
Kehidupanku sebagai Florentia Abdi Kusuma kembali dimulai. Saat mengantarkanku ke bandara Soekarno Hatta, orang tua serta teman-temanku mengucapkan salam perpisahan padaku. Aku berjanji pada mereka akan sesering mungkin kembali ke Indonesia. Pada akhirnya, orang tuaku tidak jadi ikut bersamaku tinggal di Amerika. Mereka ingin tetap menghidupkan kenangan Freya dalam diri mereka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan mereka dan berjanji akan sering mengunjungi mereka dan sesering mungkin menghubungi mereka. Bagaimanapun, aku berjanji pada diriku sendiri untuk berubah dan lebih perhatian pada mereka karena mereka adalah orang tuaku.
Begitu pula dengan Stella, Daisy dan Caesar. Aku berjanji pada mereka untuk menghubungi mereka sesering yang kubisa. Berhubung karena aku selalu memegang laptop, menghubungi mereka bukanlah hal yang sulit. Mereka juga berjanji kalau berlibur ke Amerika, mereka akan menemuiku.
Phillip tidak bisa mengantarku namun dia meneleponku sebelum aku menaiki pesawat. Aku membuatnya berjanji untuk tetap setia pada Brenda karena kalau tidak aku akan melakukan segala cara untuk membuatnya menyesal karena sudah mengenalku. Dia sih percaya saja. Dia bilang, orang yang berhasil menyamar serta membodohi semua orang sepertiku bukanlah lawan yang mudah. Padahal sebenarnya aku hanya bercanda karena aku tahu Phillip adalah orang baik namun dia percaya dengan kata-kataku.
Saat sampai di JFK, aku tahu aku sendirian. Tidak ada lagi Brenda yang menjemputku. Aku benar-benar seorang diri. Kelihatannya aku harus mencari asisten baru. Scott menyanggupi permintaanku meskipun aku tahu tidak ada yang bisa menggantikan asisten sehebat Brenda. Bukan hanya itu, saat aku seorang diri di flatku, rasa kesepian itu semakin terasa. Apalagi aku masih penasaran siapa yang mengirim Bram. Bukan hanya itu, sampai pada akhirnya, aku tidak tahu siapa Davin. Bahkan sampai saat aku menaiki pesawat, aku tidak menemukan Davin, sekedar untuk mengantarkanku. Rasa rinduku pada Davin ternyata jauh lebih besar dari bayanganku sebelumnya.
Selama sebulan penuh, aku disibukkan dengan pekerjaanku sehingga sejenak aku melupakan perasaan gundahku itu. Aku baru bisa menghubungi keluarga serta teman-temanku saat tengah malam, mengingat perbedaan waktu antara Amerika dengan Jakarta.
Dari mereka aku baru tahu kalau Mawar akan dituntut berat. Dia dikenakan pasal berlapis yang membuat sisa hidupnya akan dihabiskan dipenjara. Aku tidak tahu harus kasihan atau bersorak kesenangan saat mendengar hal itu. Dia membunuh adikku karena takut Azka akan diambil darinya. Tipe cinta yang menakutkan.
Aku juga baru tahu kalau pada akhirnya Pak Yusron dipecat. Kata Stella, dia ketahuan menggelapkan dana murid dan menerima suap. Yang tidak Stella ketahui, sebenarnya akulah yang mengirimkan semua bukti-bukti itu ke polisi. Aku sudah muak melihat kelakuan Yusron buncit itu. Semoga saja dia jera.
Menurut cerita Daisy, sekolah jadi berbeda. Dia bercerita kalau Stella berusaha berubah. Stella meminta maaf pada orang-orang yang pernah dia bully. Stella bahkan ikut dalam kampanye sekolah menghentikan bullying disekolah. Bukan hanya mengenai Stella, Daisy juga menceritakan tentang Caesar. Aku baru tahu kalau Collin ternyata ikut membantuku. Dia yang memberikan kunci ruang sistem pada Caesar. Katanya Collin juga sejak awal curiga padaku namun dia diam karena saat tahu aku adalah kakak Freya, dia tidak mau berbuat apapun. Bagi Collin, Freya adalah malaikatnya selama ini dan dengan membantuku dia berharap bisa membalas sedikit kebaikan Freya padanya.
Azka memang masih bersekolah di SMA Insani, namun sikapnya jadi jauh berbeda. Dia berubah menjadi pria yang baik, menurut Caesar. Dan masih menurut Caesar, setiap seminggu sekali Azka pasti mengunjungi makam Freya. Dia juga meminta maaf pada orang tuaku dan aku bersyukur karena orang tuaku memaafkannya. Aku tahu kalaupun orang tuaku tidak memaafkannya, Freya tidak akan kembali. Dan aku yakin alasan kenapa orang tuaku memaafkan Azka karena mereka tidak mau Freya sampai tidak tenang. Bagaimanapun, Azka adalah satu-satunya pria yang pernah dicintai Freya dengan sepenuh hati.
Aku bersyukur karena kehidupan teman-temanku jadi berbeda. Bukan hanya itu, aku bersyukur dengan ketidakwarasanku saat itu, kehidupanku jadi berubah. Aku jadi tahu apa yang namanya patah hati sekaligus betapa berharganya sebuah persahabatan. Pada akhirnya, aku menghapus semua diary Freya. Tulisan-tulisan Freya itu adalah bukti rasa sakit hati Freya dan aku tidak mau mengingat Freya seperti itu. Aku ingin mengingat Freya sebagai adikku yang ceria. Aku ingin mengingat adikku sebagaimana aku mengingat dia selama ini.
Perhatianku teralih saat pintu flatku diketuk. Mungkin itu chinese food yang kupesan. Sejak Brenda pergi, aku memang lebih sering memesan makanan. Bukannya aku tidak bisa masak, aku hanya tidak memiliki waktu untuk memasak. Aku mengambil dompetku dan berlari menuju pintu dan langsung membukanya.
Dompet yang tadi kupegang sampai terjatuh saat menyadari kalau itu bukan chinese food yang kupesan.
Dia jelas-jelas bukan makanan.
Dia pria yang selama ini aku rindukan.
Dan dia tengah tersenyum padaku!
"Halo, Flo," sapanya.
"Pak Davin?" tanyaku tidak percaya. Aku masih menatapnya bahkan saat dia membungkuk untuk mengambil dompetku yang terjatuh. Dia menyerahkan dompetku sambil tersenyum. "Bapak kok bisa ada disi-"
"Kita bukan disekolah. Aku bukan guru dan kamu bukan murid. Kenapa masih panggil aku Bapak?" tanyanya. Mata yang tidak ditutupi oleh kacamata itu menatapku.
Ya Tuhan, aku merindukannya.
Sangat, sangat merindukannya.
"Lalu saya harus panggil apa. Davinius Skandar pasti bukan nama asli Bapak!" Bodoh! Kenapa aku malah ketus padanya? Aku menyesal saat melihat senyuman diwajah tampannya itu memudar.
Davin berdeham dan mengulurkan tangannya. "Halo, nama aku Edward Davinio Giannes. Kamu boleh panggi saya Davin."
Tunggu sebentar! Aku mengenal nama itu! "Giannes? Bukannya itu nama belakang pendiri Profotech? Bapak anaknya? Nggak mungkin! Umur dia nggak beda jauh dari Bapak!"
"Lebih tepatnya kami saudara satu ayah. Bisa kamu berhenti panggil aku bapak?"
"Lalu saya harus panggil apa?"
"Panggil aja Davin. Apa salahnya?"
"Tapi itu bukan nama Bapak!"
"Itu nama kecil saya. Nggak ada yang panggil saya Davin kecuali keluarga saya."
"Tapi—"
"Excuse me, delivery from Fuleen Chinese Restaurant." Seorang pria yang sejak tadi kutunggu kedatangannya malah muncul disaat yang kurang tepat.
"Put it there," ujarku sambil menunjuk mejaku. Tapi bukannya maju, dia malah menatapku sambil tersenyum manis.
"3 number 13, 2 number 3, 2 number 15 with extra garlic and 5 number 1. As usual, am I right?" tanya delivery boy itu sambil mengulangi pesanananku. Aku mengangguk dengan kesal saat melihat Davin menahan tawanya saat mendengar pesananku yang banyak itu. "It's 74 dollar."
Aku baru saja akan mengeluarkan uang dari dompetku namun Davin mendahuluiku. Dia bahkan tidak meminta uang kembalian padahal dia memberikan uang pecahan seratus dollar! Davin berterima kasih pada anak itu dan mengusir secara halus agar meninggalkan kami.
"Jadi, siapa Bapak sebenarnya?" tanyaku. Wajahnya terlihat kesal.
"Berhenti panggil aku bapak, bisa?" balasnya dan aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Nggak sebelum BAPAK jelasin siapa BAPAK sebenarnya!"
Davin menghela nafas dengan kesal. "Oke!" gerutunya yang membuatku menahan senyumanku. Dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu nama padaku. Mataku melebar saat melihat jabatan dibawah nama Davin. Edward Davinio Giannes, eksekutif manajer! Pantas saja dia bisa membeli jaket Armani. Dan lihat setelan yang dia pakai saat ini!
"Bapak beneran dari Profotech?" tanyaku dan dia mengangguk.
"Kamu ingat perusahaan dimana kamu pertama kali menguji program?" tanyanya. Tentu saja aku ingat! Perusahaan itu membuatku malu karena aku gagal menguji program mereka. "Sebenarnya itu adalah anak perusahaan Profotech dan aku adalah pendiri perusahaan itu."
Aku ternganga. "Makanya Bapak bisa kenal saya?"
__ADS_1
Davin mengangguk. "Bukan hanya itu. Saat aku menginvestigasi Pioneer Technosoft, aku kembali ketemu kamu meskipun bukan aku menginterogasi kamu. Awalnya aku kaget saat lihat kamu muncul di SMA Insani dan aku takut kamu mengenal aku. Tapi ternyata kamu sama sekali nggak sadar kalau guru kamu ternyata orang yang bikin kamu dendam kesumat."
Aku mengerutkan keningku karena bingung. Darimana dia tahu?
"Ah, aku belum bilang kalau Scott dan aku itu teman lama?" jawabnya seakan bisa membaca pikiranku.
Aku kembali ternganga. Pantas saja Scott berkata seakan-akan mengenal orang yang aku sukai. Aku berani bertaruh kalau Brenda yang memberitahunya kalau Davinlah pria yang membuatku jatuh cinta.
"Dia cerita kalau perusahaan aku yang bikin kamu berusaha untuk jadi penguji terbaik. Dia juga cerita waktu aku menutup perusahaan aku, kamu sedih banget soalnya nggak punya kesempatan untuk bikin aku menyesal."
Scott brengsek! Kenapa dia harus menceritakan hal itu?
"Siapa yang menyangka, orang dengan kemampuan sebaik kamu malah berbuat bodoh karena ingin mencari tau kematian Freya?"
Aku menggerutu pelan saat mendengar ucapannya. Namun aku teringat sesuatu. "Lalu kenapa Bapak bisa ada di SMA Insani? Bukannya Bapak punya pekerjaan yang jauh lebih enak daripada jadi guru SMA?"
"Bisa dibilang karena jenuh. Aktivitas sehari-hari, rapat kesana kemari, nggak punya waktu untuk menikmati hidup. Kepala sekolahnya kenal aku karena dia dan ibu aku itu teman lama. Lagipula aku yang buat program sekolah itu. Dia kasih aku kesempatan mengajar tapi dengan syarat aku nggak boleh kasih tau identitas aku. Makanya aku cuti selama tiga tahun penuh. Tapi karena kamu, cuti aku diperpendek."
"Kok karena saya?"
"Karena saat kamu bilang kamu kembali ke Amerika, aku nggak punya pilihan lain selain ikut kamu kesini. Sialnya, Scott nggak bilang kalau kamu mengundur penerbangan kamu sedangkan saat itu aku udah disini, niatnya pengen bikin kejutan buat kamu."
Aku mengerutkan keningku karena bingung.
Dia tertawa. Benar-benar tertawa saat melihat wajahku. "Oke," katanya lalu berdeham. "Sebenarnya, aku agak kaget saat kamu menuduh aku mengirim e-mail pada Scott tentang identitas kamu. Awalnya kaget lalu berubah jadi bingung dan jadi panik saat kamu bilang kamu akan kembali ke Amerika. Aku nggak sempat menjelaskan semuanya apalagi saat Scott menelepon dan bilang kalau kamu kembali ke Amerika secepat itu. Makanya aku langsung mempersiapkan kepulangan aku ke Amerika tapi ternyata kamu malah nggak jadi datang."
Baiklah! Aku semakin bingung!
"Aku baru mendarat dibandara saat Scott telepon aku dan bilang kamu dalam masalah. Aku nggak mungkin bisa kembali secepat itu. Makanya aku menelepon pengacara aku yang ada di Jakarta."
"Bram? Tapi dia bilang dia nggak kenal Davinius Skandar!"
"Jelas. Yang dia kenal itu Edward Davinio. Kan udah aku bilang kalau Davin itu cuma panggilan untuk keluarga dekat. Ada pertanyaan lain?"
Aku menggeleng.
"Bagus, aku lanjutin ceritanya, ya? Setelah mengirim Bram, aku minta bantuan seseorang untuk membuat sebuah surat kerja untuk kamu, yah meskipun palsu."
Dan aku tahu siapa yang mampu membuat surat seperti itu. "Braxton?" tebakku.
Davin mengangguk. "Ternyata dia jauh lebih hebat dari perkiraan aku. Semua surat-surat yang dia buat kelihatan sangat asli. Pantas aja kamu bisa menipu kami dengan surat-surat itu."
"Nggak usah cemas. Aku udah cerita sama keluarga aku dan mereka nggak keberatan berbohong tentang surat ini. Apalagi ini menyangkut gadis keras kepala yang berhasil bikin aku jatuh cinta dan segera kembali ke Amerika."
Aku menatapnya dengan bingung saat dia mengucapkan hal itu. "Apa?"
Davin tersenyum. "Brenda udah cerita semua. Siapa yang membunuh Freya, apa yang terjadi pada Azka, hubungan kamu sama Stella dan Daisy, semuanya." Davin menepuk kepalaku dengan lembut. "Kamu hebat. Kamu membuktikan kalau melakukan hal diluar logika ternyata nggak seburuk itu. Bisa dibilang, aku bangga sama kamu."
Aku tidak tahu harus bicara apa. Mendengar Davin yang bangga padaku membuatku merasa semakin luar biasa lega. Apalagi senyumannya yang luar biasa tampan itu membuatku berasa di awang-awang.
"Lalu kenapa Bapak bisa ada disini?" tanyaku tanpa sadar.
"Bisa kamu berhenti panggil aku bapak?" gerutunya yang membuatku tersenyum tipis. "Lagipula nggak bagus kalau kamu memanggil orang yang kamu cintai dengan sebutan Bapak."
Darimana dia tahu?
Aku tahu kenapa dia tersenyum manis. Pasti karena ekspresi kagetku ini. "Kamu nggak tanya kenapa aku baru bisa ada disini setelah satu bulan kepulangan kamu ke Amerika?" tanya Davin yang tidak memperdulikan pertanyaanku.
"Bapak pasti sibuk, kan? Lagipula Bapak itu eksekutif manajer, pasti banyak hal yang harus Bapak tangani."
Davin malah menggeleng. "Sebenarnya aku baru kembali ke Amerika dua hari yang lalu. Aku menyelesaikan semua kasus hukum yang melibatkan kamu. Kelihatannya mereka percaya kalau kamu memang utusan dari Profotech apalagi saat melihat kartu nama aku. Sekaligus, aku minta ijin dari orang tua kamu. Aku serius sama kamu. Bagaimanapun, aku nggak pernah ketemu gadis senekad sekaligus secantik kamu."
Apa katanya barusan?
Tangan Davin membelai pipiku dengan sangat lembut seakan dia sedang membelai sesuatu yang begitu berharga baginya. "Sejak kita di Bali, aku tau kalau aku jatuh cinta. Kamu pasti akan pergi kalau kamu ketahuan makanya aku menyembunyikan kamu. Aku baru sadar kalau aku nggak pakai akal sehat aku saat kamu bilang kamu akan kembali ke Amerika. Sejak pertama kali kamu bilang kamu akan pergi, aku sadar kalau aku harus kembali jadi Edward Davinio Giannes agar bisa berada disamping kamu."
"Kamu bisa tetap jadi Davinio Skandar. Aku nggak peduli sama latar belakang kamu."
Mendengar ucapanku itu, Davin malah tersenyum. "Ini bukan tentang latar belakang, ini tentang jati diri. Untuk jadi orang yang tepat bagi Florentia Abdi Kusuma, si programmer jenius ini, aku harus jadi Edward Davinio Giannes, si eksekutif manajer Profotech."
Aku menaikkan alisku. Berusaha mencerna ucapannya.
"Nggak mungkin kalau Bapak Davin, si guru komputer kaku, jatuh cinta pada Florence Ferdinand, muridnya sendiri. Nggak etis. Lebih bagus kalau Edward Davinio jatuh cinta pada rekannya."
"Rekan?"
"Lho? Aku belum bilang kalau Profotech memutuskan untuk bekerja sama dengan Pioneer Technosoft untuk melakukan investigasi secara menyeluruh? Dan kamu yang akan menemani aku kalau aku perlu ke luar negeri untuk mengecek beberapa masalah."
"Tunggu sebentar... Aku sama sekali nggak ngerti!"
__ADS_1
Bukannya menjelaskan, Davin malah menarikku ke pelukannya. Dan saat berada dipelukannya, aku seperti merasa berada ditempat yang tepat.
Aku merasa seperti... pulang.
"Aku kangen banget sama kamu. Berusaha secepat mungkin untuk ke sini tapi selalu ada halangan. Makanya kamu harus menebus semuanya dengan jadi rekan aku agar kita nggak usah berpisah lagi. Scott udah setuju," bisiknya.
"Scott setuju? Kok bisa?" tanyaku dengan kaget namun aku tidak berniat melepaskan pelukan ini.
"Dia bilang kemampuan kamu akan terbuang percuma kalau bekerja seperti yang kamu lakukan sekarang. Lebih baik kalau kamu ikut aku. Lagipula kalau kamu ikut aku, kita bisa sesering mungkin kembali ke Indonesia. Bagaimanapun, Indonesia itu kampung halaman asli ibu aku."
Aku tersenyum dan mengangguk. Namun aku teringat sesuatu. "Tunggu sebentar!" Aku mengurai pelukan kami namun aku menolak melepaskan tanganku. "Itu sebabnya kenapa Scott membanjiri aku dengan pekerjaan? Karena dia tau aku akan ikut kamu?"
Davin tidak ada pilihan lain selain mengangguk. "Aku akan bantu kamu. Kamu kira kenapa aku bawa tas aku? Aku tau pekerjan yang Scott kasih pasti akan makan waktu berhari-hari."
Aku baru sadar kalau Davin memang membawa sebuah tas. Tanpa sadar aku tersenyum cerah. Menghabiskan waktu bersama Davin diantara pekerjaanku kurasa bukan hal yang buruk. Davin akan disampingku saat aku tidur dan akan melihat wajah Davin pertama kali saat aku membuka mataku.
Hmm... ide yang amat sangat baik.
Namun aku harus menelan rasa maluku saat perutku berbunyi. Dengan suara yang sangat keras pula. Apalagi Davin sampai melepaskan pelukannya dan menatapku.
"Kamu beneran lapar, ya?" tanyanya dan aku mengangguk malu. Dia tersenyum dan mengambil tasnya juga makanan pesananku lalu menarik tanganku. "Kebetulan, aku juga lapar."
"Bagus! Soalnya itu pesanan buat dua orang."
Davin mengerutkan keningnya. "Kamu tau aku mau datang?"
Dan aku baru sadar kalau aku menggeleng. Bodoh! Harusnya aku mengangguk saja!
"Lalu kenapa kamu pesan sebanyak ini?" tanyanya dan aku malah terdiam. "Tunggu sebentar, kamu biasa makan sebanyak ini?" tanyanya tidak percaya. Aku hanya mengangguk.
"Sekalian buat sarapan besok. Chinese food kan nggak buka dua puluh empat jam."
Yang tidak kumengerti adalah saat dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku tidak percaya.
"Ternyata benar kata orang, cinta tidak ada logika. Buktinya aku bisa jatuh cinta sama cewek berperut karet kayak kamu."
Aku tidak ada pilihan lain selain memukul lengannya dengan keras. "Udah aku bilang itu buat sekalian sarapan!" desisku tidak terima dengan ucapannya.
Awalnya dia kesakitan dan aku langsung menyesal dan minta maaf padanya. Namun bukannya memaafkanku, dia malah menarikku dan mencium bibirku.
"Nggak ada yang perlu dimaafin. I love you, Flo," bisiknya lalu kembali menciumku.
Sayang dia tidak bisa mendengar jawabanku.
Tapi dia bisa mendengar jawabanku sesering yang dia inginkan.
I love you too, Davin.
Setelah cukup lama dia menciumku, mungkin sudah puas mengobati rasa rindunya (meskipun aku juga sangaaaat rindu padanya), akhirnya dia melepaskanku. Aku bernafas sangat panjang sambil menatapnya.
"The best second kiss I ever imagined!" seruku sambil menatapnya.
Davin malah menatapku dengan bingung. "Kenapa kamu pikir ini kedua kalinya aku cium kamu?" tanyanya yang ikut membuatku bingung.
"Pertama di Bali dan sekarang yang kedua."
"Salah, ini ciuman ketiga kita."
Aku semakin bingung.
"Lho? Kamu nggak tau kalau waktu kamu sakit di UKS, aku jenguk kamu? Tapi waktu lihat kamu manis banget waktu lagi tidur, aku nggak bisa nahan diri buat cium kamu."
Sudah kuduga aku merasakan sesuatu saat itu! Ternyata memang ada yang menciumku! Dan Davin yang menciumku? "Jadi karena itu kamu ikutan kena flu? Tapi kenapa harus bohong waktu aku tanya kenapa kamu sakit?"
"Masa aku bilang kalau aku ketularan dari kamu? Pasti ujung-ujungnya kamu nanya dari mana kamu bisa nularin aku. Aku ini sakit hati soalnya kamu nggak ingat apapun dan rasanya nggak etis kalau aku bilang kalau aku cium kamu. Aku ini masih punya harga diri!"
Karena kesal. Aku memukul lengannya dengan keras. Bukannya kesakitan, dia malah tertawa terbahak-bahak. Melihat wajahku, tawanya langsung berhenti.
"Maaf, habis ekspresi kamu lucu banget," katanya. Namun aku tidak bergeming.
"I'm sorry, Flo," ujarnya lagi. Aku menatapnya.
"How sorry?" tanyaku.
Davin malah tersenyum padaku dan menarikku ke pelukannya.
"This sorry," ujarnya dan langsung ******* bibirku.
Ah, indahnya jatuh cinta.
__ADS_1