FLO!

FLO!
Bag. 10


__ADS_3

Aku mengangkat kepalaku saat mendengar pintu terbuka. Davin masuk dan mengatakan kalau sistem sekolah sudah kembali seperti semula. Katanya hanya pekerjaan orang iseng. Aku menatapnya curiga.


Aku langsung berdiri dari bangkuku setelah jam ekskulku berakhir. Setelah pamit sekilas pada Davin, aku berlari menuju halaman sambil berusaha menelepon Braxton. Dia bilang satu jam lagi dia akan menjemputku tapi aku tidak melihat satupun mobil dihalaman sekolah. Perhatianku teralih saat mendengar suara klakson dan aku mengangkat kepalaku.


"Aku udah disini, kamu nggak usah telepon," desis Braxton sambil mengangkat ponselnya. Aku berjalan menuju bangku penumpang dan membuka pintunya.


"Kamu bilang satu jam dan ini udah lebih dari satu jam," gumamku kesal setelah aku masuk ke dalam mobil.


"Aku nggak tau kalau jalanan Jakarta akan semacet itu!" jawabnya dengan lebih kesal.


Aku memutar bola mataku. "Where's my package?"


Braxton menunjuk bangku belakang dan aku langsung meraihnya. Aku merobek plastik yang membungkusnya dan mengeluarkan laptop baruku dari dalam kotaknya. Tidak berbeda dari laptop lamaku, bahkan warnanya sama. Aku membuka laptop baruku itu dan menyalakannya. I love you so much, Scottie. Begitu aku masuk kerja, aku akan kerja keras untuk membayar semua kebaikanmu ini. Bagaimana aku tidak bersyukur kalau semua programku di­-input ke dalam laptop ini agar sama dengan laptopku yang rusak?


"Kita bisa ke coffee shop karena nggak mungkin lo betulin laptop itu di dalam sini," usul Braxton. Aku mengangguk setuju sambil mencari semua program milikku yang ada di dalam laptop itu. Wah, bosku bahkan sudah mengganti alamat IP-nya dengan alamat IP lamaku agar bisa aku utak-atik.


Aku dan Braxton memilih sebuah kedai kopi yang agak jauh dari apartemen kami karena kami tidak mau berpapasan dengan sang menteri. Dan selama aku menunggu Braxton yang membelikan kopi untukku, aku mulai meyambung motherboard laptop lamaku ke laptop baruku. Tidak terlalu sulit karena aku sudah terbiasa melakukan hal ini. Kepalaku terangkat saat Braxton datang sambil membawakan kopi untukku.


"Bisa?" tanyanya sambil melihat laptop lamaku yang sudah patah itu.


"Bukan Flo namanya kalau nggak bisa mengerjakan hal ini," jawabku.


Braxton bersedekap lalu menatapku. "Ini yang bikin aku selalu tanya. Kenapa kamu nggak jadi guru aja? Kenapa harus jadi murid?"


Aku menyeringai lebar. "Lebih cepat jadi murid daripada jadi guru."


"Maksudnya?"


"Kalau jadi guru, aku harus melamar kerja dan menunggu panggilan, berbeda kalau jadi murid. Aku tinggal memalsukan nilai terbaik supaya bisa masuk secepat yang aku bisa. Memangnya ada sekolah yang menolak siswa terbaik?" tanyaku sambil mengangkat kedua bahuku. "Alasan lainnya yang jauh lebih logis, memangnya ada guru yang di-bully muridnya? Aku cuma perlu jadi murid dan cari tau info sebanyak yang aku bisa."


Braxton menggelengkan kepalanya saat mendengar jawabanku. Dia tidak bisa membantah karena jawabanku memang logis. Dia meringis saat melihat aku mematahkan laptop lamaku jadi dua bagian dan menyingkirkannya dari hadapanku.


"Nanti aku buang. Aku nggak mau identitas aku ketahuan kalau ada yang ambil laptop ini," jawabku saat Braxton bertanya kenapa aku mematahkan laptopku.


Aku mengetik secepat yang kubisa untuk memasukkan semua data yang ada di laptop lamaku ke dalam laptop baruku. Braxton yang melihat kecepatan tanganku hanya bisa menggeleng. Dia membalikkan tubuhnya dan kembali sibuk bertelepon dengan temannya. Perhatianku teralih saat Braxton kembali dengan wajah bingung.


"Kenapa?" tanyaku sambil menyenderkan tubuhku ke senderan kursi. Aku memang sedang menunggu dataku masuk dan aku tersenyum tipis saat melihat pekerjaanku selesai.


"Aneh. Aku lihat dua tersangka kamu masuk ke mall ini," jawab Braxton.


"Kamu nggak salah lihat?"


Braxton menggeleng. "Aku selalu lihat foto mereka setiap aku bicara sama kolega aku jadi aku nggak mungkin lupa. Collin dan Caesar."


Aku mengerutkan keningku karena bingung. "Selama disekolah, aku nggak pernah lihat mereka bicara. Caesar aja nggak pernah datang ke ruang BP. Aku nggak tau mereka sedekat itu."


"Menurut kamu ini aneh?"


Aku mengangguk.


"Berarti kamu harus cari tau lebih lanjut."


"Aku sendirian? Kamu nggak ikut?"


Braxton mendorong keningku pelan menggunakan jari telunjuknya. "Minggu depan aku harus melapor tugas, Sis." Dia menegakkan tubuhnya. "Jangan terlalu lama berada di sini, Flo. Semakin lama kamu disini, aku takut terjadi sesuatu sama kamu."


Aku tersenyum karena mengerti kecemasannya. "Aku bisa menjaga diri aku, Brother."


Braxton menggeleng. "Kamu memang bisa menjaga diri kamu dari orang lain, tapi apa bisa kamu menjaga diri kamu dari diri kamu sendiri?


Aku mengerutkan keningku dengan bingung.

__ADS_1


"Aku takut kamu menolak untuk kembali," bisiknya dengan pelan. "Apa kamu siap melepaskan semua hal kalau memang kebenarannya ternyata nggak sebaik yang kamu kira?"


Aku terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Brexton. Dia memang benar dan itu yang kutakutkan. Itu yang membuatku takut kalau ternyata Freya bunuh diri karena keinginannya sendiri.


Braxton berdeham. Dia menarik tanganku. "Kamu masih mau disini atau pulang? Barusan Brenda telepon dan dia bilang kita udah bisa pulang sekarang."


"Kita pulang aja," bisikku sambil menutup laptopku. Braxton melepaskan tanganku karena aku harus memasukkan laptopku ke dalam tas. Aku membiarkan dia mengambil laptop lamaku yang sudah terbelah menjadi dua itu dan kembali menggenggam tanganku.


"Pikirin kata-kata aku tadi, Flo. Anggap aja saran dari kakak," tambah Braxton. Aku mengangguk pelan dan membalas genggaman Braxton.


...***...


Semakin kupikirkan, semakin benar ucapan Braxton dan semakin frustasi jika aku memikirkan semua itu. Aku jadi tidak bisa fokus pada pengejaranku dan malah membuatku tidak bisa melakukan apapun. Aku, Florentia Abdi Kusuma, orang yang paling serius dalam mengerjakan satu hal, bahkan tidak mampu menyelesaikan rumus yang diberikan oleh Davin untuk pekerjaan rumahku! Padahal sebelumnya aku bahkan bisa mengerjakan hal yang sama sambil menutup mataku. Aku yang frustasi sampai membanting keyboard komputer yang ada di depanku karena kesal.


"Kamu mau merusak properti sekolah?" tanya Davin yang sudah berdiri di sampingku sambil menatapku.


Aku menatapnya. "Saya nggak bisa menyelesaikan ini, Pak!" desisku sambil menunjuk layar komputerku.


Dia menatapku. "Biasanya kamu bisa meskipun kamu coba beberapa kali," tanyanya sambil menaikkan alisnya. Aku menggeleng.


"Kali ini terlalu sulit, Pak."


"Sulit? Berarti itu aneh. Coba saya lihat." Dia menggeser kursiku dan menatap layar komputerku. Tidak lama, dia mengalihkan pandangannya padaku. "Kamu yakin kamu tidak bisa mengerjakan ini?"


Aku mengangguk lemah. "Udah saya bilang saya nggak bisa, Pak."


Davin mengerutkan keningnya dan menatapku dengan bingung. "Aneh. Ini kan tugas kelas satu yang saya ulang. Kenapa kamu tidak bisa kerjakan?"


"Andai saya tau, Pak," gumamku pelan.


Dia terdiam. "Istirahat di UKS," perintahnya.


"Apa?" tanyaku karena tidak bisa mendengar ucapannya.


"Saya boleh pergi sebelum bel pergantian jam, Pak?" tanyaku. Dia mengangguk yang membuatku tersentuh. Ternyata dia baik juga.


"Lebih baik kamu istirahat daripada kamu jadi pengganggu disini," jawab Davin yang membuat pujianku tadi aku tarik!


Aku menatapnya dengan jengkel dan bangkit dari dudukku. Dia memundurkan tubuhnya agar aku bisa melewatinya. Aku berterima kasih padanya sebelum meninggalkannya. Aku juga mengangguk pada Daisy saat dia melihatku. Aku berjalan menuju ruang UKS yang memang hanya berjarak dua ruangan dari ruang laboratorium komputer. Aku mengetuk pintu ruang UKS dan saat mendengar jawaban dari dalam, aku langsung membukanya.


"Lho? Florence? Kenapa kamu ke sini? Kamu sakit?" tanya Bu Mawar.


"Pak Davin suruh saya ke sini, Bu," jawabku dengan suara serak. Dia mendatangiku dan meletakkan tangannya ke keningku.


"Wah, kelihatannya kamu demam. Kamu istirahat disitu saja." Mawar menunjuk sebuah ranjang kecil yang ada disamping bangkunya. "Saya ambil obat dulu buat kamu."


Aku terbatuk pelan. Tenggorokanku tidak enak dan lidahku terasa pahit. Aku duduk di ranjang itu dan Mawar memberikan sebutir tablet putih padaku dan segelas air mineral. Aku langsung menenggak obat dan air putih itu lalu berbaring ke ranjang itu. Aku baru sadar betapa baiknya dia padaku karena dia menyelimuti tubuhku.


"Kamu baik-baik aja? Perlu Ibu telepon orang tua kamu?" tanyanya dengan lembut. Aku menggeleng.


"Mama saya kerja, Bu," jawabku pelan.


"Papa kamu?"


"Udah meninggal."


"Oh, maaf. Saya kira pria asing kemarin itu papa kamu."


Aku menggeleng. "Dia kakaknya ibu saya, Bu."


Mawar menatapku kasihan. Dia menggenggam tanganku. "Saya juga kehilangan ayah saat saya masih muda," katanya dengan menyesal. Aku menatapnya dan sekilas melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya saat menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Ibu sudah menikah?" tanyaku. Wajahnya berubah saat mendengar pertanyaan itu dan aku langsung meminta maaf. "Maaf, Bu, kalau saya lancang."


Dia menggeleng. "Tidak apa-apa, Flo. Boleh saya panggil Flo?" Aku mengangguk. "Suami saya meninggalkan saya sambil membawa putra saya yang masih kecil. Mencari pria yang baik di dunia ini memang sulit."


Aku menatapnya. Meskipun tertawa, aku bisa melihat ada duka diwajahnya. Dia langsung tersenyum saat melihat wajahku itu. Tangannya terulur untuk memijat keningku yang tadi memang mengerut.


"Tidak usah melihat saya seperti itu. Saya baik-baik saja," ujar Mawar lembut.


"Ibu udah mencari kemana suami dan anak Ibu pergi?"


Dia mengangguk. "Dia menghilang tanpa jejak. Saya sudah melapor ke polisi dan dari mereka saya tahu kalau suami saya menjadi DPO polisi karena kasus penipuan. Dia kabur, bukan hanya meninggalkan saya tapi juga membawa serta putra saya."


Aku menatapnya kasihan. Kasihan wanita secantik dan sebaik dia mendapatkan suami tidak bertanggung jawab seperti itu. Melihat keningku yang kembali mengerut, dia kembali memijatnya lembut.


"Kamu jangan biasakan mengerutkan kening kamu atau kamu bisa punya kerutan diusia yang muda. Lagipula kamu cantik, jangan sampai kerutan diwajah kamu mengganggu kecantikan kamu," pujinya yang membuatku tersenyum.


"Ibu juga cantik. Jangan sampai karena pria sebrengsek suami Ibu bikin kecantikan dan kebaikan Ibu berkurang. Semangat, Bu."


Dia tersenyum lebar padaku. "Inilah kenapa Ibu memilih jadi guru. Meskipun Ibu kehilangan putra, Ibu masih bisa memiliki anak lain yang sama Ibu sayangi. Ibu menyesal sekali mendengar Freya meninggal. Seperti melihat anak sendiri yang meninggal."


Aku berusaha sekeras mungkin agar tidak ada satu emosipun keluar dari wajahku.


"Dulu Ibu dekat sekali dengan dia. Anaknya sangat baik dan selalu bersemangat meskipun sering sakit. Dia sering mengunjungi Ibu karena tubuhnya yang lemah itu. Apalagi sejak Stella sering membuat masalah dengannya." Suaranya terdengar marah. "Ibu sudah bilang kalau dia lebih baik menyerah daripada membuat Stella semakin marah. Tapi dia bersikeras. Katanya dia memiliki kakak luar biasa yang akan segera kembali dan membela dia."


"Ibu kenal kakaknya?" tanyaku dengan harap-harap cemas.


Dia menggeleng yang membuatku sangat lega. "Dia hanya cerita beberapa kali mengenai kakaknya. Namanya Florentia Abdi Kusuma, hampir sama dengan nama kamu. Dia selalu cerita pada saya kalau kakaknya itu begitu luar biasa. Lulusan M.I.T dan bekerja di Pioneer Technosoft."


"Perusahan yang isinya programmer hebat itu?" tanyaku berusaha sekaget mungkin.


Dia mengangguk. "Awalnya saya tidak percaya. Bagaimana mungkin kakak Freya mampu bekerja di perusahaan sehebat itu kalau mengingat betapa kikuknya Freya? Tapi saat sistem sekolah kita down dan Freya meminta bantuan kakaknya, Ibu percaya."


Awalnya aku tersinggung mendengar ucapan Mawar. Dia seakan merendahkan aku dengan menyamakan aku dengan Freya. Freya memang kikuk dan mudah sakit dan itu karena dia prematur! Tapi bukan berarti adikku itu bodoh! Aku jadi menyesal karena dulu pernah membantu membangun sistem sekolah ini. Meskipun itu membuat orang-orang percaya kalau aku bekerja di Pioneer Technosoft tapi bukan berarti aku senang karena mereka mengolok-olok adikku.


"Oke, ceritanya selesai. Kamu istirahat saja disini karena sebentar lagi saya punya pelajaran biologi. Kalau mau, kamu bisa pulang. Mau saya buatkan surat pulang?" tanya Mawar yang lamunanku buyar.


Aku menggeleng. Aku tidak bisa pulang, baik ke rumahku maupun ke apartemenku. Kalau ke rumahku, ibuku pasti akan cemas dan hal itu yang paling aku hindari. Kalau ke apartemen, aku akan bertemu Braxton dan ucapannya padaku akan kembali terulang diotakku. Lebih baik aku berada disini sambil terus memonitor keadaan sekolah ini. Aku mengambil ponselku untuk melihat tiap CCTV saat Mawar meninggalkan ruang UKS. Aku tidak bisa menggunakan laptopku karena aku meninggalkannya diapartemenku pagi tadi. Lagipula mana mungkin aku bisa menggunakan laptop kalau mereka kira aku sedang sakit?


Perhatianku teralih saat aku melihat melalui kamera CCTV, Caesar dan Collin yang berpapasan dilorong sekolah. Sikap mereka biasa saja padahal kata Braxton saat dia melihat mereka di mall, mereka kelihatan begitu dekat karena saling merangkul bahkan tertawa. Mereka tidak mungkin bersaudara. Bukan hanya karena tidak mirip tapi juga karena tidak ada data kalau Collin memiliki saudara.


Aku kembali terbatuk dan tenggorokanku terasa kering. Mungkin ini saatnya bagiku untuk istirahat. Aku memasukkan ponselku ke dalam saku rokku dan mencari posisi terbaik untuk tidur. Aku menutup mataku setelah aku membayangkan wajah Freya yang tersenyum padaku.


...***...


Aneh. Aku rasa aku sedang bermimpi. Mungkin karena obat yang aku minum tadi. Aku melihat seorang pria mendatangiku. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena cahaya dibelakangnya mengganggu pandanganku. Dia menggenggam tanganku dengan erat dan membelai wajahku. Ini benar-benar aneh. Aku mengerjapkan mataku dengan lemah tapi tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya. Mataku semakin terasa berat. Aku merasa ada sesuatu menyentuh keningku dengan lembut. Aku tidak bisa melihat karena mataku semakin terasa berat. Aneh, aku merasa ada sesuatu yang menekan bibirku dengan lembut, jauh lebih lembut dari yang ada di keningku. Aku tidak bisa melakukan apapun karena mataku terasa berat dan aku menyerah pada rasa kantukku.


...***...


Aku membuka mataku. Cahaya lampu yang ada dilangit-langit ruangan itu menusuk mataku. Aku memandangi sekelilingku dan menyadari kalau aku tidak seorang diri di ruangan itu. Mawar datang sambil membawakan segelas teh untukku.


"Kamu sudah bangun? Astaga, tidur kamu nyenyak sekali seperti orang yang hanya tidur empat jam sehari," candanya yang membuatku tersenyum.


Beberapa hari ini saya malah tidur dua jam, Ibu. Jawabku dalam hati. Aku memandangi jam yang ada di dinding ruangan itu dan terbelalak. Oh my God! Sekarang sudah jam empat dan aku tertidur selama lima jam tanpa ada yang membangunkanku? Aku langsung bangkit dari tempat tidur dengan panik.


"Maaf saya tidur disini tanpa sadar waktu," ujarku dengan nada penuh penyesalan.


Mawar menatapku sambil tersenyum. "Wajar, Flo, kamu lagi sakit. Sekarang minum teh ini." Dia mengulurkan cangkir yang ada ditangannya padaku. Aku menenggaknya sampai habis karena tidak terlalu panas dan mengembalikan cangkir itu pada Mawar.


"Apa selama saya ada disini ada yang mengunjungi ruangan ini?" tanyaku sambil melipat selimut yang kugunakan.


Mawar menggeleng. "Selama saya disini, tidak ada. Mungkin hanya beberapa murid yang datang meminta obat pada saya. Kenapa?"

__ADS_1


Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. Apa itu memang mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku menggapai bibirku. Mungkin memang hanya mimpi. Aku berpamitan pada Mawar sambil mengucapkan terima kasih padanya lalu menelepon Brenda untuk menjemputku. Lebih baik hal itu aku lupakan. Anggap saja mimpi. Tapi tetap saja, siapa yang menciumku?


__ADS_2