
Semester genap dimulai dan aku mulai merasa kesal. Aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun, bahkan sedikitpun tidak. Aku tidak bisa mendekati Caesar karena dia tidak mau berdekatan denganku seakan-akan aku memiliki penyakit menular. Informasi yang aku dapat mengenai Collin tidak sebanyak yang aku perkirakan sebelumnya. Meskipun Braxton masih kadang membantuku dengan mencari informasi, tapi tetap saja tidak terlalu banyak karena dia masih memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih penting. Aku juga tidak bisa membalas perlakuan Stella pada adikku karena entah kenapa aku seperti merasa lemah. Aku tidak tega saat aku menyadari kenapa dia bisa sekejam itu. Dia hanya anak yang kurang perhatian orang tua dan mencari masalah adalah satu-satunya cara agar menarik perhatian orang tuanya. Tapi mem-bully adikku bukan jawabannya.
Aku membuka pintu ruang kelasku dan menyadari kalau seluruh mata dikelas itu menatapku. Aku mengerutkan keningku saat melihat Daisy tersenyum begitu lebar padaku. Saat aku melewati salah satu temanku, mereka menatapku sambil menyipitkan matanya. Aku meletakkan tas di mejaku lalu duduk di bangkuku. Daisy mendatangiku sambil menyenderkan tubuhnya ke mejaku.
"Katanya ada yang kencan sama Pak Davin di atap, ya?" goda Daisy. Aku menaikkan alisku. Dari mana dia tau? "Pak Satpam cerita kalau kalian makan pizza di atap."
Aku awalnya mengerutkan keningku, berusaha mencerna ucapannya. "Iya, gue makan pizza tapi itu bayaran atas bantuan gue," jawabku.
Daisy menatapku. "Maksudnya?"
"Gue bantuin dia sesuatu dan bayarannya pizza itu. Gimana bisa kencan padahal kita cuma makan di atap? Kencan itu nonton, dinner, jalan-jalan dan lain-lain. Makan pizza di atap sekolah bukan termasuk kencan."
"Tapi gosipnya bukan kayak begitu."
"Gosip?"
"Iya. Katanya kamu pulang lebih cepat dari Amerika karena mau ketemu Pak Davin."
Aku tidak bisa menahan tawaku. Gosip yang menyebar benar-benar tidak masuk akal. Astaga! Andai aku bisa berteriak kalau sebenarnya aku tidak pernah kembali ke Amerika. Selama liburan, aku berada di Indonesia! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku yang tidak berniat menjelaskan apapun pada Daisy hanya diam dan mengambil laptop dari dalam tasku.
"Gosip ini udah sampai kantor guru, loh. Katanya Pak Davin bakalan dipanggil ke ruang kepala sekolah," ujar Daisy yang membuatku mengangkat kepalaku dan menatapnya.
"Kenapa? Ya Tuhan, cuma karena makan pizza di atap?" tanyaku yang seperti memekik itu. Aneh sekali peraturan sekolah ini. Perhatianku teralih saat mendengar namaku dipanggil melalui pengeras suara sekolah yang memintaku untuk datang ke ruang kepala sekolah. Aku menutup mataku sambil mengutuk pelan.
"Jelasin aja apa yang sebenarnya terjadi. Kalian nggak punya hubungan apa-apa dan kalian cuma makan pizza di atap kayak yang kamu bilang," usul Daisy.
Aku bangkit dari dudukku sambil menenteng tasku. "Oh, gue nggak sabar bilang ke kepala sekolah kalau gue cinta mati sama Pak Davin sampai rela kawin lari sama dia!" dengusku dengan kesal yang membuat semua mata dikelas menatapku.
Beberapa dari temanku terkikik saat mendengar ucapanku. Mereka bahkan menyemangatiku untuk berkata seperti itu di depan kepala sekolah. Sambil mendengus, aku meninggalkan ruang kelasku dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Aku mengetuk pintu yang ada di depanku dengan pelan lalu saat mendengar jawaban, aku membukanya. Aku menaikkan alisku saat melihat Davin tengah duduk di sofa yang ada di dekat meja kepala sekolah dan Pak Jaya, kepala sekolah SMA Insani, duduk diseberangnya. Aku mengerutkan keningku saat melihat Pak Yusron duduk disamping Davin sambil menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat.
"Duduk, Florence," kata PakJaya sambil menunjuk sofa. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Lebih baik aku berdiri daripada duduk disamping Yusron buncit itu.
"Saya berdiri saja, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil mengistirahatkan tanganku dibelakang tubuhku. Davin yang melihatku langsung menyipitkan matanya padaku sambil memberikanku isyarat padaku agar aku tidak sekaku itu. Aku mengangkat kedua bahuku tapi aku tetap melakukan perintahnya.
"Tentu kamu sudah dengar gosip yang menyebar, bukan? Jujur, itu agak meresahkan," kata Pak Jaya. Aku harus berterima kasih pada Daisy karena sudah memberitahuku lebih dulu mengenai gosip itu. Mungkin kalau tidak aku akan menatap Pak Jaya dengan bingung.
"Saya sudah bilang kalau Florence membantu saya dan saya hanya memberikan bayaran atas bantuannya. Itu saja," kata Davin dengan penuh keyakinan.
Meskipun jawabannya dan jawabanku sama, tapi tetap saja mendengarnya dari mulutnya langsung membuatku sakit hati. Aku kira aku istimewa dimatanya. Tapi ternyata dia masih menganggapku muridnya, tidak lebih.
"Saya melihat Pak Davin sering menghabiskan waktu berdua bersama Florence. Menurut saya itu agak kurang sopan, mengingat status kalian," kata Pak Yusron seakan sedang membubuhkan garam di luka yang menganga. Ingin sekali aku menendang perut buncitnya itu.
"Kamu tidak punya pembelaan diri, Florence?" tanya Pak Jaya dengan bijak.
"Aneh," ujarku pelan.
"Aneh?" tanya mereka bertiga bersamaan.
Aku berdeham. "Saat saya berada di Amerika, bercengkrama antara murid dan guru adalah hal yang lazim. Dulu guru saya bukan hanya membelikan saya pizza tapi juga kado ulang tahun. Saat saya terpaksa harus kembali ke Indonesia, guru saya bahkan memberikan saya kado lain."
"Jadi maksud kamu?" tanya Pak Yusron yang mulai bingung.
Aku mengerutkan keningku karena kesal dia memotong ucapanku. Tapi aku kembali berdeham untuk menutupi kekesalanku. "Dulu guru saya sering bilang kalau status guru-murid bukan status seperti antara raja dan rakyatnya dimana rakyat harus tunduk pada raja, tapi dia ingin status guru-murid seperti teman. Dia tidak ingin ada jarak antara guru dan murid. Bagaimanapun saya belum lama kembali ke Jakarta dan tindakan Pak Davin yang begitu ramah pada saya adalah hal yang paling saya hargai, tidak seperti guru lain yang hanya membuat saya naik darah." Aku sengaja menatap Yusron saat mengatakan itu, berharap agar dia menyadari sindiranku itu.
Pak Jaya menatapku tapi dia tersenyum. "Saya mengerti. Mungkin kamu masih merasa bingung dengan kebudayaan disini. Jadi saya hanya memberitahu kamu kalau bertemu dengan guru diluar jam sekolah adalah tindakan yang kurang baik," katanya.
"Jadi saya tidak boleh menghubungi Pak Davin kalau saya butuh bantuan? Bukannya menurut kebudayaan disini kalau guru adalah orang tua kedua disekolah?" tanyaku. Aku bisa melihat Davin menahan tawanya mendengar jawabanku.
"Bukan begitu, Florence..." Pak Jaya mulai kehilangan kata-kata.
Aku menatapnya sambil mengerutkan keningku. "Saya jadi semakin tidak mengerti dengan kebudayaan Indonesia. Kata ibu saya, Indonesia adalah negara ramah yang menjunjung tinggi kesopanan dan keramahan, tapi sejak saya datang ke sini, saya tidak pernah merasakan apa yang namanya kesopanan apalagi keramahan. Bagaimana Indonesia mau maju kalau saya yang masih memiliki darah Indonesia saya tidak dihargai? Bagaimana dengan orang asing lainnya? Bagaimana kalau misalnya saya berkata pada teman-teman saya di Amerika seperti apa sekolah di Indonesia? Saya jadi menyesal datang untuk bersekolah disini. Padahal menurut yang saya baca di internet, sekolah ini termasuk sekolah favorit. Ternyata..."
Baik Pak Jaya maupun Yusron kelihatan tidak bisa berkata-kata mendengar ucapanku itu. Sekilas, aku melihat bahu dan punggung Davin bergetar. Dia seperti sedang menahan tawanya. Ingin sekali aku melemparnya dengan sesuatu. Dia bukannya membelaku malah hanya berusaha menahan tawanya disana. Perhatianku kembali terfokus pada Pak Jaya saat dia berdeham dan memanggilku.
__ADS_1
"Baik, Florence, saya mengerti. Saya minta maaf atas kesalah pahaman ini. Saya hanya meminta agar kamu sedikit mengurangi waktu berduaan dengan Pak Davin. Mengerti?" tanya Pak Jaya dan aku tersenyum manis sambil mengangguk.
"Jadi saya sudah boleh kembali ke kelas?" tanyaku setengah berharap. Aku sudah muak melihat wajah Yusron.
"Sudah. Pak Davin juga. Sekali lagi Bapak minta maaf atas kesalah pahaman ini," kata Pak Jaya dengan menyesal. Aku tersenyum dan mengangguk. Pak Jaya langsung menatap Yusron dengan tatapan lasernya. "Pak Yusron, bisa kita bicara sebentar?"
Aku tersenyum senang dan berjalan meninggalkan ruang guru. Aku tidak menyadari Davin mengikutiku dari belakang dan baru sadar kalau dia berjalan dibelakangku saat aku mendengar suara tawanya yang terbahak-bahak itu.
"Astaga... Sekarang saya bisa mengerti kenapa kamu bisa seterkenal itu diantara programmer. Keahlian kamu dalam meyakinkan seseorang benar-benar luar biasa. Tadi hampir saja saya menambahkan kata 'amin' dibelakangnya," katanya. Tapi aku hanya menatapnya. Aku masih sakit hati dengan ucapannya tadi.
"Itu pujian?" tanyaku tanpa ekspresi. Dia berdeham, seakan berusaha menutupi tawanya.
"Anggap saja begitu," jawab Davin. Aku memutar bola mataku dan berjalan meninggalkannya. Aku masih sakit hati dengan jawabannya tadi. Tiba-tiba bahuku ditarik dari belakang.
"Kamu kenapa? Saya berbuat sesuatu yang membuat kamu marah?" tanya Davin.
Aku menatapnya seakan tengah berkata 'Serius lo?'. "Menurut Bapak, apa yang membuat saya marah?"
"Karena gosip itu? Astaga, Flo, itu cuma gosip! Siapapun yang menyebarkannya cuma orang-orang kurang kerjaan."
Aku menggeram pelan. Kenapa para pria tidak bisa sensitif sedikit saja? "Ya udah. Anggap aja saya marah karena itu."
Davin menatapku sambil mengerutkan keningnya. "Kamu bukan marah karena itu?" tanyanya dan aku hanya diam. "Lalu karena apa?" Aku kembali diam, tidak menjawab. "Bagaimana saya bisa tau kalau kamu hanya diam? Kamu seperti anak SMA kalau seperti ini!"
Aku menatapnya sambil mendengus kesal. "Memang sekarang saya anak SMA!" desisku lalu berjalan meninggalkannya karena kesal.
Aku tidak peduli mau dia mengejarku atau tidak. Meskipun dalam hati aku berharap dia mengejarku dan bertanya apa yang sebenarnya membuatku marah padanya. Tapi kelihatannya harapanku itu tinggal harapan. Padahal aku sudah memelankan langkahku tapi tidak ada tangan yang menghentikanku. Sambil menggeram, aku kembali melangkahkan kakiku dengan cepat. Mungkin karena terlalu cepat dan pikiranku yang dipenuhi kekesalanku pada Davin membuatku tidak melihat kemana arahku berjalan. Tanpa sengaja, aku menabrak seseorang dengan lumayan keras. Aku mendesis.
"Lain kali kalau jalan, mata lihat ke depan!" desisku lalu kembali melangkahkan kakiku tanpa repot-repot melihat siapa yang aku tabrak.
"Bukannya harusnya gue yang bilang begitu?" tanya suara itu. Aku mengangkat kepalaku saat mendengar suara berat yang familiar itu. Aku menengokkan kepalaku dan melihat Azka tengah menatapku. Dia kelihatan mengerutkan keningnya. "Tunggu sebentar! Kayaknya gue kenal lo!" katanya.
Aku langsung berpura-pura membalikkan tubuhku. "Nggak," jawabku.
"Menurut gosip sih begitu," jawabku dengan enggan.
Dia tertawa kecil. "Lo beda banget kalau pakai seragam. Lebih cantik pakai baju lo yang kemarin. Nggak usah anggap serius pujian gue."
"Nggak, tapi terima kasih atas pujiannya," jawabku sambil tersenyum manis lalu menghilangkan senyuman itu dan berjalan meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa tanganku tertahan oleh sesuatu. Aku menurunkan pandanganku dan melihat kalau tangan Azka yang menahan lenganku. Aku menatapnya.
"Baru kali ini gue ketemu cewek yang cuek sama gue. Lo beneran pacaran sama Pak Davin?" tanyanya. Aku menatapnya sambil menyipitkan mataku. Dia menunggu jawabanku meskipun aku tidak berniat mengungkapkannya.
"Kok nggak jawab? Lo beneran pacaran sama Pak Davin, nggak?" tanya Azka lagi. Dan aku kembali tidak menjawab dan malah menarik lenganku dari cengkraman tangannya.
Aku tersenyum manis padanya. "Bukan urusan Kakak. Saya mau kembali ke kelas. Jadi permisi," ujarku lalu menghilangkan senyumanku.
Aku berjalan meninggalkannya dan menapaki tangga menuju ruang kelasku sambil menjulurkan lidahku. Menurut Brenda, hanya ada satu cara untuk membuat pria tampan bertekuk lutut. Buat seakan-akan kita tidak peduli padanya akan membuat ego mereka terluka. Mereka akan jadi penasaran dimana itu akan menjadi keuntungan bagi kita. Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum. Terima kasih banyak, Brenda. Kau luar biasa. Mungkin aku harus membelikan make-up baru untuknya karena sudah memberiku tips itu. Menurut data yang aku baca, Azka adalah playboy kelas kakap. Dia mengira kalau semua wanita akan menyukainya. Kita lihat saja, berapa lama waktu yang aku butuhkan agar dia mulai mengejarku.
...***...
Aku tidak menyangka kalau Azka seterkenal itu disekolah ini. Bayangkan, kedatangannya ke sekolah ini mengakibatkan kehebohan dikelasku. Beberapa dari gadis yang satu kelasku bahkan membubuhkan riasan ke wajah mereka. Ditambah lagi, Azka selalu menjadi bahan pembicaraan dikelasku. Apa saja yang dilakukan Azka begitu dipuji. Aku sampai heran. Padahal tugas murid memang kadang menyiram tanaman sekolah yang ada di depan ruang kelas mereka tapi saat Azka melakukannya mereka benar-benar memujinya seakan dia adalah orang suci.
Dan Stella masuk ke dalam kumpulan gadis-gadis itu. Aku bisa melihat kalau dia begitu menyukai Azka. Saat teman-temanku membicarakan Azka, Stella akan memelototi mereka dan menyuruh mereka untuk berhenti bicara tentang Azka seakan Azka adalah miliknya. Padahal menurut Daisy, Azka tidak memiliki perasaan apapun pada Stella hanya saja Stella yang terlalu percaya diri dan menganggap Azka juga menyukainya.
Perhatianku teralih saat mendengar namaku dipanggil. Aku yang awalnya sedang sibuk membuat program baru untuk perusahaanku terpaksa harus mengangkat kepalaku. Alisku terangkat saat menyadari siapa yang memanggilku itu. Azka! Dan dia berjalan ke tempatku duduk. Bukanhanya itu, hampir semua mata dikelas menatapku. Azka duduk di bangku yang ada di depanku sambil menatapku.
"Hai, lagi ngapain?" tanya Azka yang membuatku menaikkan alisku.
"Istirahat?" jawabku yang lebih menyerupai pertanyaan membingungkan itu. Dia tersenyum padaku.
"Gue juga tau kalau lagi jam istirahat. Maksud gue itu lo lagi ngapain?" tanyanya.
Astaga, dia mirip sekali dengan teman kerjaku yang centil itu. Aku hanya menatapnya sambil mengerutkan keningku. "Lagi duduk. Nggak lihat?"
__ADS_1
Azka terkekeh. "Lagi ngapain, sih? Kok kayaknya tadi serius banget?" tanyanya dan berusaha memutar laptopku tapi aku langsung menyambar laptopku dan memelototinya.
"Don't touch my stuff!" desisku sambil menutup laptopku dan memasukkannya ke dalam tas punggungku.
Dia menatapku sambil mengangkat kedua tangannya. "Weits, easy. Gue cuma mau lihat doang kok."
Aku menatapnya sambil menyipitkan mataku. "Setau saya, ini ruang kelas dua sedangkan ruang kelas tiga ada disana." Aku menunjuk gedung seberang kelasku.
Azka kembali terkekeh. "Gue tau kok. Gue juga tau kalau gue cuma pengen ketemu lo."
Aku menatapnya sekali lagi sambil menyipitkan mataku meskipun dalam hati aku tertawa gembira. Aku bukannya senang karena dia memperhatikanku. Aku senang, bahagia dan sukacita karena dia masuk dalam perangkapku. Oh, Brenda, I love you so much.
"Jadi gue harus terharu?" tanyaku dengan enggan. Aku kira dia akan merasa sakit hati dengan ucapanku tapi ternyata dia malah menyeringai lebar.
"Ternyata lo memang beda dari mereka. Mau nggak jadi teman gue?" tanya Azka. Akuhanya mengangkat kedua bahuku sambil tersenyum innocent.
"Ada keuntungannya buat gue kalau gue jadi teman lo?" tanyaku. Dia mengangkat kedua bahunya.
"Memangnya ada kerugiannya jadi musuh gue?"
Aku ikut mengangkat kedua bahuku.
Dia menatapku sambil menyipitkan matanya. "Gue yakin kita pernah ketemu. Gue pernah lihat muka lo sebelumnya tapi lupa dimana."
Aku kembali mengangkat kedua bahuku.
"Lo kenapa diam aja, sih?" tanyanya padaku dan nadanya terdengar kesal.
Bukannya menjawab, lagi-lagi aku mengangkat kedua bahuku. Perhatianku teralih saat seseorang memanggilku hingga membuat kepalaku terangkat. Caesar, berdiri disampingku, sambil memelototi Azka.
"Kita dipanggil Pak Davin," kata Caesar sambil tersenyum padaku namun saat menatap Azka, entah kenapa tatapannya berubah menjadi dingin.
"Buat apa?" tanyaku. Caesar menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya. Aku mengangguk padanya sambil berterima kasih padanya lalu menatap Azka. "Permisi ya, Kak," kataku pada Azka tanpa tersenyum lalu mengikuti Caesar berjalan keluar kelas.
Di depanku, Caesar berjalan dengan pelan. Anehnya, kami tidak pergi menuju ruang laboratorium komputer atau ruang guru. Saat aku bertanya, Caesar malah menarikku berjalan ke atap bersamanya. Dia baru melepaskan tangannya saat kami sudah sampai atap dan menutup pintunya.
"Kenapa lo bawa gue kesini? Bukannya kita mau ketemu Pak Davin?" tanyaku dengan bingung. Caesar malah tersenyum dan memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Gue bohong. Kita nggak mau ketemu siapapun," jawabnya sambil menyenderkan tubuhnya ke pagar pembatas atap. Aku mengerutkan keningku dan membalikkan tubuhku. Tapi aku merasa sebuah tangan menahanku. "Jangan terlalu dekat sama Azka."
Aku menatapnya. "Kenapa? Ada alasannya?"
"Lo ingat Freya?" tanyanya dan aku mengangguk. "Gue pernah lihat tatapan kayak begitu sebelumnya. Tatapan dia saat lihat Freya sebelum mereka pacaran."
"Lalu apa masalahnya?"
"Azka itu playboy, Flo. Dia nggak akan berhenti sampai cewek yang menolak dia bertekuk lutut dihadapan dia."
Kerutan di keningku semakin parah. "Gue makin nggak ngerti. Coba jelasin."
Caesar menghela nafas panjang lalu menggeram dan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dulu dia juga begitu sama Freya saat Freya nggak terlalu peduli sama dia. Dia perhatian sama Freya, kasih Freya hadiah dan semacamnya sampai bikin Freya bertekuk lutut sama dia. Dan saat tujuannya tercapai, dia buang Freya! Dia merasa Freya bukan tantangan lagi. Ngerti sekarang?"
"Terus kenapa lo ngomong ke gue tentang ini?"
"Gue juga nggak ngerti. Gue merasa kayak kita pernah ketemu sebelumnya. Gue kayak pernah melihat lo sebelumnya. Saat lihat lo memperkenalkan diri dikelas, gue merasa déjà-vu. Gue merasa kayak lihat Freya saat lihat lo."
Aku menelan ludahku. Apa penyamaranku terbongkar?
Dia tersenyum tipis. "Aneh. Padahal kalian nggak mirip. Sikap kalian berbeda seratus delapan puluh derajat tapi anehnya gue merasa kayak kalian mirip." Dia kembali berdeham. "Gue cuma memperingatkan lo sebagai teman. Gue nggak mau lihat cewek lain sakit hati karena perlakuan Azka."
Caesar berjalan meninggalkanku tapi aku menahannya dengan memanggil namanya. "Kenapa lo perhatian sama Freya? Lo sayang sama dia lebih dari teman?"
Dia terdiam namun tidak membalikkan tubuhnya. Dia malah menundukkan kepalanya. "Gue sayang sama dia. Tapi gue terlambat sadar saat dia udah nggak ada di dunia ini."
__ADS_1
Caesar meninggalkanku yang masih termangu dengan ucapannya barusan. Mataku terbelalak. Kelihatannya aku harus mengulang semua penyelidikanku. Aku merasa kalau Caesar terlibat sesuatu.