FLO!

FLO!
Bag. 20


__ADS_3

Aku menguap lebar saat masuk ke gerbang sekolahku. Tentu saja aku mengantuk berat. Semalaman Brenda tidak memperbolehkanku tidur dan aku dipaksa menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Davin mengetahui penyamaranku. Jadi aku terpaksa menceritakan permulaanya saat di Bali dulu. Brenda bahkan sampai terkesiap saat aku menceritakan Davin menciumku. Meskipun Brenda tidak menggodaku, aku tahu kalau Brenda berusaha menghilangkan kekagetannya itu.


Karena Brenda tidak mau aku merasa ditinggalkan, dia juga menceritakan tentang Phillip padaku. Dia bilang Phillip berbeda dari mantan suaminya. Brenda memang pernah menikah satu kali, saat dia baru berumur delapan belas tahun sedangkan mantan suaminya itu berbeda sepuluh tahun darinya. Nick adalah pria kasar dan sering memukuli Brenda. Saat aku mengetahui hobinya itu, aku langsung bertindak. Aku memberitahu Braxton dan kepolisian. Untung saja polisi langsung datang sebelum Braxton membunuh Nick. Setelah itu, Brenda memiliki kekasih yang tidak jauh berbeda dari Nick. Meskipun tidak memukuli Brenda seperti yang Nick lakukan, tapi mantan pacarnya itu gemar selingkuh. Sejak itulah Brenda merasa semua pria sama saja. Makanya Brenda sampai sekarang tidak memiliki kekasih. Lalu datanglah Phillip. Kata Brenda, Phillip berbeda dari semua pria yang dia kenal. Phillip adalah pria paling gentleman yang pernah dia kenal. Aku mengerti karena aku memang pernah mencari data mengenai Phillip. Dia memang pria yang luar biasa. Buktinya dia masih mempertahankan status dudanya meskipun almarhum istrinya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tapi kalau dia mempermainkan Brenda, aku akan bertindak.


"Bengong aja pagi-pagi!" sapa suara berat disampingku. Aku memutar kepalaku dan menyadari kalau Davin berjalan disampingku.


"Kok Bapak baru sampai sekarang? Bukannya guru itu harusnya datang empat puluh lima menit sebelum bel bunyi?" tanyaku sambil mengerutkan keningku. Astaga, kenapa dia bisa setampan ini? Ingin rasanya aku memeluk lengan kokohnya itu. Dan saat dia tersenyum, aku tahu aku bisa meleleh kapan saja.


"Saya terlambat bangun. Kamu sendiri kenapa selemas ini? Kamu kurang tidur?" tanya Davin. "Kantung mata kamu seram. Harusnya anak perempuan nggak bagus begadang."


Sayangnya saya begadang karena membicarakan Bapak! Jawabku dalam hati. "Saya cuma merasa sedih, Pak. Sebentar lagi saya mau pisah dari sekolah ini."


Aku bisa melihat kalau wajahnya kaget, meskipun dia langsung menghilangkannya. "Memangnya kamu sudah menemukan jawaban kamu? Bagaimana dengan Azka dan Caesar?" tanyanya bertubi-tubi yang membuatku bingung. Ini hanya perasaanku atau memang nadanya terdengar...


seperti orang panik?


"Bos saya telepon. Katanya saya harus segera kembali. Urgent katanya," dustaku. Aku tidak bisa bilang hal sebenarnya pada Davin. Aku tersenyum padanya sambil menepuk bahunya. "Makasih ya, Pak, karena selama saya disini Bapak membantu saya. Saya akan berusaha membantu Bapak menyempurnakan sistem Bapak."


Aku berjalan meninggalkannya. Aku tidak bisa bilang padanya kalau sebenarnya dialah alasanku meninggalkan sekolah ini. Meskipun dia mengetahui penyamaranku, tapi aku tidak bisa memiliki hubungan dengannya. Saat ini, dia adalah guru dan statusku adalah muridnya. Sejak awal aku berbohong padanya dan dia juga berbohong padaku. Aku tidak tahu siapa dia ataupun jati dirinya. Aku ingin sekali mengatakan padanya kalau aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya tapi itu tidak mungkin terjadi. Aku memang cinta padanya tapi aku tidak bisa memulai hubungan yang dilandasi kebohongan seperti ini. Lagipula benar kata Brenda kemarin. Kalau aku memang berjodoh dengan Davin, aku pasti akan dipersatukan dengannya, entah seperti apa caranya.


...***...


Sikap Stella benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tidak lagi judes pada semua orang. DIA BAHKAN TERTAWA PADA LELUCON YANG SEBENARNYA TIDAK LUCU! Aku memang agak mencemaskannya tapi dia sendiri yang berkata padaku kalau dia tertawa karena kasihan pada temanku yang mengatakan lelucon garing itu. Bukan hanya itu, dia juga berubah menjadi jauh lebih ramah dari sebelumnya. Dia menyapa semua orang, bahkan Daisy yang disapanya saja sampai kaget. Yang membuatku lebih senang, Stella mengikuti nasihatku dengan berusaha minta maaf pada Caesar. Aku yang menemaninya untuk bertemu dengan Caesar. Awalnya Cesar kaget tapi dia mengerti. Dia sendiri yang bilang kalau dia ingin memaafkan Stella sejak lama tapi Stella tidak mengambil inisiatif lebih dulu. Aku senang karena akhirnya Stella bisa berdamai dengan orang lain.


"Lo kenapa?" tanya Stella saat kami berada di gerbang. Aku tengah menunggu Brenda sedangkan Stella sedang menunggu jemputannya.


Aku tersenyum dan menggeleng. Aku malah menepuk bahunya. "Freya pasti bangga sekaligus senang kalau lihat lo dan Caesar berdamai lagi," kataku dengan tulus.


Stella awalnya kaget tapi dia tersenyum saat mendengar ucapanku. "Makasih," ujarnya dengan tulus.

__ADS_1


Mobil jemputan Stella berhenti di depan kami. Dia pamit padaku dan aku mengangguk sambil melambai padanya. Dan tepat sebelum dia masuk ke dalam mobil, dia menatapku. Ekspresinya kelihatan ragu.


"Gue nggak tau apa gue harus cerita ini atau nggak. Bagaimanapun gue nggak tau apa lo bakal menyebarkan cerita ini ke orang lain atau nggak," kata Stella. Jujur, aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Aku menatapnya sambil mengerutkan keningku.


"Maksud lo itu apa, sih? Coba lo ngomong dengan lebih jelas," perintahku.


Stella memainkan tangannya dipintu mobil sambil menatapku. "Lo bisa jaga rahasia?"


"Apa gue pernah nyebarin rahasia lo tentang Freya?" tanyaku. Dia menggeleng. "Menurut lo gue bisa jaga rahasia?" tanyaku lagi dan dia mengangguk pelan. "Lo bisa pegang kata-kata gue. Lo bisa cerita apa aja ke gue tanpa perlu takut gue akan cerita ke orang lain."


Stella menatapku, masih dengan tatapan ragu. Tapi dia membuka mulutnya dan mengucapkan satu hal yang membuatku tersentak.


"Sebenarnya ada alasan kenapa Caesar menjauh dari gue ataupun Freya. Caesar itu gay. Freya cerita ke gue karena bingung mau cerita ke siapa. Waktu Caesar sadar kita tau apa rahasianya, dia langsung menjauhi kita," ujar Stella yang membuat mataku terbelalak. "Tapi lo janji jangan cerita ke siapapun, ya?"


Aku terdiam dan mengangguk. "Lo cerita ke orang lain?" tanyaku dan Stella menggeleng. "Saat lo berantem sama Caesar, apa lo menyebarkan rahasia dia?" tanyaku lagi dan Stella kembali menggeleng.


"Gue nggak sejahat itu. Bagaimanapun dia sahabat gue, Flo," jawab Stella. Wajahnya terlihat kaget saat tanganku terulur dan membelai kepalanya dengan lembut.


Sepeninggal mobil Stella, aku mematung. Aku masih bingung dengan info yang baru saja aku dapatkan. Ini artinya tersangkaku tinggal dua. Caesar tidak mungkin menghamili Freya karena dia homo. Azka juga tidak mungkin karena selama setahun belakangan dia tidak kembali ke Indonesia. Hanya tinggal Collin atau Davin. Tapi Davin sendiri yang berkata padaku kalau dia tidak menghamili Freya. Tapi bisakah aku mempercayainya? Aku menutup mataku dan mengambil ponselku. Aku mencari nama Davin di daftar kontak dan meneleponnya.


"Kenapa, Flo?" sapa Davin sebelum aku menyapanya lebih dulu. Aku terdiam. "Flo? Kamu disitu?"


Aku berdeham. "Saya cuma mau bertanya satu hal sama Bapak. Apa saya bisa mempercayai Bapak?" tanyaku.


"Maksud kamu?"


"Apa saya bisa percaya sama Bapak? Sama setiap ucapan Bapak mengenai Freya?" tanyaku dengan dalam. Aku terdiam karena dia tidak mengucapkan apapun. Yang bisa aku dengan hanya suara desahan panjangnya.


"Bukan salah kamu kenapa kamu nggak bisa percaya sama saya," jawab Davin yang membuatku bingung. "Saya akan memberikan sedikit petunjuk ke kamu mengenai jati diri saya. Jika kamu ingat, kamu pasti akan sadar kalau saya tidak mungkin memiliki hubungan apapun pada Freya."

__ADS_1


Aku mengerutkan keningku dengan bingung. Apa maksud ucapannya?


"Profotech. Apa kamu pernah dengar?" tanyanya yang membuat keningku semakin berkerut. Apa hubungannya dengan Davin? "Jadi kamu benar-benar tidak memiliki clue, ya? Kalau kamu ingat, kamu pasti akan sadar siapa saya."


Aku tidak bisa bertanya lebih lanjut karena Davin langsung menutup teleponnya. Aku mematung. Aku memang pernah mendengar nama yang diucapkan oleh Davin sebelumnya. Profotech, kependekan dari Protection For Technology, adalah perusahaan yang bergerak dibidang keamanan. Perusahaan itu pernah menginterogasi perusahaanku karena kasus peretasan yang terjadi disebuah intitusi pertahanan Amerika. Tapi apa hubungan perusahaan itu dengan Davin? Tidak mungkin Davin pemiliknya karena umur perusahaan itu seumuran Scott dan seingatku pemilik perusahaan itu masih hidup dan orang itu sepenuhnya berkewarganegaraan Amerika. Aku jadi semakin tidak mengerti. Siapa Davin sebenarnya?


...***...


"Kenapa makanan kamu tidak dimakan, Sayang?" tanya ibuku yang membuat lamunanku buyar. Aku memang sedang memikirkan Davin sehingga aku tidak fokus pada makananku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap ibuku sambil tersenyum.


"Cuma lagi kurang nafsu makan aja, Ma," jawabku dengan setenang mungkin. Ibuku masih menatapku tapi aku tersenyum, berusaha menenangkan kecemasannya.


"Sebenarnya ada yang Papa dan Mama ingin bicarakan," kata Papa yang membuatku memutar kepalaku dan menatapnya. "Papa dengar dari Mama kalau kamu mengajak Papa dan Mama untuk tinggal bersama kamu di Amerika."


"Kenapa? Papa setuju?" tanyaku dengan setengah berharap.


Papa berdeham. "SebenarnyaPapa masih ragu, bagaimanapun rasanya kurang bertanggung jawab kalau Papa meninggalkan pekerjaan Papa ditengah jalan..."


"Lalu...?"


"Mungkin Papa dan Mama baru bisa menyusul sekitar dua sampai tiga bulan lagi. Papa tidak mau menghilangkan kesempatan Papa untuk bersama putri Papa yang satu-satunya ini," jawab ayahku yang membuat mataku melebar.


"Papa serius? Papa dan Mama akan tinggal bareng Flo di Amerika?" tanyaku. Papa dan Mama mengangguk bersamaan. Tanpa sadar, aku langsung bangkit berdiri. "Papa dan Mama nggak usah cemas. Aku yang akan urus semuanya. PokoknyaPapa dan Mama hanya perlu duduk manis dan semua masalah imigrasi akan selesai."


Papa yang melihat wajah penuh bahagiaku itu sampai ikut tertawa. Kelihatannya dia terkesan dengan antusiasnya diriku. Dia sampai menggelengkan kepalanya. Perhatianku teralih saat mendengar suara bel pintu rumahku. Mungkin hanya Brenda. Dia memang bilang padaku kalau dia ingin berkunjung ke rumahku hari ini. Saat pembantu rumahku ingin membukakan pintu, aku langsung menahannya.


"Biar saya aja, Bi," ujarku pada Bibi, sebutanku untuk pembantuku itu. Bibi langsung mengangguk dan meninggalkanku.


Aku berjalan ke pintu depan dengan hati yang sangat senang. Aku akan tinggal bersama orang tuaku di Amerika nanti. Aku tidak perlu lagi tinggal berjauhan dengan orang tuaku. Aku bahkan tersenyum lebar saat membuka pintu itu. Tapi senyumanku hilang saat menyadari siapa yang berdiri di balik pintu. Wajah kagetnya saat melihat wajahku sama seperti ekspresiku saat ini. Kami sama-sama kaget.

__ADS_1


"Flo? Ngapain lo disini?" tanya Caesar yang membuat jantungku seakan berhenti.


__ADS_2