FLO!

FLO!
Bag. 21


__ADS_3

Aku menelan ludahku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin aku bilang kalau aku mengunjungi rumah Freya karena dia pasti akan bertanya bagaimana caraku bisa mengenal Freya. Apalagi pakaianku saat ini hanya menggunakan pakaian khas rumahan. Tidak mungkin aku berkunjung ke rumah orang lain kalau menggunakan baju ini. Dan lebih tidak mungkin lagi aku berbohong karena suara ibuku muncul dari belakangku yang membuatku kaget setengah mati.


"Siapa yang datang, Flo—Oh, Caesar, sudah lama sekali kamu tidak datang," ujar Mama yang membuat mataku terbelalak. Ekspresi Caesar sama kagetnya denganku.


"Halo, Tante, saya tadinya mau menyapa sebentar... Tapi kayaknya Tante ada tamu," kata Caesar dengan canggung sambil menatapku.


"Tamu? Siapa? Maksud kamu Flo?" tanya Mama yang sama bingungnya denganku. "Flo bukan tamu... Dia—"


Aku langsung memotong ucapan ibuku. "Mama masuk dulu... Mungkin Caesar mau bicara sama aku," ujarku dengan pelan. Aku bisa melihat ekspresi Caesar saat mendengar aku mengatakan Mama pada orang yang dia kenal sebagai ibu Freya.


"Oke. Tante masuk dulu ya, Caesar?" kata Mama. Wajahnya terlihat sama bingungnya dengan Caesar sebelum dia meninggalkan kami.


Caesar hanya mengangguk meskipun matanya masih menatapku. Aku menatap Caesar dan mengajaknya duduk dibangku yang ada diteras rumahku.


"Kenapa lo panggil mamanya Freya dengan sebutan Mama? Lo adik angkatnya Freya? Tapi kenapa Freya nggak pernah cerita kalau mamanya angkat adik baru?" tanya Caesar yang masih bingung. Ekspresi wajahnya begitu kaget sekaligus bingung. Aku mendesah pelan. Apa yang harus aku katakan? Kelihatannya aku harus membuka rahasiaku ini.


"Gue bukan adik angkatnya Freya, Sar. Gue kakak angkatnya Freya," jawabku sambil menatap kosong taman yang ada di depanku.


"Kakak angkat? Seingat gue, Freya cuma punya satu kakak angkat dan saat ini dia lagi ada di Amerika," jawab Caesar yang masih bingung.


Aku masih menatap taman yang ada di depanku dengan kosong. "Apa lo tau nama kakak angkatnya Freya?"


"Florentia Abdi Kusuma."


Kali ini, aku memutar kepalaku dan menatap Caesar. "Dan lo tau nama panjang gue?"


"Florence Ferdinand... Tunggu sebentar... Jangan bilang lo itu..."


"Jadi lo sadar siapa gue?"


Caesar langsung bangkit dari duduknya dan menatapku dengan terbelalak. "Nggak mungkin! Kakaknya Freya itu beda delapan tahun dari gue!"


"Yap... Umur gue memang dua puluh lima tahun sekarang. Lo mau lihat ID card atau paspor gue? Gimana kalau lo duduk dulu dan kita bicara?"


Caesar terdiam dan menatapku. Aku jadi mengerti perasaan Davin saat kami di Bali dulu. Saat aku sadar kalau dia mengetahui penyamaranku. Aku tersenyum tipis. Rasanya seperti déjà-vu. Meskipun wajahnya masih kaget, dia mengikuti ucapanku untuk duduk.


"Kenapa lo menyamar jadi anak SMA dan gimana cara lo menipu semua orang. Astaga, Flo, lo beda delapan tahun dari gue!" ujar Caesar yang lebih memekik itu.


"Alasan kenapa gue menyamar, gue yakin lo yang lebih tau."


"Kenapa gue?"


"Lo tau kenapa Freya bisa bunuh diri?" tanyaku dan Caesar langsung menggeleng. "Nah, itu yang lagi gue cari tau kenapa adik gue bisa bunuh diri."


Caesar terdiam. Dia kelihatan tidak percaya dengan ucapanku barusan. Tatapan matanya seperti sedang menatap orang gila. Mungkin dia benar. Mungkin aku memang sudah gila.


"Kalau gimana cara gue bisa menipu semua orang, hampir sama kayak cara lo menutupi diri lo kalau sebenarnya lo gay," ujarku tenang. Aku memang tenang, namun tidak dengannya. Wajahnya pucat pasi. "Nggak perlu cemas, gue nggak tertarik ekspos ke semua orang kok."


"Darimana lo tau? Freya... Dia pernah cerita?"


Aku hanya tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaannya. "Karena dia tau makanya lo jauhin dia?"


Caesar tidak menatapku. "Dari mana lo tau kalau gue menjauhi Freya?"


"Freya cerita semuanya ke gue. Jadi kenapa lo bisa jauhin Freya? Lo kira Freya akan jauhin lo hanya karena lo punya orientasi seksual yang berbeda?"


Caesar menggeleng. Matanya masih menatap kosong taman yang ada di halaman rumah kami. "Bukan. Justru karena Freya terima makanya gue jauhin dia. Gue takut karena hubungan gue dan Collin akan bikin dia jadi bahan gunjingan orang."


"Tunggu sebentar... Partner lo itu Collin?" tanyaku tidak percaya.


Caesar terlihat meringis. "Sial... Dia nggak cerita bagian itu, ya?" tanyanya dan aku menggeleng. "Gue minta Freya buat jauhin gue tapi dia nggak mau. Gue rasa lo tau kalau dia bukan tipe orang yang mau menjauhi orang lain hanya karena sebuah perbedaan. Dia bahkan tetap disamping gue meskipun gue sering sakitin dia." Tiba-tiba dia tersenyum sedih. "Dan gue baru sadar betapa berharganya dia saat dia tinggalin gue. Betapa sayangnya gue sama dia saat dia udah nggak ada di dunia ini."


Kata-kata Caesar sama seperti kata-kata Stella. Mereka berdua kelihatannya sama-sama menyayangi adikku namun mereka terlambat menyadarinya. Suara dehamannya yang membuatku sadar dari lamunanku.


"Jadi lo akan mengekspos rahasia gue?" tanya Caesar dengan curiga. Aku tersenyum dan menggeleng.


"Setidaknya rahasia lo nggak separah rahasia gue. Orang waras mana yang mau menyamar menjadi anak SMA padahal dia udah berumur dua puluh lima tahun?"

__ADS_1


Caesar terdiam namun dia tersenyum tipis. "Sumpah, saat lo pakai seragam SMA, lo nggak keliatan kayak umur dua puluh lima tahun!" pujinya yang membuatku tersanjung karena itu artinya aku memiliki wajah yang awet muda. Perhatianku teralih saat Cesar mengucapkan sesuatu.


"Bali... Tunggu sebentar! Yang gue tabrak di Bali itu beneran lo?" tanya Caesar yang lebih seperti memekik itu.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Udah gue duga! Gue bilang juga apa! Jadi lo sebenarnya bohong saat lo bilang lo balik ke Amerika padahal sebenarnya lo lagi di Bali?" tanya Caesar lagi dan aku kembali mengangguk.


"Tapi kenapa waktu di Bali lo berantem sama Danar? Terus kenapa lo tiba-tiba menghilang dan malah ditemuin sama Collin?" tanyaku.


Caesar tersenyum. "Sebenarnya gue sengaja cari masalah sama Danar supaya gue bisa pergi. Gue sengaja atur supaya gue dan Collin bisa jalan-jalan di Bali tanpa diganggu," jawabnya yang membuatku tersenyum. Dia kembali menatapku. "Siapa yang tau rahasia lo ini?"


Aku terdiam. "Papa, Brenda dan Pak Davin," jawabku.


"Pak Davin? Kok dia bisa tau rahasia lo?"


Aku mengangkat kedua bahuku. "Dia bilang gue pernah ketemu dia dulu. Masalahnya gue nggak ingat."


"Terus dia nggak bilang ke siapapun tentang rahasia lo?"


"Buktinya gue aman sampai saat ini."


Aku dan Caesar sama-sama terdiam. Aku memiliki pikiranku sendiri demikian juga dengannya. Aku menatap kosong halaman yang ada di depanku, tidak tahu harus bicara apa lagi pada Caesar. Jujur saja, aku masih merasa takut kalau Caesar akan membeberkan rahasiaku pada semua orang.


"Terus lo udah dapat apa yang lo cari?" tanya Caesar tiba-tiba. Aku menggeleng dan tersenyum hambar.


"Sedikitpun nggak."


"Memangnya apa yang lo cari?"


"Orang yang bikin adik gue bisa hamil."


"Bayi yang dikandung Freya? Kenapa lo berpikir kalau lo tau siapa bapaknya, lo bisa tau kenapa Freya bisa bunuh diri?"


"Karena gue kenal adik gue!" jawabku dengan kesal. "Freya begitu menghargai sebuah nyawa, terlebih nyawanya sendiri karena dia tau betapa Mama berjuang saat melahirkan dia. Dia nggak mungkin bunuh diri tanpa alasan yang jelas, apalagi itu artinya dia membunuh dua nyawa. Baik nyawa dia maupun nyawa bayinya."


"Kenapa lo nggak berpikir kalau gue ayah dari bayi itu?"


Caesar mengangkat kedua bahunya. "Bagaimana kalau gue ayah dari bayi itu?" ulangnya lagi yang membuatku mengerutkan keningku.


"Bukannya lo sendiri yang bilang kalau lo gay?"


"Gue biseksual, bukan gay."


Aku terdiam lalu menghela nafas panjang. "Kalaupun lo memang ayah dari bayi itu, apa lo akan tinggalin Freya begitu aja? Apa lo akan lari dari tanggung jawab?"


Caesar terdiam. Sudah kuduga dia pasti akan diam. Dia adalah pria paling bertanggung jawab yang pernah ku kenal. Kalaupun dia memang ayah dari bayi itu, tidak mungkin dia akan meninggalkan Freya dan lari dari tanggung jawabnya. Dia pasti akan memilih bersama Freya.


Aku tersenyum pada Caesar dan menepuk bahunya. "Nggak perlu bohong sama gue, Sar. Gue bisa baca ekspresi orang kalau orang lagi bohong."


Caesar menarik sudut bibirnya tanpa menatapku. "Gue juga mencari tau siapa orang yang bertanggung jawab tapi sampai sekarang nggak ketemu," ujarnya pelan. "Freya yang gue kenal seperti apa yang lo bilang barusan. Makanya gue nggak percaya kenapa Freya sampai bunuh diri. Gue dan Collin berusaha mencari tau tapi hasilnya nihil."


"Gimana dengan Azka? Bukannya mereka pernah pacaran?"


"Itu juga yang gue curigai! Masalahnya selama hampir setahun penuh, Azka nggak pernah balik ke Indonesia. Dan gue tau Freya nggak mungkin begitu aja melakukan hubungan badan kalau bukan dengan cowok yang benar-benar dia cintai."


"Apa Freya pernah dekat sama cowok lain selain Azka?"


Caesar menggeleng. "Cowok terakhir yang dekat sama Freya itu cuma Azka, nggak ada yang lain."


"Pak Davin?" tanyaku sambil harap-harap cemas.


Caesar tertawa. "Pak Davin itu nggak pernah dekat sama satu guru, terlebih murid. Mana mungkin Freya mau mengorbankan badannya buat cowok yang baru kurang dari enam bulan dia kenal, apalagi seorang guru?"


Siapa tau Freya cinta sama Pak Davin kayak gue cinta sama dia? Batinku.


"Lo bilang apa barusan?" tanya Caesar tiba-tiba yang menyadarkanku kalau aku mengucapkan pikiranku dengan lumayan keras. "Lo cinta Pak Davin?"

__ADS_1


"Sekarang lo tau rahasia gue yang lain," keluhku dengan kesal.


Caesar terkesiap saat mendengar jawabanku. Dia kelihatan kaget dan matanya terbelalak lebar. Tapi tiba-tiba wajah kagetnya itu berubah jadi senyuman.


"Memangnya ada yang salah dengan jatuh cinta?" kata Caesar yang membuatku tertegun. "Setiap manusia memang lazimnya jatuh cinta dan lo nggak bisa memilih siapa orang yang lo cintai. Lihat gue contohnya. Tapi semua balik lagi ke lo, apa lo mau mengutarakan perasaan lo atau lo simpan dalam hati."


Aku menghela nafas panjang. "Kenyataannya, gue bukan murid dia dan dia bukan guru gue. Apa bisa menjalani hubungan di atas kebohongan?"


Caesar tertawa kecil. "Dasar *****!" ejeknya yang membuatku memukul lengannya. "Lo dengerin dulu penjelasan gue! Main asal pukul aja!" desisnya sambil menggosok lengannya yang kupukul tadi. "Bukannya bagus kalau hubungan kalian bukan guru-murid? Justru kalian nggak akan dipisahkan oleh status kalian."


"Masalahnya gue nggak akan kembali lagi ke sini saat gue udah di Amerika."


"Kapan memang tenggat waktu lo?"


"Paling lama satu bulan lagi. Gue nggak bisa lebih lama lagi disini..."


"Atau lo terlalu terikat sama tempat ini, gue bener, kan?"


Aku tersenyum tipis. "Justru saat ini gue udah terlalu terikat," jawabku. "Gue punya kehidupan sebagai Florentia Abdi Kusuma yang masih harus gue jalani. Makanya selama masih bisa, gue akan menikmati hidup gue sebagai Florence Ferdinand."


Caesar menepuk bahuku sambil tersenyum. "Gue dukung! Soalnya sejak lo datang, sekolah jadi makin seru. Jadi selama lo masih ada disini, gue juga akan menikmati sekolah!"


Aku tertawa kecil. Dan saat aku teringat akan sesuatu, aku memukul lengan atasnya dengan lumayan keras. "Awas lo kalau lo bocorin rahasia gue! Jangan lupa, gue ini hacker. Gue ekspos rahasia lo di dunia maya nanti!"


Caesar menatapku. "Lo tega?" tanyanya dengan kaget.


Aku menyeringai. "Bercanda!"


"Gue kira beneran!" dengus Caesar yang membuat cengiranku melebar. "Tapi pukulan lo sakit juga, ya?"


"Gue diajarin karate sama Braxton, bisa dibilang hobi. Makanya lo jangan main-main sama gue! Gue patahin leher lo nanti!"


...***...


Segalanya berbeda bagiku. Entah kenapa, saat aku datang ke sekolah ini, aku merasa jauh lebih ringan dari biasanya. Sejak aku berjanji untuk menghentikan investigasiku, aku merasa berbeda. Mungkin memang takdirku untuk tidak bisa mencari tahu lebih jauh mengenai Freya. Mungkin aku memang harus membiarkan kematian Freya seperti sebuah puzzle yang tidak bisa aku selesaikan. Saat aku berkata pada Brenda, dia menyetujui apapun pilihanku. Dan aku berjanji padanya akan mengurus kepulangan kami ke Amerika setelah aku puas dengan kehidupan disekolah ini. Setelah aku siap melepas Florence Ferdinand dari hidupku.


Dan berkat itu, hariku jauh lebih ringan. Aku menikmati hariku. Biasanya setiap hari aku akan mengawasi setiap kamera yang ada disekolah ini hingga aku jarang berinteraksi dengan teman-teman sekelasku. Tapi hari ini berbeda. Aku mengobrol dengan Daisy, Stella dan Caesar. Kami bahkan saling bercanda mengenai guru-guru kami. Stella bahkan duduk disampingku saat pelajaran karena dia malas duduk bersama teman satu gengnya. Bukan hanya itu, Stella jauh lebih menghargai Daisy karena Daisy yang memang dekat denganku dan juga karena sikap Daisy yang ramah yang mirip dengan Freya. Selama satu hari penuh, kami hanya bertiga.


"Menurut gue Two Weeks Notice itu film terbaiknya Sandra Bullock," ujar Stella yang membuyarkan lamunanku. Saat ini kami memang sudah pulang sekolah dan kami sedang berjalan menuju gerbang sekolah.


"Tapi The Proposal juga bagus kok meskipun memang lebih unik Two Weeks Notice," ujar Daisy.


"Menurut gue, lebih bagus Sandra Bullock main romantic comedy daripada action. Hasilnya lebih bagus. Daripada Speed yang menurut gue lebih kayak bencana itu," jawabku yang ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Tapi Miss Congeniality keren kok," ujar Daisy.


"Iya! Gue setuju sama Daisy," timpal Stella.


"Memang dasarnya kalian aja yang mau melawan gue," keluhku yang membuat mereka berdua tertawa.


Stella tiba-tiba merangkulku. "Tenang, Flo, kita nggak akan tinggalin elo kok."


"Setuju," kata Daisy sambil ikut merangkulku.


Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. Saat ini, aku, Stella maupun Daisy seperti teletubies yang sedang berpelukan. Saat aku mengatakan itu, mereka berdua ikut tertawa bersamaku.


"Ketawain apa sih?" tanya Caesar yang tiba-tiba ada dibelakang kami. Dia terkejut saat melihat kami memutar tubuh kami tanpa melepaskan rangkulan kami. "Kalian bertiga kayak teletubies lagi berpelukan tau."


"Tapi teletubies kan bertiga," ujar Daisy.


"Biar berempat, gimana kalau ajak Caesar aja?" timpalku yang membuat Stella dan Daisy menatapku. Awalnya mereka terkejut namun mereka menyeringai. Tangan mereka langsung menggapai Caesar dan memeluknya bahkan sampai Caesar berteriak karena jijik yang membuatku tertawa terbahak-bahak.


Namun tawaku hilang saat mendengar sebuah suara berat yang sangat kuhapal.


Suara yang memanggil namaku.


Dan saat aku membalikkan tubuhku, aku langsung membeku.

__ADS_1


Scott menatapku dengan dingin dan dengan tatapan membunuhnya.


"And you think you can hide it from me?" katanya.


__ADS_2