FLO!

FLO!
Bag. 12


__ADS_3

Selama dua hari penuh, aku berhasil menghindari Davin. Hari ketiga, aku tidak masuk karena aku ingin mengantar kepergian Braxton sampai ke bandara. Saat dibandara, dimana Brenda sedang sibuk mengatur barang yang akan dibawa oleh kakak kembarnya itu, Braxton memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan Davin. Dia merasa kalau Davin sangat misterius. Dia bilang kalau orang misterius itu berbahaya. Aku hanya mengangguk. Bagaimana mungkin aku bilang kalau aku jatuh cinta pada orang berbahaya itu?


Aku berusaha sekeras mungkin untuk mengenyahkan perasaanku. Aku tidak mau direpotkan kalau misalnya dia memang tersangkaku, ayah dari bayi yang dikandung oleh Freya sekaligus salah seorang yang membuat adikku memutuskan untuk bunuh diri, aku jadi tidak bisa menghancurkannya. Aku tidak mau sampai lemah.


Berkat itu, aku jadi ingat apa tujuan awalnya datang ke sekolah itu. Aku ingin mencari alasan kematian adikku, bukan untuk mengulang masa remajaku yang menyedihkan. Aku tidak boleh terjebak dengan keinginanku dan malah membutakanku akan tujuan awalku.


Aku harus fokus pada tujuanku!


"Aku merasa kamu beberapa hari ini aneh banget," ujar Daisy saat aku duduk bersamanya di ruang laboratorium kimia. Aku hanya tersenyum namun mataku tetap fokus pada tabung reaksi yang ada di depanku.


"Flooo... kamu dengar yang aku omongin nggak sih?" rungut Daisy. Aku hanya menatapnya sekilas, mengangguk lalu kembali pada tabung reaksiku.


"Tuh, kan. Kamu aneh!" desisnya. "Beberapa hari ini kamu pendiam banget. Stella yang selalu mencari masalah sama kamu, bahkan kamu cuekin. Kamu cuma menjawab seperlunya. Kamu marah sama seseorang?"


Gue marah sama diri gue sendiri yang melupakan tujuan gue! Jawabku dalam hati. Tapi aku mendiamkannya dan malah berjalan menuju Pak Yusron. Aku menunjukkan tabung reaksiku yang sudah membentuk warna ungu cerah, menandakan kalau reaksiku berhasil. Dia memberikan paraf di kertasku dan aku kembali ke mejaku. Aku membereskan mejaku.


"Gue nggak marah sama siapapun. Gue cuma lupa siapa atau tujuan gue sebenarnya," jawabku sebelum meninggalkan mejaku.


Aku setengah berlari menuju ruang kelasku sambil terus menggigit kuku ibu jariku. Kebiasaanku ini makin parah dan aku semakin tidak bisa menghentikannya. Aku menutup mataku dan meraih tasku lalu meletakkannya dipunggungku. Baru saja aku akan pergi saat teman sekelasku datang dan mengatakan kalau Davin memanggilku dan memintaku menemuinya di laboratorium komputer. Aku mengutuk pelan. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya dan sekarang dia mencariku.


Sambil terus mengutuk pelan, aku masuk ke ruang laboratorium komputer. Dia tidak ada disana. Yang ada hanya jasnya yang dilingkarkan dibangku yang biasa dia duduki. Aku berdiri disamping meja milik Davin sambil mengistirahatkan tanganku dibelakang, menunggu kedatangannya. Aku melirik komputer miliknya yang masih menyala. Tidak ada yang istimewa dikomputer itu. Aku menegakkan tubuhku dan tanpa sengaja mataku melirik nama brand yang membuat jas itu. Aku terbelalak.


Armani?


Seorang guru sekolah mampu membeli jas Armani?


Aku langsung menegakkan tubuhku saat mendengar pintu dibelakangku terbuka.


"Kamu sudah datang? Saya kira kamu tidak mau menemui saya?" tanya Davin saat dia duduk dibangkunya. Dia meletakkan cangkir kopi yang tadi dia bawa. Mencium wangi kopi, membuatku jadi tergoda.


Aku berdeham, berusaha fokus. "Bapak memanggil saya untuk keperluan apa?" tanyaku dengan datar.


Dia membungkukan tubuhnya, mengambil sesuatu yang ada di atas meja. Dia mengeluarkan sebuah paper bag dan menyerahkannya padaku.


"Syal yang saya pinjam. Tadinya saya juga mau mengembalikan permen kamu tapi saya tidak bisa menemukan permen itu disini," katanya. Wajar, permen itu memang tidak dijual di Indonesia. Brenda yang membawakannya untukku.


"Terima kasih atas pinjaman syal itu. Berkat kamu, tenggorokan saya jauh lebih baik," tambahnya. Aku mendengar ketulusan baik di mata maupun dari suaranya. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Sebenarnya Bapak nggak perlu kembalikan juga nggak apa. Saya masih punya banyak di rumah," ujarku sambil teringat syalku yang memang masih ada delapan lagi di rumah.


Dia tersenyum. "Maaf, tapi saya tidak terbiasa menyimpan barang milik orang lain dirumah saya," jawabnya dengan nada datarnya. Aku memutar bola mataku. Aku bersikap ramah tapi dia malah jutek padaku. Baik! Aku tidak akan meminjamkan barang apapun pada anda!


"Itu aja, Pak?" tanyaku sambil meremas paper bag itu. Dia mengangguk dan aku membalikkan tubuhku. Tapi tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menahan tanganku. Aku menurunkan kepalaku. Aku melihat tangan Davin tengah menahan lenganku.


"Saya mau bertanya, kenapa kamu menghindari saya? Kamu bahkan tidak datang ekskul," tanyanya. Aku mengerutkan keningku dan melepaskan tangannya dari lenganku.

__ADS_1


"Mungkin cuma perasaan Bapak," jawabku pelan. Dia menggeleng.


"Kamu juga tidak datang ke atap hari ini. Kamu membalikkan badan kamu tiap lihat saya akan berpapasan dengan kamu. Kamu berusaha tidak menatap saya. Apa itu namanya bukan menghindari? Apa saya melakukan kesalahan?"


Kali ini aku menggeleng. "Saya menghargai perhatian Bapak tapi saya kira Bapak terlalu memperhatikan saya. Bapak tidak melakukan kesalahan apapun."


Itu semua salah saya, Pak. Saya tidak fokus pada apa tujuan saya. Saya melupakan siapa diri saya.


Davin menghela nafasnya dengan kasar. Dia memasukkan tangannya ke celana. Dia terlihat seperti akan bicara sesuatu tapi tiba-tiba dia menahannya. Dia menutup matanya sekilas lalu menatapku dengan dalam.


"Baik, jika itu memang keinginan kamu," katanya sambil mengangkat kedua bahunya. "Persiapkan diri kamu untukk ujian semester minggu depan. Jangan sampai sakit. Sekali lagi saya berterima kasih atas syal pinjaman kamu."


Aku mengangguk dan meninggalkannya. Saat diluar, aku menghembuskan nafasku dengan panjang. Chin up, Girl. Ujarku dalam hati. Ini memang yang terbaik. Jangan sampai aku meninggalkan penyesalan apapun. Aku harus fokus pada tujuanku.


Aku mengambil kalung yang melingkari leherku dan menggenggamnya. Kalung ini milik Freya yang aku ambil dari laci lemarinya. Aku yang membelikan kalung itu padanya saat dia mengunjungiku di Amerika. Mulai sekarang, kalung ini akan menjadi pengingat bagiku agar aku tidak melupakan tujuanku. Aku menutup mataku, menarik nafas panjang, menghembuskannya lalu membuka mataku.


Maafin Kakak, Freya. Kakak melupakan tujuan Kakak karena terbuai dengan kebahagiaan yang ditawarkan.


Sambil melepaskan tanganku dari kalung itu, aku berjalan meninggalkan tempat itu. Dalam hati, aku terus berkata agar aku tidak melupakan apapun yang menjadi tujuan utamaku. Dan itu termasuk menghukum Stella dan gengnya yang hampir saja aku lupakan.


...***...


Aku menenggak kopiku dan mataku kembali fokus pada layar laptopku. Bosku baru saja mengirimkan pekerjaan baru untukku. Sebuah perusahaan IT memintaku menguji keamanan perusahaannya. Aku setuju melakukannya karena aku tidak memiliki kesibukan berarti selain belajar. Hari ini aku libur, atau lebih tepatnya hari tenang, karena minggu depan aku mulai ujian semester. Aku mengetik secepat yang kubisa dan membuat lubang yang cukup besar di program keamanan perusahaan itu. Dengan sengaja, aku menggunakan virus yang dulu aku gunakan untuk menghancurkan sistem milik sekolahku. Aku merasa aneh. Kenapa dengan virus selemah itu mereka masih tidak mampu menutup lubang itu?


Aku menelepon bosku dan menanyakan sebenarnya perusahaan macam apa ini. Perusahaan IT tapi mereka tidak bisa menutup kebocoran yang kubuat. Dulu, aku menguji sebuah perusahaan IT dan hanya dalam waktu hitungan detik, mereka mampu menutup kebocoran yang kubuat dan bahkan mengetahui kalau aku pengirim virus itu. Perusahaan yang dulu membuatku sempat ragu akan kemampuanku sendiri. Bosku tertawa. Dia malah mengatakan kalau aku tidak perlu tahu perusahaan ini dan hanya melakukan pekerjaanku.


"Kapan?" tanyaku. Aku membuka jadwalku yang ada dilaptopku.


"Delapan belas sampai dua puluh Desember. Aku tidak bisa pergi. Itu hari liburku!" jawabnya tanpa merasa bersalah. Aku mendengus kesal.


"Untuk informasi, aku juga masih liburan!" desisku.


"Tidak, kau salah. Kau bukan liburan. Aku membiarkanmu beristirahat tetapi kau masih memiliki pekerjaan yang harus kau selesaikan," jawabnya dengan datar.


Mendengar itu, aku mendesis kesal.


"Oh, ayolah, Flo! Jakarta ke Bali tidak jauh. Aku lihat hanya sekitar dua jam penerbangan! Kalau kau mau, aku akan membayarmu dua kali lipat!"


Aku mendengus kesal. Tapi kalau ingat perjalanan New York-Bali yang bisa memakan waktu dua puluh empat jam, aku kasihan juga. Lagipula aku sudah mulai libur ditanggal itu. Aku bahkan tadinya sudah membuat rencana untuk kembali sebentar ke New York untuk melanjutkan pekerjaanku sampai liburanku usai. Kelihatannya aku tidak perlu repot kembali ke New York karena bosku pasti akan tetap mengirimkan gajiku, bahkan dua kali lipatnya. Akhirnya aku setuju.


Benar kata Scott. Jakarta-Bali tidak terlalu jauh. Aku tidak mungkin menemukan temanku disana untuk liburan. Aku hanya perlu menggunakan wig, melepas kacamataku dan menggunakan setelan kerjaku dan aku tidak akan dikenali. Lagipula kalau bertemu, memangnya aku akan bertemu siapa? Teman-temanku tidak mau berlibur di dalam negeri. Mereka tidak akan mungkin liburan di Bali. Tidak mungkin, bukan?


...***...


Ujian semesterku berlangsung baik-baik saja, syukurlah. Aku tidak terlalu kerepotan mengisi ujianku. Brenda mengingatkan agar aku tidak terlalu menonjolkan diriku dan aku melakukannya. Aku mengisi ujian dengan beberapa jawaban yang salah, terlebih saat ujian teori komputer. Ujian sekolah ini memang unik. Kami tidak menggunakan kertas dan malah menggunakan laptop yang diberikan oleh sekolah. Kami tidak akan bisa menyontek karena kalau kami me-minimize window ujian kami, akan terdengar suara alarm yang keras dari laptop kami, seperti yang terjadi pada kelas sebelah. Akibatnya dia tidak diperbolehkan ujian selama satu hari itu dan artinya dia tidak akan mendapatkan nilai.

__ADS_1


Untung saja ujian itu hanya memakan waktu dua minggu. Sebab karena selama ujian, aku tidak bisa mengawasi melalui kamera CCTV. Aku hanya bisa melakukannya saat jam istirahat dan itu tidak terlalu penting. Sebagai gantinya, aku meminta Brenda mengawasi sekolah ini melalui laptopku. Dia bilang tidak ada kejadian penting.


"Liburan kali ini kita akan ke Bali!" kata Yusron di depan kelas yang membuat kepalaku terangkat.


"Kenapa kita liburan ke Bali?" tanyaku pada temanku yang ada disampingku.


Dia tersenyum lebar. "Lo nggak tau, ya? Setiap ujian semester selesai, sekolah mengadakan liburan buat refreshing. Tiap angkatan beda tujuan," jawabnya dengan riang.


"Apa wajib?" tanyaku. Dia mengangguk.


"Itu masuk ke kegiatan sekolah dan masuk ke nilai. Bisa dibilang kayak study tour," jawabnya sambil menatapku dengan bingung.


Aku mengangkat tanganku dan memanggil Yusron. "Maaf, Pak, tapi kapan study tournya?" tanyaku sambil berharap semoga berjauhan dengan konferensiku.


"Tanggal delapan belas sampai dua puluh Desember," jawab Yusron lalu kembali menatap kelasku. "Berkumpul di bandara jam sepuluh pagi. Jangan sampai tertinggal."


Aku kembali mengangkat tanganku. "Boleh saya nggak ikut, Pak? Saya harus kembali ke Amerika tanggal enam belas Desember," dustaku sambil menelan ludahku.


"Itu masuk dalam nilai sejarah, PKn dan IPS. Bahkan kalau nilai teori kamu bagus, itu tidak terlalu membantu. Tapi terserah kamu kalau kamu tidak mau ikut," jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Aku menyenderkan tubuhku dengan lemas. Aku tidak bisa meminta Scott untuk menggantikanku karena aku sudah setuju kalau aku yang akan pergi. Tapi kalau aku tetap berpikir untuk pergi, aku bisa beresiko ketahuan karena sewaktu-waktu mereka bisa berpapasan denganku. Aku harus memilih salah satu. Pekerjaanku atau sekolah. Aku mengutarakan pikiranku pada Brenda saat aku pulang. Dia juga bingung dengan pilihanku.


"Kalau aku jadi kamu, aku akan memilih pekerjaan. Jangan lupa siapa diri kamu yang sebenarnya, Flo. Don't throw away your job just because you want to make some memories. Itu menurut aku," jawab Brenda sambil mengangkat kedua bahunya.


Aku menggigit jariku. Dia benar. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. "Kalau bisa, kamu telepon ke sekolah dan buat alasan apapun supaya aku nggak perlu ikut study tour. Kakek aku yang kecelakaan salju, misalnya."


"Seingat aku, orang tua aku udah meninggal, baik yang angkat maupun yang kandung."


Aku memutar bola mataku karena kesal. "Seingat aku, aku nggak punya kakek."


Brenda tertawa dan mengangguk. Saat dia menawarkan dirinya untuk ikut ke Bali bersamaku, aku menolak. Aku tidak mungkin membawanya karena teman-teman sekelasku sudah bertemu dengan Brenda dan aku tidak mau mereka mengenali Brenda yang harusnya sedang di Amerika. Dia memang setuju tapi dengan syarat, aku harus menggunakan penyamaranku. Aku setuju karena itu memang salah satu rencanaku. Lagipula aku juga tidak mau membuat Brenda tetap tinggal di Jakarta saat natal. Aku tidak mampu membuat tradisi keluarga saat Natal yang biasa dia lakukan rusak karena keegoisanku.


Aku menghembuskan nafasku dengan panjang. Semoga aku tidak ketahuan! Semoga mereka tidak berpapasan denganku nanti.


...***...


Aku tersenyum pada pramugari yang memberikan minuman padaku sambil mengucapkan terima kasih. Aku menyesap kopiku dan kembali sibuk pada pekerjaanku. Untung saja Brenda berhasil meyakinkan Yusron kalau aku tidak bisa ikut study tour karena aku harus kembali ke Amerika dan baru kembali saat tahun baru nanti. Dia bahkan berkata kalau dia yang akan mengawasiku selama di Amerika. Tentu saja itu tidak terjadi. Kemarin, aku yang mengantarkannya ke bandara untuk mengejar penerbangannya. Brenda membuatku berjanji untuk menghubunginya selama aku berada di Bali.


Perhatianku teralih saat mendengar suara dari kabin yang ada dibelakangku. Aku memang sengaja memilih kelas bisnis agar aku tidak terlalu terganggu dengan tempat dudukku. Aku memanggil seorang pramugari dan bertanya kenapa kabin dibelakang kami ribut sekali. Dia meminta maaf sambil membungkukkan tubuhnya.


"Maaf atas ketidaknyamanannya, Bu, tapi saat ini kabin belakang kami berisi murid-murid yang sedang darmawisata," jawab pramugari itu. Aku menelan ludahku.


"Boleh saya tanya sekolah apa?" tanyaku pelan.


"SMA Insani tahun kedua," jawabnya dengan bingung. Aku tersenyum dan berterima kasih. Saat dia meninggalkanku, senyumanku hilang.

__ADS_1


Akh! Kepalaku sakit.


__ADS_2