FLO!

FLO!
Bag. 13


__ADS_3

Aku duduk dengan lemas sambil menutup mataku menggunakan tanganku. Aku semakin kalut.


Aku memilih berjalan menuju toilet dan menatap bayanganku melalui kaca yang ada di depanku. Mereka tidak akan mengenaliku. Aku memakai wig hitam sepunggung dengan poni di atas alis. Lagipula wig ini ikal sedangkan rambutku lurus. Aku juga melepaskan kaca mataku dan menggunakan contact lens. Untung saja aku membawa kaca mata hitamku. Begitu turun dari pesawat ini, aku akan menggunakan kaca mata hitamku dan berusaha sejauh mungkin dari kerumunan SMA Insani.


Tidak sulit. Kupikir.


Ternyata tidak!


Saat aku menunggu jemputanku dibandara, seseorang menabrakku sampai tas tanganku jatuh. Saat dia berusaha mengambil tasku, aku terkesiap. Caesar tengah memegang tas tanganku dan mengembalikan tas itu padaku!


"Maaf, saya nggak sengaja," ujarnya dengan penuh penyesalan.


Aku tidak menjawab. Caesar mengerutkan keningnya sambil menatapku. Untunglah suara Danar di belakangku yang memanggil namanya membuat kepalanya terangkat.


"Lo ngapain? Ayo! Kita udah dicari Pak Yusron!" kata suara Danar dibelakangku. Aku tidak berani menengok.


Caesar mengangguk sekali padaku. "Sekali lagi saya minta maaf," ujarnya dengan penuh penyesalan. Aku hanya mengangguk dan meninggalkannya saat membaca namaku disebuah kertas yang diangkat oleh seorang pria.


"Siapa itu?" tanya suara Danar dibelakangku.


"Nggak tau tapi kayaknya pernah lihat," jawab Caesar yang membuatku mempercepat langkah kakiku. Aku mendatangi orang yang menjemputku sambil menarik koperku.


"Ibu Florentia Abdi Kusuma?" tanya pria itu dan aku mengangguk. "Maaf saya terlambat. Saya akan menjelaskan tentang konferensi ini dimobil."


Aku mengangguk dan membiarkan dia yang menarik koper dan tas punggungku. Aku sendiri hanya membawa tas tanganku sambil menengokkan kepalaku ke belakang. Kerumunan SMA Insani berjalan tepat di belakangku. Untung saja aku menggunakan baju yang tidak biasa aku gunakan ke sekolah. Sebuah kemeja putih yang ditutupi dengan blazer hitam dan diterusi celana hitam dan sepatu hak setinggi lima senti. Inilah setelan kerjaku, kecuali wig dan kaca mata hitam ini tentunya. Aku juga jarang menggunakan sepatu hak tinggi kecuali menghadiri konferensi seperti ini. Biasanya aku menggunakan tas punggung tapi karena aku tidak mau terlihat bungkuk, yang biasanya aku lakukan kalau memakai tas punggung, aku memilih memegang tas tanganku.


Perhatianku teralih saat mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depanku. Sebuah sedan hitam mewah berhenti dan pria yang tadi menjemputku membukakan pintu mobil itu untukku.


Aku melirik kerumunan dibelakangku karena menyadari seperti ada yang sedang menatapku. Saat menengok, aku menemukan Caesar yang masih terus menatapku yang membuatku panik. Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam mobil.


Sekilas, aku melihat kalau kaca jendela mobil itu tidak bisa dilihat dari luar sebelum aku masuk tadi. Aku bersyukur berarti aku bisa membuka kacamataku di dalam. Aku langsung menyenderkan tubuhku ke jok mobil yang nyaman itu dan menghela nafas lega.


Aku kembali melirik teman-teman sekolahku yang sedang berkumpul. Kelihatannya mereka sedang menunggu bis jemputan mereka karena tepat dibelakang mobilku, sebuah bis berhenti. Tidak lama, teman-temanku masuk ke dalam bis itu tepat saat pria yang menjemputku tadi selesai memasukkan barang-barang milikku ke dalam bagasi. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk dibangku samping supir.


"Saya kaget saat mendengar kalau anda yang datang secara langsung," ujar pria itu yang menyadarkanku dari lamunanku. Dia mengulurkan tangannya padaku. "Saya Darry, staf konferensi."


Aku mengangguk dan mobil berjalan. Dia memberikan sebuah map padaku dan aku membacanya.


"Ibu Florentia hanya perlu datang dan menguji program yang kami buat. Konferensi ini ditujukan untuk menguji program yang anak bangsa buat. Kami kira Ibu tidak bisa datang karena Mr. Scott Reagan bilang kalau anda sedang cuti."


"Awalnya saya juga tidak bisa tapi apa salahnya kalau hanya datang?" jawabku sambil meneliti kertas-kertas itu. Tidak ada yang serius.


"Lalu apa jadwal saya?" tanyaku sambil menutup map itu dan mengembalikannya pada Darry.


"Siang ini, Ibu hanya istirahat. Tapi saat malam, akan diadakan rapat kecil dimana Ibu diharuskan untuk datang. Hari kedua, acara dimulai dari jam delapan pagi sampai jam lima sore. Ibu akan diperkenalkan pada sistem yang undangan kami buat dan kalau sempat, Ibu yang akan mengetesnya. Hari ketiga, jadwalnya tidak seketat hari sebelumnya karena Ibu hanya akan jadi pembicara. Saya yang akan membawakan materinya pada Ibu dan biar Ibu yang melengkapinya."


Aku tersenyum kecut. Scott bilang aku hanya mendatangi konferensi tanpa bilang kalau aku akan menjadi penguji dan pembicara! Dia melewatkan satu informasi kecil yang begitu penting itu. Aku membuka kacamataku dan memijat mataku. Satu pesawat dengan teman sekelasku, bertabrakan dengan teman sekelasku, berpapasan dengan teman sekelasku. Apa selanjutnya?

__ADS_1


"Boleh saya tau dimana saya akan menginap?" tanyaku sambil menatap jalan.


"Courtyard by Marriott, Bu. Kita juga mengadakan konferensinya dihotel yang sama," jawabnya.


Aku menghembuskan nafas panjang dan dalam hati berdoa semoga teman sekelasku tidak bertemu denganku. Di Bali ini ada banyak sekali hotel. Satu banding seribu aku bisa satu hotel dengan mereka.


Begitu aku sampai dihotel, aku langsung masuk ke kamarku. Darry hanya mengantarkanku sampai lobby dan memintaku untuk bertemu dengan timnya jam tujuh malam nanti direstoran hotel, sekaligus dinner katanya. Aku langsung mengunci pintu kamarku dan membuka kaca mata hitamku lalu membuka wig-ku. Aku membuka laptopku dan menyalakannya. Sambil menunggu laptopku menyala, aku menatap pemandangan melalui kaca di depanku. Ternyata penyelenggara konferensi ini hebat juga sampai menyiapkan suite room seperti ini untukku. Kamarku mengarah langsung ke kolam renang. Aku mengangkat kedua bahuku. Aku ke sini untuk bekerja, bukan untuk liburan.


Terdengar bunyi ping dari laptopku. Kelihatannya ada yang mengirim e-mail padaku. Aku mengecek e-mail masuk itu. Dari Daisy.


Hai, Flo!!!! Kami udah sampai Bali lho!! Ada cerita lucu waktu dipesawat. Danar niatnya menggoda pramugari tapi jadinya malah dia yang digoda sama pramugarinya. Terus waktu di bandara, Nicki dan aku hilang. Ga taunya, kami ikutin orang yang salah. Hahahaha!!! Jadi malu... Eh kata Danar, dia ketemu cewek cantik banget di bandara. Caesar sih yang pertama ketemu terus dia cerita ke Danar. Anehnya, kata Caesar mukanya familiar. Agak mirip sama kamu katanya. Aku bilang ga mungkin. Kamu kan saat ini udah di NY. Rencananya hari ini kami akan langsung ke Uluwatu. Kata Pak Yusron sih kita bakal wisata sejarah jadi ke pantainya hari terakhir. Sebenarnya aku sih udah sering ke Bali tapi belum pernah sama teman-teman sekolah. Pasti seru kalau kamu juga ikutan sama kita. Have fun di NY ya...


Aku tersenyum membaca e-malinya. Aku memang memintanya untuk menceritakan liburan sekolah dengan alasan kalau aku ingin terasa lebih dekat. Padahal sebenarnya aku ingin memantau mereka selama mereka di Bali agar tidak berpapasan denganku. Untunglah Daisy percaya dan mengirimkan e-mailnya. Aku mengirimkan balasan e-mail yang mengatakan kalau aku juga bersenang-senang di New York. Aku sebenarnya merasa sedikit menyesal karena berbohong padanya. Rasanya seperti aku sedang berbohong pada Freya, sesuatu yang paling aku benci. Tapi aku mengingatkan diriku kalau Daisy bukan Freya. Lagipula aku datang ke sekolah itu bukan untuk bersenang-senang. Setelah selesai membalas e-mail Daisy, aku melemparkan tubuhku ke atas ranjang dan menutup mataku. Benar, aku ke sini untuk membalas kematian Freya dan bukan bersenang-senang. Aku tidak boleh melupakan hal itu.


...***...


Aku membuka pintu kamarku saat mendengar suara ketukan. Sekarang memang sudah jam tujuh kurang lima menit dan kurasa Darry yang mengetuk pintuku. Aku yang sudah siap, dengan menggunakan penyamaranku tentunya, langsung membuka pintu. Darry, yang masih menggunakan setelan kerja, tersenyum padaku.


"Ibu sudah ditunggu oleh tim kami dibawah. Silakan." Darry mempersilakan aku untuk berjalan mendahuluinya. Aku mengangguk.


Sambil menuju lantai bawah, aku diberitahu oleh Darry mengenai maksud rapat malam ini. Dia bilang rapat ini ditujukan agar aku bisa mengenal tim yang membuat konferensi ini. Saat di restoran, aku sudah ditunggu oleh kita-kira enam orang, empat pria dan dua wanita. Aku bersikap formal pada mereka sambil memperkenalkan diriku. Mereka kira kalau yang datang adalah penggantiku diperusahaan, yang kata Scott begitu menyedihkan itu, dan mereka sangat senang saat tahu aku yang datang. Mereka bahkan berjanji memberikan pelayanan terbaik untuk menjamin kenyamanku. Aku sih tidak terlalu mempermasalahkannya. Justru ini bagus untuk namaku dan perusahaanku. Siapa tahu dengan mengikuti konferensi ini, aku bisa memiliki klien baru.


Darry memberikan kertas jadwal konferensi padaku. Kata mereka, peserta konferensi akan datang besok dan langsung berkumpul di ballroom. Peserta yang datang hanya lima puluh orang dan kebanyakan remaja yang sedang mengembangkan program komputer buatan mereka sendiri. Tugasku menguji kelayakan program itu. Kalau berhasil, aku akan memberikan tanda kalau program mereka layak dan mampu dikembangkan diperusahaan besar.


Jadwalku memang tidak seketat peserta tapi pekerjaanku lebih banyak karena aku harus menguji satu per satu. Enam orang yang duduk bersamaku itu juga penguji tapi kata mereka, mereka tidak sehebat diriku. Bisa dibilang aku adalah tamu paling penting, yang membuatku terharu mendengarnya. Besok, akan ada pembicara yang mengarahkan peserta konferensi itu. Aku dan tiga orang lain, kebagian hari selanjutnya. Aku sih tidak masalah karena sebelum ke sini, aku sudah membuat materi yang akan kubawakan untuk seminar lusa nanti.


Aku membalikkan tubuhku dan tubuhku langsung membeku di tempat. Aku melihat Daisy, Nicki, Sasha dan Ocha tengah berjalan ke arahku sambil tertawa-tawa. Aku langsung membalikkan tubuhku sebelum mereka melihatku.


Sial!


Aku tidak membawa kacamata hitamku! Aku juga tidak membawa masker ataupun jaket. Aku sama sekali tidak memiliki pikiran kalau mereka akan menginap di hotel ini.


Aku meraih ponselku yang ada disaku celanaku dan pura-pura meletakkannya di telingaku. Sambil menunduk dan berpura-pura menelepon seseorang, aku berjalan melewati mereka dengan cepat. Aku juga bersikap seperti sedang membereskan poniku dengan tangan kiriku. Aku bersyukur saat aku bisa melewati Daisy tanpa ketahuan.


Aku berbelok menuju lift. Aku menekan tombol lift dan berharap selama aku menunggu lift ini, tidak ada yang muncul.


Sayangnya doaku tidak terkabul.


Saat menunggu lift, aku bertemu Caesar dan empat temannya yang berjalan ke tempatku. Saat membalikkan tubuhku, aku melihat Stella dan gengnya.


Aku terpojok.


Aku panik.


Apa yang harus kulakukan?


Tiba-tiba, sebuah tangan menarikku dengan keras hingga aku jatuh ke pelukannya. Aku mendongakkan kepalaku dan terkesiap saat melihat siapa yang menarikku itu. Dia menutupi tubuhku dengan jaketnya dan menggunakan penutup jaket itu untuk menutupi kepalaku. Dia sendiri menggunakan topi baseball yang menutupi setengah kepalanya.

__ADS_1


"Pak Davin?" bisikku tidak percaya.


Davin meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar tidak bicara. Dia menarik tanganku dan begitu pintu lift terbuka, dia langsung menarikku dengan paksa agar masuk ke dalam dan mendorongku ke tempat terpojok lift. Aku menahan nafas saat menyadari kalau Caesar dan empat temannya ikut masuk ke dalam lift yang sama denganku. Saat ini lift itu berisi sepuluh orang termasuk aku dan Davin.


"Dimana kamar kamu?" tanya Davin sambil berbisik. Dia terlihat menundukkan kepalanya agar tidak ada yang mengenalinya. Aku memberitahu lantai kamarku sambil ikut berbisik. Aku ingin bertanya tapi lidahku tertahan saat mendengar suara yang kukenal berteriak untuk menahan lift. Suara Daisy!


Caesar yang berdiri di dekat tombol lift, langsung menekan tombol untuk membuka pintu lift. Davin yang menyadari kalau Daisy akan ikut naik lift yang kami naiki, langsung mendongakkan kepalaku menggunakan dua jarinya dan menatap mataku. Dia meletakkan salah satu tangannya dibelakang tubuhku dan menarikku agar dekat dengan tubuhnya.


"Maafin saya atas apapun yang terjadi setelah ini," bisiknya pelan.


Aku tidak bisa bertanya karena tepat saat pintu lift mulai tertutup, Davin menekan bibirnya ke bibirku.


Ya. Dia menciumku.


Dia bahkan mendorong tubuhku sampai ke dinding lift itu. Bukan hanya aku yang terkesiap tapi juga orang-orang yang berada di lift yang sama denganku. Davin tidak melepaskan bibirnya dan malah semakin menekanku saat aku mencengkram lengannya.


Kepalaku berputar.


Aku tidak bisa memikirkan apapun.


Otakku buntu.


Aku bahkan tidak mendengar suara pintu lift yang berdenting atau orang yang menaiki lift itu satu persatu turun. Saat kami hanya tinggal berdua, Davin langsung melepaskan ciumannya dan pelukannya. Aku terkesiap dan menarik nafas sepanjang mungkin seperti ini pertama kalinya aku bernafas. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Otakku tidak ada isinya.


"Tarik nafas, Flo. Tarik nafas yang panjang," perintah Davin dengan halus. Aku menatapnya dengan tajam.


"Memang itu yang lagi saya lakukan!" pekikku dengan kesal. "Kenapa Bapak bisa tau saya ada disini? Kenapa Bapak bisa mengenali saya?"


Dia menatapku tapi perhatiannya teralih saat mendengar pintu berdenting terbuka. "Tunjukkan kamar kamu dan kita bisa bicara disana," perintahnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


Aku yang masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, malah mengikuti perintahnya. Aku membuka pintu kamarku dan membiarkannya terbuka agar dia masuk. Aku memegangi kepalaku dan memejamkan mataku dengan erat. Mendengar pintu yang tertutup, aku langsung membalikkan tubuhku dan menatapnya.


"Baru kita bisa bicara," kata Davin dengan tenang sambil menatapku. Aku baru sadar kalau dia tidak menggunakan kacamatanya. Dia tersenyum tenang.


Aku tidak mengerti kenapa dia tersenyum. Dia malah kelihatan senang saat melihat kepanikanku itu. Dia juga begitu tenang dan malah bersikap seakan tidak ada hal yang penting yang terjadi. Aku menelan ludahku dan berdeham, berusaha meraih ketenanganku. Aku meminta dia untuk duduk sedangkan aku mengambilkan minuman untuknya. Karena aku tidak tahu harus membuat apa, akhirnya aku hanya mengambil sekaleng cola di kulkas dan meletakannya di atas meja sementara dia masih terus menatapku.


"Ada yang mau kamu tanyakan pada saya?" tanya Davin dengan tenang.


"Banyak! Dan saking banyaknya saya tidak tau harus mulai dari mana!" pekikku dengan kesal. Senyuman diwajahnya makin melebar.


"Kenapa kamu tidak duduk dulu dan baru kita bicara?" pintanya dengan halus. Aku baru menyadari kalau aku masih berdiri sambil mengepalkan tanganku. Aku menghela nafasku dan mengikuti perintahnya.


"Nah! Baru saya bisa bicara," katanya sambil menyenderkan tubuhnya. Dia menatapku. "Silakan tanya apa yang ingin kamu tanyakan."


Aku terdiam. Kepalaku buntu dan aku tidak tahu harus mulai dari mana. Matanya menyusuri wajahku dan tersenyum.


"Baik, kalau kamu bingung. Akan saya jawab pertanyaan yang ada diotak kamu. Pasti pertama kamu ingin tau sejak kapan saya sadar kalau kamu bukan Florence Ferdinand," ujar Davin yang membuat mataku melebar. "Saya tau sejak awal kalau kamu adalah Florentia Abdi Kusuma. Sejak saya menemukan kalau kamu orang yang menyebarkan virus ke komputer sekolah. Saya juga tau kalau kamu adalah kakak Freya. Yang tidak saya sangka, kamu menjadi anak SMA padahal umur kamu sudah dua puluh lima tahun."

__ADS_1


__ADS_2