejak kamu datang," ujarnya sambil tersenyum. "Selama ini nggak ada yang berani melawan Stella karena dia anak menteri makanya guru-guru nggak berani menghukum dia karena ayahnya sering kasih sumbangan ke sekolah ini."


Aku mengerutkan keningku. Aku menghela nafas panjang sambil menggeleng. "Kalau lo berpikir lo bisa mendekati gue karena gue berani melawan Stella, lo salah. Gue nggak berminat menjadi shield bagi siapapun," ujarku. Aku mengembalikan roti itu sambil menatapnya. "By the way, makasih buat rotinya tapi gue nggak lapar."


Gadis itu menatapku. "Kamu salah paham, aku—"

__ADS_1


Kata-katanya berhenti saat melihat Stella masuk ke dalam kelas. Stella menatap gadis itu dan aku bergantian lalu kembali menatap gadis itu seakan siap membunuhnya. Aku menggeleng lemah.


"Kamu simpan aja rotinya. Siapa tau kamu lapar," ujarnya lalu meninggalkan mejaku dan berlari menuju mejanya sendiri. Aku menatap roti itu dan memasukkannya ke dalam laci mejaku. Saat Stella kembali ke bangkunya, bel masuk berbunyi dengan keras.


...***...


Selama hampir sebulan aku bersekolah disana, aku menyadari kenapa Freya bisa berbohong padaku. Kalau aku tahu sejak awal bagaimana Stella memperlakukannya selama ini, aku pasti akan membuat Stella menyesal karena berani mengganggu adikku. Aku berhasil bertahan karena aku membandingkan sekolah ini dengan lapangan pekerjaanku. Jika dibandingkan dengan pekerjaanku, ini bukan apa-apa. Aku tidak peduli meskipun mejaku sering hilang, tasku bisa ditemukan ditempat sampah—dimana untungnya aku selalu membawa laptopku—, seragamku ataupun baju olahragaku sering hilang, lokerku yang dicoret-coret dan masih banyak lagi. Aku bertahan karena aku tahu ini belum saatnya.


Aku harus mencari tahu dulu siapa orang yang menghamili Freya baru aku membalaskan dendamku selama ini. Benar kata Braxton, revenge is a *****, jika ingin pembalasan dendamku nikmat, aku harus melakukannya pelan-pelan. Aku memang berhasil mencurigai beberapa orang dan itu tidak jauh dari daftarku.


Caesar yang selalu no comment setiap aku mulai membicarakan Freya dan malah mengalihkan topik, Collin yang setiap aku membicarakan Freya selalu memuji-muji adikku dan yang terakhir Azka. Tapi aku tidak bisa mencari tahu tentangnya karena dia masih belum kembali ke Jakarta. Aku hanya bisa mencari tahu melalui teman-temannya. Katanya Azka dan Freya adalah high school sweetheart karena mereka sama-sama luar biasa. Tapi semua berubah saat mereka tiba-tiba putus dan Azka sekolah ke luar negeri dan disanalah Stella mulai mem-bully adikku. Saat aku mencari tahu, entah kenapa Stella memang membenci Freya.


Aku tahu sebabnya. Apa lagi kalau bukan iri pada adikku?


Perhatianku teralih saat mendengar pintu atap yang terbuka. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan Davin tengah berdiri disana sambil menatapku. Inilah yang membuatku curiga padanya. Dia selalu naik ke tempat ini setiap Selasa, hari dimana Freya lompat dari atap ini. Dan selama satu bulan ini, aku selalu menemukannya berada disini setiap Selasa pagi.


"Lagi-lagi kamu disini. Apa kamu tidak tau kalau tempat ini sudah ditutup untuk murid?" tanyanya sambil menatapku.


Mungkin dia tidak tahu kalau aku memiliki kunci menuju atap ini. Kunci ini aku curi dari ruang security lalu aku gandakan supaya aku bebas keluar-masuk tempat ini. Aku juga mematikan CCTV setiap kali aku akan mendatangi tempat ini supaya tidak ketahuan.


Aku yang memang sedang duduk sambil menyenderkan tubuhku ke dinding pembatas yang ada dibelakangku, terpaksa mendongak untuk menatapnya. Tubuhnya yang memang setinggi seratus delapan puluh lima senti itu memang agak sulit dilihat kalau sedang duduk seperti yang tengah aku lakukan. Aku menutup laptopku dan masukkannya ke dalam tas lalu bangkit berdiri.


"Saya lihat kamu selalu berada di depan laptop kamu setiap berada diluar jam pelajaran. Apa yang kamu lakukan?" tanya Davin yang membuatku mengangkat alisku. Ternyata dia perhatian juga padaku. Buktinya dia memperhatikanku yang selalu sibuk dengan laptopku.


"Menonton video porno. Bapak mau lihat?" tantangku sambil mengangkat kedua bahuku. Davin terlihat menyunggingkan senyum samar meskipun langsung dia hilangkan.


Saat dia tidak kembali bertanya, aku melewatinya untuk berjalan menuju pintu. Tapi suaranya yang bertanya padaku membuatku menghentikan langkahku.


"Apa kamu mengenal Freya?" tanyanya. Aku menengokkan kepalaku sedikit.


"Selain dia meninggal karena bunuh diri dan dia salah satu murid kelas saya, tidak." Aku berbohong dan berusaha menjaga nadaku agar dia tidak curiga.


Aku memang membiasakan diriku untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun jika topik mengenai Freya muncul. Aku takut itu akan mengganggu penyamaranku selama disini. Melihat kalau sepertinya dia tidak akan bicara lagi, aku kembali melangkahkan kakiku.


Tetapi aku langsung terdiam saat dia kembali memanggilku dan menanyakan satu hal yang membuat tubuhku membeku.


"Lalu apa kamu yang menanam virus ke komputer sekolah?" tanyanya dengan nada yang sangat datar tetapi dengan ekspresi yang sangat tajam.

__ADS_1


Aku hanya bisa terdiam.


__ADS_2