FLO!

FLO!
Bag. 24


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang terjadi disekelilingku. Yang bisa kuingat adalah orang yang lalu lalang di depanku. Mereka bicara, bertanya, menginterogasi dan banyak hal lain. Dan selama mereka menginterogasiku, aku tidak membuka mulutku. Mereka bertanya bagaimana caraku bisa memalsukan semua dokumenku dan siapa yang membantuku. Aku hanya menaikkan kedua bahuku dan lama kelamaan mereka frustasi dengan sikap diamku. Selama ini aku memang sudah terbiasa diinterogasi seperti ini. Dan aku sudah terbiasa untuk selalu menutup mulutku apapun yang terjadi. Ternyata selama hampir lima bulan menghabiskan hidupku sebagai murid SMA, sifat asliku tidak berganti semudah itu.


Aku baru tahu dari polisi yang menginterogasiku kalau Mawar diinterogasi diruangan lain. Kelihatannya menginterogasi Mawar lebih mudah dari menginterogasiku karena polisi yang datang ke ruanganku itu memiliki wajah puas yang berbeda dengan polisi yang ada di depanku. Dan mungkin karena polisi itu semakin frustasi menginterogasiku karena pada akhirnya mereka menyerah dan keluar dari ruang interogasiku.


Perhatianku teralih saat aku mendengar pintu terbuka di depanku. Aku tidak kaget saat melihat orang tuaku muncul dari balik pintu itu dan ibuku menatapku dengan nanar. Aku hanya bisa tersenyum tipis pada ibuku saat dia memegang tanganku. Aku pikir Mama akan marah tapi ternyata dia malah menangis saat melihatku.


"Kenapa kamu berbuat bodoh dengan menyamar menjadi anak SMA? Kenapa berbohong pada Mama?" isak ibuku. Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku takut kalau bicara sesuatu, orang yang ada diruangan lain akan merekam pembicaraan ini dan orang tuaku akan terseret.


Aku menatap ayahku sambil tersenyum padanya. Aku memang sudah membuatnya berjanji untuk tidak membuka mulutnya jika terjadi sesuatu padaku, seperti penangkapan ini contohnya. Kelihatannya Papa berusaha sebaik mungkin menyembunyikan perasaannya saat melihatku dan aku hanya bisa menatap ayahku dengan penuh permohonan.


Pada akhirnya, aku tidak bicara apapun pada ibuku. Aku membiarkan ibuku terus menangis sedangkan ayahku hanya merangkulku, seakan memberikan kekuatan padaku. Ibu dan ayahku terpaksa harus pergi karena polisi yang tadi menginterogasiku meminta mereka untuk meninggalkanku.


"Mama pasti akan menemani kamu, apapun yang terjadi," janji ibuku padaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menenangkan ibuku. "Maafin Mama, Sayang, karena Mama gagal menjaga kamu."


"Mama nggak gagal melakukan apapun. Aku yang gagal menjadi anak Mama," ujarku. Ibuku langsung memelukku, dengan sangat lembut.


"Kamu tidak gagal. Mama justru bangga sama kamu, berani melakukan hal bodoh demi mencari kebenaran. Kalau ada Freya, dia pasti akan bilang kalau dia bangga sama kamu."


Aku tersenyum tipis mendengar ucapan ibuku. Dan sebelum pergi, ayahku ikut memelukku dan berjanji kalau dia akan selalu ada untukku. Aku hanya mengangguk padanya dan mereka harus segera pergi karena polisi itu sudah berdeham.


"Ada tamu yang mau menemui kamu," ujar polisi itu saat orang tuaku keluar dari ruangan itu. Dia membuka pintu dan Azka, dengan tangan yang digips, masuk ke ruangan itu. Wajahnya terlihat pucat namun dia tersenyum padaku.


"Hai," sapa Azka. Dia terlihat kikuk. Aku tersenyum padanya.


"Hai," balasku. "Gimana keadaan lo?"


"Selain sakit hati karena ditembak ibu sendiri, gue baik-baik aja," jawab Azka. Dia mengangguk pada polisi yang ada dibelakangnya dan polisi itu keluar dari ruangan itu. "Lo sendiri gimana?"


"Jawaban bohong? Gue baik-baik aja. Kenyataannya? Gue lapar! Polisi-polisi itu nggak kasih gue makanan sedikitpun!"


Azka terkekeh mendengar jawabanku. "Itu baru Flo," pujinya. Aku hanya tersenyum. Tapi tawanya hilang saat teringat sesuatu. "Gue minta maaf, Flo."


"Untuk apa?"


"Semuanya! Baik apapun yang gue dan Mama lakukan. Terlebih pada Freya..."


Saat mengucapkan nama Freya, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.


"Lo tau dia hamil?" tanyaku. Azka menggeleng.


"Gue baru tau saat gue kembali dari Singapura. Harusnya gue mencegah semua itu terjadi. Kalau aja gue nggak biarin dia nyusul gue, pasti saat ini dia masih hidup."


Aku mengerutkan keningku. "Apa hubungannya?"


Azka tersenyum, namun tersenyum sedih. "Nyokap gue itu nggak stabil secara emosi, dan makin parah saat bokap putusin cerai dan bawa gue pergi. Dia berdelusi kalau Papa culik gue dan jadi DPO. Saat bokap gue meninggal dan nyokap gue akhirnya menemukan gue, dia berjanji kalau nggak ada siapapun yang akan ambil gue dari dia, termasuk cewek-cewek yang deket sama gue."


"Termasuk Freya?"


"Terlebih Freya."


"Kenapa?"


"Karena cuma Freya satu-satunya cewek yang gue sayang."


Aku kaget. Ya, aku benar-benar kaget.


"Kaget, ya? Lo pasti mengira gue ini playboy kelas kakap."


Aku tidak bisa menjawab apapun kecuali mengangguk.


"Gue sayang sama Freya karena dia berbeda. Dia mendekati gue tanpa motif apapun kecuali mencomblangi gue sama Stella. Dia bahkan nggak peduli saat gue merayu dia. Awalnya gue pengen bikin dia jatuh bangun suka sama gue, tapi yang terjadi malah kebalikannya."


"Lo yang jatuh bangun cinta sama dia?"


Azka mengangguk. "Dia nggak pakai topeng saat mendekati gue, bisa dibilang agak judes malah. Tapi saat gue mengenal dia lebih jauh, dia adalah orang paling tulus yang pernah dekat sama gue. Nggak ada yang bisa menyamai dia."


"Kenapa kalian bisa putus?"


"Gue udah bilang kalau dia orang paling tulus, kan? Lebih baik dia kehilangan cowok daripada kehilangan sahabat terbaiknya. Gara-gara gue, dia kehilangan Stella dan Caesar diwaktu yang hampir bersamaan."


"Kalian putus karena Stella?"


Azka mengangguk. "Karena itu gue putusin untuk terima pertukaran pelajar ke Singapura. Bisa dibilang ini pertama kalinya gue sakit hati. Gue baru tau kalau ternyata bukan hanya karena Stella makanya Freya minta putus dari gue."


"Nyokap lo?"


Azka kembali mengangguk. "Dia yang memanas-manasin Stella dengan bilang kalau Freya menusuk dia dari belakang. Gue baru tau saat dia kabur ke Singapura dan jelasin ke gue semuanya karena dia tau nggak ada nyokap gue disana. Lalu saat dia bilang sesuatu, akhirnya itu semua terjadi secara alami."


"Dia pasti bilang dia juga cinta sama lo."


Azka tersenyum dan mengangguk pelan.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"


"Gue janji sama dia kalau kita akan bersama lagi saat gue kembali, termasuk meminta nyokap gue untuk menerima Freya. Setelah itu, gue mendengar kalau dia bunuh diri dengan membawa serta janin yang gue tau adalah anak gue."


Aku terdiam saat melihat matanya berkaca-kaca namun dia langsung menyeka air mata itu sebelum jatuh ke wajahnya.


"Gue marah, kecewa, patah hati. Terlebih nyokap gue bilang kalau Freya mutusin bunuh diri karena tau gue nggak akan mau tanggung jawab. Makanya gue kembali ke sifat gue yang lama. Baru saat lo muncul, gue merasa ada yang aneh."


"Aneh? Kenapa?"


"Justru itu yang mau gue tanyakan. Kenapa lo harus repot-repot menyamar jadi anak SMA? Pasti ada sesuatu yang nggak beres. Gue ingat kalau Freya bukan orang yang mau menyakiti dirinya sendiri karena dia orang yang menghargai sebuah nyawa. Apalagi dengan membawa serta satu nyawa lagi di dalam perutnya, itu lebih nggak mungkin lagi."


"Itu sebabnya lo deketin gue? Mencari tau?"


"Iya. Gue cari apa yang bisa menjadi bukti kalau dugaan gue benar. Dan ternyata, orang jahat dihidup gue ternyata nyokap gue sendiri."


"Lalu kenapa lo kirim e-mail itu?"


Azka mengangkat kedua bahunya, meskipun dengan agak meringis. "Melindungi elo."


Aku mengerutkan keningku karena bingung.

__ADS_1


"Lebih lama lo disini, semakin berbahaya. Gue takut nyokap gue tau identitas lo dan kejadian Freya akan terulang. Apalagi gue lihat lo sering menghabiskan waktu diatap itu. Gue nggak nyangka lo nggak jadi pergi dan malah melakukan hal yang jauh lebih bodoh lagi."


"Lo nggak berniat melaporkan nyokap lo ke polisi?"


"Sejahat apapun nyokap gue, dia tetap nyokap gue. Titik."


"Dan lo menunggu orang lain untuk melakukan hal itu?" tanyaku dan Azka mengangguk. "Untung gue nggak jadi naik pesawat itu."


"Karena itu, gue mau bilang makasih."


"Untuk?"


"Mencegah gue memenjarakan nyokap gue sendiri. Dan berkat lo, gue jadi tau kebenarannya. Semua kebenarannya."


"Kalau Freya cinta sama lo? Dia akan tetap mengandung anak lo meskipun anaknya akan dianggap anak haram?"


Azka mengangguk pelan. "Dan gue juga tau kalau nggak akan ada cewek kayak dia lagi muncul di hidup gue. Hanya satu Freya. Satu-satunya cewek yang mencintai gue apa adanya."


...***...


Kepalaku terangkat saat mendengar pintu yang terbuka. Polisi yang menginterogasiku sebelumnya, yang frustasi dengan sikap diamku, muncul.


"Baiklah," ujar polisi itu sambil kembali duduk dibangku yang ada di depanku. "Kita mulai lagi dari awal. Saya tau memalsukan dokumen seperti ini bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan data selengkap ini. Siapa yang membantu kamu?"


Aku diam dan tidak menjawab.


"Baik, kalau begitu saya bertanya, Brenda dan Braxton Ferdinand?"


Aku kembali diam dan berusaha agar tidak ada satupun emosi keluar dari wajahku.


"Menurut saksi, mereka berdua adalah 'ibu' dan 'paman' angkat kamu. Mereka terlibat?"


Aku terus terdiam mendengar pertanyaannya itu. Aku tersenyum tipis saat melihat wajahnya yang frustasi di hadapanku.


"Baiklah... Menurut penuturan saksi, kamu hampir lima bulan meretas sistem sekolah tanpa ijin, kamu tau itu termasuk pelanggaran hukum, bukan?"


Aku mengangkat kedua bahuku.


"Saya mendengar pembicaraan kamu diatap yang didengar oleh hampir seratus persen murid SMA Insani dan pembicaraan kamu terhadap saksi kami tadi, Freya Abdi Kusuma, dia adik kamu?" tanya polisi itu dan aku mengangguk. "Menurut data, dia meninggal karena bunuh diri. Tapi menurut keterangan tersangka lain, dia mendorong Freya. Apa kamu mencari informasi dengan menjadi murid SMA dan melakukan penipuan lain?"


Sialnya, aku tahu ada satu ekspresi lega keluar dari wajahku dan polisi yang ada di depanku bisa membacanya. Dia kelihatan puas. Aku merasa kalau dia tahu, setiap topik Freya yang keluar, aku pasti tidak bisa menjaga ekspresiku. Dia bertanya lebih jauh mengenai Freya dan aku merasa aku semakin terjepit. Dia bahkan sampai menggebrak meja karena aku tidak mau menjawab satu pertanyaan pun meskipun ekspresiku bisa terbaca olehnya.


Pertanyaannya berhenti saat seorang pria masuk ke dalam ruangan itu. Pria berkaca mata dan menggunakan setelan lengkap yang resmi. Aku tidak mengenalnya. Siapa dia?


Pria itu mengulurkan tangannya pada polisi itu. "Saya Bram, saya pengacara Florentia Abdi Kusuma yang ditunjuk oleh Profotech." Pria bernama Bram mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada polisi itu lalu menatapku. "Flo, kamu tidak perlu mengucapkan satu katapun. Kita sudah selesai disini."


Aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan menatap pria asing yang mengaku menjadi pengacaraku itu. "Tunggu sebentar! Siapa—"


Pria itu langsung memotong ucapanku. "Florentia Abdi Kusuma ditunjuk secara resmi oleh Pioneer Techonosoft dan Profotech dari Amerika untuk meninjau langsung beberapa program di SMA Insani. Florentia tidak sendirian, masih banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Bisa dibilang, dua perusahaan TI itu tertarik dengan pasar Indonesia. Saya memiliki beberapa bukti yang menunjang ucapan saya." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.


"Lalu bagaimana dengan Freya Abdi Kusuma?" tanya polisi itu. Ekspresinya terlihat kaget sekaligus tidak percaya.


"Rencana penyamaran ini sudah dibuat sejak dua tahun yang lalu dan kematian Freya Abdi Kusuma bukanlah rencana kami. Florentia memang melakukan tugas yang diberikan padanya meskipun begitu dia sengaja meminta bosnya untuk menyamar di SMA Insani. Dia melakukan tugasnya sekaligus mencari tahu kematian adiknya. Kami memiliki semua data lengkap tentang rencana itu disini." Bram menunjuk kumpulan kertas yang ada di atas meja. Dia tersenyum saat mendengar pintu yang diketuk.


Aku masih menatap pria berkacamata yang ada di depanku ini dengan tidak percaya. Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang terjadi. Aku saja tidak mengenalnya! Tubuhku seperti terhipnotis saat dia memberikan isyarat padaku untuk mengikutinya dan aku melakukannya.


"Baik, jadi siapa anda?" tanyaku saat aku dan Bram berada di luar kantor polisi.


"Jangan disini, Flo, kita bicara ditempat lain," ujar Bram dan dia langsung mendorongku ke dalam sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat di depan kami.


Mataku melebar saat menyadari kalau aku tidak sendirian dimobil itu. Dan jauh lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang ada disampingku. Dia sedang tersenyum padaku sambil memiringkan kepalanya.


"Halo, Flo," sapanya lembut.


Aku hanya bisa ternganga sambil menatapnya. "Om Phillip?" tanyaku tidak percaya. Dia hanya tersenyum.


Phillip berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dua wanita yang paling saya cintai memohon-mohon pada saya untuk melepaskan kamu dari hal ini. Apa kamu tau kalau itu bukan hal yang biasa saya lakukan?"


Aku menatapnya, masih dengan tidak pecaya. "Dua? Brenda? Tapi satu lagi siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan putri saya? Dia bahkan berjanji akan menjadi jauh lebih rajin kalau saya membantu kamu keluar dari kasus ini. Padahal sejak awal saya memang sudah ingin membantu kamu."


"Tapi kenapa Om nggak kelihatan kaget?"


Phillip tersenyum padaku. "Beberapa minggu lalu, Brenda cerita semuanya pada saya, baik tentang dirinya sendiri dan tentang kamu. Jujur, awalnya saya kaget. Tapi saya tidak bisa marah meskipun kamu membawa Stella dalam hal ini. Tapi Brenda bilang kalau kamu sudah menyerah dengan semua rencana kamu. Dia juga bilang kalau kamu yang mendorong dia untuk bicara sejujurnya pada saya. Makanya mendengar itu saya jadi ingin membantu kamu. Bisa dibilang, awalnya saya tidak percaya saat mendengar seseorang kembali menyamar untuk menjadi murid SMA karena mencari tau kematian adiknya. Dan saya percaya setelah melihat sendiri apa yang kamu lakukan sekarang."


"Maksud Om, saya hampir masuk penjara karena menyamar?"


"Bisa dibilang seperti itu."


Aku menatapnya, masih berusaha mencerna setiap kata-katanya. "Jadi, Om yang menghentikan penyelidikan ini atas permintaan Stella dan Brenda? Membuat semua dokumen-dokumen itu?" tanyaku dengan bingung.


"Kalau menghentikan penyelidikan, iya. Tapi kalau membuat dokumen itu, bukan saya. Saya tidak memiliki kemampuan atau sumber-sumber yang membantu saya membuat dokumen seperti itu."


"Lalu... siapa?"


Phillip tidak menjawabku dan mengangkat kedua bahunya. Dia malah menatap jalanan melalui jendela yang ada disampingnya. Aku tahu kalau aku tidak akan mendapatkan jawaban, baik dari Phillip ataupun dari Bram yang duduk di depanku. Perhatianku teralih saat aku memasuki kawasan yang sangat aku kenali. Apa lagi kalau bukan apartemenku? Padahal seingatku, aku sudah menjual apartemen ini. Tunggu sebentar...


"Ah, saya membeli apartemen ini untuk Brenda. Dia bilang dia tidak mau tinggal bersama saya sebelum saya menikahinya," ujar Phillip dengan tenang saat aku bertanya padanya.


Aku hanya bisa menatapnya tidak percaya. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa setenang ini. Dia hanya tersenyum padaku sambil mendorongku untuk keluar dari mobil. Dibelakangku, Bram berjalan mengikutiku. Aku ingin bicara atau sekedar bertanya siapa dia sebenarnya tapi dia malah sibuk menelepon seseorang. Aku tidak tahu siapa yang berbicara dengannya ditelepon itu tapi aku tahu kalau orang itu pasti dihormati oleh Bram, terdengar dari nada bicaranya yang sopan itu. Phillip tidak mengikutiku karena dia bilang dia masih memiliki banyak pekerjaan jadi hanya aku dan Bram yang masuk ke apartemenku.


"Jadi, siapa anda sebenarnya? Seingat saya, bos saya bukan dari Profotech dan saya mengenal semua bagian legal perusahaan saya," tanyaku saat kami berada dilift menuju apartemenku.


Bram terlihat kaget namun dia tersenyum. "Jangan cemas. Seseorang yang mengutus saya ke sini," jawabnya yang membuatku semakin bingung.


"Siapa? Saya tidak ingat saya punya kenalan dari Profotech!" ujarku dengan keras. Dia tidak peduli dan malah mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Handphoneku!


"Titipan dari seseorang. Untung saja teman anda sudah mengambil ponsel itu lebih dulu sebelum ditemukan oleh polisi. Bisa gawat kalau ponsel yang berisi semua data murid ditemukan oleh polisi, bukan? Bisa-bisa hukuman anda bisa jauh lebih berat."


Aku menerima ponsel itu dengan bingung. Seingatku ponselku memang kutinggalkan ditas punggungku yang kutitipkan pada Caesar. "Klien anda pasti bukan Caesar, kan?"


Bram terlihat mengerutkan keningnya. "Siapa?" tanyanya dan aku mengulangi ucapanku. Aku tahu kalau Caesar ataupun Collin adalah kliennya karena aku mempercayai ekspresinya. Dan tiba-tiba aku teringat ucapan Davin mengenai Profotech.

__ADS_1


"Davinius Skandar?" ucapku tiba-tiba, berharap ada perubahan diwajah Bram. Tapi ekspresinya sama seperti tadi. Seperti baru pertama kali mendengar nama itu.


Lalu siapa? Braxton? Tidak mungkin karena Scott tidak mengenal Braxton dan terlebih karena Braxton tidak mau berhadapan dengan aparat penegak hukum. Meskipun membuat data-data seperti adalah hal yang mudah bagi Braxton tapi pasti bukan dia. Lamunanku buyar saat pintu lift yang ada di depanku terbuka. Bram berjalan mendahuluiku lebih dulu dan aku mengikutinya. Aku masih memikirkan siapa yang mengirim Bram saat pintu apartemenku terbuka dan wajah bersimbah air mata milik Brenda muncul dari balik pintu itu.


"Flo!" pekik Brenda dan langsung memelukku dengan erat. Aku sampai tidak bisa bernafas dibuatnya. "Kamu nggak apa-apa? Ya ampun, kamu jadi kurus banget!"


Aku mengerutkan keningku mendengar ucapan Brenda. Aku hanya ditahan selama dua puluh empat jam, dari mana berat badanku bisa menurun? Lagipula baru dua hari yang lalu aku bertemu dengan Brenda. Dia memang pantas aku juluki sebagai nyonya berlebihan.


"Ayo masuk dulu. Tante Mariska udah bikin teh buat lo."


Mendengar nama ibuku, aku langsung mengangkat kepalaku dan menyadari kalau bukan hanya Brenda yang ada diruangan itu. Ada orang tuaku, Stella, Daisy dan Caesar. Mereka semua menatapku dan hanya Caesar dan Daisy yang tersenyum padaku.


"Hai, Stella," sapaku dengan kikuk. Stella diam. "Gue minta—"


Ucapanku terpotong saat Stella memelukku, menggantikan Brenda. "Dasar ****. Harusnya gue yang minta maaf karena terlalu lama mengeluarkan lo dari sana," ujarnya yang membuatku bingung.


"Tunggu... Lo nggak marah sama gue?" tanyaku tidak percaya.


Stella mengurai pelukan kami namun dia tidak menjauh dariku. "Untuk apa?"


"Gue bohong sama lo!" kataku, mengingat apa yang aku lakukan selama ini. Tiba-tiba wajahnya berubah jadi mendung.


"Apa semua ucapan lo ke gue adalah kebohongan?" tanyanya dan aku menggeleng.


"Selain identias gue, sumpah, nggak ada lagi!" jawabku dan Stella dan menyeringai lebar. Dia malah kembali memelukku.


"Berarti nggak ada lagi yang perlu dimaafin." Stella melepaskan pelukannya dan menatapku. "Sejak awal gue tau lo pasti ada hubungan sama Freya karena sikap dan ucapan kalian itu selalu sama. Gue nggak nyangka kalau lo beneran kakak angkatnya Freya. Aneh, padahal Freya pernah tunjukin foto lo ke gue tapi kenapa gue nggak engeh yah?"


"Itu karena lo pikun," timpal Caesar.


"Kamu sendiri juga baru tau kalau Flo itu kakaknya Freya waktu dirumahnya. Nggak usah sok deh!" timpal Daisy yang membuatku tersenyum. "Kayak aku dong yang langsung tau kalau Flo itu kakaknya Freya waktu kita di Bali!"


"Tau nih Caesar, padahal lo nabrak gue waktu di Bali!" tambahku yang membuat wajah Caesar semakin kecut. Namun aku tersenyum pada mereka.


"Ayo duduk dulu. Kamu pasti capek," ajak ibuku dengan lembut yang membuatku baru menyadari kalau aku masih berdiri saat mengobrol dengan teman-temanku. Aku mengangguk dan berjalan menuju sofa namun kedua temanku ini menolak melepaskan rangkulan mereka.


"Bisa dong lepasin Flo dulu? Dia butuh istirahat!" desis Caesar. Kelihatannya mereka menyadari wajahku yang memang kelelahan itu karena pada akhirnya Stella dan Daisy melepaskan rangkulan mereka.


"Papa sudah menjelaskan garis besarnya pada Mama sebelum kamu datang," ujar ibuku sambil menatapku. Aku hanya tersenyum tipis saat melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mama tidak tahu harus bilang kamu itu bodoh atau nekad. Kamu bisa saja terluka!"


"Hampir tertembak lebih tepatnya, Tante," timpal Daisy dengan kesal.


"Kalian nggak usah cemas, aku udah punya rencana cadangan. Aku minta Caesar menelepon polisi waktu aku sampai diatap," jawabku sambil menatap Caesar dan seketika semua mata mengarah pada Caesar.


"Tunggu... tunggu. Kenapa Caesar bisa tau?" tanya Stella dengan bingung.


"Gue yang telepon dia. Gue butuh bantuan dia buat mengaktifkan sistem speaker sekolah," jawabku sambil melemparkan senyuman terbaikku pada Caesar.


Aku menatap mereka yang kelihatannya bingung dengan penjelasanku. Kelihatannya aku harus menceritakan semuanya dari awal. Aku mengambil ponselku dan menyalakan rekaman saat Azka masuk ke ruangan Davin dan duduk dibangku Davin.


"Oke, jadi begini, sejak gue lihat kalau Azka yang mengirim video itu, gue tau ada yang nggak beres. Gue cari tau latar belakang Azka dan lihat kalau Bu Mawar itu nyokapnya. Gue taruhan kalau Azka sengaja melindungi Bu Mawar dan gue menyusun rencana. Gue juga taruhan kalau gue mendekati Azka, Bu Mawar pasti akan mengikuti gue. Kalian tentu tau pekerjaan gue, meretas sistem sekolah agar semua CCTV bisa mengarah ke atap adalah pekerjaan mudah. Bu Mawar mengira kalau dia bisa mematikan CCTV padahal sejak awal CCTV itu nggak pernah mati karena gue yang mengendalikan dari jauh.


"Sebelum sampai ke sekolah, gue telepon Caesar. Gue butuh bantuan dia untuk masuk ke ruang sistem dan aktifin sistem speaker sekolah. Setelah itu, gue tinggal mengaktifkan speaker yang ada dihandphonenya Mawar dan pekerjaan selesai. Gue nggak menyangka kalau tebakan gue tentang Mawar tepat. Yang nggak gue sangka, dia akan coba bunuh diri. Untung sebelumnya gue udah minta Caesar untuk menelepon polisi. Lalu polisi datang dan cerita selesai."


Mereka semua menatapku. Daisy dan Stella ternganga mendengar ceritaku itu.


"Kamu tau nggak? Aku dengar cerita kamu ini dan berpikir meretas sebuah sistem kedengarannya gampang banget," ujar Daisy. Aku tersenyum saat melihat Stella mengangguk setuju.


"Gue nggak nyangka saat Bu Mawar bilang kalau dia yang mendorong Freya dari atap itu. Padahal selama ini gue kira dia orang yang baik karena mau mendengar curhatan gue. Gue sama sekali nggak nyangka. Karena dia, gue berbuat hal terbodoh yang gue lakuin... ini semua karena dia..." Stella terisak namun dia segera menghapus air matanya. Stella tersenyum padaku dan juga pada orang tuaku. "Maafin saya, Om, Tante, Flo... atas semua perbuatan yang saya lakukan pada Freya dulu. Harusnya saya tetap disamping dia saat itu. Kalau aja saya tidak menjauhi Freya, mungkin saat ini Freya masih hidup."


Ini pertama kalinya aku mendengar kata maaf dari Stella untuk orang tuaku. Saat melihat itu, entah kenapa aku merasa sangat lega. Aku merasa, Freya pasti melihat ini semua dan berkata satu hal yang pernah dia katakan padaku.


"Masa lalu nggak bisa diubah, yang lalu biarlah berlalu," bisikku pelan. Ibuku menatapku saat aku mengucapkan hal itu lalu tersenyum padaku.


"Freya selalu mengatakan itu," ujar beliau padaku. Aku hanya mengangguk. "Stella, bagaimanapun kamu adalah sahabat Freya. Tante senang karena Freya pernah punya sahabat seperti kamu..." Ibuku terdiam. Tangannya terlihat meremas tangan ayahku. "Freya pasti akan marah pada Tante kalau tidak mau memaafkan kamu."


Stella terdiam. Matanya terlihat seperti berharap akan sesuatu.


"Kamu diberi kesempatan untuk menjadi teman bagi kakak Freya, kamu mau menjadi teman Flo?" tanya ibuku.


Mata Stella terlihat berkaca-kaca dan dia langsung mengangguk. Aku tersenyum pada mereka berdua. Keluarga dan teman-temanku tengah berbicara dan sesekali tertawa.


Dan tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk bahuku.


Saat aku menengokkan kepalaku, tidak ada siapapun disana. Daisy dan Stella berada disampingku, Caesar duduk disamping Brenda sedangkan ayah dan ibuku duduk berdampingan di depanku. Saat aku kembali menatap ibuku, aku merasa ada sesuatu yang hangat menjalari bahuku. Aku tahu, ini adalah kebiasaan Freya. Dia pasti akan memelukku dari belakang, berusaha mengagetkanku jika aku baru pulang kerja. Aku selalu menengokkan kepalaku dan melihat Freya terkekeh senang saat melihatku.


Aku tidak tahu apa aku sedang bermimpi atau tidak. Tapi aku seperti melihat bayangan Freya saat aku menengokkan kepalaku untuk kedua kalinya. Dia tersenyum padaku sambil mengecup pipiku.


"Makasih, Kak. Freya sayang kakak."


Mungkin aku sudah gila saat mendengar ucapan itu. Terlebih saat bayangan Freya menghilang dari pandanganku. Tanpa kusadari, aku menangis. Bukan tangisan sedih. Aku bahagia.


"Flo, kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Daisy. Aku menatapnya sambil tersenyum, meskipun aku masih menangis.


"Bukan apa-apa. Gue cuma bahagia karena misi gue berhasil," jawabku lalu menghapus air mataku. Aku mengerutkan keningku saat melihat Brenda menggeleng.


"Belum. Misi kamu belum berakhir," ujar Brenda. "Scott kasih kamu waktu enam puluh jam untuk kembali ke Amerika. Kalau kamu nggak kembali, visa istimewa kamu batal. Bye bye US."


Aku langsung bangkit dari dudukku dan menyadari ucapan Brenda. Aku menatap Brenda dengan terkejut sekaligus panik. "Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanyaku dengan kesal.


"Aku baru ketemu kamu sekarang," jawab Brenda. Nadanya terdengar tidak bersalah sama sekali. "Nggak usah cemas. Koper kamu udah sampai di Amerika. Aku udah beli tiket kembali ke Amerika yang berangkat tiga jam lagi."


"Proses hukumnya?" tanyaku.


"Phillip udah urus semua. You're free to go," kata Brenda.


Aku terdiam. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Sebenarnya aku belum mau berpisah dengan teman-temanku. Masih banyak yang ingin lakukan dengan mereka. Tapi aku masih memiliki kehidupan sebagai Florentia Abdi Kusuma.


"Sekarang kan beda. Kita semua akan antar lo ke bandara. Kalau liburan, gue pasti akan ngunjungin lo disana," ujar Stella yang membuat kepalaku terangkat.


"Stella benar. Memangnya lo mau putusin pertemanan kita?" tanya Caesar dan aku langsung menggeleng. "Apa kita beda delapan tahun dari lo makanya lo nggak mau temenan sama kita?" Aku kembali menggeleng. "Ya udah. Kalau begitu apa masalahnya? Tenang, Flo, masih ada Skype, pasti kita bisa hubungan."


Aku tidak tahu harus bicara apa.

__ADS_1


"Meskipun kamu kembali sebagai Florentia Abdi Kusuma, bagi kami kamu itu tetap Florence Ferdinand," ujar Daisy yang sukses membuat mataku berkaca-kaca. Tanpa sadar, aku memeluk Daisy dan Stella bersamaan sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.


__ADS_2