
Aku menatap Scott dengan termangu. Mataku masih melebar. Apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia tahu aku bisa ada disini? Dan kenapa dia bersama Brenda? Aku baru sadar kalau mobil yang dia naiki adalah mobilku yang selalu dikendarai oleh Brenda jika ingin menjemputku. Brenda menatapku sambil menggelengkan kepalanya dan wajahnya terlihat sama takutnya denganku.
"Sekarang kau jelaskan padaku apa yang kau lakukan disini?" tanya Scott lagi dalam bahasa Inggris yang lebih baik aku terjemahkan karena dia menambahkan umpatan kasarnya.
"Jangan disini," pintaku dengan lirih. Scott menatap teman-temanku sambil menaikkan alisnya. Aku rasa dia mengerti karena dia mengangguk padaku lalu masuk ke mobil.
"Siapa?" tanya Caesar dengan penasaran. Aku hanya tersenyum padanya.
"Kenapa muka lo pucat banget, Flo?" tanya Daisy dengan cemas. Dan aku kembali tersenyum padanya, juga pada Stella.
"Kayaknya acara nonton kita diundur dulu aja, ya?" kataku sambil berusaha tersenyum. Wajah mereka terlihat cemas saat menatapku namun aku berusaha menenangkan mereka dengan menepuk bahu Stella dan Daisy. "Gue duluan, ya?" ujarku lalu melambaikan tanganku.
Aku masuk ke dalam mobilku dan duduk tepat disamping Scott.
"Scott, aku—"
"Jangan disini. Aku tidak suka berbicara ditempat seperti ini!" potong Scott sebelum aku mampu menyelesaikan kata-kataku.
Aku mengangguk lemah. Saat melirik Brenda, dia menatapku melalui spion yang ada dimobil dan wajahnya sama takutnya denganku. Sambil menghela nafas panjang, aku mencengkram tanganku sendiri. Baiklah, sebentar lagi aku akan mati.
...***...
Scott menatapku dan Brenda bergantian. Dia duduk disofa yang ada di depanku dan wajahnya sama sekali tidak bisa kutebak. Aku tidak tahu apakah dia marah atau malah tertawa setelah mendengar ceritaku barusan. Aku memang bercerita padanya alasan kenapa aku menyamar menjadi anak SMA. Dia hanya melipat tangannya sambil menatapku dan sesekali mengerutkan keningnya. Setelah keheningan yang cukup lama membentang, akhirnya Scott membuka mulutnya.
"Lalu kau menemukan jawabanmu?" tanya Scott yang membuat kepalaku terangkat.
Aku menggeleng lemah. "Sedikitpun tidak," jawabku pelan.
"Lalu kau akan terus mencari jawabannya sampai kau berhasil menemukannya?" tanya Scott lagi dan aku kembali menggeleng.
"Aku hanya meminta cuti selama enam bulan. Aku akan kembali meskipun aku tidak mendapatkan jawabannya."
"Mendengar nadamu, aku mengambil kesimpulan kau sudah menyerah."
Aku menatapnya sambil mengerutkan keningku. Bagaimana dia tahu kalau aku sudah menyerah? Apa aku begitu mudah dibaca olehnya?
"Aku benar, bukan? Kau sudah menyerah?" tanya Scott yang membuatku kembali fokus. Aku mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau masih berada disini? Jika kau sudah menyerah, kau akan kembali bersamaku ke New York," kata Scott yang membuatku terbelalak.
"Tunggu! Aku belum si—"
"Kau kira aku akan mendengar alasan bodohmu itu?" potong Scott. Nadanya begitu dingin yang mampu membuat tubuhku langsung membeku. "Apa kau tahu kalau kau sedang melakukan tindakan penipuan? Bagaimana kalau ada yang membongkar jati dirimu dan kau masuk penjara?"
"Selama ini aku aman! Buktinya aku belum tertangkap!"
"Belum?" Scott bangkit dari duduknya dan menatapku dengan tatapan elangnya itu. Dia bahkan berteriak padaku! "KAU BILANG BELUM!?"
Tubuhku langsung tersentak ke belakang mendengar suara Scott. Ini pertama kalinya dia bersikap begitu keras padaku. Scott tampaknya menyadari ketakutanku. Meskipun matanya masih menatapku, dia kembali duduk disofanya.
"Aku datang ke sini dan kau bilang kalau kau belum tertangkap? Lalu kenapa gambar-gambar dan bukti-bukti penipuanmu bisa terkirim ke tempatku?" kata Scott dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.
Aku menatapnya. "Gambar? Gambar apa?" tanyaku.
Scott mengeluarkan ponselnya. Dia mencari sesuatu diponselnya dan menyerahkan ponsel itu padaku. "Ini dikirim melaui e-mail padaku dua hari yang lalu. Bukan hanya itu, orang ini memasukan semua bukti penipuanmu."
Aku membaca isi e-mail itu. Mataku melebar dan tanpa kusadari aku terkesiap. "Kalau aku tertangkap, Brenda, Braxton dan orang tuaku akan terseret dalam hal ini."
"Dan hak istimewamu untuk tinggal di Amerika akan dicabut. Kau tentu masih ingat syarat hak itu, bukan?"
"Aku tidak boleh tersangkut kasus hukum sekecil apapun."
"Tepat. Itu sebabnya aku berada disini. Kau akan kembali ke Amerika bersamaku secepat mungkin sebelum semua ini menyebar. Aku akan mengurus kepindahanmu."
"Tapi aku—"
"Tidak ada tapi, Flo! Sekarang atau aku sendiri yang menyeretmu kembali."
Aku menatapnya dengan tatapan bengis. Inilah yang membuatku mampu bekerja bersamanya selama hampir empat tahun. Aku mampu melawannya meskipun dia memiliki tempramen yang sangat buruk.
"Hanya istriku dan kau yang mampu menatapku seperti itu. Dan jika kau mengira aku akan menuruti permintaanmu untuk tinggal lebih lama disini, kau salah!" kata Scott. Aku bersumpah aku melihat dia tersenyum meskipun samar! "Aku sudah mengurus semuanya. Dalam dua hari, kau akan ikut denganku kembali ke Amerika."
Mataku terbelalak lebar. Apa? Dua hari? "Bagaimana dengan pengunduran diriku dari sekolah? Kau kira aku bisa pergi begitu saja?"
"Aku yang akan datang ke sekolahmu dan menjelaskan semuanya!"
"Kau mau membongkar penyamaranku!?"
"Tentu saja tidak, Bodoh! Aku hanya perlu mengatakan kalau aku adalah ayah kandungmu dan aku ingin agar kau bersamaku!"
Aku menatapnya seakan dia adalah orang gila. "Demi Tuhan, Scott. Kau berumur empat puluh tujuh tahun, mana mungkin kau menjadi ayahku!?"
"Kau yang demi Tuhan, Bodoh! Kau lupa kalau aku memiliki anak yang sudah berumur tujuh belas tahun? Memangnya kau mengatakan pada sekolahmu kalau kau berumur dua puluh lima tahun?"
Aku menatapnya dan mengerutkan keningku. "Tunggu! Kau akan berpura-pura menjadi ayahku? Apa kau tahu kalau rahasiaku terbongkar maka kau akan ikut terseret?"
"Justru aku datang agar rahasiamu aman. Sekarang kau persiapkan kepulanganmu. Aku sudah menyiapkan tiket pesawat dan kita akan kembali ke Amerika lusa nanti."
"Secepat itu?"
"Menurutku itu masih kurang cepat. Aku menahan emosiku untuk menyeretmu kembali saat aku melihatmu menggunakan seragam bodoh itu!"
Aku tersenyum padanya. "Bagaimana penampilanku saat melihatku menggunakan seragam ini?"
"Kau terlihat bodoh."
Aku menatapnya tidak terima. Dia ini tidak berubah sama sekali. Selalu tidak pernah mau memujiku. Perhatianku teralih saat melihat dia bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanyaku saat melihatnya menyematkan tasnya ke bahunya.
"Kembali ke hotelku. Kau kira aku mau tidur ditempat ini?" jawab Scott yang membuatku kesal.
Ayolah, apartemen ini tidak seburuk itu! Justru tempat ini amat sangat layak dihuni. Apalagi tempat ini apartemen eksklusif yang berada dipusat kota.
"Antarkan aku!" perintah Scott yang membuatku menatapnya heran.
"Kau seorang milyuner! Kau tentu bisa memesan taksi."
"Saat ini aku hanyalah orang biasa. Kau kira kenapa aku memesan tiket pesawat kalau aku bisa menggunakan pesawat jetku, Bodoh?"
Aku baru menyadari ucapannya. Dia benar. Tadi dia mengatakan kalau dia memesan tiket pesawat untukku padahal dia memiliki jet pribadi yang bisa membawanya kemanapun dia pergi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar... Kau merahasiakan kedatanganmu ke tempat ini?" tanyaku dengan horor. Scott adalah seorang milyuner dan dia memiliki banyak sekali bodyguard yang menjaganya.
"Kau kira karena siapa aku melakukannya? Mana mungkin aku datang ke tempat ini sebagai pendiri Pioneer Technosoft untuk menjemput salah satu karyawan gilanya?" tanya Scott dengan nada sarkastiknya yang biasa.
Aku terkesan. Tentu saja aku terkesan meskipun dia menjawab dengan nada sarkastiknya itu. Scott meninggalkan semua kesibukannya untuk datang ke tempat ini. Dia bahkan tidak membawa serta bodyguard-nya padahal karena statusnya yang seorang milyuner itu nyawanya bisa terancam sewaktu-waktu. Aku mengucapkan terima kasih pada Scott meskipun dia menatapku seakan aku mengucapkan hal gila padanya.
"Aku merasa kau berubah, Flo," kata Scott padaku saat aku mengendarai mobilku untuk mengantarkannya ke hotel yang sudah dipesan oleh Brenda.
"Apa?" tanyaku dengan penasaran.
"Kau menjadi lebih bodoh," kata Scott yang membuatku mendengus kesal. Aku kira dia akan memujiku. "Itu salah satunya, tapi ada yang lain. Kau menjadi jauh lebih... lembut."
Aku menatapnya sekilas lalu kembali pada jalan yang ada di depanku. "Aku tidak mengerti," kataku dengan jujur.
"Apa kau sedang jatuh cinta?"
Aku hampir saja menekan pedal rem kuat-kuat.
"Kau gila? Kau hampir membuat kita kecelakaan!" pekikku saat aku berhasil mengendalikan laju mobilku.
"Aku hanya bertanya!" balasnya. "Tunggu sebentar... aku benar, bukan? Kau sedang jatuh cinta pada seseorang, bukan? Demi Tuhan, jangan bilang salah satu teman sekelasmu."
Aku menggeleng. "Tidak."
"Tidak perlu berbohong, Flo. Kau kira sudah berapa lama aku mengenalmu?"
"Aku tidak jatuh cinta pada siapapun!"
"Ha! Sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu. Jadi siapa orangnya?"
"Bukan urusanmu. Lagipula setelah aku pergi dari tempat ini aku tidak mungkin bertemu dengannya lagi. Kami hidup di dunia yang berbeda."
Scott menatapku dengan aneh. "Memangnya dia hidup dimana? Neraka?" tanyanya yang membuatku balas menatapnya dengan aneh.
"Itu hanya kiasan, Bodoh."
"Kau kira aku tidak mengerti? Aku serius. Selama kau berada dibumi, kenapa kau merasa dia berada dunia yang berbeda? Jika kau memang berjodoh dengannya, dia bisa menemukanmu bahkan jika kau berada dibawah tanah sekalipun."
"Menurutmu begitu?"
"Memang menurutku begitu. Lihat aku dan Kirstie misalnya. Aku bertemu dengannya dikereta bawah tanah."
Dan disaat seperti itu, ingin rasanya aku melempar Scott dengan setir yang ada ditanganku.
...***...
Brenda mendatangiku dengan wajah cemasnya saat melihatku kembali sehabis mengantar Scott. Aku memang hanya mengantarkannya ke lobby karena takut ada yang menemukanku bersama dengan Scott.
"Gimana?" tanya Brenda. "Dia masih paksa kamu untuk kembali ke Amerika?"
"Itu udah final. Kamu dengar nadanya tadi. Kamu tau kalau itu artinya aku nggak boleh membantah, kan?" tanyaku sambil duduk disofa yang tadi diduduki oleh Scott.
"Kita benar-benar harus kembali ke Amerika?" tanya Brenda. Aku mengerutkan keningku. Brenda seperti tidak rela meninggalkan negara ini. Aku menatapnya dengan heran.
"Aku berhasil paksa dia untuk kasih aku waktu. Akhirnya dia kasih aku waktu kurang dari satu minggu. Kenapa? Kamu nggak mau kembali?" tanyaku.
Brenda langsung tertawa hambar. "Dan apa yang harus aku lakukan dinegara ini?" tanyanya.
Brenda terdiam sambil menatapku. Lumayan lama sebelum dia mengakuinya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu nggak mau kembali, aku nggak larang. Mungkin ini memang saatnya bagi kamu untuk bahagia, Brenda," ujarku dengan tulus. Brenda menatapku. Wajahnya kelihatan tidak percaya namun aku tersenyum padanya. Aku menarik tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.
"Kamu udah terlalu lama mengurus aku dan aku bersyukur karena kamu selalu ada disamping aku. Tapi aku nggak mau egois dan berpikir kalau kamu hanya untuk aku. Ini saatnya bagi kamu untuk menemukan kebahagiaan kamu sendiri. Lagipula aku lihat Phillip orangnya baik," ujarku sambil tersenyum menggoda.
"Tapi kamu nggak apa sendirian disana?" tanya Brenda dengan cemas.
"Aku hanya perlu mencari asisten baru, meskipun kamu asisten terbaik yang pernah aku punya. Nggak usah pikirin aku, Brenda. Saatnya kamu pikirin diri kamu sendiri."
"Tapi—"
"Please, aku nggak mau kamu nggak bahagia karena aku. Kamu orang paling berharga dalam hidup aku. Mungkin tanpa kamu, aku nggak akan sekuat ini. Dan ini saatnya buat aku membalas semua jasa-jasa kamu. Ini saatnya aku melepas kamu untuk bersama orang yang bisa bikin kamu bahagia."
"Tapi kamu juga bikin aku bahagia."
"Tapi nggak sebahagia saat kamu bersama Phillip. Please, Brenda, aku nggak mau kamu patah hati kayak aku. Nggak bisa bersama orang yang kamu cintai."
Brenda menatapku dengan kasihan namun aku tersenyum padanya. Dia membalas genggaman tanganku dan matanya berkaca-kaca.
"Aku janji akan menghubungi kamu sesering yang aku bisa," janji Brenda padaku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
"Saat semua ini selesai, kamu harus janji untuk cerita sejujurnya ke Phillip," ujarku. Dia tersenyum tipis.
"Tanpa aku ceritain pun dia juga udah tau."
Mataku melebar. "Dia tau siapa aku?"
"Awalnya dia cari tau tentang background aku dan dia tau kalau aku bukan ibu angkat siapapun. Karena penasaran, dia cari tau tentang kamu."
"Selama ini dia tau jati diri aku dan dia nggak melaporkannya pada siapapun?" tanyaku dengan tidak percaya.
Brenda tersenyum malu-malu padaku hingga aku menatapnya dengan heran. "Dia punya alasan. Dia takut kalau dia bongkar rahasia kamu, aku harus meninggalkan negara ini. Makanya dia menahan semua rahasia kamu karena nggak mau lihat aku pergi."
Aku menatap Brenda dan tertawa terbahak-bahak. Astaga, aku tidak menyangka kalau Phillip benar-benar jatuh cinta pada Brenda sampai rela menahan rahasiaku karena tidak ingin Brenda pergi. Luar biasa.
"Ngomongin tentang rahasia, sebenarnya siapa yang mengirim e-mail ke Scott?" tanya Brenda yang menarikku dari lamunanku.
"Karena mau mencari tau makanya aku pinjam laptop Scott. Aku akan menelusuri alamat IP pengirim e-mail ini dan mencari tau siapa pengirimnya," ujarku sambil menunjuk tas hitam yang berisi laptop milik Scott.
"Kapan mau kamu cari tau?"
"Mungkin nanti malam. Banyak yang harus aku siapin untuk kepulangan aku ke Amerika. Orang tua aku contohnya."
"Ah, aku lupa kalau kamu belum bilang ke orang tua kamu kalau Scott kesini."
"Lebih baik nggak usah cerita bagian itu. Lebih baik aku bilang kalau pekerjaan aku disini dipercepat dan aku harus balik ke Amerika secepat yang aku bisa."
"Bohong lagi?"
Aku mengangkat kedua bahuku. "Apa lagi yang bisa aku lakuin? Toh sebentar lagi semua ini bakalan selesai."
"Gimana dengan Davin? Kamu siap ninggalin dia?"
__ADS_1
Aku hanya bisa menghembuskan nafasku panjang sambil mengangkat kedua bahuku.
...***...
Orang tuaku terkejut saat mendengar kalau aku akan kembali ke Amerika minggu depan. Mereka kira kalau kepergianku masih sebulan lagi. Namun aku berkata pada ibuku kalau aku sudah dipanggil bosku untuk kembali. Untunglah ibuku percaya, namun tidak dengan ayahku. Dia bahkan memanggilku ke ruangan kerjanya. Merasa karena hanya berdua, akhirnya aku mengungkapkan hal yang sejujurnya pada ayahku.
Awalnya ayahku kaget saat mendengar Scott datang ke negara ini namun dia mengerti. Dia setuju dengan Scott dan memintaku agar ikut dengan Scott kembali ke Amerika. Aku memang kecewa pada keputusan ayahku namun aku tidak menunjukkannya. Aku mengira ayahku tidak akan setuju sehingga aku memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Sepertinya aku harus menelan harapanku itu.
Setelah bicara panjang lebar dengan ayahku, aku kembali ke kamarku dan mulai mencari tahu siapa pengirim e-mail sialan itu. Aku melacak alamat IP pengirim e-mail itu. Mataku melebar saat melihat dari komputer mana e-mail itu dikirim.
Tidak mungkin!
Dia yang mengirim e-mail ini. Dia membuat akun e-mail baru dan memakai akun itu untuk mengirim rahasiaku pada Scott. Padahal aku kira aku bisa mempercayainya!
Aku bangkit dari tempat dudukku dan mengambil kunci mobilku. Aku harus menemuinya!
...***...
Aku mengetuk pintu kayu yang ada di depanku dengan pelan. Perasaanku campur aduk. Ini pertama kalinya aku ke tempat ini meskipun sejak lama aku sudah mengetahui alamatnya. Tidak lama, pintu di depanku terbuka dan Davin muncul dari balik pintu itu. Dia terlihat tampan meskipun dengan baju rumahnya. Lupakan, Flo. Jangan anggap dia ganteng sekarang!
"Kamu ngapain disini? Bagaimana kalau ada yang melihat kamu datang ke rumah saya malam-malam seperti ini?" tanya Davin sambil memperhatikan sekelilingnya. Aku menatapnya dengan sambil menyipitkan mataku.
"Bapak nggak perlu cemas. Mulai minggu depan saya udah nggak ada disini," jawabku dengan dingin. Davin menatapku sambil mengerutkan keningnya.
"Apa maksud kamu?" tanyanya dengan bingung.
Aku menarik nafasku sepanjang mungkin dan menghelanya. Sebisa mungkin, aku mengontrol emosiku. "Berkat Bapak, saya akan kembali ke Amerika minggu depan."
"Tunggu sebentar... karena saya?"
Aku tidak mampu menahan air mataku. Aku bahkan memukul dadanya. "Kenapa Bapak bisa setega itu pada saya? Saya kira saya bisa mempercayai Bapak tapi Bapak malah mengkhianati kepercayaan saya."
Davin menahan tanganku. Dia bahkan menggenggam pergelangan tanganku. "Tunggu dulu, Flo. Apa maksud kamu?"
"Ada yang mengirim e-mail pada bos saya. Isinya foto-foto dan beberapa bukti kalau saya melakukan penipuan. Saat saya melacak alama IP-nya, itu berasal dari laptop Bapak! Padahal saya kira saya bisa percaya pada Bapak!"
"Flo, biar saya jelaskan dulu..."
"Nggak perlu!" pekikku sambil menarik tanganku. "Saya memang terlalu bodoh karena udah percaya pada Bapak. Saya terlalu bodoh karena begitu aja membiarkan Bapak memegang rahasia saya. Dan saya terlalu bodoh untuk berharap..."
Aku langsung menghentikan kata-kataku sebelum aku mempermalukan diriku lebih jauh. Aku tidak boleh membiarkannya melihat perasaanku padanya. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan meninggalkanya. Langkahku tertahan saat tangannya menahan lenganku.
"Kamu... akan kembali ke Amerika? Tapi kamu belum menemukan jawaban yang kamu cari!" ujar Davin. Aneh. Nadanya terdengar begitu putus asa. Seakan-akan dia tidak siap dengan kepergianku.
Aku menghentakan tangannya dari lenganku. "Harusnya Bapak senang karena itu memang tujuan Bapak, kan? Selamat dan semoga Bapak senang!" desisku lalu berjalan meninggalkannya tanpa menatapnya lagi. Aku takut aku tidak bisa menahan air mataku di depannya.
Aku membawa mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku bahkan tidak mempedulikan air mataku yang jatuh. Pertama kalinya jatuh cinta dan pertama kalinya patah hati karena orang yang sama. Benar-benar menyedihkan hidupku ini. Aku harus melupakan semua mimpiku tentang Davin. Mimpi hidup bahagia bersama Davin. Benar kata ucapan Braxton padaku. Hidup memang tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Dan kelihatannya keinginanku agar Davin membalas cintaku tidak akan terkabul.
Aku menghentikan mobilku dibahu jalan dan menangis tersedu-sedu. Ini kedua kalinya aku menangis seperti ini dan keduanya memiliki alasan yang hampir sama. Aku sama-sama kehilangan. Pertama aku kehilangan adikku dan saat ini aku kehilangan cintaku. Keduanya sama-sama membuat perasaanku hancur.
Saat merasa jauh lebih tenang, aku mengambil ponselku yang ada disaku celanaku. Aku mencari nama Scott di daftar kontak. Sebelum mulai meneleponnya, aku menghela nafasku panjang, berusaha mengontrol suaraku. Saat mendengar suara sapaan formal Scott, aku langsung memotong ucapannya.
"Kembali ke rencana utama. Aku akan kembali ke Amerika bersamamu sesegera mungkin," ujarku dalam bahasa Inggris. Scott tidak menjawab. Mungkin dia terkejut.
"Aku mengerti. Bagaimana kalau besok malam?"
"Terlalu lama. Bagaimana kalau besok pagi atau siang?"
"Apa yang terjadi? Tadi kau masih memaksaku untuk memberikanmu waktu."
"Aku tidak butuh waktu. Urusanku sudah selesai disini."
"Apa ini mengenai pria yang kau cintai?"
"Sudah tidak lagi. Dia sudah mengkhianati kepercayaanku. Aku rasa kau salah, Scott, aku rasa cinta tidak akan menemukanku secepat itu."
Scott terdiam. "Kau tahu, aku rasa cinta itu sudah menemukanmu dan aku berani bertaruh kalau dia tidak akan melepaskanmu semudah itu."
Aku mengerutkan keningku karena tidak mengerti ucapannya. Saat aku akan bertanya, Scott sudah menutup teleponnya dan meninggalkanku dengan banyak sekali pertanyaan diotakku.
...***...
Aku menatap laptopku sambil menggigit jariku. Aku menunggu Scott dikedai kopi yang ada di bandara sedangkan Scott pergi membeli sesuatu untuk istrinya. Pesawat yang akan aku dan Scott naiki akan take-off satu setengah jam lagi dan karena aku tidak tahu akan melakukan apapun, aku memilih untuk menunggu ditempat ini. Aku tidak berani menyalakan ponselku. Aku memang memilih mematikan ponselku karena sejak tiga jam yang lalu karena ponselku tidak berhenti berbunyi. Baik ada telepon ataupun pesan yang masuk. Kebanyakan pesan itu berisi kenapa aku tidak masuk dan dilanjutkan dengan pertanyaan kenapa aku tiba-tiba mengundurkan diri dari sekolah. Brenda memang sudah mengurus pengunduran diriku dari sekolah tanpa kehadiranku.
Sebenarnya aku belum mau pergi, tapi aku merasa kedatanganku ke sini sudah tidak berguna lagi. Perhatianku teralih saat mendengar Scott memanggil namaku.
"Flo! Ayo!" ajak Scott. Aku hanya mengangguk sambil menutup laptopku dan memasukkannya ke dalam tasku.
Aku menarik koperku dengan pelan sambil mengikuti Scott dari belakangnya. Padahal selama ini aku begitu ingin kembali ke Amerika tapi entah kenapa saat aku malah akan kembali, aku tidak merasa senang sama sekali. Bisa dibilang, aku sedih. Dalam hati aku berharap, seperti yang terjadi dinovel-novel atau di film-film saat pemeran utama pria mengejar pemeran utama wanita ke bandara sambil mengatakan kalau dia mencintai sang pemeran wanita. Aku berharap kalau Davin datang mengejarku sambil mengatakan kalau dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Tapi aku tahu itu tidak terjadi. Bahkan saat aku di dalam pesawat, menunggu pesawatku untuk take-off sekalipun, Davin tidak terlihat.
"Wajahmu mengatakan seakan dunia sudah berakhir," kata Scott. Aku tidak menatapnya. Aku hanya menarik sudut bibirku. Karena aku tidak mau kesedihanku berlarut-larut, aku memilih kembali membuka laptopku.
"Kenapa kau berpikir kalau pria itu yang membongkar rahasiamu?" tanya Scott. Aku memutar kepalaku dan menatapnya. Darimana dia tahu? Aku tidak menceritakan apapun padanya. Saat aku bertanya, dia hanya tersenyum dan kembali bertanya hal yang sama.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Alamat IP orang yang mengirimkan e-mail itu berasal dari laptopnya. Itu sudah cukup jadi bukti," jawabku dengan enggan.
"Kau pikir begitu?" tanya Scott yang membuat alis mataku terangkat. Aku ingin bertanya tapi kedatangan pramugari menahan pertanyaanku. Perhatianku teralih saat laptopku berbunyi yang menandakan sebuah e-mail masuk ke laptopku.
Dari Daisy!
Dear, Flo.
Kenapa kamu pergi tanpa pamit? Padahal masih banyak yang mau aku tunjukin ke kamu. Sejak kamu datang, hidup aku jauh lebih berwarna. Kamu juga yang bikin aku makin senang datang ke sekolah. Ada aja kejadian seru yang bikin aku makin sadar kalau kamu memang teman terbaik yang aku punya. Tapi sayang, kamu malah pergi tiba-tiba. Padahal aku berusaha menjaga mulut aku supaya aku nggak membongkar rahasia kamu.
Mungkin kamu kaget kalau baca ini, tapi sebenarnya aku udah tau siapa kamu. Mungkin sejak aku lihat kamu di Bali waktu itu, aku sadar kalau kamu bukan Florence Ferdinand. Aku sengaja menjaga rahasia kamu karena aku takut kalau rahasia kamu terbongkar maka aku nggak bisa lihat kamu lagi. Tapi kamu malah pergi dari sini padahal aku belum cerita satu hal ke kamu yang selama ini aku rahasiain dari kamu.
Sebenarnya dua bulan sebelum kematian Freya, waktu aku ke Singapura, aku ketemu dia. Saat itu, dia minta aku untuk janji nggak boleh cerita ke siapapun kalau aku ketemu dia disana. Aku punya rahasia yang dia tau dan dia pakai itu supaya aku nggak buka mulut. Aku minta maaf karena aku nggak cerita tentang itu ke kamu soalnya aku udah janji ke Freya.
Aku minta maaf karena aku udah bohongin kamu. Semoga suatu saat nanti, kita bisa ketemu tanpa merasa bersalah lagi dan nggak perlu bohong lagi. Kita akan ketemu sebagai seorang teman.
Daisy.
Aku terhenyak membaca e-mail itu. Itulah sebabnya kenapa aku tidak bisa menemukan orang yang menghamili adikku. Ternyata tebakanku benar, Azka-lah orangnya. Dialah yang menghamili Freya! Tapi kenapa dia tidak merasa bersalah dan malah mengejar-ngejarku? Dan aku begitu bodoh. Aku terlalu fokus mencari fakta melalui tersangkaku padahal aku bisa menemukan jawaban melalui Freya. Aku menutup laptopku dan menatap Scott.
"Scott, kumohon," pintaku dengan memelas. Scott menatapku.
"Kau tahu risikonya, bukan?" tanya Scott. Aku mengangguk. "Jika kau pergi dari pesawat ini sekarang, aku tidak bisa membantumu." Aku kembali mengangguk. "Kalau begitu pergilah. Semoga kau menemukan jawabanmu."
Scott tersenyum sambil menggenggam tanganku. Aku membalas senyumannya dengan mengecup pipinya dengan lembut. Aku mengambil tasku dan koperku yang memang kuletakkan dibagasi diatas bangkuku. Sekali lagi aku berterima kasih pada Scott. Aku tidak peduli saat pramugari menahanku. Aku malah mengembalikan tiketku pada pramugari itu dan langsung keluar dari pesawat. Untung saja aku belum terlambat keluar karena kalau tidak aku harus menempuh perjalanan empat puluh delapan jam untuk kembali ke Indonesia.
Aku langsung menaiki taksi yang berhenti tepat di depanku. Aku tidak mempedulikan orang yang memarahiku dibelakangku karena aku menyerobot taksinya. Aku memberikan alamat rumahku pada supir taksi itu. Dalam kepalaku, aku memikirkan tentang adikku. Aku menutup mataku karena merasa frustasi. Tiba-tiba otakku teringat sesuatu. Aku membuka laptopku dan mengaktifkan kamera CCTV sekolah. Aku mencari tanggal dimana Scott menerima e-mail berisi penyamaranku. Aku merasa ragu, apa benar Davin yang mengirimkan e-mail itu. Aku mengecek beberapa jam sebelum e-mail itu sampai. Aneh, setengah jam sebelum e-mail itu terkirim, Davin malah keluar dari ruangannya. Dia tidak kembali. Mataku melebar saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruang laboratorium komputer dan duduk dibangku Davin.
__ADS_1
"Pak, kita ganti tujuan. SMA Insani, saya kasih tau jalannya," pintaku pada supir taksi itu.