FLO!

FLO!
Bag. 16


__ADS_3

Selama liburan Natal dan Tahun Baru, aku habiskan dengan bekerja dan bersama keluargaku. Aku memang melakukannya melalui teleconference atau hanya melalui telepon. Ayahku sampai menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat betapa giatnya aku bekerja. Dia tidak menyangka kalau sifat workaholic-ku diturunkan darinya. Aku hanya tersenyum tipis. Darimana sifat itu menurun kalau aku bahkan bukan anak kandungnya?


Selain bekerja, aku juga menghabiskan waktuku mengunjungi makam Freya. Semakin sering aku kesana, semakin aku merindukannya. Dan semakin aku merindukannya, semakin membuatku sadar kalau aku sudah melupakan tujuanku kembali ke Indonesia. Tapi kenapa? Aku bukan hanya merasa bersalah pada Daisy, tapi aku juga merasa bersalah pada Freya? Kenapa aku merasa seperti aku bukan hanya menipu orang lain tapi juga menipu diriku sendiri? Aku tidak sadar betapa aku terikat pada teman-teman sekolahku, betapa aku bahagia saat aku datang ke sekolah itu. Dan aku tidak tahu bagaimana perasaanku jika tujuanku tercapai nanti.


"Kamu mau kembali sekarang? Belum terlambat, Flo," ujar Brenda saat aku menceritakan kekacauan hatiku lewat telepon.


"Nggak bisa. Aku masih belum bisa kembali sebelum aku ketemu siapa orang yang menghamili Freya. Nggak boleh," jawabku dengan pelan.


Brenda terdengar menggeram pelan ditelepon. "Oke, lakuin apa yang menurut kamu baik. Tapi jangan terlalu jatuh dalam peran kamu, Flo. Jangan lupa, dalam beberapa bulan lagi kamu harus balik or bye bye US."


Aku menghela nafasku panjang. "What about you?" tanyaku.


"Kenapa dengan aku?"


"Kalau semua ini berakhir, kamu tetap disamping aku, kan?"


Brenda terdengar diam. Aku bahkan sampai harus memanggilnya. "Kenapa kamu berpikir aku akan ninggalin kamu?"


"Entahlah. Insting anak angkat?" Aku terdiam sejenak. "Aku tau kalau si Menteri datang ke apartemen saat itu bukan karena mau membicarakan tentang aku. Dan aku juga tau kalau kamu sering berhubungan sama dia."


Brenda berdeham. "Kamu... hack handphone aku?" tanyanya curiga.


"Nggak perlu, Brenda. Orang buta juga bisa lihat kalau kamu lagi jatuh cinta. Apalagi aku sering lihat kamu bengong. Siapa lagi kalau bukan si Menteri itu?"


Brenda tertawa renyah. Tawa yang biasanya dia keluarkan kalau merasa terpojok. "Sorry, Babe, Ivy called me."


Tiba-tiba hubungan terputus. Aku menatap ponselku sambil menaikkan sebelah alisku. Kelihatannya kecurigaan terbukti. Pasti terjadi sesuatu antara Brenda dan si Menteri itu. Aku memang sudah curiga sejak awal kalau mereka memiliki hubungan. Sejak Phillip datang ke apartemenku saat itu, aku menyadari perubahan pada Brenda. Apalagi aku sering memantaunya melalui GPS ponselnya yang sering bepergian ke berbagai tempat. Aku memang berbohong pada Brenda. Aku meretas ponselnya sehingga aku bisa mencari tahu dimana Brenda.


Perhatianku teralih saat ponselku berbunyi. Paling hanya Brenda yang ingin menjelaskan kalau aku salah paham. Aku langsung meletakkan ponsel di telingku tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Kenapa lagi, Brenda? Kamu nggak usah bohong lagi," ujarku dengan enggan. Aku menaikkan sebelah alisku saat tidak ada jawaban. "Halo? Brenda?"


"Memangnya suara saya seperti suara asisten kamu itu?" tanya sebuah suara berat. Mataku melebar. Aku langsung melepaskan ponselku dan melihat siapa yang menelepon.


"Maaf, Pak Davin. Saya nggak sadar kalau Bapak yang telepon," jawabku dengan penuh penyesalan. Sial. Aku salah kira.


Davin terkekeh pelan. "Bukan masalah. Kamu lagi dimana sekarang?"


"Rumah, Pak. Kenapa?"


"Kamu bisa ke sekolah sekarang? Ada yang harus kamu lakukan. Kamu bisa bantu saya menyempurnakan sistem sekolah?"


Aku mengerutkan alisku. "Bapak menyuruh saya apa barusan?"


"Menyempurnakan sistem sekolah. Saya jadi merasa minder karena sistem yang saya buat malah kamu rusak."


"Bapak tau kan kalau jasa saya itu mahal?"


Dia tertawa. "Anggap saja membantu teman."


Aku terdiam. Aku memang merindukannya selama liburan ini. Aku hanya bisa melihat wajahnya melalui foto data sekolah. Aku menghela nafas panjang.


"Bapak tau kalau semua orang mengira saya masih di Amerika, kan?" tanyaku pelan.


"Sekarang sudah lewat tahun baru sedangkan kamu bilang kalau kamu kembali ke Jakarta setelah liburan tahun baru. Bilang saja penerbangan kamu dipercepat," jawab Davin.


Aku kembali terdiam. Jawabannya logis juga. Aku akhirnya menyetujui permintaannya. Aku berjanji padanya akan datang dua jam lagi dan langsung menutup telepon. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan membersihkan badanku sebersih-bersihnya. Selesai mandi, aku mencari baju terbaik yang harus aku kenakan. Apa aku harus pakai gaun? Tidak, terlalu berlebihan! Kemeja dan celana panjang? Tidak, terlalu kaku dan resmi. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan kaus berwarna abu-abu dengan scarf coklat terang dan celana jins. Saat aku melihat ke kaca, tidak terlalu buruk. Aku memutuskan untuk tetap memakai kaca mataku dan tidak mengikat rambutku. Aku juga sengaja hanya menggunakan riasan tipis. Kata Brenda, rahasia kecantikan wanita bukanlah riasan melainkan sikap dan inner beauty yang mereka pancarkan. Aku menyetujui hal itu.


"Kamu mau kemana?" tanya ibuku saat dia baru saja keluar dari kamar dan melihatku berpakaian rapi dan kasual.


"Ketemu teman, Ma. Kenapa?" balasku sambil memasang sepatu kets-ku. Aku bangkit dari dudukku dan menatap ibuku.


Mata ibuku menyipit. "Ketemu teman atau incaran?" Nadanya terkesan menggodaku dan aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa? Cantik nggak, Ma?" tanyaku sambil memutar-mutar tubuhku di depan ibuku.


Ibuku tersenyum. "Kamu kelihatan cantik, Sayang. Mama nggak pernah lihat kamu pakai baju seperti ini sebelumnya. Kamu kelihatan fresh," pujinya yang membuat senyumanku makin melebar.


"Aku berangkat dulu, Ma," pamitku sambil mencium pipi ibuku. Ibuku tersenyum dan mengangguk.


Sebelum berangkat, aku mengirimkan pesan pada Davin dimana aku harus menemuinya. Dia langsung membalas dan memintaku datang ke ruang komputer. Aku mengemudikan mobilku dengan santai. Karena masih liburan, jalanan Jakarta tidak seramai biasanya. Padahal aku baru berangkat setengah jam sebelum janjiku dan aku malah sampai tempat waktu. Satpam sekolah yang melihat kedatanganku agak bingung karena aku memang tidak biasanya menggunakan mobil. Aku hanya tersenyum dan memasukkan mobilku ke pelataran sekolah.


Davin sudah menunggu kedatanganku. Saat melihatnya, aku sadar kalau dia juga berpakaian kasual, sama sepertiku. Hanya kaus turtleneck berwarna abu-abu dan celana jins hitam. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. Aku bisa merasakan kalau darahku berdesir saat melihat senyumannya yang luar biasa tampan itu. Astaga, aku baru sadar betapa aku merindukannya.


Davin menepuk bangku yang ada disampingnya. "Kamu duduk disini. Kamu bawa laptop?" tanyanya dan aku menggeleng. "Kenapa nggak dibawa?"


"Saya pakai laptop saya cuma untuk pekerjaan yang dibayar, bukan gratisan," jawabku sambil duduk di atas bangku yang ada disampingnya. Dia mendengus pelan yang membuatku tersenyum. Davin mengeluarkan laptopnya dan memberikannya padaku.


"Kamu pakai punya saya aja kalau begitu. Tapi jangan kamu tambahkan yang aneh-aneh. Laptop saya itu nyawa saya. Mengerti?"


Aku tersenyum geli. Sifatnya ternyata tidak jauh berbeda dariku. Aku berdeham dan meletakkan tanganku di keyboard laptop itu.


"Jadi Bapak mau saya ngapain?" tanyaku saat layar laptop itu menyala.


Davin mulai menjelaskan kekurangan sistem yang dia buat. Dia tidak mau membuat sistem yang dibuatnya menjadi sistem online yang bisa diambil oleh orang lain. Dia hanya ingin sistem itu dimiliki sekolah dan hanya murid atau guru yang bisa mengakses sistem itu. Dia juga memintaku membuat tindakan pencegahan misalnya ada guru atau murid yang mencoba menyebarluaskan sistem itu. Menurutku itu tidak sulit karena aku pernah melakukannya dulu. Aku langsung mengerjakan permintaannya itu dengan tempo waktu yang lumayan singkat. Aku sangat fokus melakukan permintaan Davin itu sampai aku tidak sadar kalau Davin pergi. Aku baru sadar saat dia kembali sambil membawakan dua cangkir berisi kopi.


"Maaf, saya tidak berniat mengganggu kamu," kata Davin dengan nada menyesal saat melihatku mengangkat kepalaku.


Aku menggeleng. "Bukan masalah, Pak. Sudah selesai kok," ujarku sambil memutar laptop itu agar menghadapnya. Matanya melebar dan menatapku.


"Secepat itu?" tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk. Dia langsung menggeser laptop itu ke depannya dan mengecek pekerjaanku itu. Dia terkesiap.


"Ini jauh lebih sempurna dari yang saya perkirakan sebelumnya. Kamu benar-benar jenius, Flo!" pujinya yang membuat perasaanku melambung tinggi. Aku hanya tersenyum malu, berusaha menutupi perasaan senangku itu.


Tiba-tiba dia bangkit berdiri. "Sebagai gantinya, bagaimana kalau saya traktir kamu makan?" tawarnya.


Aku menggeleng pelan. "Sebenarnya saya tidak terlalu suka makan ditempat yang ramai. Rasanya nggak nikmat," jawabku apa adanya.


Aku langsung memotong ucapannya. "Saya setuju kalau yang itu."


Davin tersenyum. Dia keluar sebentar untuk memesan sekaligus meminta pada satpam agar langsung mengirimkannya ke atap sedangkan aku mematikan komputer sekolah dan laptop yang tadi dia dan aku gunakan. Tidak lama, Davin kembali lalu mengajakku agar pergi ke atap bersamanya. Tidak sampai setengah jam, pizza yang kami pesan datang. Satpam sekolah yang mengantar pizza itu ke tempat kami.


"Lalu sampai kapan kamu menyamar menjadi anak SMA?" tanya Davin sambil mengunyah pizzanya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku dengan enggan. Sebenarnya, aku paling benci ditanyai hal itu. Membuatku ingat kalau aku akan berpisah dengan Davin.


"Paling lama bulan April saya harus kembali ke Amerika. Tapi kalau misalnya saya mendapatkan jawaban saya sebelum itu, maka saya bisa kembali lebih cepat."


Davin terdiam. Aku tidak bisa menebak isi pikirannya karena ekspresinya tidak bisa kubaca. Akhirnya kami kembali terdiam sambil sibuk mengunyah makanan kami. Kami tersentak saat ponsel Davin bergetar.


"Saya angkat telepon ini sebentar," katanya lalu bangkit berdiri dan meninggalkanku.


Aku menghela nafas panjang sambil menatap pizza yang ada di depanku dengan tidak berselera. Aku merutuk dalam hatiku. Kenapa dia tidak menyadari perubahanku? Kenapa dia tidak memujiku cantik atau apalah? Kenapa dia tidak membuatku jauh lebih senang? Dia begitu dingin! Aku heran kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria sedingin es ini. Mana dia meninggalkanku disini sendirian. Dia kira aku ini apa? Penjaga atap? Aku sudah menunggunya lebih dari lima menit tapi dia belum kembali. Perhatianku teralih saat pintu atap terbuka. Aku mengangkat kepalaku dan alisku bertautan saat menyadari kalau yang datang ke atap bukanlah Davin melainkan orang lain.


"Sorry, kayaknya tempat ini udah ada yang tempatin," kata cowok itu sambil tersenyum. Tunggu dulu! Aku mengenalnya.


"Azka?" bisikku pelan tanpa aku sadari. Untunglah dia tidak menyadarinya. Dia membalikkan tubuhnya.


"Lho? Azka? Ngapain kamu disini?" tanya suara berat dibelakang Azka. Aku tau itu suara Davin.


"Mau ke tempat ini aja, Pak. Bapak sendiri ngapain disini?" balas Azka.


"Makan siang. Kamu mau?" tawar Davin yang membuatku mendumel dalam hati. Aku kan ingin makan berdua dengannya! Syukurlah Azka menggeleng.


"Saya nggak mau ganggu Bapak pacaran," jawab Azka sambil menatapku dan Davin bergantian. Bukannya membantah, Davin hanya menyeringai.


"Kapan kamu kembali dari Singapura? Studi kamu sudah selesai?"


"Udah, Pak. Harusnya saya baru bisa kembali minggu depan tapi saya kangen tempat ini jadi saya nggak mau nunggu." Azka menatap atap ini dan tatapan jatuh padaku. "By the way, pacar Bapak cantik. Kok dia mau sama orang sekaku Bapak?"

__ADS_1


"Sembarangan!" desis Davin. Aku semakin kesal. Aku tidak butuh pujian Azka. Yang aku butuhkan adalah Davin yang mengatakan kalau aku cantik! Karena kesal, aku bangkit dari dudukku.


"Saya bukan pacar Pak Davin. Saya murid juga kok, sama kayak kamu," jawabku sambil menutup kotak pizza itu dan menyesap cola.


"Lho? Kamu sudah selesai?" tanya Davin saat melihatku memasukkan kotak pizza itu ke dalam plastiknya semula.


"Saya sih udah kenyang." Wajar, gue makan sendirian!


"Tapi kan pizzanya belum habis. Mubazir! Saya juga belum kenyang," kata Davin sambil menatapku. Baik, aku mulai luluh mendengarnya masih belum kenyang.


"Ayolah, Flo, saya masih lapar. Tadi pagi saya nggak sempat sarapan," lanjut Davin lagi yang berhasil membuatku luluh. Aku mengangguk dan kembali duduk ditempatku semula. Davin tersenyum puas melihatku kembali duduk. Dia menatap Azka.


"Kamu sampai kapan di Jakarta? Nggak balik ke Singapura?" tanya Davin. Azka menggeleng pelan.


"Studinya udah selesai, Pak. Sekarang saya mau fokus ke ujian nasional," jawab Azka. Dia kembali menatapku sambil mengerutkan keningnya. "Kita pernah ketemu sebelumnya?" tanyanya padaku dan aku langsung menggeleng.


"Saya baru balik dari Amerika beberapa bulan yang lalu," jawabku sambil tersenyum manis.


"Kamu pernah tinggal di Indonesia sebelumnya?"


"Cuma sampai umur saya dua belas tahun."


"Kamu pernah ke Singapura?"


Aku menggeleng.


"Aneh. Kok rasanya muka kamu familiar."


"Muka dia memang pasaran. Saya aja sempat kira dia teman SMA saya," jawab Davin dengan asal. Aku mengerutkan keningku sambil menatapnya dan tiba-tiba Azka tertawa.


"Mungkin Bapak benar," jawab Azka lalu melirik jam yang ada ditangannya. "Saya harus pergi. Maaf ganggu ketenangan kalian. Have fun."


Aku hanya tersenyum saat dia melambaikan tangannya padaku. Jadi itu mantan pacar Freya yang membuatnya menangis saat mereka putus? Dia memang ganteng, meskipun tidak seganteng Davin tentunya, dan ramah. Tapi belum tentu itu kepribadiannya yang asli. Aku berpikir, bagaimana kalau dia memang benar ayah dari bayi yang dikandung Freya?


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Davin tiba-tiba yang membuatku tersentak karena kaget. "Jangan bilang kamu naksir dia? Astaga, kamu suka brondong?"


Aku menatapnya sambil menyipitkan mataku. "Bapak jangan ngomong sembarangan! Saya cuma berpikir apa dia ayah dari bayi yang dikandung Freya. Itu aja!"


Tiba-tiba Davin tertawa keras. "Saya cuma bercanda! Kenapa kamu sehisteris itu?"


"Habis Bapak kayak tuduh saya yang bukan-bukan. Alasan saya ke sekolah ini bukan melakukan petualangan cinta. Bapak aja mikirnya yang bukan-bukan."


Davin tersenyum padaku, senyuman yang membuatku bisa saja meleleh. "Baik, saya minta maaf. Habis kamu manis banget kalau lagi marah."


Aku langsung memutar kepalaku dan menatapnya.


Aku tidak salah dengar, bukan?


Dia memuji aku manis? Benar, kan? Dia memujiku, kan?


Astaga! Dia berkata aku manis! Manis itu jauh lebih baik dari cantik. Dan dia barusan memujiku manis? Astaga! Dia bahkan tersenyum padaku! Astaga! Apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku lakukan?


"Lalu kenapa saat bertemu Azka tadi kamu diam saja? Tidak banyak bertanya?" tanya Davin yang seakan menyadarkanku kalau aku harus berhenti bersikap bodoh. Aku berdeham.


"Dia sendiri yang bilang kalau dia akan berada disini sampai ujian nasional. Itu artinya saya masih ada banyak waktu untuk mencari tau," jawabku sambil kembali mengunyah pizza yang ada ditanganku meskipun sudah tidak berselera.


"Lalu kalau kamu tidak menemukan jawaban kamu?"


Aku mengangkat kedua bahuku enggan. "Meskipun menyebalkan dan bikin penasaran, saya harus terima. Bagaimanapun saya harus kembali ke tempat asal saya. Mana mungkin saya terus menyamar sementara saya masih memiliki kehidupan asli yang harus saya jalani?"


Davin menatapku sambil menaikkan alisnya. "Saat ini, kamu kedengarannya seperti bukan anak SMA."


Aku tersenyum manis padanya. "Saya memang bukan anak SMA."

__ADS_1


Davin awalnya menatapku dengan bingung dan saat dia baru mengerti maksud ucapanku yang menyindir diriku sendiri itu, dia langsung tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2