FLO!

FLO!
Bag. 4


__ADS_3

"Cuma anak kutu buku lainnya," ujar gadis itu.


Aku mengerutkan keningku mendengar ucapan anak ini. Anak itu melewati diriku sambil dengan sengaja menabrak bahuku. Kelihatannya dia ingin membuatku takut. Tapi sayang, itu tidak akan terjadi. Dia tidak lebih menyeramkan dari seniorku ataupun bosku saat bekerja. Dia hanya anak ingusan yang ingin kelihatan berkuasa.


Aku mendesah panjang. "Another brainless girl," ujarku sambil menatap anak itu.


"Apa?" tanya anak itu sambil membalikkan tubuhnya.


"Lo dengar gue barusan," jawabku. Aku menepuk bahunya sambil melewatinya. "Biasanya cewek berdada besar itu nggak punya otak. Cuma penasaran apa lo salah satunya."


Aku duduk di bangkuku dan meletakkan tasku di atas meja. Perhatianku teralih saat tasku tiba-tiba dibuang ke lantai yang membuatku mengangkat sebelah alisku. Untung saja tasku tidak berisi laptopku yang berharga atau aku sudah membunuh anak ini. Aku kembali menghela nafas panjang dan menatap wajah gadis itu.


"Childish," ujarku pelan sambil bersedekap. Aku tidak tertarik mengambil tasku yang jatuh. Aku malah menatap gadis itu dari atas ke bawah. Sikap anak ini mengingatkanku akan yuniorku di tempat kerjaku. Mereka berdua sama-sama menyebalkan.


"Jangan karena lo anak baru, lo bisa berbuat sesukanya. Justru karena lo anak baru, lo harus sadar tempat lo!" ancamnya yang membuatku menaikkan alisku.


Anak ini benar-benar kekanakan.


Bocah ingusan.


"Dan dimana tempat gue itu?" tanyaku sambil menantangnya.


"Lo itu makhluk rendahan! Nggak pantas menantang gue!" desisnya.


Aku menaikkan sebelah alisku. "Dan lo memangnya siapa? Tuhan atau dewa sampai gue nggak pantas melawan lo?" balasku. "Selama lo manusia, untuk apa gue takut? Kecuali lo titisan kuntilanak baru mungkin gue akan takut sama lo."


Terdengar suara terkekeh dari ruangan kelas. Aku menatap gadis itu yang wajahnya mulai memerah karena marah. Aku tersenyum tipis karena aku tahu aku menang melawan anak ini. Setidaknya perasaanku jauh lebih baik saat gadis itu membalikkan tubuhnya sambil memekik kalau ini belum selesai. Tenang saja, Nak, gue masih belum selesai sama lo. Ancamku.


...***...


Ternyata laboratorium komputer jauh lebih baik dari yang kupikirkan. Setiap komputer dipasangi bilik yang membuatku tidak akan ketahuan. Apalagi aku duduk dibangku paling belakang ruang itu. Saat melewati beberapa murid, aku bisa mendengar mereka membicarakanku. Aku yang sudah terbiasa menjadi bahan perbincangan, akhirnya hanya diam sambil melewati mereka. Aku menyalakan komputer itu dan menatap layarnya. Perhatianku teralih saat pintu terbuka. Seorang pria berkaca mata dan berambut cepak masuk sambil membawa laptop. Aku mengerutkan keningku. Meskipun rambutnya hitam pekat, wajahnya seakan memiliki darah kaukasia.


Aku seperti pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi dimana?


"Baiklah anak-anak, tugas kalian sekarang adalah membuat rumus excel yang akan saya kirim melalui e-mail dan kalau sudah selesai kembali kirim pada saya. Itu akan menjadi bahan ujian kalian minggu depan," kata pria itu. Terdengar desahan kecewa dari murid.


"Tapi, Pak, kita punya anak baru. Dia belum tentu tau rumusnya," ujar seorang gadis berkaca mata yang duduk dua bangku di depan bangkuku. Aku tersenyum saat mendengar dia mengingatku.


Pria itu berjalan menuju tempatku. Saat menyadari lebih dekat, ternyata dia jauh lebih tampan. Meskipun disembunyikan oleh kacamata, aku bisa melihat matanya berwarna cokelat. Pria itu mengulurkan tangannya.


"Saya Davin. Saya sudah dengar tentang kamu, Florence. Saya akan kirim setiap rumus yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini dan pelajari karena minggu depan kita akan ujian," ujar pria itu sambil menarik tangannya saat kami selesai bersalaman. Nada pria itu terdengar arogan. Aku hanya mengangguk dan pria itu membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Saat aku membuka tugas yang dimaksud pria itu, aku ternganga. Ini sih bisa aku kerjakan sambil menutup mata. Aku berani bertaruh aku bisa menyelesaikan tugas ini hanya kurang dari sepuluh detik. Tapi aku tidak boleh terlalu menonjolkan diriku. Aku mengingatkan diriku agar aku tidak melupakan tugasku selama berada disekolah ini.


Sebuah e-mail masuk ke komputer itu dan aku langsung membukanya. Berasal dari guru itu karena berisi rumus-rumus excel yang membuatku menggeleng pelan. Ini sih jauh lebih mudah dari pikiranku. Tapi untuk menunjang penyamaranku, aku sengaja membuatnya salah sehingga pria bernama Davin itu mengirimkan kembali dengan catatan dimana kesalahanku.


Aku sengaja memperlambat tugasku agar aku bisa berada lebih lama disini. Aku mengambil flash drive dari dalam saku jaketku dan memasukkannya ke dalam CPU komputer itu. Aku bersedekap sambil menyenderkan tubuhku ke bangku. Sedetik kemudian, semua komputer di ruangan itu langsung mati. Bukan hanya komputer di ruangan itu, tapi kelihatannya seluruh komputer yang terhubung dengan sistem sekolah.


"Jangan ada yang panik! Ini hanya sistem yang down. Sebentar lagi juga akan menyala," kata Davin, berusaha menenangkan murid yang panik.


Aku tersenyum penuh arti.


Iya, nggak perlu takut.


Sebentar lagi akan baik-baik saja.


Setiap lampu yang ada di setiap CPU berkedap-kedip dengan cepat, menandakan kalau virus yang kumasukkan mulai tersebar ke setiap komputer. Tidak lama, semua komputer di ruangan itu kembali menyala dan seakan tidak terjadi apapun. Bahkan folder yang tadi kubuka kembali muncul dilayar komputer. Aku tersenyum tipis.


Satu setengah tahun yang lalu, sistem sekolah ini rusak karena kemasukan virus komputer dan Freya meminta bantuanku. Meskipun saat itu aku berada di New York, aku bisa menjangkaunya melalui program buatanku. Karena itulah aku mampu memasukkan virus ke komputer sekolah ini hanya dengan menggunakan virus yang tidak terlalu bagus. Dan setelah kupikir, virus ini tidak sejelek pikiranku. Virus ini ternyata jauh lebih berguna daripada aku menggunakan virus komputer yang lain yang biasa aku gunakan. Kelihatannya aku bisa menyempurnakan virus ini lagi agar aku bisa gunakan lebih jauh.


Tidak lupa, aku menarik flash drive milikku yang tadi aku gunakan dan memasukkannya ke dalam saku rokku. Aku bangkit dari dudukku saat e-mail balasan dari Davin yang mengatakan kalau tugasku sudah benar. Aku mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan Davin dan laboratorium itu. Sambil menggerakkan leherku, aku tersenyum lebar dan menatap sekolah ini.


Now you're mine.


...***...


Meskipun aku bisa mencari tahu tentang Stella dan antek-anteknya, aku tidak mampu menemukan seorang pria pun yang memiliki koneksi dengan kehamilan Freya. Meskipun begitu, aku mencari data setiap nama laki-laki yang muncul di diary Freya. Aku membuat benang merah yang menghubungkan Freya dan setiap laki-laki yang muncul paling banyak di diary itu.


Seorang pria bernama Azka, mantan ketua OSIS sekaligus mantan pacar Freya. Di diary itu bertuliskan kalau Freya mengalah untuk karena tidak ingin membuat 'dia' sakit hati. Siapa 'dia' yang dimaksud Freya? Apalagi Freya menulis di diary itu, mengatakan kalau orang itu membencinya karena mendekati Azka. Apa dia ayah dari bayi itu? Tapi masih ada kemungkinan bukan karena selama setengah tahun ini Azka melakukan pertukaran pelajar ke Singapura sedangkan umur kandungan Freya baru tujuh minggu.


Lalu ada Caesar, sahabat Freya sejak SMP. Freya menulis kalau hubungan mereka merenggang. Freya mengatakan kalau sejak awal Caesar tidak setuju kalau Freya pacaran dengan Azka. Mereka memang tetap menjadi sahabat tapi entah kenapa tiba-tiba Caesar menjauhinya. Tidak ada alasan yang jelas yang mampu aku temukan. Kelihatannya aku harus mencari tahu alasan Caesar itu.


Terakhir ada Collin. Saat melihat foto pria itu, aku kaget. Dia adalah pria yang mengira aku mau loncat dari atap sekolah. Ternyata dia adalah seorang guru BP. Dan Freya menulis kalau Collin hanya satu dari sedikit orang yang baik pada Freya. Justru itu yang membuatku curiga. Dan kalau memang dia yang menghamili Freya, aku tidak akan memaafkannya. Aku akan mengejarnya dan membuatnya menyesal karena telah mengenal diriku.


Aku menaikkan alisku saat tanpa sengaja melihat foto Davin di daftar guru. Umurnya tiga puluh, hanya berbeda lima tahun dariku. Aku penasaran karena aku pernah melihat pria ini sebelumnya. Aku berusaha mengingat tapi tidak berhasil. Tubuhku tersentak saat laptopku berbunyi, menandakan kalau seseorang berusaha menghubungiku melalui Skype. Aku tersenyum saat melihat nama Brenda yang muncul.


"Hai, Brenda," sapaku dengan riang. Brenda kelihatan begitu lega saat melihat wajahku.


"Thank God, aku coba menghubungi kamu jutaan kali tapi kamu nggak angkat. Aku kira kamu diculik!" desisnya yang membuatku terkekeh.


"I miss you too," balasku yang membuatnya akhirnya diam dan ikut tersenyum.


"Gimana keadaan orang tua kamu?"

__ADS_1


"Papa udah mulai terima tapi Mama masih syok. Aku masih sering temuin dia nangis dikamar Freya sambil peluk bantal Freya. Aku nggak bisa melarang karena kadang aku juga melakukan hal yang sama."


Wajah Brenda kelihatan sama sedihnya denganku. Mungkin kalau dia ada disini, dia akan memelukku dan menghiburku. Sikap penyayangnya yang mengingatkanku akan Freya.


"Keep her safe. Jangan sampai dia sakit karena kehilangan Freya," kata Brenda yang mengingatkanku kalau kematian Freya bukanlah akhir dunia. Aku mengangguk.


"And about your job," ujar Brenda yang menyadarkanku dari lamunanku. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu udah kirim semua tugas kamu ke headquarters?"


Aku menyeringai. "Biar cepat, Brenda. Aku nggak mau dikejar ­deadline jadi aku langsung kirim ke Bos besar."


"Tapi jadinya dia marah ke aku karena kamu menyelesaikan pekerjaan kamu lebih cepat dari biasanya. Katanya kamu mengganggu jadwalnya."


Aku meringis. Aku kirim tugasku lebih lama, salah. Aku kirim tugasku lebih cepat, juga salah. Dia memang tipe bos paling menyebalkan yang pernah ada. Tapi meskipun begitu, dia juga bos yang baik. Buktinya dia tidak mempermasalahkan cutiku yang panjang ini dan membiarkanku tinggal di Jakarta selama enam bulan.


"Terus kapan kamu kembali ke New York?" tanya Brenda yang kembali menarikku pada realita.


"Belum tau. Sampai Mama lebih tenang," jawabku sambil menatap foto keluargaku yang ada disamping laptopku. "Kamu nggak perlu cemas. Bos akan tetap mengirim pekerjaan yang bisa aku kerjakan dan kamu akan tetap menerima gaji kamu. Meskipun aku cuma bisa meeting lewat teleconference atau lewat telepon. Dan kuserahkan tugas menemui klien padamu, oke?"


Brenda menghela nafas berat dan panjang. "Setidaknya kalau kamu ada disini, pekerjaan aku nggak seberat ini," dengusnya yang membuatku tertawa.


"Ada yang mau aku tanyain. Kamu kenal yang namanya Davin?" tanyaku saat mengingat wajah guru komputerku itu.


"Davin? Siapa itu? Your next boyfriend?" goda Brenda yang membuatku memutar bola mataku. "Nggak kenal. Mungkin kalau kamu kirim fotonya, aku bisa ingat."


Aku langsung mengirimkan foto Davin melalui e-mail dan saat Brenda menerima e-mail-ku, dia menggeleng pelan.


"Nggak pernah lihat. Kenapa? Kok kamu penasaran banget? Siapa dia?" tanyaBrenda.


"No one. Aku cuma merasa pernah lihat dia dimana tapi aku lupa."


Brenda menggerakkan lehernya. Dia menatapku dengan curiga. "Aku lihat beberapa minggu ini Braxton lagi sibuk banget. Menurut kamu dia kenapa?"


Aku mengangkat kedua bahuku. "Dunno. I have no idea."


"Apa dia balik lagi ke pekerjaannya yang dulu? Kalau iya, aku patahin lehernya," ancamnya yang membuatku tertawa.


"Bukannya dia udah janji untuk nggak akan melakukan kejahatan lagi? Lagipula, kali ini aku nggak akan bantu dia, kok."


Suara panggilan Mama yang memanggilku untuk makan malam membuatku terpaksa harus menghentikan pembicaraan ini. Brenda membuatku berjanji untuk menghubunginya sesering yang ku bisa. Lalu aku mengirimkan pesan pada Braxton yang mengatakan kalau kali ini aku berhasil menyelamatkannya dari kecurigaan Brenda. Braxton hanya membalas kalau dia tidak berterima kasih karena itu memang sudah tugasku.


Sambil menuruni tangga menuju ruang makan, aku memikirkan dua bersaudara itu. Braxton adalah kakak kembar Brenda meskipun wajah mereka tidak mirip. Mereka hanya berbeda satu menit. Awalnya mereka adalah tetangga flatku saat aku berada di Massachussetts. Mereka adalah orang yang paling dekat denganku. Braxton adalah perwira angkatan laut Amerika. Dan karena itulah, dia memiliki kenalan yang mampu memalsukan identitas.

__ADS_1


Saat Braxton bermasalah dengan hukum, aku yang membantunya beberapa kali karena mengingat betapa baiknya mereka padaku. Tapi itu tidak lama karena pada akhirnya Braxton menunaikan tugasnya diatas kapal dan jarang kembali. Karena Brenda tinggal seorang diri, saat aku lulus dan menjadi programmer disalah satu perusahaan di New York, aku memintanya untuk ikut denganku dan menjadi asistenku. Gajinya lumayan besar dan dia tidak perlu cemas dengan tempat tinggal karena dia akan tinggal denganku. Makanya aku berusaha secepat mungkin agar bisa segera kembali ke New York dan meneruskan pekerjaanku. Semakin cepat aku menemukan pria tak bertanggung jawab itu, semakin baik.


__ADS_2