FLO!

FLO!
Bag. 3


__ADS_3

Aku menatap gedung sekolah yang lumayan besar di depanku. Mulai hari ini, aku resmi, kembali, menjadi anak SMA. Sekolah ini memang tidak sebesar sekolahku saat di New York dulu, namun entah kenapa sekolah ini kelihatan lebih asri. Aku menghembuskan nafasku dengan panjang. Papa yang saat mendengar rencanaku mengatakan kalau aku adalah anak paling gila yang pernah dia temui. Tapi hanya ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa menemukan bukti-bukti yang menguatkan kematian Freya. Aku tahu kalau Freya tidak mungkin bunuh diri. Adikku sangat mencintai hidupnya. Pasti ada sesuatu yang mendorongnya, kasus bullying yang menimpanya misalnya. Perhatianku teralih saat ponsel disaku rokku berbunyi. Nama ayahku muncul di layar ponsel itu.


"Kamu sudah sampai?" tanya Papa dengan lembut.


"Udah, Pa. Ini lagi lihat-lihat sekolah yang masih sesepi kuburan," jawabku asal. Sekolah ini memang masih sangat sepi. Wajar, aku sampai di sekolah saat jam menunjukkan pukul enam pagi, mungkin kurang. Bahkan satpam yang ada di depan saja sampai bingung saat melihatku.


"Sudah Papa bilang kamu berangkat bareng Papa," ujar ayahku yang membuatku menyeringai lebar.


"Kalau aku ikut Papa berarti penyamaran aku terbongkar, dong?" tanyaku dengan jenaka. "Flo baik-baik aja. Pokoknya Papa harus rahasiakan ini dari Mama."


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Apa tidak ada kendala?"


"Aku masih bisa membagi waktu, Pa. Pokoknya Papa harus bilang ke Mama kalau Flo kerja di kantor cabang Flo yang ada di Jakarta. Sebisa mungkin Flo akan pulang tepat waktu."


"Baiklah, Papa mengerti."


Aku menutup teleponku dan memasukkannya kembali ke dalam saku rokku. Aku memang cerita pada ayahku mengenai rencana gilaku ini. Aku bilang kalau aku ingin mencari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Freya, tanpa menyebutkan kasus bullying yang menimpa adikku itu.


Awalnya ayahku tidak setuju dan dia malah marah padaku. Aku tidak mengerti kenapa beliau marah, tapi dia mengatakan kalau dia tidak ingin kehilangan putrinya yang terakhir kalau aku sampai masuk ke SMA itu yang membuatku tersentuh. Tapi aku tidak mau mundur dari rencana ini. Aku bersikeras dan akhirnya ayahku menyetujuinya. Meskipun dengan syarat aku tidak boleh memberitahu rencana ini pada Mama.


Dengan bantuan Braxton, aku mendapatkan identitas baru. Bukan sebagai Florentia Abdi Kusuma tapi sebagai Florence Ferdinand. Braxton sengaja membuatku menjadi salah satu anggota keluarganya agar mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi. Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, Braxton mengirimkan semua dokumen yang kuperlukan.


Bukan hanya Braxton yang membantuku tapi juga pengacara ayahku. Dia memang awalnya juga ikut menolak rencanaku, karena bagaimanapun ini masuk dalam penipuan dan melanggar hukum, tapi aku memberikan alasan paling rasional yang membuatnya akhirnya setuju. Polisi tidak bisa membantu mencari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Freya karena mereka pasti membutuhkan tes DNA dari seluruh murid SMA itu dan aku tahu kalau Pak James juga menyayangi Freya sehingga dia pasti akan membantuku. Pada akhirnya Pak James membantuku. Dia yang membuatku bisa masuk ke SMA ini.


Selama aku menunggu masuk ke sekolah ini, aku mengubah penampilanku. Aku memotong pendek rambut panjangku sampai sebahu. Aku juga sengaja menggunakan kacamata, yang biasanya kulepas-pasang, agar orang yang kukenal tidak mengenaliku. Bukan hanya itu, aku juga menggunakan produk riasan agar membuatku kelihatan lebih muda, meskipun itu tidak terlalu kubutuhkan karena ayahku mengatakan saat aku menggunakan seragam SMA ini aku kelihatan seperti anak SMA biasa.


Aku menyewa apartemen yang tidak jauh dari SMA Insani, nama sekolah itu, agar menunjang penyamaranku. Aku tidak mungkin berangkat ke sekolah dari rumahku karena ibuku tidak tahu tentang penyamaranku. Dia kira aku bekerja di kantor cabang perusahaanku yang ada di Jakarta. Jadi setiap pagi aku berangkat dari rumah menuju apartemenku, mengganti bajuku disana, dan kembali berangkat ke sekolah dengan penyamaranku itu.


Terdengar melelahkan memang, tapi aku merasa itu layak diperjuangkan karena aku ingin mencari tahu kematian adikku. Aku harus membiasakan diriku naik angkutan umum karena mobilku sengaja aku tinggal di apartemenku. Aku juga harus terbiasa dengan panggilan Florence Ferdinand, nama yang bukan milikku. Bukan hanya itu, sebisa mungkin aku harus mencari tahu mengenai data murid sekolah ini. Dan untuk itu, aku terpaksa menggunakan kemampuanku untuk melakukannya, yang mungkin kalau ketahuan, aku akan dilaporkan ke polisi. Tapi aku tidak perlu takut. Aku sudah terbiasa menghapus setiap jejak yang ku tinggalkan. Dan kalau aku ingin kejam, aku bisa saja menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.


Aku berjalan menuju atap tempat Freya lompat. Sambil menatap ke bawah, aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaketku. Aku menutup mataku dan berdoa agar Tuhan membantuku selama aku disekolah ini. Tubuhku tersentak saat sebuah tangan dengan kasar menarik bahuku.


"Jangan berbuat bodoh! Masih banyak yang sayang sama kamu!" teriak pria itu.


Aku mengerutkan keningku karena bingung. Apa yang dibicarakan orang ini?


"Sayangi nyawa kamu, Nak. Pikirkan orang-orang yang akan kamu tinggalkan," lanjut pria itu lagi yang membuatku semakin bingung dengan apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Maaf, tapi apa yang anda bicarakan?" tanyaku sambil menatapnya dengan bingung.


Pria itu balas menatapku dengan bingung. "Kamu... bukannya mau bunuh diri?"


Aku menatap pria itu dan tanpa sadar aku tertawa mendengar prasangkanya yang aneh itu. Aku berdeham untuk menghentikan tawaku. "Tenang, saya masih sayang nyawa saya kok."


Pria itu menghembuskan nafas lega. Dia menatapku dari atas ke bawah. Tatapannya seakan sedang melihat orang asing. "Maaf, tapi kamu siapa? Kok saya tidak pernah melihat kamu? Kamu murid kelas berapa?"


Aku mengangkat kedua bahuku. "Saya belum tau murid kelas berapa dan saya sedang mencari kantor guru."


"Oh, kalau kantor guru ada di lantai dua. Lewat tangga yang ada ditengah saja dan kamu pasti langsung ketemu."


Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Aku meninggalkan pria itu dan mengikuti arahan pria itu. Aku tidak tahu dan tidak tertarik mencari tahu siapa pria itu. Pertama-tama, aku harus mencari tahu tentang gadis yang ada di video kemarin. Mungkin dari dia, aku bisa mencari tahu siapa ayah dari bayi itu dan siapa tahu aku bisa tahu alasan kenapa Freya memutuskan bunuh diri. Aku menuruni tangga dan menyadari kalau sekolah ini sudah mulai ramai oleh murid yang berdatangan.


Aku mengetuk pintu ruang guru. Seorang pria berperut buncit dan agak pendek melihat kedatanganku dan tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.


"Kamu Florence Ferdinand?" tanyanya dengan ramah sambil membuka laptop yang ada di depannya. Aku mengangguk pelan.


"Transkrip nilai kamu di atas rata-rata. Bukan hanya itu, surat rekomendasi yang dikeluarkan sekolah kamu juga menuliskan kalau kamu murid yang luar biasa. Apalagi saat ujian masuk kemarin, nilai kamu juga lumayan..." pujinya berkali-kali.


Aku hanya bisa tersenyum sambil berusaha menahan tawa. Kelihatannya pekerjaan Braxton luar biasa. Buktinya orang-orang bisa tertipu dengan dokumen-dokumen itu.


Kelebihan sekolah ini adalah mereka menggunakan sistem komputer canggih untuk proses belajar-mengajar. Mereka bahkan memiliki program sekolah tersendiri sehingga murid tidak perlu menggunakan buku untuk mengerjakan tugas mereka. Bukan hanya itu, mereka memiliki chat room per mata pelajaran dan per kelas untuk membahas pelajaran mereka. Dan justru disana keuntungan bagiku. Aku hanya perlu memasukan beberapa virus ke dalam komputer sekolah dan, blas! sistem sekolah ini menjadi milikku. Yang perlu kulakukan hanya mencari komputer yang terhubung langsung ke sistem utama sekolah ini.


Aku berjalan mengikuti guru perut buncit itu saat bel sudah berbunyi. Aku masuk ke dalam ruang kelas yang terdengar sangat berisik dari luar. Tapi begitu guru berperut buncit itu masuk, ruangan kelas itu langsung sepi. Guru itu mempersilakan aku untuk masuk.


"Kalian memiliki teman baru. Ayo, Florence, perkenalkan diri kamu," ujarnya.


Aku mengangguk. "Nama saya Florence Ferdinand," ujarku. Terdengar suara 'Wow' yang keras yang berasal dari belakang.


"Hey! Hey! Tenang!" kata guru buncit itu. "Dia baru kembali ke Indonesia dan kalian harus membantunya. Mengerti?"


"Baik, Pak!" jawab murid dengan serentak.


"Akhirnya ada juga orang yang mau masuk ke sekolah ini sejak Freya bunuh diri," bisik seorang perempuan yang membuatku semakin bingung. Tapi perhatianku teralih saat guru itu menunjuk bangku tempatku duduk.


Aku duduk di bangku paling ujung yang ada di dekat pintu masuk. Aku tidak punya teman sebangku karena bangku disini memang tidak berdampingan seperti aku SMP dulu. Disini setiap bangku memiliki jarak. Bangkunya saja bukan bangku kayu yang biasa tapi bangku dengan busa lembut. Meski tidak selembut bangku kerja milikku, setidaknya aku akan merasa nyaman duduk di atasnya selama beberapa jam sampai aku pulang.

__ADS_1


Pelajaran dimulai. Ternyata aku baru tahu kalau pria buncit itu adalah guru kimia. Untunglah selama hampir tiga minggu, aku berusaha mengulangi setiap pelajaran sekolah agar aku tidak sebingung yang kupikirkan. Beberapa pelajaran memang berbeda dengan saat aku sekolah dulu tapi aku membiasakan diriku. Aku bahkan menyewa guru privat untuk mengajariku. Aku beruntung karena meskipun berbeda, aku mampu menguasai pelajaran dengan waktu yang relatif singkat. Tapi tetap saja ada beberapa pelajaran dimana aku masih berusaha mengejar.


Perhatianku teralih pada tulisan yang ada dilaci meja. Aku tahu kalau ini adalah bekas meja milik Freya, terlihat dari tulisan yang mengusir Freya dari sekolah ini. Aku menatap sekelilingku, berusaha mencari setiap wajah murid pria yang kemungkinan adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Freya. Sambil mengikuti pelajaran, aku juga mencari wajah perempuan di video itu. Tapi kelihatannya perempuan itu bukanlah murid di kelas ini. Aku menutup mataku sambil dalam hati mengucapkan sumpahku. Aku tidak akan pergi dari sekolah ini sampai aku menemukan siapa orang yang membuat Freya-ku meninggal!


...***...


Aku menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur. Ternyata hari pertama tidak seburuk pikiranku. Hanya saja aku merasa aneh. Tidak ada satu orangpun yang mendekatiku. Saat aku mendekati salah seorang dari mereka, mereka malah menjauh seakan aku menderita penyakit menular. Bukan hanya itu, aku sadar kalau mereka juga membicarakanku dari belakang. Aku bisa mendengar ucapan mereka yang mengatakan, 'biar Stella yang nilai dan baru kita dekati'. Awalnya aku bingung dengan ucapan mereka. Siapa Stella?


Selain itu, tidak ada kejadian menarik. Meskipun begitu, aku sudah tahu dimana aku bisa menyebar virus milikku. Sekolah memiliki laboratorium komputer dimana itu terhubung langsung dengan sistem utama milik sekolah. Aku hanya perlu mencari waktu kapan bisa memasukkan virus itu dan mengunduh data-data milik sekolah. Dan aku beruntung karena besok aku memiliki pelajaran komputer.


Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan membohongi Mama. Aku memang berangkat dari rumah jam lima pagi dan baru pulang sekitar jam tujuh malam, agar ibuku tidak curiga. Ibuku memang tahu kalau aku workaholic dan aku berusaha agar dia tetap berpikiran seperti itu. Aku bahkan sengaja meminta ayahku untuk mengikuti kebohonganku.


Aku membuka laptopku dan kembali melanjutkan pekerjaanku yang aku tinggalkan sementara. Aku harus segera menyelesaikannya agar Brenda tidak curiga dan malah menyusulku ke Jakarta. Aku tahu Brenda pasti akan menolongku tapi justru itu yang tidak ingin kulakukan. Sudah terlalu banyak hutangku pada Brenda. Aku menyelesaikan setiap program yang harus aku selesaikan agar aku tidak dikejar oleh deadline. Dan begitu selesai, aku langsung mengirimkannya pada atasanku melalui e-mail dan biar dia yang menilai.


Saat menutup laptopku, aku baru menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku meregangkan ototku. Aku hanya punya dua jam untuk tidur. Tidak masalah karena aku memang sudah terbiasa melakukannya. Aku membaringkan tubuhku ke atas ranjang. Dan sebelum menutup mata, memoriku akan suara tawa Freya kembali dan membuatku semakin merindukannya.


...***...


Aku menguap sambil meregangkan ototku. Untung saja aku membawa satu termos kopi hitam kental yang akan membantuku agar tidak mengantuk. Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah. Aku sadar kalau aku satu-satunya murid sekolah ini yang menggunakan angkutan umum. Sebab saat mereka melihat aku turun dari angkutan berwarna biru itu, mereka menatapku seakan aku adalah makhluk luar angkasa. Tapi aku tidak peduli. Perhatianku teralih saat ponselku bergetar disaku rokku.


"Brenda called me and she's suspicious about something," ujar Braxton tanpa menyapa sama sekali. Aku kembali menguap lebar.


"Halo juga, Braxton," sapaku dengan malas.


"Aku serius, Flo. Dia bilang dari kemarin dia mencoba menghubungi kamu dan nggak tersambung, something you've never done before. Dia telepon aku dan cerita kalau dia curiga kalau terjadi sesuatu. Dia takut kamu nggak balik ke New York."


Aku tersenyum. Masalahnya kalau aku tidak kembali, Brenda akan kehilangan pekerjaannya. Dia adalah agen sekaligus asisten pribadiku sehingga kalau aku pergi, dia terpaksa mencari programmer lain atau dia akan kehilangan pekerjaannya.


"Don't worry. I've already told her that I'll be back as soon as I can," jawabku dengan tenang. "Dan kalau dia sampai tau, maka itu dari kamu dan kamu harus siap-siap mati. Kamu lupa kalau beberapa track record kamu masih ada di aku?"


"Thank you for nothing. That's why I hate you so much."


Aku tertawa mendengar rutukan Braxton. "Yeah, and I love you too."


Aku menutup telepon Braxton dan baru menyadari kalau aku tengah ditatap oleh beberapa murid yang melewatiku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku memang tidak tertarik bersosialisasi di tempat ini. Yang aku butuhkan hanya informasi dan begitu berhasil aku dapatkan maka aku akan angkat kaki dari tempat ini. Aku memang sudah terbiasa bersikap kejam karena itu yang kubutuhkan selama aku berada di Amerika. Kalau aku lemah, aku akan terusir dari tempat itu.


Saat aku sampai di kelas, aku menyadari kalau aku menjadi bahan pembicaraan dan orang-orang menatapku. Dan tiba-tiba, aku dirangkul dari belakang. Baru saja aku akan melepaskan rangkulan itu saat aku membalikkan tubuhku dan melihat perempuan yang kucari selama ini. Anak yang membuat Freya-ku menangis. Orang yang menertawai Freya dan membuatnya seperti berada di neraka dunia.

__ADS_1


"Jadi lo anak barunya? Nggak ada yang spesial," ujarnya sambil menatapku dari atas ke bawah seakan tengah menilaiku.


__ADS_2