
Aku berdeham, berusaha menyingkirkan perasaan grogi-ku. Mungkin karena dia adalah guru komputer sehingga dia tahu kalau ada virus yang masuk ke dalam komputer sekolah ini. Aku rasa dia sedikit mencurigaiku karena aku selalu menggunakan laptop disetiap kesempatan.
"Sebaiknya kamu berhenti buka situs yang aneh-aneh," ujarnya.
Aku pura-pura terkesiap kaget. Ekspresinya langsung berubah curiga. Dia bahkan terlihat mengerutkan keningnya. Aku pura-pura berbisik, "untung gue pakai incognito window," dan langsung membalikkan tubuhku.
Aku tahu setelah ini dia akan mencari melalui jejak pencarian situs komputer yang biasa kugunakan. Beberapa hari ini aku memang mengunjungi beberapa situs yang memiliki virus-virus komputer yang kuat sehingga menutupi virus komputer yang kupasang.
Dan aku tahu kalau Davin bukanlah orang bodoh. Sejak awal dia seperti curiga padaku. Dan kali ini dia terang-terangan menanyakan apakah aku mengenal Freya. Kelihatannya aku harus mencari jati diri pria ini dengan lebih dalam.
...***...
"Kenapa Mama tidak pernah mendengar cerita kamu ditempat kerja? Biasanya Freya akan menceritakan harinya pada Mama dan Papa," tanya Mama saat kami sedang makan malam. Sontak, aku dan Papa sama-sama tersedak.
"Mama, Flo itu bukan Freya. Lagipula Flo sudah dewasa jadi dia tidak perlu cerita macam-macam pada kita," kata Papa sambil beberapa kali melirikku.
"Tapi Mama mau lebih dekat pada Flo. Selama ini Mama tau kalau Flo seakan menjaga jarak dari Mama. Kamu berangkat pagi sekali, jauh lebih pagi dari orang kantoran biasanya dan baru pulang jam tujuh malam. Kapan Mama sempat mengobrol dengan kamu?" ujar Mama sambil menatapku dengan memelas.
Aku menurunkan sendokku dan menatap Mama. "Hari aku biasa aja kok, standar. Aku ketemu orang baru dan setiap hari aku punya tantangan untuk menaklukan masalah aku," jawabku apa adanya.
Aku memang tidak berbohong. Setiap hari aku tertantang untuk tidak memajang foto Stella yang aku photoshop di forum sekolah atau menahan tanganku agar tidak memukul Stella. Aku juga tertantang untuk tidak menendang perut milik Yusron yang setiap hari selalu membuatku naik darah. Itu masuk dalam kategori tantangan, bukan?
"Lalu kenapa Mama tidak pernah mendengar kamu dekat dengan pria? Kamu harus persiapkan diri kamu untuk pernikahan, Flo," lanjut ibuku yang membuat Papa yang tengah minum sampai tersedak.
"Mama!" pekik Papa.
Aku tersenyum. "Bukannya Mama yang selama ini selalu bilang kalau jodoh nggak akan lari kemana-mana? Tenang, Ma, Flo pasti akan punya suami kalau memang sudah saatnya." Aku berusaha menjawab sedatar mungkin.
Ibuku tidak tahu saja kalau entah kenapa malah guru berkaca mata itu yang muncul di otakku.
...***...
Aku menatap layar laptopku yang berisi gambar dari setiap CCTV disekolah. Saat ini jam istirahat kedua. Lagi-lagi Daisy mendekatiku. Dia memang tidak pernah lelah mendekatiku meskipun beberapa kali aku mengusirnya. Bukan hanya itu, dia juga selalu membelikanku roti yang lama kelamaan akhirnya aku makan karena tidak tega melihat wajahnya. Bukan hanya itu, Daisy juga sering pulang bersamaku. Meskipun dia anak salah satu direktur periklanan, dia mau mencoba naik angkutan umum bersamaku. Lama kelamaan, aku memang terbiasa dengan kehadirannya. Meskipun begitu, aku mencoba agar aku tidak terlalu dekat dengannya.
"Lagi-lagi kamu sibuk sama laptop kamu. Isinya apa, sih?" tanya Daisy dengan penasaran. Aku memutar laptopku agar dia tidak bisa melihat isinya.
"Video porno. Lo nggak boleh lihat, belum cukup umur," jawabku sambil menjulurkan lidahku.
"Kita kan seumuran," dengusnya yang membuatku hampir saja tertawa.
Gue beda delapan tahun dari lo, Dik. Bisikku dalam hati. Kepalaku terangkat saat mendengar suara pintu yang terhempas. Lagi-lagi Stella dan gengnya masuk dengan cara yang berlebihan. Kenapa dia harus membanting pintu? Aku terus bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal itu.
"Lagi-lagi geek bersama. Memang pantas sih. Sama-sama cecunguk. Kecoa yang menjijikan," kata Stella dengan nada menjijikkan.
Aku mengerutkan keningku. Lagi-lagi ucapannya aneh. Memangnya apa bedanya kecoa dengan cecunguk? Kenapa dia harus menggunakan dua kata yang berbeda tapi memiliki arti yang sama? Ya, Tuhan, anak ini bodohnya keterlaluan.
"Nggak usah cari masalah, Stella." Aku mengibaskan tanganku. "Kalau lo udah selesai dengan pembendaharaan kata lo yang nggak benar itu, lo bisa pergi."
__ADS_1
"Flo," panggil Daisy, berusaha mengingatkanku agar tidak macam-macam pada Stella. Tapi aku tersenyum innocent padanya.
Stella terlihat marah. Dia menarik laptopku dan sengaja membantingnya ke lantai. Aku ternganga.
Laptopku.
Laptop berisi program-programku.
Laptopku yang berisi pekerjaanku.
Laptopku yang berharga.
Dibanting ke lantai seakan itu adalah sampah.
Tanpa sadar, aku langsung mendorong tubuh Stella dengan kasar sampai dia terjatuh. Aku mengambil termos kopiku dan baru saja aku akan memukul wajah Stella dengan termos itu kalau saja Daisy tidak menahan tanganku. Daisy memang berhasil menghentikanku memukul Stella, tapi bukan berarti aku berhenti disitu. Aku sengaja membuka tutup termos kopiku dan menumpahkan isi kopiku yang sudah dingin itu ke atas kepala Stella hingga Stella memekik.
"Dinginin kepala lo pakai kopi gue," desisku.
"Ada apa ini!" Muncul suara Yusron dari pintu masuk kelas. Dia terkesiap saat melihat wajah dan seragam Stella yang hitam dan ada ampas kopi menempel diseragam putih itu. Dia langsung menatapku. "Kamu yang melakukan ini, Florence?" tanyanya. Aku tidak menjawab. "Ikut saya ke ruang guru!"
Aku tidak takut. Aku hanya benci saat melihat Stella yang melemparkan senyum penuh kemenangan padaku. Aku mengikuti Yusron dengan tangan terkepal. Tarik nafas, Flo, tarik nafas panjang. Lo akan baik-baik aja. Kalau Yusron macam-macam, lo tinggal keluarin kartu As lo dan bikin dia menyesal. Tapi tunggu! Ini belum saatnya. Aku belum boleh membuka jati diriku, siapa aku sebenarnya. Aku harus sabar, menunggu waktu yang tepat. Kalau dia menghukumku, biarkan saja.
"Kamu baru sebulan disini dan kamu sudah sering berulah! Selama ini saya berusaha menahan diri tapi kali ini kamu keterlaluan!" ujar Yusron yang sengaja melantangkan suaranya.
Aku kenal nada suara itu. Mirip sekali dengan teman kantorku yang dulu ingin menjatuhkanku. Aku melipat tanganku dipunggungku sambil memutar bola mataku. Aku sadar kalau aku menjadi pusat perhatian dikantor guru. Baiklah, aku semakin membenci si buncit ini.
"Kamu berani—"
"Saya berani karena saya memang merasa tidak salah. Stella tiba-tiba membanting laptop saya tanpa alasan yang jelas. Dia yang lebih dulu memanggil saya dengan sebutan cecunguk dan karena saya tidak tanggapi dia malah membanting laptop saya. Lalu Bapak mau saya hanya diam dan menerima kelakuannya?" balasku dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Kamu pasti yang lebih dulu memanas-manasi Stella! Mana ada asap kalau tidak ada api?" balasnya yang berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia sampai menatapku dengan bingung karena aku tertawa seperti itu
"Bapak tau kalau yang namanya kimia mengandung unsur keseimbangan? Kalau tidak seimbang, maka tidak akan terjadi proses kimia. Bapak memang mengajar kimia tapi Bapak tidak mengajarkan unsur keseimbangan. Buktinya sekarang Bapak berat sebelah. Hati-hati ada yang meledak lho, Pak," kataku dengan nada mengancam.
Yusron terlihat terbelalak mendengar ucapanku yang mengena itu. Dia langsung duduk dari bangkunya sambil menatapku. "Panggil orang tua kamu! Mereka harus tau betapa kurang ajarnya anak mereka pada orang yang lebih tua!" tantangnya.
"Kasih saya waktu dua hari."
"Kenapa? Kamu tidak mau memanggil orang tua kamu!?"
Aku mengangkat sebelah alisku. "Mama saya saat ini masih di US dan penerbangan ke Jakarta membutuhkan waktu dua puluh empat jam. Memangnya Bapak kira Mama saya bisa teleportasi?" desisku.
...***...
Ya, aku akan mati.
Pilihannya hanya dua, digantung Brenda atau leherku dipatahkan oleh Brenda. Kalau mengingat bagaimana cara Brenda saat tahu aku membantu Braxton dulu, aku langsung merinding. Setelah menghancurkan seisi flat, Braxton diusir dari flat mereka sedangkan aku tidak diberi makan olehnya selama satu minggu. Aku dan Braxton terpaksa membeli makanan yang tidak memiliki rasa di restoran dekat flat kami. Brenda bahkan menjual barang-barangku yang ada diflat-nya karena marah pada kami.
__ADS_1
Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak mungkin meminta Papa atau Om James yang datang ke sekolah atau penyamaranku akan terbongkar. Tidak mungkin Braxton karena pihak sekolah dengan besar menuliskan orang tua atau wali murid yang sah. Sambil memukul pelan kepalaku, aku mencari cara lain selain memanggil Brenda. Aku tidak memiliki teman dekat lain selain Brenda. Akhirnya aku menyerah. Aku terpaksa harus memberitahu Brenda. Aku mengambil ponselku dan menelepon Brenda karena aku tidak bisa—tidak berani lebih tepatnya— menghubungi Brenda melalui Skype. Aku menggigit kuku ibu jariku dengan cemas, berharap kalau Brenda tidak akan mengamuk seperti dulu.
"Hai, Flo. Kenapa hubungin aku lewab handphone? Kenapa nggak lewat Skype?" tanya Brenda setelah menyapaku sebentar. Aku tertawa renyah.
"Hmm, Brenda, can you help me?" tanyaku dengan cemas.
"About what?" tanyanya. Aku memang tidak pernah meminta bantuan secara resmi padanya. Aku kembali tertawa renyah.
"Can you fly to Jakarta tonight? Don't worry about the ticket. Kalau perlu aku akan beli tiket kelas bisnis."
"Okeeee, kamu mulai kedengaran aneh. Apa terjadi sesuatu?"
Aku menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan keberanianku. "Aku butuh kamu untuk jadi orang tua aku. Cuma akting jadi ibu, that's all."
"Tunggu sebentar. Kenapa aku harus jadi ibu kamu? Orang tua kamu kemana?"
Aku menelan ludahku. "Aku nggak mungkin bawa Mama kalau mau rencana aku berjalan dengan baik."
"Maksudnya? Aku nggak ngerti."
Aku kembali menelan ludahku. "Aku dipanggil pihak sekolah karena berantem dan dia minta aku untuk manggil orang tua aku. Cuma kamu yang bisa menolong aku."
Diam sejenak. "Pihak sekolah? Kenapa pihak sekolah bisa memanggil kamu? Apa kamu cari masalah sama teman-temannya Freya?"
"Bukan, Brenda. Ini jauh lebih rumit dari yang kamu pikirin."
"Kenapa perasaan aku nggak enak?"
Aku berdeham. "Dengerin aku dan jangan marah." Aku kembali menelan ludahku bulat-bulat. "Aku kembali jadi murid SMA, Brenda."
Tidak terdengar suara. Lalu tiba-tiba Brenda berteriak kencang. "ARE YOU CRAZY!?"
...***...
Aku menceritakan masalahku mulai dari awal sampai akhir. Brenda diam sambil mendengarkan ceritaku. Berkali-kali dia mengumpat dan mengatakan kalau aku sakit jiwa dan kehilangan akal sehatku. Dan saat aku selesai menceritakannya, dia bilang kalau ini pertama kalinya aku melakukan sesuatu tanpa menggunakan logika.
"Kalau nggak begitu, aku nggak mungkin dapat bukti yang kuat tentang Stella. Selama ini aku bertahan karena aku butuh untuk merekam setiap bukti," ujarku dengan memelas.
"Lalu bagaimana dengan cowok yang menghamili Freya?" tanyanya. Aku bisa mendengar kalau dia tengah menahan emosinya.
"Aku curiga sama empat orang dan lagi mencari bukti mendalam untuk membuktikan kecurigaan aku. Which is why, Brenda, kamu harus bantu."
Brenda diam. Dia tidak menjawab. "I'll think about it," katanya singkat lalu menutup telepon. Aku bernafas panjang dan berat lalu menurunkan ponselku dari telinga.
Aku menundukkan kepalaku. Kalau Brenda tidak bisa menolongku, maka aku akan tamat. Aku tidak memiliki jalan keluar lain. Aku berdoa agar Brenda mau menolongku. Mungkin aneh, berdoa pada Tuhan agar membantuku menipu orang lain. Aku meringis. Perhatianku teralih saat ponsel yang ada ditanganku bergetar. Aku tidak membaca siapa orang yang meneleponku dan langsung mengangkatnya.
"Okay, I'll do it. With one condition, aku akan tinggal bareng kamu sampai tugas kamu selesai. Aku akan bantu kamu mencari keadilan buat Freya," kata Brenda yang membuatku hampir saja melompat senang. Aku mengucapkan terima kasih dan mungkin kalau dia ada disini, aku akan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Tapi bukan berarti aku udah nggak marah sama kamu! Aku akan mengadili kamu dan Braxton saat di Jakarta nanti. Tujuh belas tahun dan akhirnya aku balik ke Jakarta, God help me!" rutuk Brenda yang membuatku berusaha menahan tawaku.