FLO!

FLO!
Bag. 18


__ADS_3

Setiap hari Azka selalu mengikutiku. Aneh, aku jadi merasa seperti punya bayangan. Dia selalu muncul padahal gedung kami berbeda. Berada di kelasku, dikantin sekolahku, bahkan mengikuti ekskul komputer yang sebenarnya tidak boleh lagi dia lakukan karena dia kelas tiga. Dia selalu merayuku untuk menjadi temannya. Dan tentunya aku tidak termakan setiap rayuannya! Aku justru semakin benci padanya! Inikah kelakuan mantan pacar Freya? Inikah yang dia lakukan saat Freya mengatakan kalau Freya masih mencintai cowok brengsek ini?


"Lho? Kemana bayangan kamu?" tanya Davin tanpa menyapaku yang menyadarkanku dari lamunanku. Saat ini memang ekskul komputer dan aku yang pertama datang ke tempat ini karena aku memang menghindari Azka.


Aku memelototi Davin dengan kesal. "Tolong deh, Pak. Saya berhasil kabur dari dia jadi tolong jangan ingatkan lagi!" desisku. Davin tersenyum.


"Bukannya kamu seharusnya bangga karena seorang hero disekolah mengejar-ngejar kamu?" godanya yang membuatku semakin memelototinya. Dia mengangkat tangannya sambil tersenyum. "Oke, saya minta maaf. Tapi kenapa kamu tidak menggunakan kesempatan ini untuk mencari tau tentang Azka? Kamu bisa bertanya pada dia mengenai Freya."


Itu memang sudah aku pikirkan sebelumnya dan sudah kulakukan. Tapi masalahnya saat aku membicarakan Freya, Azka pasti langsung mengalihkan pembicaraan, seakan dia tidak mau berbicara mengenai Freya. Bukan hanya itu, kadang aku melihat dia selalu menatap atap dari lantai bawah, seperti sedang mencari seseorang di atap itu. Perhatianku teralih saat mendengar suara langkah yang sangat aku kenali itu. Aku langsung berlari menuju meja Davin menyembunyikan tubuhku di bawah meja itu.


"Jangan bilang dia kalau saya ada disini," pintaku pada Davin.


Awalnya Davin bingung, apalagi saat aku memaksakan diriku masuk ke dalam kolong meja itu. Dia bahkan menatapku seakan aku orang gila. Namun dia mengerti saat pintu terbuka dan seseorang yang aku hindari muncul di pintu itu.


"Bapak lihat Flo?" tanya Azka. Davin menggeleng.


"Tidak. Biasanya kamu bareng dia," balas Davin.


"Dia pergi duluan, Pak. Kata teman sekelasnya, dia pergi. Saya kira dia ke sini."


"Mungkin dia sudah pulang," jawab Davin sambil mengangkat kedua bahunya. "Kamu mau ikut ekskul?" tanyanya yang membuatku memelototinya. Maksudnya, aku harus berada dibawah sini sampai jam ekskul berakhir kalau dia ikut ekskul?


"Nggak, Pak. Kalau nggak ada Flo saya nggak mau ikut," jawab Azka yang membuatku menghela nafas lega. Azka pamit namun Davin menahannya.


"Kamu serius mengenai Flo?" tanya Davin yang membuat kedua alisku naik.


"Maksud, Bapak?" balas Azka.


"Dengar, Azka, jangan memaksakan perasaan orang lain untuk menyukai kamu. Apa kamu kira dengan mengejar Flo setiap saat membuat dia luluh? Bagaimana kalau misalnya dia malah jadi tidak nyaman dengan kamu?"


"Bapak cemburu? Menurut gosip, kalian berdua dekat banget bahkan ada gosip kalau kalian pacaran," tanya Azka yang hampir saja membuatku cegukan. Aku menatap Davin tapi sayang Davin tidak menatapku. Dia malah menatap Azka tanpa ekspresi.


"Sudah selesai dengan tuduhan kamu itu?" tanya Davin dingin. Aku tidak bisa mendengar jawaban ataupun melihat ekspresi Azka. Yang aku dengan malah suara pintu yang terbuka dan langkah kaki Azka yang menjauh.


Aku tidak tahu harus berkata apa ataupun melakukan apa. Aku bahkan lupa kalau aku masih berada di kolong meja. Ini semua karena pertanyaan Azka tadi mengganggu pikiranku. Davin tidak membantah ataupun menyetujui tuduhan itu.


"Mau sampai kapan kamu di bawah situ?" tanya Davin yang menyadarkanku dari lamunanku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya. Ya Tuhan, kenapa aku bisa begitu cinta pada pria yang tidak aku kenali ini?


Davin memundurkan kursinya agar aku bisa keluar. Aku merangkak saat keluar dari kolong meja dan saat aku mencoba berdiri, aku merasa kakiku kesemutan. Aku menggapai apapun yang bisa kugapai agar menyeimbangkan tubuhku. Dan aku baru sadar kalau aku menggapai bahu Davin saat aku mengangkat kepalaku.


"Maaf, Pak," ujarku tanpa sadar dan langsung melepaskan tanganku. Tapi aku terlalu cepat melepaskan tanganku karena kakiku yang masih kesemutan itu membuat tubuhku oleng. Davin langsung menarikku agar aku tidak jatuh dan sialnya, aku malah duduk dipangkuannya.


Sesaat, aku merasa tubuhku membeku. Wajahku dan wajahnya begitu dekat. Rasanya seperti saat aku di Bali waktu itu, saat dia menciumku. Memoriku kembali saat bibirnya yang lembut itu menciumku. Kembali ke saat ini, dia juga sama membekunya sepertiku. Perhatian kami teralih saat pintu terbuka. Stella menatap kami dengan aneh. Secara refleks aku langsung bangkit dari pangkuan Davin.


"Saya nggak ganggu sesuatu, kan?" tanya Stella sambil menatap kami bergantian. Bukannya menjawab, Davin malah tersenyum.


Aku kembali ke bangkuku dan aku merasa kalau Stella menatapku sambil menyipitkan matanya. Biasanya Stella selalu duduk agak jauh dari bangkuku dan hari ini dia malah duduk disampingku sambil sesekali melirikku. Saat Davin memberikan penjelasan, aku merasa kalau Stella semakin sering melirikku. Akhirnya karena kesal, saat ekskul selesai, aku menarik lengannya sebelum keluar gerbang sekolah.

__ADS_1


"Oke, ada yang mau lo omongin?" tanyaku dengan kesal. Stella menatapku sambil menyipitkan matanya.


"Lo pacaran sama Pak Davin tapi lo kasih harapan ke Azka. Mau lo apa, sih?" tanya Stella dengan sengit. Aku mengerutkan keningku.


"Gue nggak pacaran sama Pak Davin!" desisku. Tapi Stella kelihatan tidak percaya.


"Terus yang gue lihat tadi itu apa? Mana ada orang pangku-pangkuan kalau nggak punya hubungan?" balasnya dengan lebih sengit lagi.


"Tadi itu dia bantuin gue waktu mau jatuh!"


"Alasan klise!" ujar Stella sambil memutar bola matanya. "Lo nggak kasian sama Azka? Dia kejar lo siang-malam tapi lo malah asyik mesra-mesraan sama Pak Davin."


Aku menatapnya. "Lo beneran suka sama Azka?" tebakku. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan malah menatap tanah.


"Ini nggak ada hubungannya sama perasaan gue!"


"Jelas ada. Kasih tau gue kenapa lo bisa suka sama Azka atau gue akan tetap biarin dia kejar gue. Pilih mana?" tantangku dan dia langsung menatapku seakan ingin membunuhku.


"Lo sama aja kayak Freya! Dia juga bilang hal yang sama tapi ujung-ujungnya dia ambil Azka juga dari gue!"


Aku mengerutkan keningku. Aneh. Semua ini semakin membuatku bingung. Apa hubungan semua ini dengan adikku?


"Dia bilang dia janji akan comblangin gue ke Azka tapi malah dia yang jatuh cinta sama Azka! Gue yang suka Azka lebih dulu tapi dia malah jatuh cinta sama Freya!"


Jatuh cinta? Tunggu sebentar! Itu tidak ada dalam diary Freya yang mengatakan kalau Azka jatuh cinta pada Freya.


"Dia sendiri yang bilang kalau cuma Freya cewek yang diciptakan buat dia! Dia terima program pertukaran pelajar karena Freya putus dari dia! Puas lo!?" Tiba-tiba Stella terisak. "Dia bilang dia sahabat gue. Dia bilang kita bertiga nggak terpisahkan. Tapi pada akhirnya Caesar benci gue dan Freya nusuk gue dari belakang!"


Tiba-tiba mataku terbuka. Stella-lah orang yang dimaksud Freya. Orang yang tidak ingin dibuat sakit hati oleh Freya adalah Stella. Dan karena merasa Freya sudah mengkhianatinya, Stella menjauhi Freya bahkan mem-bully Freya. Tubuhku tersentak ke belakang.


"Jadi itu sebabnya lo... bully Freya?" tanyaku padahal aku sudah tahu jawabannya. Stella menatapku dengan aneh.


"Gue nggak bully dia! Gue cuma kasih pelajaran ke dia!"


Mataku mengilat karena amarah. "Apa bedanya? Karena lo, dia menderita! Karena lo, dia berpura-pura tegar! Karena lo, dia... memilih buat bunuh diri..."


Wajah Stella terlihat pucat saat aku mengucapkan kata-kata bunuh diri. Dia menatapku dan aku bisa melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang menyayat hatinya saat aku mengucapkan dua kata itu. Dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang berlari menjauhiku. Aku semakin tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa sebenarnya peran antagonis di hidup Freya?


...***...


Aku memejamkan mataku namun aku tidak mau tidur. Aku mengganti posisiku, mungkin sampai puluhan kali tapi aku tidak bisa tidur. Saat melihat jam, sudah jam tiga pagi. Hebat! Aku tidak tidur semalaman penuh! Aku bahkan tidak bisa menggunakan otakku untuk bekerja. Dan karena kesal, aku menyibakkan selimutku dan bangkit dari tidurku. Aku berjalan menuju dapur, berniat membuat kopi karena aku tahu aku tidak mungkin tidur, tapi aku mengerutkan keningku saat melihat lampu dapur yang menyala. Siapa yang ada di dapur dipagi buta seperti ini? Maling?


Aku menggapai tongkat golf milik Papa yang tidak jauh dari tempatku berdiri dan berjingkat menuju dapur. Aku baru saja akan memukul orang yang sedang berada di balik kulkas kalau saja aku tidak melihat pemilik wajah itu.


"Mama! Flo kira maling!" ujarku sambil menurunkan tongkat golf yang ada ditanganku. Ibuku menatapku dan tongkat golf yang ada ditanganku bergantian.


"Kamu mau pukul Mama pakai itu?" tanya ibuku tidak percaya. Aku hanya menyeringai lalu membalikkan tubuhku dan mengembalikan tongkat itu ke tempatnya semula lalu kembali ke dapur. Aku tersenyum saat melihat ibuku menuangkan kopi ke cangkir dan menggeser cangkir itu ke depanku.

__ADS_1


"Kok kamu sudah bangun, Sayang?" tanya ibuku lembut. Aku tidak menjawab. Mama tidak tau aja kalau semalaman aku tidak tidur! "Ekspresi kamu keliatan sedih, kamu mau cerita ke Mama?"


Aku menggeleng lemah tapi ibuku malah menggapai tanganku dan meremasnya lembut.


"Kamu selalu seperti ini. Selalu menelan semua masalah kamu, tidak memperlihatkannya pada orang lain dan berpura-pura kalau semua baik-baik saja," kata ibuku lembut yang membuat kepalaku terangkat. "Mama tau sejak Freya lahir, kamu menjauhi kami. Seakan-akan kalau kasih sayang kami akan beralih pada Freya. Di depan Mama, kamu kelihatan bahagia padahal Mama tau kamu suka menangis sendirian. Mama memberikan kamu ruang untuk berpikir tapi kamu malah semakin menjauhi Mama."


Aku menundukkan kepalaku dan terdiam.


"Semakin lama, Mama merasa kamu semakin menjauhi keluarga ini. Kamu memilih bersekolah di Amerika, kuliah disana bahkan bekerja disana. Saat Mama minta kamu pulang, untuk mengunjungi Mama, kamu selalu memiliki sejuta alasan. Mama baru bisa bertemu kamu kalau Mama yang mengunjungi kamu. Dan semakin lama, Mama merasa seperti kamu mendorong Mama untuk menjauhi kamu."


"Aku kira itu keinginan Mama..."


"Pikiran kamu salah, Sayang. Berapa kali Mama harus bilang kalau kamu adalah putri Mama juga?"


Ada sesuatu yang menyakitkan dadaku saat Mama berkata seperti itu. Semua perasaan sakit hatiku saat membohongi Mama semakin menyakitkan. Aku menggigit bibir bawahku. Apa aku harus berhenti disini? Tapi aku baru menemukan sedikit jawaban. Aku belum tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Freya. Aku menatap ibuku dan balas menggenggam tangannya.


"Saat semua ini selesai, Mama mau ikut aku ke Amerika? Bukan cuma Mama tapi juga Papa. Aku akan beli rumah buat kita dan kita bertiga akan tinggal disana. Kita akan meninggalkan semua ini dibelakang dan memulai hidup baru. Gimana?" tawarku. Mama menatapku.


"Bagaimana dengan pekerjaan Papa?"


Aku tersenyum. "Ini saatnya Papa pensiun. Papa bisa jual bisnisnya ke orang lain dan mulai menikmati hidup. Dengan semua gaji Papa selama ini, aku yakin kita nggak akan hidup kekurangan disana. Apalagi gaji aku selama ini nggak pernah aku sentuh. Kita akan mulai awal yang baru disana. Gimana?"


Ibuku terdiam. Dia seperti sedang berpikir.


"Aku nggak bisa menerima jawaban 'tidak'. Kalau semua ini selesai, aku nggak akan kembali ke Indonesia. Terlalu menyakitkan kembali ke sini dengan semua kenangan akan Freya." Aku bangkit dari dudukku. "Coba Mama rundingkan ke Papa lebih dulu baru kalian kasih jawaban ke aku. Waktu aku cuma tinggal dua bulan lagi. Mama pikirin baik-baik, ya?"


...***...


Hari ini Stella tidak masuk. Sakit, itu alasannya. Aneh. Jumat yang lalu dia baik-baik saja. Lalu hari selanjutnya, Stella kembali belum menunjukkan batang hidungnya. Aku semakin cemas. Perasaanku tidak enak. Seharusnya hari itu aku tidak meninggalkannya. Aku merasa seperti melihat kejadian Freya dikepalaku. Kenapa aku merasa bersalah? Dia yang membuat adikku menderita. Kenapa aku merasa kalau aku ingin memaafkannya?


Aku menggeram kesal dan melempar tasku ke tempat tidur dengan asal. Padahal ini UKS tapi aku merasa seperti aku berada dirumahku sendiri. Aku merutuki semua hal, termasuk Brenda yang belum datang menjemputku. Perhatianku teralih saat mendengar pintu terbuka dan melihat Mawar masuk sambil membawa secangkir teh.


"Flo? Kamu kenapa disini? Kamu sakit?" tanyanya dengan cemas. Aku menggeleng.


"Saya lagi nunggu ibu saya jemput, Bu," jawabku. Dia kelihatan lega dan duduk dibangkunya.


"Kamu mau teh?" tawarnya dan aku menggeleng. "Kamu keliatan kalut. Ada yang mengganggu kamu?"


Aku menatapnya. Dia seakan bisa membaca pikiranku. "Gimana perasaan Ibu kalau kenyataan ternyata tidak sebaik apa yang ada dipikiran Ibu?" tanyaku tanpa sadar.


Mawar menatapku sambil memiringkan kepalanya. "Maksud kamu?"


Aku menggeleng lemah dan menutup mataku. "Bukan apa-apa, Bu." Aku bangkit dari dudukku dan menyematkan tas punggungku. Aku membuka pintu ruang UKS namun aku membalikkan tubuhku saat mendengar ucapan Mawar.


"Terima setiap kenyataan yang ada di depan kamu. Meskipun itu bukan keinginan kamu, setidaknya saat kamu menerimanya, kamu akan merasa jauh lebih baik."


Mawar tersenyum begitu lembut padaku yang membuatku jadi merasa jauh lebih tenang. Aku berterima kasih padanya sambil tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu. Aku menutup mataku sambil memegang kenop pintu. Menerima kenyataan? Aku tidak pernah bisa menerima kenyataan. Mulai dari aku yang hanya seorang anak angkat, adik kesayanganku meninggal bahkan aku yang mulai menyadari betapa menyedihkannya hidupku. Bagaimanacaraku menerima itu semua?

__ADS_1


Perhatianku teralih saat ponselku bergetar. Hanya Brenda yang mengirimkan pesan kalau dia sudah sampai di depan gerbang sekolahku. Aku menghembuskan nafas panjang. Kelihatannya aku harus belajar menerima keadaan. Baiklah. Mulai dari mendatangi si biang kerok Stella.


__ADS_2