
"SAKIT!!" pekikku tapi Brenda tidak peduli dan malah terus memukuliku. Braxton yang kasihan melihatku, menahan tangan Brenda. Tapi Braxton tidak lepas dari amukan Brenda. Kakinya malah langsung ditendang dengan keras hingga Braxton meringis dan menggosok tulang keringnya.
"You helped her! You promised me you'd never do that kind of job again," pekik Brenda. Aku tahu kebiasaan Brenda kalau mengamuk selalu menggunakan bahasa Inggris.
"This isn't a job, Sis. Aku berhutang sama Flo dan dia butuh bantuan aku. Apa kamu kira aku akan tutup mata setelah apa yang Flo lakukan ke aku selama ini?" balas Braxton berusaha membela dirinya sendiri dan aku.
"But... a high school student?" tanya Brenda tidak percaya. "Kamu selalu berpikir rasional, Flo. Ini pertama kalinya kamu berbuat diluar logika!"
Aku mengangguk setuju. "Iya. Pertama dan aku langsung melakukan hal paling gila yang pernah aku lakukan."
"Lalu apa kata orang tua kamu?" tanya Brenda.
"Papa juga awalnya bilang aku gila tapi dia setuju tapi dengan syarat aku nggak boleh cerita ke Mama. Udah cukup dia kehilangan satu anak. Jangan sampai dia kehilangan aku juga," jawabku.
Brenda berusaha mengendalikan emosinya. Dia memegang kepalanya yang aku tebak mulai terasa ngilu. "Udah berapa lama kamu sekolah disini?"
"Sebulan lebih," jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
"Dan belum ketahuan?" tanyanya lagi. Aku mengangguk. "And what did you do to finish all your job?"
Aku mengangkat kedua bahuku. "You know... here and there." Brenda langsung memukul lenganku karena jawabanku yang ngawur hingga aku meringis. Aku berdeham. "Sekolah pulang setiap jam setengah tiga dan aku masih punya waktu sampai jam tujuh malam untuk pulang ke rumah. Bahkan di rumah aku masih punya banyak waktu. Kadang aku menyempatkan diri kerja waktu istirahat sekolah."
"Jam berapa kamu tidur?" tanyanya sambil memelototiku.
"Oh, tidur aku cukup kok."
Brenda kembali memukul lenganku. "Aku mau jawaban jelas!"
"Kamu tau kalau aku nggak bisa tidur lebih dari lima jam, Brenda. Apalagi sejak kematian Freya bikin aku makin nggak bisa tidur."
Brenda langsung menatapku kasihan. Dia menghela nafas panjang. "Okay! This time, I forgive you." Dia memelototi Braxton. "And you too. But if you do that job again, I'll wreck your neck!"
Braxton tersenyum. Dia merangkul adiknya lalu menatapku. "And what about your investigation?"
"Not much. Aku masih harus mencari banyak hal. Aku mengecilkan tersangka aku jadi empat orang, kayak yang ada di diary Freya. Tapi aku nggak bisa mencari tau tentang Azka karena dia masih di Singapura," jawabku pada Braxton.
Braxton menghela nafas panjang. Dia melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan lurus. "Give me their names. I'll help you as much as I can."
Aku menggeleng pelan. "No need. I already hacked their system. Nggak ada yang berguna," jawabku dengan malas.
"Not with your investigation. Give me two weeks. I'll help you with my informant," kata Braxton dengan tenang.
"Why in two weeks?" tanya Brenda yang mulai tertarik dengan pembicaraan kami.
"Because in two weeks, I have to go back to my duty. I'm not free like you, Sis."
Brenda tertawa kecil. "So, what are you going to do now?" tanyanya padaku.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Dalam enam bulan aku harus cari siapa orangnya atau aku nggak bisa kembali ke New York. Nah, satu bulan udah habis sekarang tinggal lima bulan lagi."
"Maksud kamu?" tanyaBrenda.
__ADS_1
"Scottie cuma kasih aku enam bulan untuk cuti atau aku harus angkat kaki dari perusahaan. Itu artinya, aku nggak punya lagi keistimewaan untuk tinggal disana. Paham, kan?" tanyaku.
Brenda menghela nafas panjang. Aku memang belum memiliki kewarganegaraan Amerika, dan aku tidak tertarik untuk mengurusnya, tapi aku memiliki keistimewaan karena aku bekerja di perusahaanku. Berkat itu, seluruh visa tinggal dan bekerjaku diurus oleh perusahaan tempatku bekerja karena aku adalah staff khusus.
"Kamu ikut kami pulang?" tanya Braxton. Aku menggeleng.
"Aku masih harus ikut pelajaran. Lagipula aku mau lihat Stella," jawabku.
"Kamu masih perhatian sama anak itu?" tanya Brenda dan aku menggeleng.
"Kata siapa? Aku mau lihat mukanya setelah di damprat kamu, Momma," godaku sambil tersenyum.
Wajah Brenda langsung kaku karena amarah. "Dia itu keterlaluan! Kenapa dia bersikap kayak nggak punya harga diri? Dia kira dengan bully orang lain, dia kelihatan kuat? I hope her dad scold her right."
Aku tersenyum. Aku memeluk Brenda karena sayang. "Thank you for coming here. I owe you one."
"I'm still mad at you!" ketus Brenda hingga membuatku tertawa.
Aku melepaskan pelukanku dan menatap Brenda. "You and Brax can stay at my apartment. Pak James yang akan antar kalian ke sana. Lagipula dia udah lumayan lama menunggu kalian di bawah. We'll meet there."
Brenda tersenyum dan mengangguk setuju. Aku mengajak Braxton dan Brenda pergi dari atap saat mendengar suara bel istirahat berbunyi. Aku takut ketahuan membawa orang lain ke tempat ini. Aku mengantar Brenda dan Braxton ke pintu gerbang sekolah, tempat Pak James sudah menunggu mereka. Aku juga mengatakan pada Brenda dan Braxton kalau mereka bisa menggunakan mobilku itu. Brenda setuju karena dia memang membutuhkan mobil untuk mengantar-jemput aku selama di Jakarta. Dia juga bilang kalau dia akan mengatur pertemuanku dengan klien agar atasanku tidak terlalu kecewa kalau misalnya aku kembali ke Amerika tanpa membawa hasil pekerjaanku.
Aku melambaikan tanganku pada Brenda dan Braxton saat mobil yang mereka naiki meninggalkanku. Aku membalikkan tubuhku dan tersentak saat melihat Daisy tengah menatapku. Aku tersenyum padanya sambil menyapanya.
"Itu orang tua kamu?" tanyanya dan aku mengangguk. "Aku nggak nyangka Mama kamu masih semuda itu."
Aku hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahuku. Aku merangkulnya dan mengajaknya masuk ke kelas bersamaku.
Aku menggeleng pelan. "Kita masih ada jam pelajaran. Lo nggak lapar?" tanyaku, berusaha mengalihkan perhatiannya dari pertanyaannya.
"Aku memang lapar. Tadinya aku mau ke kantin dan lihat kamu di gerbang. Jadi aku nyusul kamu dan rencananya makan bareng sama kamu."
Aku tersenyum. Kantin sekolah ini memang dekat dengan pintu gerbang. Aku mulai terbiasa dengan sikap Daisy padaku. Entah kenapa, dia mengingatkanku pada Freya. Sebenarnya, aku tidak mau terlalu dekat pada Daisy karena alasan itu. Aku masih merasa berduka tiap aku mengingat adikku. Tapi Daisy selalu gencar mendekatiku dan aku semakin lama semakin terbiasa dengan perhatiannya padaku. Meskipun sebisa mungkin aku menjaga jarakku.
"Aku kira kamu itu pulang bareng orang tua kamu kayak Stella," ujar Daisy yang menarikku pada realita.
"Stella pulang bareng papanya?" tanyaku dan Daisy mengangguk.
"Iya. Aku dengar papanya Stella marah besar. Dia bahkan melototin Pak Yusron," jawab Daisy yang membuat kedua alisku naik. "Selama ini nggak ada orang tua yang berani melawan Stella kalau Stella bilang siapa orang tuanya. Aku rasa sebenarnya papa Stella nggak dipanggil sekolah tapi Stella minta papanya datang supaya dia bisa tunjukin ke kamu siapa papanya dan bikin kamu takut dan menyesal."
"Kok lo bisa tau semua hal itu?" tanyaku dengan penasaran.
Daisy tersenyum lemah. "Karena dulu aku juga begitu," jawabnya yang membuatku diam.
Aku menepuk bahunya dan tersenyum. "Nggak perlu takut. Gue jamin dia nggak akan berani dekati kita lagi." Aku menarik nafas panjang. "Gue dengar kalau Freya juga di-bully sama Stella. Lo tau kenapa?"
Daisy mengangkat kedua bahu. "Apa lagi kalau bukan karena Azka? Stella itu dulu suka sama Azka tapi Azka malah pacaran sama Freya. Terus Freya juga anak emasnya guru-guru karena dia cantik dan pintar yang bikin Stella makin benci sama dia."
Ternyata dugaanku benar. Rupanya Stella memang iri pada adikku itu. Aku berusaha sebaik mungkin agar ekspresiku tidak bisa dibaca oleh Daisy. Aku memang sengaja menggunakan Daisy sebagai informanku tanpa dia sadari. Aku selalu bertanya padanya, bukan hanya tentang Freya, tapi juga tentang Caesar dan Azka. Aku tidak bisa bertanya tentang Collin karena guru BP itu masih belum lama mengajar di sekolah ini.
"Kamu naksir ya sama Caesar?" tanya Daisy yang menarikku pada realita. Aku mengerutkan keningku karena bingung sambil menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa lo berpikir kayak begitu?" tanyaku.
"Habis kamu sering tanya tentang Caesar. Aku berasumsi kamu suka sama Caesar," gumamnya yang membuat alisku naik. "Wajar sih. Caesar ganteng, dia juga baik. Dia paling nggak suka sama sikap sok berkuasa Stella makanya mereka jadi musuh besar di sekolah ini. Apalagi Caesar juga nggak takut sama Stella dan dia makin benci sama Stella setelah Freya meninggal. Dia merasa Stella yang mendorong Freya sampai dia bunuh diri."
Informasi yang lagi-lagi diberikan oleh Daisy padaku yang tidak dia sadari. Well, aku baru mendengar hal itu sekarang. Tapi aku merasa aneh. Bukannya hubungan Caesar dengan Freya merenggang? Lalu kenapa Caesar masih memperhatikan Freya? Aku menghela nafasku. Kelihatannya aku harus mencari tahu lagi tentang Caesar.
Perhatianku teralih saat aku mendengar suara Daisy yang memanggil namaku.
"Cuma perasaan aku atau memang Pak Davin lihatin kamu mulu sih?" kata Daisy yang membuatku menengokkan kepalaku ke arah kepala Daisy menunjuk.
Davin ada di lantai dua dan sedang menatapku tapi dia buru-buru mengalihkan pandangannya saat menyadari aku memergokinya tengah menatapku. Kenapa dia menatapku seperti itu? Lagi-lagi tatapan penuh selidik yang sejak kami pertama bertemu selalu dia keluarkan.
"Kenapa dia lihat kamu kayak gitu, ya?" tanya Daisy yang membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kedua bahuku.
"Jangan tanya gue," jawabku. Aku menepuk bahunya pelan. "Gue duluan, ya? Gue mau telepon orang dulu."
Daisy ingin membantah tapi aku langsung pergi meninggalkannya. Aku mengambil ponselku dan menekan nomor Braxton.
"Aku terima bantuan kamu, aku akan kirim data tersangka aku sekarang," kataku saat hubungan kami tersambung. "Selain itu, aku minta kamu cari tau background satu orang lagi. Jangan sampai ketahuan. Kayaknya dia curiga sama aku."
"No problem," jawab Braxton dan menutup sambungan.
Aku mengirimkan data Azka, Caesar dan Collin melalui ponselku ke e-mail Braxton. Sejak laptopku yang dirusak oleh Stella, aku menggunakan ponselku untuk memantau kegiatan di sekolah ini. Tentu saja tidak senyaman menggunakan laptop, tapi setidaknya aku masih bisa memantau secara diam-diam kalau pelajaran. Sekolah ini memang memberiku laptop baru tapi aku hanya menggunakan laptop itu selama berada di sekolah karena aku tidak mau mereka melacak alamat IP-ku. Apalagi dengan adanya Davin yang kurasa mulai curiga dengan kehadiranku. Dia guru komputer, bukan hal sulit untuk melacak alamat IP.
Aku berjalan menuju atap sekolah yang sepi. Sejak Freya bunuh diri disini, murid-murid tidak berani datang ke tempat ini. Angker katanya. Bahkan ada gosip yang berkembang kalau seorang murid yang tengah pulang malam melihat penampakan Freya yang berjalan di lorong sekolah. Aku tersenyum. Kalau aku jadi anak itu, mungkin aku malah akan mendatangi hantu adikku itu dan bertanya kenapa dia tega meninggalkanku. Perhatianku teralih saat mendengar pintu yang terbuka. Aku menengokkan kepalaku dan melihat guru tampan yang selama ini membuatku penasaran, menatapku dibalik kaca matanya.
"Lagi-lagi kamu disini. Bukannya tempat ini terlarang untuk siswa?" tuduh Davin yang membuatku tersenyum. Dia memang arogan dan selalu mengingatkanku akan bosku. Sikap arogan dan ketus mereka hampir sama.
"Tapi Bapak nggak pernah mengusir saya," kataku sambil membalikkan tubuhku dan menatap langit luas yang ada di depanku. Aku meletakkan tanganku ke dinding pembatas atap itu sambil menatap ke bawah. Gedung ini tingginya empat lantai. Pantas saja Freya tidak selamat, pikirku.
"Jangan bilang kamu juga mau mencoba bunuh diri?" tebaknya di belakangku. Aku tersenyum dan tidak menjawab. Aku bisa merasakan kalau dia ikut berdiri disampingku. "Kenapa kamu selalu berada disini?"
"Karena disini tenang. Saya pusing dengar suara teriakan Stella dan gengnya atau lihat muka Pak Yusron."
Disini aku juga merasa lebih dekat dengan Freya.
Davin terdiam. Dia ikut menatap jauh bersamaku. "Lalu kamu sudah memilih mau ikut ekstrakurikuler yang mana?" tanyanya yang membuatku memutar kepalaku dan menatapnya.
"Ekstrakurikuler?" tanyaku. Jujur, sejak dulu aku tidak ikut ekskul manapun. Yang selama ini aku lakukan hanya belajar tanpa henti. Aku baru melakukan hobiku yang lain saat aku lulus SMA, yang itupun tidak terlalu serius aku jalani.
"Florence, kamu disini sudah lebih dari satu bulan. Kamu harus masuk ekskul atau nilai kamu akan berkurang," jelasnya padaku.
Aku tidak butuh ekskul! Aku tidak butuh nilai tambahan! Aku disini hanya enam bulan!
"Kenapa kamu tidak masuk ekskul komputer saja? Saya lihat kamu selalu bermain menggunakan laptop kamu. Asal jangan membuka situs aneh saja," lanjutnya yang membuatku menyeringai. "Berkat kamu, saya kesulitan menghapus virus yang kamu akibatkan karena membuka situs tidak penting."
"Waktu saya membuka situs yang sama di Amerika, komputer saya nggak pernah kena virus, Pak. Mungkin karena lagi sial aja," jawabku asal. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan meninggalkan atap itu.
"Flo," panggilnya yang membuatku menghentikan langkahku dan menengok.
"Ekskulnya setiap hari Jumat setiap pulang sekolah. Kamu bisa datang. Saya penanggung jawab ekskul itu," ujarnya sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil bersedekap. Aku bisa melihat sebuah senyuman terukir di wajahnya yang tampan itu. Aku tidak menjawab dan langsung pergi dari atap itu.
__ADS_1
Saat ditangga, aku bisa merasakan lututku melemas. Apa yang terjadi padaku?