FLO!

FLO!
Bag. 7


__ADS_3

Ayahku meminta Pak James menjemput Brenda. Dia akan langsung ke sekolahku bersama Braxton. Padahal aku sudah bilang padanya agar istirahat saja dulu tapi dia menolak. Dia ingin menyelesaikan hal ini secepat mungkin. Aku sih setuju saja dengan keinginannya. Penerbangannya sampai jam tujuh pagi dan aku menunggu sambil berharap-harap cemas.


Awalnya ayahku ikut kaget saat mendengar ceritaku. Dia sempat takut kalau penyamaranku akan terbongkar tapi aku mengatakan kalau Brenda yang akan menolongku. Mendengar itu makanya Papa meminta bantuan Pak James untuk menjemput Brenda di bandara. Dia memang mengenal Brenda tapi Papa tidak tahu kalau Brenda sebaik itu.


Aku sengaja menunggu Brenda di gerbang sekolahku sambil duduk di bangku yang ada di pos satpam. Mobilku yang sengaja kupinjamkan pada Pak James muncul. Aku langsung tersenyum sumringah saat melihat Brenda tapi senyumanku hilang saat melihat Braxton. Wajahnya kelihatan syok saat melihatku menggunakan seragam putih abu-abu dan tawanya langsung meledak. Brenda yang menghentikan tawanya dengan menendang kakinya. Braxton memang kesakitan, tapi dia tidak menghentikan tawanya.


"Hello, High Schooler," sapa Braxton yang membuatku jengkel setengah mati.


"Hello, c**reepy old man," balasku tidak kalah sengitnya.


"Cut it out! Dimana ruang gurunya?" potong Brenda.


"Lantai dua. Kamu nggak mau lepas jaket kamu dulu? Nggak kepanasan?" tanyaku. Tapi Brenda langsung menatapku seakan siap menelanku bulat-bulat.


"Call me Mom here! Are you trying to expose your cover?" desis Brenda yang membuatku tersenyum.


"Okay, Mom. Let's go," ajakku. Aku memutar bola mataku dan menatap Braxton. "You too, Uncle."


Braxton terlihat berusaha menahan tawanya dan mengikutiku. Aku sengaja memeluk lengan Brenda agar membuat aku seakan adalah putrinya. Umurku dan Brenda hanya berbeda sepuluh tahun dan saat ini aku adalah anaknya. Aku hampir saja tertawa kalau memikirkan itu. Tapi aku berdeham saat melihat Brenda memelototiku.


"Remember, I still mad at you," desis Brenda. Aku hanya mengangguk.


"Not bad buat sekolah pembunuh," kata Braxton di belakangku. Dia kelihatannya sedang menilai sekolah ini karena dia mengedarkan pandangannya ke setiap seluk beluk sekolah ini.


Aku bersyukur karena jam pelajaran sudah dimulai karena kalau tidak, aku tahu kedatangan Brenda dan Braxton pasti akan menarik perhatian, terlebih Braxton. Wajah Braxton memang luar biasa tampan. Apalagi adalah seorang anggota angkatan laut yang membuat otot-ototnya kelihatan kekar. Terlebih tinggi Braxton hanpir seratus sembilan puluh senti yang membuatnya seperti seorang model. Sayang, aku tahu semua track recordnya, mungkin aku akan menjadi satu dari sekian banyak fans Braxton kalau tidak tahu hal itu.


Aku mengetuk pintu ruang guru dan membuka pintunya. Si Buncit Yusron memandangiku. Perhatiannya teralih saat Brenda masuk ke dalam ruangan. Meskipun kelihatan lelah, Brenda masih terlihat sangat cantik. Wajah blasterannya memang membantunya. Aku memperkenalkan Yusron pada 'ibuku'. Yusron meminta kami masuk ke ruang BP yang bersebelahan dengan ruang guru. Dia bahkan mempersilakan Brenda duduk dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya.


"Saya tidak tahu kalau ibu Florence secantik ini," puji Yusron yang membuatku memutar bola mataku. Aku bisa melihat kalau Brenda sama jijiknya denganku. Please, Bapak bukan level Brenda. Pikirku.


"Saya hanya ingin bertanya kenapa saya harus melalui penerbangan selama dua puluh empat jam karena perbuatan putri saya!" desis Brenda. Sikap protektifnya padaku mulai muncul karena tahu betapa aku membenci pria ini.


Yusron baru saja akan membuka mulutnya saat pintu ruang BP diketuk dari luar. Seorang pria yang kelihatannya berumur pertengahan empat puluhan masuk ke dalam ruang BP. Aku mengenal pria itu. Dia adalah ayah Stella, sang menteri aktif. Dibelakangnya, Stella mengikuti. Dia menatapku sambil tersenyum penuh kemenangan.


Justru aku yang seharusnya tersenyum penuh kemenangan. Dia belum mengenal Brenda. Asal tahu saja, Brenda adalah yang paling tidak memiliki rasa takut. Saat kerja samaku batal dengan sebuah perusahan multi-internasional, Brenda bahkan mampu mengamuk di depan sang direktur utama. Apalagi hanya menteri yang tidak dia kenal?


Ayah Stella mengulurkan tangannya pada Brenda. "Halo, saya Phillip. Saya ayah Stella," katanya dengan ramah.

__ADS_1


Brenda menatapku. "La Bruja?" tanyanya dan aku mengangguk sambil menahan tawa.


Karena kami sering melakukan perjalanan ke Amerika Selatan, kami jadi ahli bahasa Spanyol. Yang membuatku tertawa karena Brenda menunjuk Stella dan mengatakan kalau Stella adalah penyihir. Aku memang cerita padanya kalau Stella sedang tersenyum, dia mirip dengan Bellatrix Lestrange.


Brenda tersenyum. "Saya ibu dari Flo dan dia," Brenda menunjuk Braxton, "paman Flo."


"Maaf, mungkin terdengar kurang ajar, tapi kalian—"


Brenda langsung memotong ucapan ayah Stella. "Tidak mirip? Flo memang anak angkat saya," jawabnya. Dia menatapku sekilas lalu kembali menatap Yusron. "Putri saya menelepon dan mengatakan kalau ada ketidakadilan disekolah ini. Bisa jelaskan apa yang terjadi?"


Aku tersenyum. Aku mengenal nada itu. Nada penuh keyakinan yang selalu dikeluarkan oleh Brenda kalau dia menemui klien-ku. Mungkin Brenda memikirkan kalau yang ada di depannya ini adalah klien-ku yang paling menyebalkan.


"Begini, Bu Brenda, Florence melakukan kekerasan pada Stella. Dia bahkan bertindak kasar pada saya," ujar Yusron. Kelihatan sekali dia berusaha mencari muka di depan sang menteri. Brenda mengacuhkannya dan menatapku.


"Did you really do that?" tanya Brenda dengan nada mengancam. Aku mengangguk pelan. "What exactly did you do ?"


Aku memutar bola mataku dan kembali menceritakannya dari sisiku. Braxton yang ada disamping Brenda hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bullying? It still exist?" tanya Braxton dengan nada terkejut yang dibuat-buat. "If my captain knows, he'll hang that son of a ***** dry."


Brenda menginjak kaki Braxton sampai dia meringis kesakitan. "Maafkan kakak saya. Dia tentara aktif dan bahasanya sedikit kasar," kata Brenda meskipun kedengaran tidak menyesal. Tapi dia mengangkat kepalanya dan menatap Yusron. "Saya menyesal mendengar kelakuan putri saya."


Brenda langsung memotong ucapan Yusron. "Tapi saya tidak menyesal dengan apa yang diucapkan oleh putri saya, baik pada anda maupun pada anak ini." Brenda langsung menatap Stella dengan tajam. "Saya mengajarkan putri saya untuk melakukan berbagai hal dengan alasan yang rasional. Kalau putri saya memang menyiram Stella dengan kopi, pasti ada alasannya." Brenda langsung menatap Yusron. "Dan mengenai ucapan putri saya kepada Bapak, saya rasa Bapak hanya merasa apa yang dikatakan oleh putri saya memukul anda dengan telak. Putri saya tidak mungkin mengucapkan hal itu kalau Bapak memang adil dan mendengar cerita dari dua belah pihak."


"Ibu—" Ayah Stella berusaha menengahi tapi Brenda langsung menatapnya tajam.


"Jangan potong ucapan saya!" desis Brenda lalu kembali menatap Yusron. Aku bisa melihat kalau si Menteri itu kelihatan syok melihat sikap Brenda. "Mendengar cerita ini, saya merasa putri saya adalah korban!" Brenda menatap Stella dengan tatapan membunuhnya. "Saya tidak pernah berkata kasar pada Flo tapi kamu berani mengatakan anak saya cecunguk? Kamu kira kamu siapa berani mengucapkan hal itu pada anak orang lain? Flo baru cerita pada saya kemarin bagaimana perlakuan kamu pada anak saya!" Wajah Stella seketika pucat. "Apa kamu tidak pernah berpikir jika saat kamu punya anak nanti, anak kamu akan diperlakukan seperti itu? Membuang mejanya, membakar buku catatannya, mencabik-cabik seragamnya, membuatnya seakan kalau dia berpenyakit menular sehingga dia dijauhi teman-teman sekelasnya? Bagaimana perasaan kamu kalau anak kamu seperti itu!?"


Aku menggenggam tangan Brenda sedangkan Braxton hanya menahan lengan Brenda agar tidak bangkit berdiri dan mendamprat Stella lebih jauh.


"Tenang, Ma," panggilku berusaha menjaga emosi Brenda yang mulai meledak. Aku memberi isyarat pada Braxton agar menjauhkan gelas berisi air agar tidak menyiram Stella. Untung saja Braxton mengerti dan meminum habis air itu.


"Tenang? Kamu bilang tenang? Dia berani-beraninya berbuat seperti itu dan kamu bilang aku harus tenang!?" pekik Brenda.


Aku menatap Brenda dengan takjub. Luar biasa memang akting yang dikeluarkan oleh Brenda ini. Hampir saja aku bertepuk tangan. Aku saja sampai yakin kalau Brenda adalah ibuku, bagaimana dengan orang lain yang melihat ini?


"Stella... Apa benar yang Papa dengar?" tanya Phillip. Stella tidak menjawab. Wajahnya malah pucat.

__ADS_1


"Mana mungkin dia berkata yang sebenarnya kalau dia berani mengaku salah?" desis Brenda. Dia mendengus pelan. "Saya kira dengan saya memindahkan Flo ke Jakarta, dia bisa jauh lebih aman. Ternyata saya salah! Saya tidak tahu kalau sekolah di Jakarta seperti ini! Akan saya adukan hal ini pada pihak terkait. Berani-beraninya kamu pada anak saya—Ha!"


Braxton sama terkejutnya denganku saat melihat sikap Brenda. Ternyata Brenda jauh lebih marah dari yang kupikirkan. Aku baru mengerti kenapa Brenda marah kemarin. Aku merasa Brenda marah karena perlakuan Stella padaku dan aku hanya diam menerima perlakuan itu. Brenda memang protektif padaku karena kami memiliki nasib yang sama. Brenda dan Braxton memang anak angkat, sama sepertiku. Jadi kalau ada yang berani macam-macam padaku, Brenda memang tidak pernah tinggal diam.


Si Menteri terlihat berdeham. Aku tidak mengerti kenapa dia kaget. Entah karena sikap tidak ada takut milik Brenda atau mendengar kelakuan putrinya. Dia menundukkan kepalanya sambil melipat tangannya.


"Jujur, ini pertama kalinya saya mendengar kelakuan putri saya yang seperti itu. Dari dalam lubuk hati yang paling dalam, saya minta maaf," kata Phillip dengan nada begitu menyesal.


"Tapi, Pa—" Stella berusaha memotong ucapan ayahnya.


"Tutup mulut kamu!" desis Phillip yang membuat wajah Stella pucat. Phillip mengangkat kepalanya dan menatap aku dan Brenda bergantian. "Saya akan memberikan ganti rugi yang dialami oleh Florence. Sekali lagi saya minta maaf."


"Ganti rugi?" tanya Brenda tidak percaya. "Ganti rugi!? Bagaimana dengan beban psikis yang dialami oleh Flo? Apa itu bisa diselesaikan dengan ganti rugi?"


"Easy, Sis. Flo nggak mungkin semenderita itu," potong Braxton.


"Shut up!" balas Brenda. Dia menatap Phillip dan Stella bergantian. "Saya dan putri saya tidak membutuhkan ganti rugi. Yang Flo butuhkan adalah kenyamanan selama bersekolah disini. Kalau Stella masih bersikap seperti itu, bukan tidak mungkin saya akan membawa hal ini ke pihak terkait. Apalagi pihak sekolah seakan tutup mata akan sikap sok berkuasa Stella. Saya melihat setiap lorong sekolah ini diawasi oleh CCTV tapi kenapa tidak ada kebijakan yang diambil sekolah saat melihat kelakuan Stella? Bukan hanya Stella, saya juga akan menuntut sekolah ini karena tidak becus mendidik muridnya."


Wajah Yusron langsung pucat. Dia berdeham dan meminta agar Brenda tenang, tapi aku yang paling tahu akan sikap Brenda ini. Dia tidak akan tenang sampai tujuannya tercapai. Kalau perlu, dia akan mengeluarkan setiap umpatan jika lawannya masih tidak menyadari kesalahan mereka.


"Saya yang akan memantau langsung sikap Stella, Bu. Kalau Stella memang melakukan tindakan yang kurang sopan pada Florence, Ibu bisa langsung menghubungi saya," ujar Phillip. Aku bisa melihat wajah Stella yang pucat pasi itu. Aku baru sadar kalau kelihatannya Stella adalah tipe orang yang takut pada ayahnya.


"Anda tidak perlu cemas. Mulai sekarang saya akan tinggal di Jakarta sampai studi Flo selesai," kata Brenda yang membuat Stella semakin pucat. Dia menatap Stella. "Ancaman saya akan berlaku kalau saya masih mendengar apa yang kamu lakukan pada anak saya."


Brenda bangkit dari duduknya dan mengajakku dan Braxton untuk pergi. Dia bahkan menarik tanganku untuk keluar dari ruangan itu. Aku mengikuti Brenda dan sebelum keluar, aku menengokkan kepalaku. Aku bisa melihat kalau si Menteri sedang memelototi Stella yang pucat. Aku juga bisa melihat wajah Yusron yang ikutan pucat. Kelihatannya kedatangan Brenda ke sekolah ini membantuku. Aku tersenyum. Tapi senyumanku hilang saat Brenda menghentikan langkahnya, melepaskan genggamannya dan menatapku.


"Can we talk somewhere?" tanya Brenda dengan dingin.


Aku mengangguk. Aku mengajak Brenda dan Braxton ke atap sekolah. Aku tidak perlu takut ke sana karena saat ini masih jam pelajaran. Lagipula murid dilarang menaiki atap itu dan aku memiliki kunci yang membuatku bebas keluar-masuk ke atap itu. Aku mematikan CCTV yang ada dan menuju atap itu agar kami bebas mengobrol.


Aku membuka pintu atap dan membiarkan Brenda berjalan lebih dulu dan Braxton mengikuti. Aku mengikuti mereka setelah menutup pintu atap dan setelah yakin kalau tidak ada yang mengikuti kami. Aku menatap Brenda sambil menyenderkan tubuhku ke dinding pembatas yang ada di atap. Braxton melakukan hal yang sama sedangkan Brenda hanya diam sambil menatapku.


"We can talk here," kataku setelah mempersiapkan diriku untuk menerima amukan Brenda.


"Good," kata Brenda pelan. Dia langsung memelototiku. "ARE YOU OUT OF YOUR MIND? WHAT? A HIGH SCHOOL STUDENT?" teriaknya.


Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku paling tidak suka berbohong. Dan sejak menyamar dan masuk ke sekolah ini, sudah tidak terhitung berapa kali aku berbohong. Karena itu aku hanya bisa menyesal di depan Brenda. Brenda kelihatannya sadar dan langsung menatap Braxton dengan tatapan membunuhnya.

__ADS_1


"You ARE crazy! Both of you!"


Aku berdeham. "I know," jawabku sambil mengangkat kedua tanganku. Tapi Brenda langsung memukuli lenganku dengan gemas sampai aku berteriak kesakitan.


__ADS_2