FLO!

FLO!
Bag. 15


__ADS_3

Aku melemparkan tubuhku ke ranjang. Konferensi hari ini bahkan lebih berat dari dugaanku. Saat peserta istirahat, aku dan penguji lain diharuskan untuk menguji kelayakan program yang mereka buat. Aku menguji program yang dibuat oleh lima kelompok yang berbeda. Tiga diantaranya tidak bisa lulus dari uji kelayakanku, masih banyak yang perlu diperbaiki. Dua lainnya hanya perlu sedikit perbaikan dan program yang mereka buat akan sempurna. Pantas saja Scott malas datang ke tempat ini. Aku juga kalau tahu hasilnya seperti ini pasti akan menolak. Aku terpaksa pulang lebih malam karena program yang mereka buat sangat berantakan dan penilaianku harus aku laporkan pada Darry agar dia bisa menyampaikannya pada peserta besok.


Perhatianku teralih saat sebuah e-mail masuk ke laptop yang memang sengaja aku letakkan disampingku. Aku menggeser tubuhku dan mengangkat kepalaku untuk mengecek siapa yang mengirim e-mail itu. Dari Daisy. Aku membacanya sekilas. Dia hanya menceritakan kemana dia pergi hari ini, yang tentu saja sudahku ketahui karena Davin sudah memberikan jadwal mereka padaku, dan kejadian bersama teman-teman yang lain. Aku tersenyum saat membaca kalau lagi-lagi dia hampir hilang. Daisy memang agak kikuk, sama seperti Freya, makanya aku memakluminya. Aku mengerutkan keningku saat membaca bagian akhir e-mail itu.


Hari ini Pak Davin aneh deh. Dia sibuk sama handphonenya dan dia senyum! Padahal selama ini aku dan temen2 ga pernah liat dia senyum! Belum lagi waktu Caesar berantem sama Danar sampai mereka saling cuek dibis saat pulang. Awalnya kita senang2 tapi waktu mereka berantem, suasana langsung suram. Stella berusaha mendamaikan tapi malah jadi runyam. Andai kamu ada disini, pasti kamu akan tau apa yang harus dilakukan, pelototin Caesar misalnya.


Memangnya itu yang selalu aku lakukan kalau ada yang bertengkar? Menurutku aku melakukan hal biasa saja. Tapi tulisan Daisy tentang Davin yang membuatku tersenyum. Daisy tidak tahu kalau aku yang berkirim pesan pada Davin. Meskipun aku menguji program, aku masih menyempatkan diriku untuk membalas pesan Davin. Dia memang tidak memberitahuku kalau Caesar dan Danar bertengkar, tapi dia memberitahuku apa yang Caesar dan Stella lakukan hari ini. Bisa dibilang, dia menjadi mataku.


Aneh memang. Padahal dia bilang dia tidak mau membantuku tapi tanpa sadar dia memberikan informasi mengenai salah satu tersangkaku itu. Perhatianku teralih saat merasa perutku berbunyi, meminta untuk diisi. Aku lupa kalau tadi pagi aku hanya sarapan roti dan selama satu hari penuh aku hanya menenggak kopi. Aku melupakan makan siangku karena aku sibuk menguji program-program itu. Baru saja aku akan menelepon room service saat ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku mengintip melalui peek hole dan tersenyum.


"Baru aja saya mau telepon Bapak," kataku tanpa menyapa Davin.


"Halo juga, Flo," sapanya dengan malas. Dia menatapku yang masih menggunakan setelanku. "Kamu baru pulang?"


Aku mengangguk. "Saya baru selesai, Pak. Program buatan mereka jauh lebih ribet dari buatan teman-teman saya."


"Mungkin karena mereka tidak bisa menyederhanakan rumus yang mereka buat makanya jauh lebih sulit. Coba gunakan rumusan lain yang lebih singkat, saya yakin kamu bisa menilai program itu dengan lebih cepat."


Aku menaikkan sebelah alisku. "Kenapa Bapak bicara seakan Bapak sudah terbiasa?"


"Kamu sudah makan?" tanyanya yang tidak menghiraukan pertanyaanku. Aku menggeleng. "Gimana kalau kita makan sekarang?"


"Bapak gila? Gimana kalau ada yang melihat saya?"


Davin tersenyum. "Tenang aja. Sebentar lagi jam malam akan diberlakukan. Kalau ada murid yang keluar, pasti akan langsung dihukum."


"Jam malam? Sekarang baru jam delapan!"


"Memangnya kenapa kalau baru jam delapan? Kamu mau ikut saya makan atau tidak? Tadi saya tidak sempat makan malam karena harus mencari anak yang sempat hilang."


"Siapa, Pak?" tanyaku.


"Caesar. Saya dan Collin harus keliling mencari dia. Untung saja Collin menemukan dia sebelum saya harus melaporkan dia ke Pak Yusron."


"Bapak nggak kasih tau saya kalau Danar dan Caesar berantem?"


Davin mengerutkan keningnya. "Memangnya mereka berdua berantem?" tanyanya. Aku ikut mengerutkan keningku. "Kamu jadi ikut saya atau tidak? Saya lapar. Kalau tidak mau, ya sudah."


Aku tersenyum kecut. "Sebentar, Pak. Saya ganti baju dulu."


Davin mengangguk. "Saya tunggu direstoran. Kamu mau makan apa? Biar saya pesan lebih dulu."


Aku mengangkat kedua bahuku. "Terserah Bapak. Asal Bapak jangan tambahin sianida aja ke makanan saya."


Dia tertawa kecil lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkanku. Aku sendiri mengganti bajuku dan mencuci wajahku. Aku juga menambahkan riasan tipis pada wajahku, yang dengan bodohnya dalam hati aku berharap kalau Davin menyadari perubahanku itu. Aku kembali memasang wigku dan kacamata hitamku. Aku juga menggunakan topi fedora yang memang sengaja aku bawa. Setelah aku siap, aku keluar dari kamarku dan menuju restoran.


Di restoran, Davin sudah menungguku. Kelihatannya makanan yang dia pesan belum datang, hanya segelas minuman dan makanan pembuka.


"Saya pesan steak. Nggak apa, kan?" tanya Davin saat aku duduk di bangkuku. Aku mengangguk pelan, menyetujui pilihannya. "Kamu tidak minum, kan? Soalnya saya tidak pesan cocktail atau semacamnya."


Aku tersenyum padanya. "Saya benci hungover, jadi terima kasih," jawabku. "Bapak kenapa ajak saya makan? Sendirian pula."


"Kenapa? Saya lapar dan kamu juga. Lagipula saya benci makan sendirian dan kalau saya minta guru untuk menemani saya, rasanya ada yang aneh."


"Tapi saya murid Bapak."


"Siapa? Kamu?" tanya Davin yang membuatku bingung dan aku hanya bisa mengangguk. "Murid saya bernama Florence Ferdinand, bukan Florentia Abdi Kusuma."


Aku terdiam. Jawaban Davin benar juga. Saat ini aku adalah Florentia Abdi Kusuma, bukan Florence Ferdinand. Aku menghela nafas panjang.


"Sudah saya bilang kalau anak SMA kebanyakan tidak duduk setegak itu," ujar Davin tiba-tiba yang membuatku menatapnya.


"Tapi Bapak sendiri yang bilang kalau saat ini saya bukan murid Bapak," balasku.


"Kalau saya bukan guru kamu, lalu kenapa kamu masih panggil saya 'Bapak' sejak tadi?"


"Masa saya panggil 'Davin'?"

__ADS_1


"Memangnya salah? Kamu hanya berbeda tujuh tahun dari saya. Lagipula, kamu bukan murid saya saat ini."


Aku menatapnya sambil menaikkan alisku. "Maaf, Pak. Kalau saya nggak panggil dengan sebutan 'Bapak' rasanya ada yang aneh."


Davin tertawa. Sebuah tawa yang tidakku mengerti maksudnya. "Baik, baik. Terserah kamu mau panggil saya apa."


Pembicaraan kami berhenti saat seorang pelayan mendatangi kami dan mengambil piring makanan pembuka kami. Tidak lama, pelayan lain datang membawakan steak yang dipesan oleh Davin. Pelayan itu tersenyum padaku dan Davin, terlebih pada Davin, lalu meninggalkan kami setelah membisikkan sesuatu pada Davin. Kepalaku terangkat saat Davin terkekeh.


"Lihat ini?" tanya Davin sambil menunjuk minuman yang tadi diantarkan oleh pelayan barusan. "Saya sudah bilang kalau saya nggak pesan minuman apapun, kan? Pelayan itu kasih saya minuman ini. Dari cewek itu."


Davin menunjuk seseorang yang berada dibelakangku menggunakan dagunya. Saat menengok, aku menemukan seorang wanita berambut pirang tengah menatap Davin dan tersenyum. Aku kembali menatap Davin tetapi Davin malah memanggil pelayan yang tadi memberikannya minuman itu untuk membawa kembali minuman itu.


"Sayangnya dia bukan tipe saya." Davin berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lebih sayang lagi, saya punya teman yang cantik saat ini."


Aku mengerutkan keningku. Barusan siapa yang dia puji? Aku baru mengerti saat dia menatapku. Jadi barusan dia memujiku? Dia mengatakan kalau aku cantik? Wajahku tiba-tiba terasa panas. Aku tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih. Untung saja tanganku sengaja kuletakkan dibawah meja. Kalau dia lihat, mungkin dia akan merasa aneh saat melihat tanganku yang berkeringat itu.


"Selamat makan," kata Davin lalu mengunyah steaknya. Aku berusaha memakannya tapi entah kenapa aku tidak bisa merasakan apapun dimakanan itu.


"Kenapa? Nggak enak?" tanya Davin yang membuatku tersadar kalau dia tengah menatapku. Mungkin dia merasa aneh karena aku hanya memakan sedikit makananku.


Aku menggeleng. "Saya cuma kurang berselera," jawabku pelan. Biasanya aku banyak makan, tapi bagaimana caraku makan kalau jantungku berdegup keras seperti ini?


"Pantas kamu kurus. Sekarang makan. Saya nggak akan biarin kamu pergi kalau masih ada makanan yang tersisa dipiring kamu."


Aku tersenyum kecut. Dia mengingatkanku akan Brenda. Akhirnya aku menghabiskan makananku tanpa tersisa karena dia terus memelototiku saat aku akan meletakkan garpu dan pisauku. Meskipun menyebalkan, harusnya aku berterima kasih pada Davin. Berkat dia, aku tidak perlu makan seorang diri, sesuatu hal yang sebenarnya tidak terlalu aku sukai. Meskipun kami makan dalam diam, aku tidak merasa kesepian, mungkin karena pelototannya itu.


Perhatian kami teralih saat ada suara dibelakangku yang memanggil Davin. Masalahnya, aku mengenal suara itu! Aku tidak membalikkan tubuhku karena Davin menyuruhku untuk diam. Aku panik! Tapi saat melihat wajah Davin, dia tidak sama sepertiku. Dia malah tersenyum pada tamunya yang baru datang itu.


"Kenapa kamu disini, Stella? Sebentar lagi jam malam dan tidak boleh ada murid yang keluar," ujar Davin sambil menatap Stella yang berdiri tepat disampingku.


"Saya lapar, Pak. Bapak sendiri kenapa disini?" tanya Stella. Dia menatapku. "Teman Bapak?" tanyanya lagi sambil menunjukku.


"Ini junior saya. Ren, kenalin ini murid aku, Stella," kata Davin. Aneh. Nadanya terdengar biasa saja. Seperti orang yang sedang memperkenalkan temannya. Aku hanya tersenyum sambil mengulurkan tanganku pada Stella. Wajah Stella agak curiga saat melihat senyumanku itu.


"Kayaknya saya kenal. Kita pernah ketemu?" tanya Stella. Aku menelan ludahku.


Aku hanya mengangguk saat Davin bertanya seperti itu padaku.


"Sebaiknya kamu memesan lewat room service dan makan dikamar. Saya tidak mau lihat kamu makan sendirian disini," ujar Davin pada Stella.


Stella terlihat merengut. "Padahal saya kira saya bisa makan bareng Bapak."


Davin tersenyum manis. "Sayangnya saya udah dibooking duluan." Senyumannya hilang. "Kembali ke kamar kamu sekarang!"


Stella menuruti perintah Davin dan sebelum meninggalkan kami, dia pamit sambil mengangguk padaku. Aku balas mengangguk padanya sambil mengangkat tanganku. Sepeninggal Stella, aku langsung tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perutku. Davin menatapku dengan aneh saat melihatku tertawa.


"Coba Bapak lihat ekspresi Bapak tadi. Meyakinkan banget!" jawabku saat Davin bertanya apa alasanku tertawa. Davin hanya tersenyum simpul sambil menyesap minumannya.


Aku berdeham untuk mereda tawaku. "Jadi, siapa Ren yang Bapak maksud barusan?" tanyaku sambil menatapnya.


"Saya nggak bohong. Nama kamu Florentia. Saya cuma mengambil bagian tengah nama kamu saja," jawab Davin dengan enggan sambil mengangkat kedua bahunya. Mendengar itu, aku kembali tertawa.


"Astaga. Pikiran Bapak cepat banget!" pujiku sambil menggelengkan kepalaku.


"Justru kamu yang tidak bisa berpikiran cepat padahal kamu lulusan MIT."


Aku mengerutkan keningku. "Kenapa Bapak bisa tau?"


"Memangnya siapa yang tidak tau? Freya selalu mengatakan kalau kakaknya lulusan MIT dan bekerja di Pioneer Technosoft. Satu setengah tahun yang lalu kamu memperbaiki sistem sekolah yang sempat rusak tanpa harus datang ke sekolah. Kamu bahkan berada di belahan dunia yang lain!"


Aku tersenyum tipis. "Sistem sekolah itu memang yang paling gampang dirusak, Pak. Buktinya nggak ada yang sadar kalau ada lubang kecil di sistem itu, kecuali Bapak pastinya."


"Memangnya kenapa kamu harus memasukkan virus ke komputer sekolah? Tidak ada cara lain? Berkat kamu, banyak virus lain yang berhasil masuk."


"Saya bisa memperbaikinya kalau Bapak mau. Tapi nggak sekarang tentunya. Kalau saya perbaiki, virus saya bisa rusak."


Davin menatapku. "Memangnya kamu pakai virus apa, sih? Saya bahkan nggak bisa menghapus virus itu."

__ADS_1


Aku tersenyum lebar. "Buatan saya sendiri. Sebenarnya itu bukan virus yang jahat. Justru setelah saya memperbaikinya nanti, keamanan sistem sekolah akan jauh lebih hebat!"


Davin tertawa sambil menggeleng. "Pembuat sistem itu pasti akan marah kalau misalnya kamu tidak membereskan apa yang kamu rusak."


"Tenang. Dia nggak perlu tau, kecuali Bapak yang kasih tau pastinya."


"Sayangnya dia udah tau."


Mataku melebar sambil menatapnya. "Bapak bilang apa barusan?" tanyaku tidak percaya.


"Saya bilang pembuat sistem itu sudah tau tanpa perlu ada yang bilang."


"Darimana-"


"Saya tau? Tentu saja karena saya yang pertama kali menemukan kebocoran itu."


Mataku semakin melebar. Davin malah menyesap minumannya sambil menatapku.


"Oh, memangnya saya belum bilang kalau saya yang menciptakan sistem itu?


Davin tersenyum begitu polos padaku seakan dia tidak merasa kalau apa yang dia katakan barusan benar-benar membuatku terkejut. Mataku semakin melebar melihat sikapnya itu. Dia berdeham, berusaha agar aku fokus padanya. Aku ikut berdeham dan menutup mulutku yang memang sejak tadi menganga lebar. Davin masih tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Tapi jangan bilang siapa-siapa. Anggap aja ini rahasia kecil kita," ujar Davin dengan tenang. "Sekarang kita impas. Saya tau rahasia kamu dan kamu tau rahasia saya. Jadi kalau saya membocorkan rahasia kamu..." Dia mengangkat kedua bahunya. "Silakan kamu beberkan pada semua orang apa rahasia saya."


Aku menghela nafas panjang. Berusaha mencerna sikapnya. Aku berdeham dan menatapnya. "Bapak nggak usah cemas. Seperti yang Bapak bilang barusan, saya TIDAK berminat membocorkan rahasia Bapak. Saya cuma minta satu hal pada Bapak."


"Apa itu?" tanya Davin sambil mengangkat kedua alisnya.


"Bisa Bapak kasih tau siapa Bapak sebenarnya?"


Davin tersenyum. Entah karena apa. Dia malah mengangkat kedua bahunya. "Kalau itu, harus kamu sendiri yang cari tau. Saya tidak berminat membeberkan rahasia saya yang lain."


"Masalahnya saya sama sekali nggak bisa mencari tau tentang Bapak! Kan udah saya bilang kalau Bapak ini seperti orang yang baru lahir dimana saya nggak bisa menemukan satu jejakpun tentang Bapak!"


Davin terkekeh pelan. "Maaf, Flo," jawabnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. "Makan malam yang menyenangkan. Terima kasih karena sudah menemani saya mengobrol."


Davin membalikkan tubuhnya dan meninggalkanku yang masih bingung dengan sikapnya. Apa sih dia itu? Kenapa dia begitu misterius? Aku mendesah jengkel lalu memanggil pelayan. Dia yang mengajakku makan bersamanya, meninggalkanku disini sendirian dan aku yang harus membayar makanannya? Astaga. Mimpi apa aku semalam?


"Saya minta bill-nya," kataku pada pelayan itu. Pelayan itu menatapku dengan aneh.


"Tapi Bapak barusan sudah membayar semua makanannya," jawab pelayan itu. Aku mengerutkan keningku. Dan tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenakku.


"Boleh saya tanya dia bayar pakai apa? Credit card?" tanyaku berharap.


"Tunai," jawab pelayan itu yang membuatku kecewa. Aku mengangguk padanya sambil mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan restoran itu.


Padahal aku berharap kalau misalnya Davin membayar menggunakan kartu kredit atau kartu debit, aku bisa menanyakan nama aslinya pada pelayan itu. Tapi sialnya, Davin malah membayar menggunakan tunai. Aku menggeram kesal karena sikapnya yang begitu hati-hati itu. Bagaimana caraku mencari tahu tentang dia? Dan semakin aku memikirkan dia, semakin aku gila dibuatnya.


...***...


Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan padaku. Karena memikirkan siapa Davin, semalam aku sama sekali tidak bisa menutup mataku. Sialan memang. Karena itulah aku tidak bisa fokus dengan apa yang aku kerjakan hari ini. Untung saja aku sudah menyelesaikan tugasku untuk mengetes program yang dibuat peserta konferensi sehingga aku tidak merasa bebanku terlalu berat. Perhatianku teralih saat Darry memanggilku.


"Ibu Florentia, kapan Ibu akan mengungumkan hasil pengetesan program kemarin?" tanya Darry. Aku menatapnya.


"Sudah selesai. Nanti pembuat program itu menghadap saja ke saya agar saya bisa menjelaskan apa saja yang perlu mereka ubah atau benahi," jawabku sambil menyesap kopiku.


Saat ini aku memang sedang direstoran hotel, memakan sarapanku, sementara Darry memberitahu apa jadwalku hari ini. Syukurlah nanti malam aku langsung kembali ke Jakarta karena aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyamar ataupun menghindari teman sekelasku. Aku mengirimkan pesan singkat ke Davin yang mengatakan kalau aku akan kembali malam nanti dan dia berkata padaku agar tidak usah cemas. Aku tidak cemas. Aku hanya penasaran padanya. Siapa dia, darimana dia berasal, kenapa lagaknya seperti dia mengenalku dan lain-lain.


Perhatianku teralih saat mendengar suara ribut dibelakangku. Aku menghela nafasku.


Kenapa aku selalu bertemu mereka?


Apa dosaku?


Aku pamit pada Darry dan berjalan secepat mungkin untuk menghindari teman-teman sekelasku. Davin memang memberitahuku pagi tadi kalau hari ini acara bebas dan murid bebas melakukan apapun selama tidak terlalu jauh dari hotel. Kelihatannya mereka berpikir untuk makan direstoran ini. Secepat kilat, aku berusaha pergi dari kerumanan teman sekolahku itu sambil menundukkan kepalaku. Syukurlah aku bisa menghindari mereka. Aku lebih bersyukur lagi karena hari ini aku akan habiskan untuk menjadi pembicara dikonferensi hari ini sehingga kemungkinan kecil aku bisa menemui mereka. Lagipula konferensi itu diwajibkan memiliki kartu peserta atau mereka tidak boleh masuk.


Aku masuk ke dalam lift sambil mengangkat kedua alisku. Untung saja aku menggunakan penyamaranku, wig dan kacamata hitamku maksudku, sehingga saat aku berpapasan dengan Daisy, dia tidak sadar kalau itu adalah aku. Aku sengaja meminggirkan tubuhku agar saat Daisy dan teman-temanku ke dalam lift, mereka tidak melihatku. Aku tersenyum tipis saat mendengar mereka membicarakanku. Terlebih Daisy yang menyayangkan ketidak hadiranku. Aku menundukkan kepalaku. Kenapa aku merasa bersalah karena sudah membohongi mereka?

__ADS_1


Saat mereka keluar dari lift, aku menatap bayangan diriku melalui kaca yang ada di depanku. Bagaimana kalau mereka tahu siapa diriku sebenarnya, mereka tidak akan memaafkanku? Terlebih Daisy karena dia begitu dekat denganku dan selalu menempelku kemanapun aku pergi. Sambil menghela nafas panjang, aku keluar dari lift. Ironis. Pikirku.


__ADS_2