
Aku membuka pintu apartemenku dan menemukan kalau Braxton hanya menggunakan celana boxer. Itulah kebiasaannya. Tidak peduli siapa yang melihatnya, yang penting dia merasa nyaman. Aku hanya bisa menggeleng karena sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Dia hanya menyapaku sebentar sebelum sibuk dengan teleponnya. Saat aku bertanya kemana Brenda, Braxton hanya menunjuk dapur tanpa mengeluarkan suara.
"Kamu masak apa?" tanyaku saat melihatnya sibuk memotong beberapa sayuran. "Darimana kamu dapat semua bahan ini? Seingat aku, kulkas aku nggak ada isinya."
"Beli di supermarket dekat sini. Aku tau kebiasaan kamu yang malas masak padahal jago masak," jawab Brenda sambil sibuk memasukkan sayur yang dipotongnya ke dalam wajan yang sudah panas. Aku menarik bangku dapur dan duduk di atasnya sambil menopang kepalaku dengan tangan kananku lalu menatapnya.
"Aku nggak butuh masak disini. Begitu pulang, aku langsung dinner bareng Papa dan Mama. Kamu nggak tau masakan Mama itu enaknya kayak koki bintang lima!" jawabku. "Masak apa? Harum."
"Spaghetti Bolognesse," jawab Brenda yang masih sibuk menggoyang wajan yang ada ditangannya. "Tapi selama siang kamu nggak pernah makan, kan?" Aku hanya menggeleng. "Itu sebabnya mulai besok kamu akan bawa bekal!"
"Kamu kira aku anak SMP yang bawa bekal?"
"Saat ini kamu anak SMA!"
"Aku cukup hanya dengan minum kopi, Brenda."
Brenda menghentikan kesibukannya. Dia mengecilkan api kompor dan menatapku. "Aku tau pada akhirnya kamu akan begini, Flo! Kamu selalu menghukum diri kamu atas apa yang nggak kamu lakukan."
"Sebagian salah aku. Kalau aja aku lebih sensitif pada Freya dan dengar cerita aslinya, bukannya karangan dia, hal ini pasti nggak akan terjadi! Saat ini, dia pasti masih hidup."
Brenda menghela nafas panjang. "Gimana kalau Freya memang nggak mau kamu tau masalah dia? Gimana kalau dia memang udah putusin untuk bunuh diri?"
Aku mengangkat kedua tanganku. Aku menyerah dengan kekeraskepalaan Brenda. Aku tahu dia cemas padaku tapi ini keputusanku. Aku tidak akan mundur! Tidak mau mundur sampai aku tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh adikku! Aku juga akan membalas orang-orang yang membuat adikku terluka dan membuat mereka menyesal.
Brenda berdeham. Dia menatapku dengan dalam. "Oke, aku akan tutup mulut. Aku udah janji untuk bantu kamu," katanya lalu kembali pada kesibukan awalnya. Kelihatannya masakannya sudah matang karena dia sudah mengangkat wajan itu dari atas kompor dan meletakkan wajan itu di atas meja.
"Panggil Braxton. Time to dinner," kata Brenda sambil membagi isi wajan itu ke atas tiga piring yang ada di dekatnya.
"Aku ganti baju dulu," jawabku sambil bangkit dari dudukku. "Dan setelah itu, aku mau kalian lihat profil yang aku bikin tentang orang yang aku curigai."
Aku membalikkan tubuhku dan memanggil Braxton untuk makan. Setelah aku mengganti bajuku dengan setelan kerjaku, aku menyusul mereka ke meja makan. Sambil makan, aku bertanya mengenai kantorku pada Brenda. Tidak ada yang berubah. Hanya saja atasanku semakin galak karena ketidakhadiranku. Dia bilang pengganti sementaraku begitu menyedihkan. Keahliannya tidak sebaik diriku. Wajar, aku sudah empat tahun bekerja diperusahaan itu sejak aku lulus kuliah. Kata Brenda, klienku juga menanyakan keadaanku dan turut berduka karena kematian Freya. Mereka juga siap menungguku sampai aku kembali, yang tentu saja berhasil membuatku tersentuh.
Sehabis makan, aku mengeluarkan papan tulis putih dari kamarku dan membawanya ke ruang tamu. Papan tulis itu memang sudah berisi foto-foto Caesar, Azka, Collin dan Davin beserta informasi mengenai mereka. Aku menerangkan pada Brenda dan Braxton kalau tiga nama itu paling sering disebut di diary Freya sedangkan nama Davin muncul karena kecurigaanku padanya. Dibaliknya, ku tempeli foto-foto Stella dan gengnya serta orang-orang lain yang ikut mem-bully adikku.
Aku menunjuk foto Azka. "Sampai saat ini aku nggak bisa cari tau tentang dia karena dia sampai saat ini masih di Singapura dan aku minta bantuan kamu untuk mencari tau tentang dia," ujarku pada Braxton. Aku menunjuk foto Caesar. "Dia sahabat Freya yang entah kenapa malah menjauhi Freya. Dan menurut informan aku, saat Freya meninggal dia menunjukkan perhatian berlebih, sesuatu yang jarang dilakukan oleh orang yang menjauhi kita." Aku menunjuk foto Collin. "Ini yang aneh tentang guru ini. Dia begitu memuji Freya seakan Freya adalah titisan dewi. Saat aku mengawasi dia, sikapnya memang agak aneh. Dia penyendiri. Aku nggak pernah menemukan dia bergaul dengan guru lain dan malah selalu berada di ruangannya. Baik itu jam istirahat atau kalau dia nggak ada jam pelajaran."
Braxton menatapku sampai menunjuk foto Davin. "Lalu kenapa kamu curiga sama cowok itu padahal nama dia nggak ada di diary Freya?" tanyanya.
"Sikapnya," jawabku. "Dia selalu ada di atap setiap hari Selasa, hari dimana Freya meninggal. Hari yang sama dan di jam yang sama. Terlebih, aku merasa dia selalu mengawasi aku. Dan yang paling penting, dia mulai curiga tentang aku."
Brenda mengangkat alisnya. "Penyamaran kamu terbongkar?" tanyanya terkesiap.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Belum tentu. Dia tanya apa aku kenal Freya dan apa aku juga yang menanam virus di komputer sekolah. Untung aja aku selalu punya pintu belakang yang aku persiapkan kalau memang virus aku bisa dilacak."
Braxton menatapku. "Kamu tau jati diri dia?"
Aku menggeleng. "Itu yang bikin aku penasaran. Aku nggak bisa menemukan apapun tentang dia di database sekolah, seakan disimpan begitu rapat. Aku nggak bisa menemukan jejak masa lalunya, dari mana dia berasal ataupun lulusan sekolah mana misalnya, dan aku hanya tau tentang dia lewat kartu identitas buatan sekolah."
Braxton bangkit dari duduknya. "Biar aku yang cari tau. Begitu juga dengan anak itu." Dia menunjuk Azka lalu meninggalkan kami.
"Bukannya kamu pernah kirim foto dia ke aku?" tanya Brenda setelah Braxton masuk ke kamar. Aku mengangguk pelan. "Setelah aku lihat-lihat, aku kayaknya memang pernah ketemu dia. Tapi aku nggak ingat dimana."
"Bukan itu yang bikin aku penasaran. Dia baru masuk dua tahun yang lalu tanpa ada pemberitahuan ke sekolah sebelumnya, seakan dia punya orang penting di belakang dia. Apalagi setiap aku bicara sama dia, aku kayak lagi bicara sama Scott." Aku menyebutkan nama atasanku.
"Bos besar?"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Sikap arogansinya itu yang bikin aku ingat sama Scott, seakan dia memang punya kekuasaan." Apalagi dia gantengnya luar biasa.
"Lalu kamu mau berbuat apa sekarang untuk mendekati mereka satu persatu?"
Aku mengangkat kedua bahuku. "Caesar masih sulit di dekati. Dia orangnya tertutup banget. Collin lebih susah lagi karena status kami. Cuma Davin yang bisa aku dekati saat ini."
"Caranya?"
"Dia ajak aku untuk ikut ekskul, kegiatan tambahan buat murid," tambahku saat melihat wajah Brenda yang bingung saat aku mengucapkan kata 'ekskul'. "Lagipula dengan aku masuk ekskul komputer, aku nggak perlu cemas dengan pencarian data murid karena jauh lebih mudah dan lebih nggak bisa di deteksi."
Brenda tersenyum. "I got it. Kita nggak bisa melihat apa yang ada dibawah hidung kita," ujarnya yang mengulangi kata-kataku.
Aku memang sering menyebutkannya setiap melakukan pekerjaanku. Agar tidak ada yang bisa menangkapku, aku selalu bersembunyi tepat di bawah hidung mereka. Aku selalu menggunakan alamat IP klienku kalau aku melakukan pekerjaan untuk mereka. Tugasku memang mengetes setiap sistem keamanan disebuah perusahaan dengan menanamkan virus dan mencari tahu seberapa cepat mereka mampu menaklukan virusku. Aku harus selalu menyiapkan anti virus karena biasanya virus yang kukembangkan tidak mampu ditembus.
Sampai saat ini belum ada satu perusahaanpun yang mampu menaklukan virusku, kecuali satu perusahaan. Aku lupa namanya tapi perusahaan itu membuatku malu setengah mati karena mereka mampu menaklukan virusku hanya kurang dari dua menit. Sayang, pemilik perusahaan itu menutupnya sebelum aku membalas dendam pada mereka.
"Lalu bagaimana dengan laptop kamu? Memangnya sampai kapan kamu mau memantau mereka lewat handphone?" tanya Brenda yang menarikku dari lamunanku.
"Bos udah kirim laptop baru dan kira-kira lusa udah sampai. Aku nggak mau merepotkan diri dengan beli laptop baru dan mengganti semua sistem laptop itu. Bisa makan dua hari!" gerutuku.
"Memangnya apa alasan kamu sampai bos mau kirim laptop baru?"
Aku menyeringai lebar. "Aku bilang aja laptop aku kebanting dan kalau dia nggak kirim secepat mungkin, data aku akan hilang. Kamu tau betapa cintanya dia sama pekerjaan aku, kan?" jawabku. "Lagipula aku nggak sepenuhnya bohong, kan?"
...***...
Aku mengetuk pintu laboratorium komputer dengan pelan. Saat mendengar jawaban dari dalam, aku membukanya. Davin menatapku sekilas lalu matanya kembali pada komputer yang ada di depannya. Aku mendatanginya lalu mengulurkan sebuah kertas padanya. Dia menerima surat itu sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan surat cinta, kan?" tebaknya dengan datar.
Aku menggeleng. "Bapak bilang saya boleh masuk ke ekskul komputer dan kata Pak Yusron saya nggak bisa masuk kalau nggak punya surat permintaan ekskul yang harus ditandatangani Bapak," jawabku sambil mengulang ucapan Yusron tadi siang.
Davin membuka surat itu dan langsung menandatanganinya tanpa membaca terlebih dahulu. Dia mengembalikan surat itu padaku.
"Duduk dimana saja kamu suka," katanya yang membuatku mengerutkan keningku. Dia menatapku. "Setengah jam lagi ekskul dimulai. Justru bagus kamu datang lebih dulu karena kamu tidak perlu berebut tempat duduk. Jadi silakan pilih bangku yang kamu suka."
Aku mengangkat kedua bahuku dan duduk di bangku yang paling depan sekaligus paling dekat dengan meja Davin yang memang berada di tengah-tengah. Aku menyalakan komputer itu lalu menyenderkan tubuhku sambil terus mengawasi Davin. Semakin diperhatikan, aku semakin merasa pernah melihat dia sebelumnya. Tapi sialnya, aku tidak bisa ingat dimana aku menemuinya. Kelihatannya dia sadar kalau sedang aku perhatikan karena tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan balas menatapku.
"Kamu mau bicara sesuatu pada saya?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Nggak, cuma penasaran sama Bapak," jawabku apa adanya.
Kelihatannya dia tertarik dengan jawabanku. Dia ikut menyenderkan tubuhnya dan menatapku sambil bersedekap dengan angkuh. "Penasaran? Kenapa?"
"Karena Bapak mengingatkan saya dengan seseorang yang nggak bisa saya ingat. Bapak nggak perlu merasa saya murahan karena saya tidak berniat mengingat," tambahku agar tidak membuatnya percaya diri.
Tapi mendengar jawabanku itu, dia malah tersenyum. Aneh. Kenapa dia tersenyum?
"Oh, saya nggak pernah merasa kamu murahan," jawabnya. "Sebaiknya kamu hati-hati. Orang yang biasanya nggak kamu ingat justru pada akhirnya akan jadi orang penting buat kamu."
Aku mengerutkan keningku karena bingung dengan ucapannya. Baru saja aku ingin bertanya tapi aku menahan lidahku saat pintu laboratorium terbuka. Stella masuk sambil membawa secarik kertas yang langsung diberikan pada Davin. Stella yang menyadari kehadiranku, hanya menatapku dengan bengis dan duduk di bangku paling jauh dari bangkuku. Aku hanya tersenyum tipis dan kembali pada kesibukanku, terus menatap Davin.
Perhatianku teralih saat ponselku bergetar di saku rokku. Saat aku akan mengangkat teleponku, Davin memanggil namaku.
"Dilarang menggunakan ponsel selama jam sekolah berlangsung," katanya mengingatkanku. Tapi aku melemparkan senyum termanisku padanya.
__ADS_1
"Sayangnya ini udah di luar jam sekolah. Bapak lupa sebenarnya kita udah pulang sekolah?" balasku lalu meletakkan ponselku ke telinga.
"Aku jemput pulang sekolah. Ada kiriman buat kamu," kata Braxton tanpa menyapaku.
"From Scottie?" tanyaku penuh harap.
"He's your boss and you call him Scottie?" tanyanya dengan nada terkejut. "Anyway, aku juga bawa laptop lama kamu dan perlengkapan kamu. Nanti kamu bongkar dimobil."
"Kenapa nggak dirumah aja?" tanyaku dengan aneh.
"Kita kedatangan tamu dan nggak mungkin kamu bisa pulang ke rumah asli kamu kalau tamu itu belum pulang. Well, aku aja kaget waktu lihat dia datang."
Aku menaikkan sebelah alisku. Aneh. Aku tidak memiliki teman disini dan Brenda atau Braxton juga tidak mungkin kedatangan teman mereka karena ini pertama kalinya mereka datang ke Indonesia setelah mereka pergi dari negara ini sejak dua puluh tahun yang lalu.
"Siapa?" tanyaku dengan bingung.
"Pak Menteri."
Aku terlonjak dari kursiku. "What is he doing there?" Bagaimana cara dia menemukan rumahku?
"Ah, don't ask me. Brenda bilang sebaiknya kamu jangan pulang sebelum dia pergi. She'll try her best to find out what's going on," jawab Braxton berusaha menenangkanku. "Aku jemput satu jam lagi," tambahnya sebelum menutup telepon.
Aku memasukkan ponselku ke dalam rokku. Jujur, aku panik. Kenapa si menteri menemui Brenda? Dan bagaimana cara dia menemukan apartemenku? Apa penyamaranku terbongkar?
"Florence? Kamu baik-baik saja?" tanya Davin yang mengagetkanku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat kalau dia sudah berdiri disampingku.
Aku menggeleng. "I'm fine. I'm fine. I'm just—" Aku tidak menyelesaikan ucapanku karena beberapa anak lain mulai memasuki ruang laboratorium komputer. Aku menurunkan tanganku karena sejak tadi aku menggigit kuku ibu jariku karena cemas.
"Kamu yakin kamu baik-baik saja? Kamu pucat," tambah Davin dan aku membalasnya sambil tersenyum tipis.
"Saya baik-baik saja, Pak," jawabku setelah aku berhasil menormalkan suaraku. Tapi dia kelihatan tidak percaya.
Davin sekali lagi melihatku tapi aku malah menatap layar komputerku. Aku merasa rileks saat dia meninggalkan tempatnya berdiri dan duduk ke bangkunya. Tidak lama kemudian, ekskul dimulai. Aku tidak mengerti dan tidak fokus pada apa yang disampaikan oleh Davin. Dia mengucapkan rumus-rumus komputer yang tidak bisa kucerna. Aku malah sibuk mencari tahu mengenai sang menteri melalui komputer yang ada di depanku. Hasilnya tidak terlalu banyak karena aku mencari melalui Google dan itu tidak membantu. Perhatianku teralih saat sebuah chat online masuk. Aku melihat pengirim chat itu dan aku langsung menengokkan kepalaku ke tempat Stella, orang yang mengirimkan chat itu.
Ngapain lo cari tau tentang bokap gue?
Aku langsung mengetik dengan cepat.
Bukan urusan lo!
Kelihatannya dia tidak terima dan langsung membalas.
Itu bokap gue dan jelas itu urusan gue! Lo mau tau apa tentang bokap gue??
Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali sambil berdecak. Aku menghadap ke arahnya, menggapai mouse komputerku dan menekan tombol X berwarna merah untuk menutup chat itu. Aku menggerakkan bibirku dan mengatakan 'Bukan Urusan Lo' tanpa suara. Dia kelihatan kesal dan aku langsung kembali pada posisiku.
Kelihatannya duduk di tempat ini adalah kesalahan besar. Aku jadi tidak leluasa karena orang yang ada di belakangku bisa melihat apa yang aku lakukan. Mulai minggu depan, aku akan duduk ditempatku biasa.
Aku mengerutkan keningku saat layar komputerku mati secara tiba-tiba. Davin bilang kalau sistem mereka down, lagi. Yang pasti pelakunya bukan aku. Aku tidak melakukan apapun selain mencari tahu tentang si Menteri itu. Aku menunggu cukup lama karena sistem belum kembali seperti semula.
"Kelihatannya masalahnya cukup besar. Kalian tunggu disini sebentar," kata Davin lalu pergi meninggalkan laboratorium komputer.
Aku mendesah. Paling hanya murid usil yang membuka situs yang tidak seharusnya dibuka. Aku menunggu kira-kira lima belas menit dan Davin tidak kunjung kembali. Aku mulai tidak sabar. Aku memasukkan flash drive-ku ke lubang USB yang ada dikomputer dengan hati-hati agar tidak ada yang melihatku. Aku menekan tombol power yang cukup lama di CPU komputerku dan komputerku secara otomatis langsung mati. Aku menghitung lima detik lalu kembali menekan tombol yang sama. Tidak lama, layar komputerku menyala dan aku langsung membetulkan sistem menggunakan program yang pernah kubuat untuk mencegah sistem sekolah ini down secepat yang aku bisa sebelum Davin kembali. Tidak lama kemudian, sistem itu kembali menyala dan begitu pula dengan semua komputer yang ada diruangan itu. Aku mencari asal virus itu berasal dan mengerutkan keningku.
Kenapa virus ini berasal dari komputer milik Davin?
__ADS_1