FLO!

FLO!
Bag. 23


__ADS_3

Aku menapaki tangga menuju atap sekolah. Aku jadi teringat saat pertama kali ke sini. Aku menapaki tangga yang sama dan dengan perasaan yang sama. Aku tahu, kalau aku mendatangi tempat ini dan menemui orang itu, sudah dipastikan semua penyamaranku selama ini akan terbongkar. Besar kemungkinan aku akan dipenjara. Aku menarik nafas panjang sebelum membuka pintu atap.


Dia sedang berdiri disana. Dia memunggungiku. Kelihatannya dia begitu tenang saat aku memanggil namanya dan dia membalikkan tubuhnya. Senyuman manis menghiasi wajahnya. Dan entah kenapa, aku muak melihat senyuman itu.


"Hai, Azka," sapaku tanpa tersenyum. Aku menutup pintu dibelakangku dan bersender disana. Wajahnya sama sekali tidak terkejut. Seperti yang kubilang, dia tersenyum.


"Kenapa lo bisa ada disini? Harusnya lo ada di pesawat menuju Amerika sekarang," ujarnya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Buktinya gue ada disini sekarang," jawabku dengan enggan. "Jadiii... sejak kapan lo tau siapa gue?"


Azka mengangkat kedua bahunya. "Sejak gue lihat lo pertama kali. Freya pernah tunjukin foto lo ke gue. Gue nggak nyangka kalau lo akan kembali jadi anak SMA."


Aku hanya diam mendengar komentarnya. Disinilah dia. Orang yang sudah menghamili adikku dan lari dari tanggung jawab. Membuat adikku menderita sampai akhir hayatnya. Aku berjalan ke arahnya dan berdiri tepat disampingnya. Aku menyenderkan tubuhku ke dinding pembatas atap sambil menatap kosong apapun yang ada di depanku.


"Kenapa lo nggak tanggung jawab saat adik gue hamil?" tanyaku pelan.


"Itu kecelakaan. Harusnya itu nggak terjadi! Harusnya Freya nggak menyusul gue ke Singapura!" desis Azka. Aku menatapnya, mencoba membaca ekspresinya.


"Jadi itu salah Freya? Harusnya Freya menunggu lo kayak anak manis?" tantangku, berusaha agar dia mengeluarkan emosinya.


"Harusnya dia tau kalau gue nggak akan pernah tinggalin dia! Harusnya dia sadar kalau gue pasti akan kembali ke dia!" Azka berteriak seperti orang frustasi. Aku menatapnya.


"Dia percaya kok, dia cuma kangen sama lo. Dan lo benar, harusnya itu nggak terjadi. Harusnya dia nggak tidur sama lo," ujarku sepelan mungkin. Berusaha sebaik yang kubisa untuk menjaga suara dan emosiku.


Azka mengacak-acak rambutnya. Kelihatannya dia mulai terpancing. "Yang gue nggak sangka, dia bakal tinggalin gue disini! Dia pergi tanpa tanggung jawab dan nggak pikirin perasaan gue saat dia mati!"


Aku menatapnya. Azka sama. Dia seperti Caesar dan Stella. Dia juga menyesali kematian adikku. Aku menghela nafas panjang sambil menggeleng pelan.


"Lalu kenapa lo bocorin rahasia gue?" tanyaku pelan. Wajahnya memang ke arahku tapi tidak dengan pandangannya. Entah kenapa, matanya seperti tidak berani menatapku.


"Karena tiap lihat lo, gue sakit hati! Gue selalu teringat akan Freya setiap lihat muka lo!" desis Azka.


"Kenapa lo nggak jauhin gue? Kenapa lo malah mengejar gue?"


"Karena dengan begitu lo akan jenuh dan makin menjauhi gue. Pada akhirnya lo akan menyerah dan pergi."


Aku memiringkan kepalaku sambil menatapnya. Dengan sangat dalam. "Gue tanya sekali lagi, kenapa lo bocorin rahasia gue?"


Azka mengerutkan keningnya. "Supaya lo pergi!" ujarnya. Dan kali ini aku tersenyum. Tebakanku tepat.


"Lo nggak perlu bohong, Azka. Lo nggak perlu melindungi dia lagi," kataku sambil menghela nafas lega.


Azka terlihat kaget. Dia bahkan terbelalak. "Nggak! Gue yang mengirim e-mail itu!"


Aku menggeleng. "Gue tau kalau lo melindungi orang lain. Orang terdekat lo yang sebisa mungkin lo tutupi," kataku dengan suara keras sambil berjalan menuju pintu yang tadi kutinggalkan dan membukanya. "Iya kan, Bu Mawar?"


Mawar terlihat kaget saat melihatku. Kelihatannya dia tidak menyangka kalau aku menyadari kehadirannya yang sejak tadi menguping pembicaraanku dan Azka. Aku memundurkan langkahku saat menatap wajahnya itu. Dia menatapku seperti seekor elang yang sedang menatap mangsanya. Aku agak tersentak saat Azka menarik tubuhku ke belakang tubuhnya, seakan sedang melindungiku.


"Mama bisa berhenti disini. Dia nggak akan membahayakan siapapun," ujar Azka pada Mawar. Anehnya, Mawar hanya menatapnya.


"Kamu tidak mengerti, Sayang. Dia akan memisahkan kita!" desis Mawar. "Kamu mau kejadian saat Papa membawa kamu pergi kembali terulang?"


Azka terlihat mengangguk. "Aku ingat, Ma. Tapi dia akan segera pergi dan nggak akan memisahkan kita. Iya kan, Flo?" Azka bertanya padaku namun aku tidak menjawabnya. Aku hanya menatap Azka dan Mawar yang sedang berdebat.


Aku tidak mengerti pembicaraan antara ibu-anak ini. Aku memang baru tahu tadi kalau Azka adalah anak yang dulu diceritakan oleh Mawar. Meskipun memang Azka yang mengirimkan e-mail itu, aku tahu apa alasannya. Aku pernah membaca diary Freya yang berisi kalau seseorang sangat membenci dirinya karena mengambil Azka. Aku awalnya tidak mengerti tapi sekarang aku tahu apa alasannya. Azka adalah putra Mawar yang dibawa pergi dari sisinya dan saat mereka kembali bersatu, Mawar merasa setiap orang yang dekat dengan putranya itu akan mengambil Azka dari sampingnya.

__ADS_1


"Ma! Turunin pistol itu sekarang!" teriak Azka tiba-tiba yang membuatku tersadar kalau sesuatu yang gawat terjadi. Aku melihat dari balik punggung Azka kalau Mawar mengarahkan senjatanya pada kami.


"Kamu tidak mengerti, Azka, dia akan memisahkan kita! Mama tidak mau lagi melihat kamu pergi tanpa Mama bisa melakukan apapun." Mawar terisak. Aku hanya bisa membeku saat melihat pistol itu dengan jelas mengarah padaku.


"Ma, tenang. Kasih pistol itu ke Azka. Flo nggak akan memisahkan kita. Azka janji Flo akan segera pergi dan kita bisa kembali lagi seperti semula. Azka mohon, Ma. Justru kalau Mama berbuat kayak begini, Mama harus berpisah dari Azka. Please, Ma, kasih pistol itu ke Azka sekarang." Azka terdengar begitu memelas. Tubuhnya sengaja dijadikan tameng untuk melindungiku.


Tangan Mawar terlihat gemetar saat mengarahkan senjata itu. Aku tersadar sesuatu. Mawar sebenarnya tidak bisa menggunakan senjata! Aku punya peluang.


"Tidak bisa, Azka. Dia akan sama seperti Freya! Dia akan memisahkan kita!" Kata-kata Mawar membuat mataku terbelalak.


"Apa yang terjadi saat itu?" tanyaku pada Mawar. Tiba-tiba dia tertawa histeris.


"Itu salah dia! Dia memberitahu Mama kalau dia hamil! Dia minta kamu untuk bertanggung jawab. Dia bahkan sok suci di depan Mama dengan bilang kalau dia menghormati Mama sebagai ibu kamu makanya dia bicara lebih dulu pada Mama." Tawa histeris Mawar semakin membahana.


"Mama... Mama yang mendorong dia?" tanya Azka tidak percaya. Aku menahan nafasku saat Mawar hanya diam dan tidak menjawab. "Kenapa? Mama tau kalau Freya nggak akan misahin kita. Justru dia yang bikin kita berkumpul lagi sebagai keluarga. Kenapa Mama begitu tega?"


"Dia yang menyatukan kita tapi dia juga yang akan memisahkan kita! Kamu kira Mama mau melihat itu terjadi?" pekik Mawar.


"Kasih pistol itu ke Azka sekarang!" Suara Azka terdengar begitu dingin. Yang bisa kudengar, hanya suara histeris Mawar.


"Kamu mau meninggalkan Mama? Setelah semua yang Mama lakukan untuk kamu?"


"Mama nggak melakukan apapun kecuali mengambil semua kebahagiaan aku!"


Aku kembali mendengar suara histeris Mawar dan tiba-tiba tiga kali suara letusan yang keras. Aku tersentak ke belakang saat melihat tubuh Azka oleng. Aku bisa melihat kalau bahu kanannya tertembak. Baju seragam putihnya terkena noda darahnya. Tiba-tiba, Azka roboh di depanku. Ada dua tembakan di tubuhnya. Satu di bahunya dan satu lagi dilengannya. Kelihatannya tembakan ketiga meleset entah kemana.


"Kamu mau meninggalkan Mama? Kamu mau pergi dari Mama?" tanya Mawar dengan histeris.


Baru kali ini aku merasa takut. Saat Freya lahir dan aku tahu kalau kasih sayang orang tuaku akan terbagi dua, aku tidak setakut ini. Atau saat aku tahu Freya meninggal, aku juga tidak setakut ini. Aku bisa merasakan kalau tanganku bergetar. Apalagi melihat Azka roboh di depanku sambil mengerang membuat ketakutanku semakin bertambah.


"Sekarang giliran kamu!" ujar Mawar sambil mengarahkan senjatanya padaku. Aku mengangkat kedua tanganku.


Aku menghela nafas panjang dan menurunkan tanganku, berusaha mengumpulkan keberanianku. "Ibu bisa menembak saya kapan aja, tapi saya mau tau satu hal. Bagaimana cara Freya meninggal?" tanyaku.


"Dia bunuh diri! Titik!" Mawar kembali mengarahkan senjatanya padaku. Seketika, aku kembali mengangkat kedua tanganku.


"Woah, woah, woah. Anggap aja ini pertanyaan dari orang yang akan segera mati. Toh nggak akan ada siapapun yang mendengar kita. Bisa dibilang, rahasia Ibu akan saya bawa sampai mati," kataku.


Mawar menatapku dengan curiga. "Dia yang menghubungi saya lebih dulu! Sok suci dengan mengatakan kalau dia meminta ijin saya karena dia mengandung cucu saya! Ha! Cucu? Hubungan dia dan Azka sejak awal saya larang. Tapi dia sok sampai mengejar Azka ke Singapura. Keterlaluan!"


"Lalu apa yang terjadi? Nggak mungkin dia lompat begitu aja, kan?"


Tiba-tiba Mawar tertawa terbahak-bahak. Tawa yang begitu menakutkan. "Saya menyuruh dia menggugurkan kandungannya tapi dia tidak mau! Dia bilang lebih baik hidup menanggung malu daripada membunuh nyawa tidak berdosa, terlebih anak dari orang yang paling dia cintai. Dia begitu ketakutan saat saya ancam dia, seperti yang saya lakukan pada kamu saat ini."


Aku menelan ludahku. Aku tahu Freya tidak mungkin bunuh diri, apalagi dengan membawa serta anak yang dia kandung. Dia pasti lebih memilih hidup.


"Dia mundur, mundur dan terus mundur bahkan saat tembok yang ada di belakang kamu itu menjadi pembatas. Dia bilang kalau kakaknya akan datang dan membela dia."


Kepalaku terangkat saat Mawar mengucapkan hal itu. Dia tidak mengenaliku!?


"Akhirnya karena kesal, saya mendorong dia dan bukan salah saya kalau tiba-tiba dia terjatuh."


Aku menahan nafasku. Mawar berkata seakan kalau nyawa adikku bukanlah apa-apa, tidak ada harganya. Seperti dia sedang membunuh seekor lalat!


"Sekarang tidak ada yang bisa memisahkan saya dan Azka. Bahkan tidak dengan kakak yang selama ini hanya ada dimimpinya itu. Bagaimana kata-kata dia? Oh, 'Kakak saya akan membela saya dan akan kembali untuk saya. Kalaupun Azka tidak mau bertanggung jawab dan saya tetap melahirkan anak ini, kakak saya pasti akan menyayangi anak ini. Dan saat itu terjadi, Azka akan menyesal dan dia akan memisahkan diri dari Ibu.' Lihat sekarang? Azka tidak berpisah dari saya! Dia hanya bicara omong kosong! Kemana kakaknya? Bahkan sampai saat dia mati, kakaknya tidak ada!"

__ADS_1


Aku terdiam, memikirkan setiap ucapannya.


Aku menatapnya dan tersenyum.


"Kemana kakaknya, ya?" tanyaku pelan.


Aneh, tiba-tiba aku merasa tenang. Sebuah perasaan tenang yang tidak kumengerti muncul darimana.


"Maafin saya, Bu, tapi sebenarnya saya bohong. Saya nggak membawa rahasia ini sampai saya mati. Bahkan bisa dibilang, semua mata saat ini menatap Ibu," kataku sambil tersenyum.


Wajah Mawar terlihat tidak mengerti. Senyumanku malah semakin melebar.


"Coba Ibu cek handphone Ibu," kataku. Dia mengambil ponselnya meskipun senjatanya masih mengarah padaku. Matanya terbelalak saat melihat ponselnya.


"Bisa dibilang, semua koneksi ataupun jaringan yang ada disekolah ini hanya akan memutar satu video live," tambahku dengan tenang.


"Nggak mungkin! Saya sudah mematikan CCTV!" desis Mawar dan aku tertawa terbahak-bahak tanpa aku mengerti kenapa aku tertawa.


"Apa Ibu tau apa pekerjaan kakak Freya?" tanyaku pelan sambil tersenyum.


"Dia hanya seorang teknisi... Apa hubungan—"


"Ah-ah, teknisi hanya nama halusnya. Bahasa halusnya, Florentia Abdi Kusuma adalah seorang tester yang mengetes setiap program dengan mencari celah diantara program itu. Kalau Ibu mau tau istilah kasarnya, itu namanya hacker. Ibu bertanya dimana kakak Freya?" Aku melepaskan kacamataku dan melemparnya ke tanah. "Saya tepat dihadapan Ibu saat ini. Kelihatannya saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Florentia Abdi Kusuma."


"Tidak mungkin! Mana mungkin orang yang jauh lebih tua bisa kembali ke SMA. Mana ada—"


Mawar tersentak ke belakang. Kelihatannya kaget dengan jati diriku yang sebenarnya. Tiba-tiba dia tertawa. Bukan tawa senang, tapi seperti tawa miris orang yang sudah kalah.


"Kalaupun CCTV itu memutarkan apa yang terjadi sekarang, apa hubungannya? CCTV sekolah ini tidak merekam suara, hanya gambar! Pembicaraan kita tidak terdengar siapapun!" ujar Mawar. Dia menaikkan sedikit dagunya seakan dia merasa kalau dia sudah menang.


Kelihatannya Mawar sama sekali tidak menyadari siapa aku sebenarnya dan apa yang bisa aku lakukan. Aku malah tersenyum dengan tangan yang masih terangkat ke udara.


"Oh, ya? Justru kalau Ibu mendekatkan handphone Ibu kayak begitu, semua orang semakin bisa mendengar pembicaraan kita," kataku sambil memiringkan kepalaku. "Aah, Ibu nggak mengerti, ya? Bisa dibilang, saya menggunakan handphone Ibu sebagai penyadap yang terhubung ke setiap barang elektronik yang punya speaker, termasuk..." Suaraku menggema dibelakangku. "Speaker sekolah ini."


Aku tersenyum saat melihat wajah Mawar yang memucat di depanku.


"Ibu nggak bisa kabur. Ibu baru aja mengatakan kalau Ibu membunuh Freya. Dan sekarang, Ibu punya dua tuntutan lain. Kepemilikan senjata dan percobaan pembunuhan terhadap saya," ujarku dengan tenang.


Tiba-tiba Mawar menjatuhkan ponselnya dan menembak ponselnya itu dua kali. Kalau dia mengira kalau pembicaraan kami tidak terdengar dengan hancurnya ponsel itu, dia salah. Aku masih punya rencana cadangan lainnya.


"Sekarang peluru Ibu cuma tinggal satu. Dari yang saya lihat, Ibu kurang ahli dalam mengarahkan senjata. Jadi kalau peluru itu meleset, Ibu tidak punya pilihan lain selain menyerah," kataku dengan tenang sambil menurunkan tanganku. Aku sudah memperhitungkan semua ini.


Yang tidak aku perhitungkan adalah kalau Mawar akan mengarahkan senjata itu ke kepalanya sendiri. Aku tidak memperhitungkan kalau Mawar akan mencoba membunuh dirinya.


"Apa bedanya? Semua ini sudah selesai. Azka akan meninggalkan saya. Tidak ada gunanya saya hidup kalau Azka membenci saya. Semua ini selesai."


Sebelum Mawar menarik pelatuk, sebuah peluru meluncur dari sampingku dengan kecepatan luar biasa yang mengarah tepat ke pergelangan tangan Mawar. Senjatanya terjatuh begitu pula dengan Mawar. Mawar berteriak kesakitan karena tangannya yang berdarah.


"Maaf, Ibu, saya bohong. Saya nggak sendirian," ujarku dan tiba-tiba pintu atap terhempas. Beberapa pria berpakaian polisi lengkap dengan senjata yang mengarah pada kami muncul. Aku kembali mengangkat kedua tanganku.


Tubuhku langsung didorong oleh pria berpakaian polisi itu, begitu pula dengan Mawar. Dia berteriak pada petugas kepolisian itu dengan mengatakan kalau akulah penyebab semua ini. Aku tidak mempedulikan teriakan Mawar. Aku malah meminta petugas kepolisian yang sedang memborgol tanganku itu untuk membantu Azka. Tapi kelihatannya itu tidak perlu karena beberapa pria berbaju putih sudah meletakkan tubuh Azka pada sebuah tandu.


"Saudara Florentia Abdi Kusuma, anda kami tangkap atas tuduhan penipuan..."


Selebihnya, aku tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan polisi di belakangku ini. Mata dan pikiranku tertuju pada Mawar yang hisyerid dan menatapku seakan siap menelanku bulat-bulat. Tapi aku tidak mempedulikan tatapan itu. Aku malah tersenyum padanya.

__ADS_1


Tubuhku di dorong oleh polisi yang ada di belakangku. Mereka terus mendorongku menuruni tangga ataupun berjalan menuju lorong sekolahku. Saat berjalan dilorong, tidak sengaja tatapanku jatuh pada teman-teman kelasku. Aku menatap mereka dan mereka kelihatannya ingin berjalan menuju arahku namun polisi yang mengelilingiku tidak membiarkan siapapun mendekatiku. Aku hanya bisa menatap mereka sambil membisikkan ucapan maafku pada mereka. Aku menundukkan kepalaku.


Kehidupanku sebagai Florence Ferdinand sudah usai.


__ADS_2