FLO!

FLO!
Bag. 14


__ADS_3

Aku terkesiap. Aku tahu kalau wajahku seputih kertas karena aku merasa tidak ada darah yang mengalir ke otakku. Davin menyadari perubahan wajahku karena tiba-tiba senyumannya hilang dari wajah tampannya itu dan malah menatapku dengan serius.


"Kamu tidak perlu cemas, Flo, saya tidak tertarik melaporkan kamu," kata Davin sambil menegakkan tubuhnya. Aku memang lebih tenang meskipun sedikit. "Jadi, bisa kamu jelaskan pada saya kenapa kamu menyamar menjadi anak SMA?"


Aku menelan ludahku. "Apa kalau saya cerita, Bapak janji tidak akan melaporkan saya?" tanyaku. Dia menatapku dengan dalam.


"Saya sudah bilang saya tidak tertarik melaporkan kamu. Tapi kalau tujuan kamu tidak baik, maka dengan terpaksa saya harus melakukan tindakan itu."


Aku menutup mataku. Sebelum membuka mulutku, aku menghela nafas panjang lebih dulu untuk mengumpulkan keberanianku. "Saya kembali masuk sekolah itu untuk menyelidiki kematian adik saya."


"Freya? Bukannya dia bunuh diri?"


Aku mengangguk. "Justru itu yang membuat saya curiga. Dia tau bagaimana perjuangan ibu kami untuk melahirkannya dan dia begitu menyayangi hidupnya meskipun dia tidak bahagia. Freya menghargai setiap nyawa. Dia sedang hamil dan memilih untuk bunuh diri adalah sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan karena itu artinya dia bukan hanya menghilangkan nyawanya tapi juga nyawa bayinya."


Davin menatapku. "Bagaimana kalau itu memang keinginan dia untuk meninggal?"


Aku menghela nafas dengan kasar. "Saya akan coba menerima. Tapi saya ingin mencari siapa orang yang tidak bertanggung jawab yang membuat adik saya hamil. Saya juga ingin membuat Stella bertanggung jawab karena sudah mem-bully adik saya," desisku sambil mengepalkan tanganku dengan kuat.


Davin menatapku dan aku balas menatapnya.


"Jadi kalau Bapak memang mau melaporkan saya, silakan. Tapi tolong berikan saya waktu sampai saya selesai menyelesaikan puzzle ini, Pak," pintaku dengan memelas.


Aku melihat Davin menutup matanya dan menghela nafas dengan panjang. Dia membuka matanya dengan menatapku. "Kamu tau alasan saya kenapa saya pergi ke atap setiap hari Selasa?" tanyanya dan aku menggeleng. "Saya merasa bersalah. Saat itu saya melihat dia berjalan menuju atap lewat CCTV dan saya tidak mencegah dia. Saya tidak merasa aneh saat melihat kalau CCTV di atap mati karena saya kira sedang rusak. Saya tidak tau kalau dia akan memilih untuk bunuh diri disana."


Aku menahan nafas saat mendengar ucapannya. Aku tidak tahu apa bisa mempercayainya. Tanpa kusadari, aku mengeluarkan pikiranku itu dengan suara yang keras.


Davin tersenyum. "Kamu benar-benar tidak tau siapa saya, ya?" tanyanya dengan dalam yang membuatku menaikkan alisku. Dia menggeleng. "Saya bisa jamin kalau saya bukan musuh kamu, Flo. Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu pikir saya tidak melaporkan kamu padahal saya sudah tau identitas kamu sejak awal?"


Aku menundukkan kepalaku dan mencengkram tanganku dengan erat. Aku masih tetap merasa tidak aman. Jujur, aku masih memiliki kecemasan tersendiri yang tidak bisa kujabarkan. Kepalaku terangkat saat mendengar suara tawanya.


"Baru kali saya melihat orang waras yang kembali ke SMA. Bayangkan, umur kamu dua puluh lima tahun, berusaha menjadi anak umur tujuh belas tahun!" Davin berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Programmer biasanya menggunakan logika dan kali ini ada seorang programmer yang bukan cuma tidak menggunakan logika, tapi juga nggak waras. Apa kata bos kamu kalau tau karyawan teladannya berbuat seperti ini?"


"Bapak kenal bos saya?" tanyaku dengan bingung.


Dia mengangkat kedua bahunya. "Sudah saya bilang saya kenal kamu, Flo. Nama kamu itu terkenal diantara programmer. Semuda ini tapi mampu menciptakan virus yang luar biasa yang mampu mematikan satu institusi kalau kamu mau. Untung saja kamu tidak menggunakan kecerdasan kamu itu untuk berbuat kriminal."


Aku tersenyum tipis mendengar pujiannya.


"Lalu apa yang kamu lakukan disini? Bukannya kamu harusnya kembali ke Amerika?" tanyanya. Aku menggeleng.


"Saya kesini menggantikan bos saya mengikuti konferensi. Saya tidak menyangka kalau sekolah akan membiarkan muridnya menginap dihotel ini."


"Murid sekolah kebanyakan anak-anak pejabat atau pengusaha. Mana mungkin sekolah membiarkan murid menginap dihotel yang tidak aman?" tanyanya. Dia berdeham. "Ada satu hal yang sejak awal ingin saya tanyakan. Kenapa jadi murid? Kenapa kamu tidak jadi guru seperti saya?"


Aku menggeleng. Aku menjelaskan jawabanku seperti saat aku menjelaskan jawabanku pada Braxton. Dia menaikkan alisnya saat mendengar jawabanku dan tertawa.


"Ternyata kamu tetap menggunakan logika kamu diantara ketidakwarasan kamu itu," ejek Davin yang membuatku memutar bola mataku karena kesal. "Florentia Abdi Kusuma. Programmer Pioneer Technosoft yang menyamar menjadi anak SMA demi mencari tau kematian adiknya. Awalnya saya tidak percaya tapi saat kamu berhasil membenahi program sekolah yang sengaja saya rusak, saya yakin."


Mataku melebar. "Bapak yang masukin virus itu? Pantas saat saya mencari dari mana virus itu berasal, malah muncul alamat IP komputer Bapak!" pekikku setelah mengingat kejadian hari pertamaku mengikuti ekskul.


Davin tersenyum mendengarku. "Saya kira saya gila saat mendengar ucapan kalian di atap waktu itu."


"Atap?" tanyaku dengan bingung.


"Kamu nggak sadar saat kamu bicara dengan Ibu dan Om kamu itu, saya ada di atap yang sama dengan kamu dan mendengar pembicaraan kalian?"


Mataku semakin melebar. "Bapak dengar... semuanya?"


Davin mengangguk. "Luar biasa! Gadis yang kembali masuk SMA diumurnya yang sudah dua puluh lima tahun demi mencari tahu kematian adiknya. Kelihatannya bisa jadi judul novel yang bagus."


Aku berdeham, berusaha menutupi kecemasanku. "Saya nggak menyangka Bapak bisa menanggapi hal ini dengan santai," kataku sambil menyenderkan tubuhku ke sandaran kursi.


"Karena saya sudah terbiasa dengan tindakan mengejutkan. Tapi ini jauh lebih mengejutkan dari pikiran saya." Davin tersenyum. "Lalu apa kata orang tua kamu saat kamu bilang kalau kamu akan menyamar?"


"Papa saya tau tapi saya merahasiakan hal ini dari ibu saya. Saya tidak mau membuat beliau cemas."


"Lalu wanita yang menjadi ibu kamu itu...?"


"Dia asisten pribadi saya."


"Orang yang jadi om kamu...?"


"Kakak Brenda. Mereka orang yang merawat saya selama saya tinggal di Amerika. Bisa dibilang kami dekat seperti keluarga dan mereka adalah orang yang paling saya percayai."


Davin mengangguk mengerti. "Lalu siapa orang yang kamu curigai adalah ayah dari bayi yang dikandung Freya?"


Aku menaikkan alisku. Nalar orang ini cepat sekali bekerja. "Ada empat orang. Tiga orang diantaranya yang paling banyak disebutkan di diary Freya. Azka, Caesar dan Pak Collin."


"Lalu orang ke empat?"


Aku terdiam lalu menunduk. Dia kembali bertanya yang membuat kepalaku terangkat. "Orang keempat itu Bapak!"


Davin mengerutkan keningnya karena bingung. "Saya? Kenapa saya?"

__ADS_1


"Saya nggak bisa melacak masa lalu Bapak. Apalagi Bapak selalu muncul di atap setiap hari Selasa dan di jam yang sama saat Freya meninggal."


Davin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. Dia bahkan sampai memegangi perutnya. Aku menatapnya dengan bingung.


"Saya tidak mungkin menghamili Freya," kata Davin setelah dia berhasil menghentikan tawanya dan menatapku. "Pertama, saya tidak dekat dengan satu muridpun. Kedua, saya tidak tertarik pada anak SMA. Ketiga, saya masih waras untuk tidak berhubungan dengan murid saya sendiri. Terakhir, saya tidak pernah bicara pada Freya selain saat jam pelajaran."


Aku menatapnya dengan tajam.


"Kamu bisa percaya pada saya, Flo. Sudah saya bilang kalau saya bukan musuh kamu, apalagi orang yang menghamili Freya. Saya hanya merasa bertanggung jawab karena tidak mampu menahan dia pergi ke atap. Titik!"


Tubuhku sedikit rileks tapi aku tetap tidak bisa mempercayainya dan aku mengatakan hal itu secara terus terang padanya. Dia tersenyum mengerti.


"Kepercayaan memang sulit diterima oleh orang dengan latar belakang pekerjaan seperti kamu. Tapi kamu bisa pegang kata-kata saya," jawab Davin dengan dalam. "Meskipun saya tidak akan membantu kamu mencari keadilan atas kematian adik kamu. Bagaimanapun itu masalah kamu dan saya tidak berniat ikut campur. Saya tidak mau direpotkan dengan hal lain yang tidak berhubungan dengan saya."


Aku tersenyum kecut. Ternyata dia memang tidak sebaik pikiranku.


"Berapa nomor handphone kamu?" tanya Davin tiba-tiba yang membuatku tersentak. "Jangan salah paham. Ini demi keuntungan kamu juga. Saya akan mengirimkan pesan kemana tujuan study tour, mencegah agar kamu tidak berpapasan dengan kami."


"Bapak mau bantu saya?" tanyaku tidak percaya.


Dia mengangguk. "Memangnya bagaimana cara kamu menghindari dua ratus murid yang hampir semuanya mengenal kamu karena berani menantang Stella? Kamu berada dipulau yang sama, pesawat yang sama bahkan dihotel yang sama."


Aku mengerutkan keningku karena terkejut. "Bapak tau saya satu pesawat dari mana?"


"Saya lihat kamu dibandara. Saat Caesar nggak sengaja menabrak kamu. Ternyata kamu jauh berbeda kalau menggunakan setelan kerja seperti ini," jawab Davin sambil menatapku. "Florence Ferdinand biasanya berwajah polos, baju agak berantakan, selalu memakai jaket, rambutnya selalu diikat dan tubuhnya agak bungkuk karena selalu membawa tas yang berat. Berbeda dengan Florentia Abdi Kusuma. Dia elegan dengan setelan kerjanya, menggunakan riasan yang bikin saya hampir tidak mengenali dia, bersikap sangat tenang dan kelihatan formal. Orang yang sama tapi seakan memiliki kepribadian yang berbeda."


"Beginilah saya kalau bekerja."


"Tapi apa kamu bahagia?"


Aku mengangkat kepalaku mendengar pertanyaannya itu. Aku menggigit bibir bawahku karena tidak bisa menjawab. Dia menghela nafasnya dan tersenyum. Dia menepuk bahuku lalu bangkit dari duduknya.


"Saya kira saya sudah cukup mendengar penjelasan kamu. Saya hanya bisa membantu kamu menutupi identitas kamu. Dan yang lebih penting, kalau kamu melewati batas untuk mencari keadilan, mempermalukan orang lain misalnya, saya tidak akan segan-segan menghukum kamu. Mengerti?"


Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum dan menepuk bahuku pelan. Aku mengantarkannya sampai pintu kamarku. Saat berjalan di dekatnya, tiba-tiba kejadian tadi terlintas dikepalaku.


Saat Davin mencium bibirku.


Dan mengingat itu, wajahku langsung terasa panas. Aku bahkan sampai memegangi pipiku karena merasa tidak nyaman.


"Ini saatnya saya bertanya sama Bapak," kataku sebelum dia meninggalkan kamarku. "Kenapa Bapak mencium saya tadi?"


Davin awalnya menaikkan alisnya karena terkejut tapi dia tersenyum. "Kemesraan di depan publik biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang sekitar. Mereka akan berusaha secepat mungkin pergi. Apalagi saya berniat agar Daisy dan teman-temannya tidak bisa melihat wajah saya atau kamu. Bisa rusak kalau mereka melihat kamu yang harusnya saat ini berada di New York malah terlihat di Bali. Lebih rusak lagi kalau melihat saya yang mencium kamu."


Wajahku langsung terasa panas luar biasa. Dia berdeham dan langsung pamit meninggalkanku. Setelah dia pergi, aku langsung mengunci pintu kamarku dan berlari ke kamar mandi. Aku menatap bayangan diriku melalui kaca dan menyadari kalau wajahku semerah kepiting rebus. Aku langsung mencuci wajahku dengan air dingin dan kembali menatap kaca. Hal itu tidak membantu. Wajahku tetap memerah. Aku menghembuskan nafasku dengan panjang dan menghembuskannya, berusaha menenangkan jantungku yang memang berdetak lebih keras dari biasanya. Saat melakukan itu, sekilas aku melihat bibirku. Tiba-tiba aku teringat saat bibir Davin menyentuh bibirku. Astaga, bibirnya lembut sekali. Aku langsung berteriak keras.


Tapi apa bisa?


...***...


Karena terus memikirkan ciumanku dengan Davin, semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku baru bisa tidur saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Suara alarm yang membangunkanku karena kalau tidak, aku pasti tidak akan terbangun. Sambil menguap lebar, aku membuat kopi. Aku masih terkantuk-kantuk dan beberapa kali aku tidak sengaja menabrak perabotan yang ada dihotel. Suara ketukan pintu yang membuatku tersadar. Sekarang masih jam enam pagi, tidak mungkin Darry yang menjemputku karena konferensi dimulai jam delapan nanti. Aku menguap lebar dan membuka pintu kamarku. Tubuhku langsung membeku saat melihat siapa yang berdiri di depanku.


"Bagaimana kalau misalnya saya adalah teman sekelas kamu dan melihat kamu disini dimana seharusnya saat ini kamu ada di New York? Kenapa kamu tidak pakai wig kamu?" tanya Davin. Aku tidak menjawab, hanya menatapnya dan camkan baik-baik, aku masih ternganga!


Wajah serius Davin berubah menjadi senyuman jahil. "Ternyata Florentia Abdi Kusuma tetap manusia biasa," ejeknya yang membuatku sadar dengan penampilanku. Aku langsung menutup mulutku dengan tanganku dan menatapnya.


"Bapak ngapain disini?" tanyaku yang seperti menuduh itu. Aku melihat sekitarku.


"Saya sendirian, Flo, kamu nggak usah cemas kalau kamu berpikir saya diikuti," jawabnya. Dia memberikan secarik kertas padaku. "Ini jadwal study tour hari ini. Selama satu hari ini, kelas dua lebih banyak menghabiskan waktu diluar jadi kamu nggak usah cemas kalau akan berpapasan dengan salah satu teman kamu."


Aku menerima kertas itu dan membuka lebar pintu kamarku. "Bapak mau masuk? Saya lagi bikin kopi," tawarku.


"Kopi kental?" tanyanya dengan penuh harap. Aku menaik turunkan alisku yang mengisyaratkan kalau aku membuat kopiku sesuai keinginannya.


Davin masuk ke dalam dan aku menutup pintu kamarku. Aku mempersilakan dia untuk duduk dan aku kembali pada kopiku yang sudah mendidih itu. Aku menyingkirkan kertas-kertas yang ada di atas meja di depan Davin dan meletakkan cangkir kopi baik untukku dan Davin di atas meja itu. Kemarin aku memang menyelesaikan bahan materi yang akan kubawakan untuk besok dan aku meninggalkan kertas yang kugunakan sebagai bahan di atas meja.


"Krim dan gula?" tawarku. Dia menggeleng yang membuatku menaikkan alisku. Ternyata selera kopinya sama denganku.


Aku duduk di bangku yang ada diseberangnya sambil menyesap kopiku. Aku membaca jadwal yang tadi dia bawakan untukku dan menaikkan alisku. Aku memang tidak akan bertemu dengan mereka sampai sore nanti, tapi bagaimana dengan pagi ini? Bisa saja aku akan tetap berpapasan dengan mereka dilobby misalnya. Aku menghela nafas panjang.


"Makanya saya butuh nomor handphone kamu kemarin. Jadi kalau misalnya saya melihat kamu, saya bisa mengingatkan kamu untuk tidak mendekati saya," jawab Davin tiba-tiba seakan bisa membaca pikiranku.


Aku mengangkat kepalaku. "Bukannya Bapak bilang Bapak nggak mau bantu saya? Lalu kenapa sekarang Bapak melakukan ini?" tanyaku dengan curiga.


"Ini bukan bantuan. Tidak ada keuntungan bagi saya untuk membantu kamu atau mengabaikan kamu. Anggap saja kalau saya sedang berbuat baik," jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Aku langsung tersenyum kecut. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada orang seperti ini? Dasar bodoh. Lupakan perasaanmu itu, Flo. Aku terus mengingatkan diriku sendiri untuk mengacuhkan perasaanku. Tepat saat kopinya habis, dia bangkit dari duduknya.


"Terima kasih atas kopinya. Ternyata kopi buatan kamu memang enak," puji Davin. Aku mengerutkan keningku.


"Darimana Bapak tau saya sering bikin kopi?" tanyaku dengan bingung.


"Setiap kamu ke laboratorium, kamu selalu membawa termos kecil yang kalau kamu buka akan tercium wangi kopi. Dan saya sering melihat kamu membawa termos itu kemanapun kamu pergi," jawab Davin sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Saya memang bawa dua termos yang isinya kopi semua, Pak. Awalnya saya cuma bawa satu tapi karena kurang, akhirnya saya bawa dua."


Davin menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Itu kekurangan kamu, Flo. Anak SMA tidak minum kopi hitam, dua termos pula."


Kerutan di keningku semakin parah. Aku semakin bingung dengan ucapannya.


"Kamu bilang kamu mau jadi anak SMA? Sikap kamu bahkan tidak menyerupai anak SMA. Saya heran sampai sekarang kenapa kamu tidak ketahuan."


"Maksud, Bapak?" tanyaku dengan bingung.


Dia menghela nafas dan menutup matanya lalu membukanya. "Flo, kamu bilang kamu ingin jadi anak SMA?" Aku mengangguk. "Sikap kamu bukan seperti anak SMA kebanyakan."


"Sikap saya?"


Davin mengangguk. "Lihat cara duduk kamu," ujarnya. Aku memperhatikan cara dudukku. Tidak ada yang aneh. "Anak SMA tidak duduk setegak itu. Biasanya, mereka akan membungkukkan tubuh mereka saat mereka duduk."


Aku melakukan perintahnya.


"Masih kurang! Kami masih seperti wanita karir, bukan pelajar!" desisnya.


Aku menurunkan tubuhku hingga dia berkata cukup.


"Sekarang berdiri," perintahnya dan aku melakukannya. Dia mendengus pelan. "Ini yang membuat saya semakin curiga sama kamu sejak awal."


"Kenapa, Pak?" tanyaku dengan bingung.


"Setiap kamu berhadapan dengan guru, kamu selalu meletakkan tangan kamu dibelakang, seperti kamu sedang berhadapan dengan atasan kamu. Apalagi saat saya pertama melihat kamu di ruang guru, kamu bersalaman dengan guru seperti kamu sedang menyapa kolega kamu. Benar-benar formal."


"Jadi saya harus melakukan apa?"


"Bersikap santai layaknya anak remaja."


Aku mengerutkan keningku karena bingung dan dia terlihat frustasi saat menyadari kebingunganku itu.


"Kamu pernah remaja tidak, sih? Kamu itu seperti robot!" desis Davin yang membuatku tersinggung. "Maaf, tapi saya kesal melihat sikap kamu."


Aku bersedekap. "Wajar, Pak.Saya memang tidak punya masa remaja. Saya menghabiskan masa kecil dan remaja saya untuk belajar. Bahkan saat SMP atau SMA, saya tidak punya teman. Mungkin hanya beberapa kenalan."


Davin menggaruk kepalanya sambil menatapku. "Mulai sekarang, setiap pulang sekolah kamu temui saya diruang laboratorium komputer. Akan saya ajarkan bagaimana menjadi anak SMA ke kamu."


Aku menaikkan sebelah alisku. "Bukannya Bapak bilang Bapak nggak mau bantu saya?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan bantuan! Saya frustasi melihat sikap kamu yang tidak ada takutnya itu. Pertama, kita ubah sikap kamu yang sering membantah ucapan guru. Apa kamu tidak tahu kalau kamu sudah dibenci oleh Pak Yusron?"


Aku tersenyum mengejek.


"Lupakan! Saat masuk nanti, kamu harus menemui saya—"


"Saya bisa cari di internet kalau saya mau. 'Cara menjadi anak SMA yang baik dan ideal'. Pasti ketemu kalau saya cari di Google."


Davin menggeleng. "Ada beberapa hal yang nggak bisa kamu temukan di Google, Flo. Memangnya kamu kira kamu bisa membuat kenangan dengan mencarinya di Google?" Aku menggeleng pelan. "Dengar perkataan saya. Anggap aja ini bukan ucapan dari guru kamu tapi dari senior kamu. Bagaimanapun perbedaan umur kita tidak terlalu jauh."


"Umur Bapak beneran tiga puluh?"


"Umur saya sebenarnya tiga puluh dua tahun tapi saya tulis saja saya berumur tiga puluh. Apa salahnya lebih muda dua tahun? Daripada kamu yang memalsukan umur kamu sampai delapan tahun lebih muda?" ejeknya sambil mengangkat kedua bahunya.


Aku tersenyum kecut mendengar ejekannya. Tapi ada hal yang jauh lebih penting. "Kenapa saya nggak bisa menemukan satu hal pun tentang Bapak? Braxton juga nggak bisa cari riwayat hidup Bapak seakan Bapak baru dilahirkan di dunia ini."


Bukannya menjawab, dia malah tersenyum. Dia membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kamarku. Sebelum keluar, dia menengokkan kepalanya sedikit.


"Coba kamu ingat-ingat siapa saya," kata Davin dengan misteri dan langsung menutup pintu sebelum aku bisa bertanya maksud ucapannya.


...***...


Aku menuju ballroom hotel saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Aku menggunakan kacamata hitamku dan memasang penyamaranku. Aku juga menggunakan setelan kerjaku, yang menurut Davin membuatnya tidak mengenaliku. Aku menggunakan kemeja putih yang ditutupi oleh blazer abu-abu dan diteruskan dengan celana yang berwarna senada dengan blazerku. Aku juga menggunakan sepatu hak setinggi lima sentiku agar mengelabui tinggiku. Kata Darry, aku tidak perlu membawa apapun hari ini karena tugasku hari ini sebagai penguji, bukan pembicara. Jadi aku hanya datang dengan menggunakan tas tanganku.


Aku masuk ke dalam lift saat pintu besi itu terbuka. Saat lift yang aku naiki turun, ponselku bergetar di tasku. Saat aku ingin mengambilnya, pintu yang ada di depanku terbuka. Mataku terbelalak saat melihat Davin yang tengah menelepon seseorang. Dia ikut terbelalak saat melihatku. Dia langsung masuk ke dalam lift itu dan aku bisa melihat kalau beberapa temanku mengikutinya dibelakangnya. Dengan sengaja, Davin berdiri tepat di depanku agar menghalangi pandangan orang yang ada di dekatku. Dia juga dengan sengaja menarikku, dengan tidak terlihat tentunya, ke bagian paling pojok lift itu. Aku menutup mataku saat punggung lebar yang ada di depanku itu menutupiku.


Terdengar suara berdenting dan pintu lift itu terbuka. Dia membiarkan teman satu angkatanku keluar dari lift terlebih dahulu baru dia ikut keluar. Dia menengokkan kepalanya padaku dan melemparkan senyuman manisnya padaku. Aku menutup mataku dengan kesal. Kenapa disaat aku ingin mengenyahkan perasaanku, dia malah baik padaku?


Sambil merutuk, aku melangkahkan kakiku keluar dari lift. Aku sengaja berjalan lebih lambat dan mengikuti Davin agak jauh dibelakangnya. Aku memperhatikan teman-temanku yang sedang tertawa senang. Perhatianku teralih saat ponselku berbunyi. Aku mengerutkan keningku saat melihat kalau Davin yang meneleponku.


"Sebaiknya kamu menjauhi kami," kata Davin saat aku sudah mengangkat teleponnya.


"Kenapa, Pak?" tanyaku dengan bingung.


"Caesar melihat kamu. Sebaiknya kamu balik badan dan pergi jauhi kami."


"Tapi saya mau ke ballroom—" Perhatianku teralih saat suara Darry yang memanggil namaku. Aku membalikkan tubuhku dan tersenyum padanya. "Nanti saya hubungi lagi, Pak," kataku sebelum aku menutup telepon.


"Ibu sudah ditunggu. Silakan," ajak Darry. Aku tersenyum padanya. Ponselku bergetar kembali tapi hanya satu kali yang menandakan ada pesan masuk. Dari Davin!


Lain kali bilang teman kamu itu untuk panggil kamu dengan sebutan lain!

__ADS_1


Aku tertawa membaca pesannya. Saat aku menengokkan kepalaku, aku melihat dia sedang memelototiku. Aku membalas pesannya singkat lalu tersenyum manis padanya. Saat dia menatap ponselnya, dia langsung menaikkan kepalanya sambil memelototiku dengan tajam.


Wajah dia marah. Aku membalas pesanku dengan menuliskan, Baik, Pak. Mulai sekarang saya akan minta Darry utk panggil saya 'Flo'. Aku mengikuti Darry sambil cekikikan. Saat aku kembali menengokkan kepalaku, aku bisa melihat kalau Davin menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin yang membuatku semakin tertawa.


__ADS_2