FLO!

FLO!
Bag. 2


__ADS_3

Baru saja aku akan bertanya mengenai maksud ucapan pria itu saat aku mendengar suara klakson mobil dari belakang kami. Aku membalikkan tubuhku dan melihat kalau ibuku keluar dari mobil. Dia langsung berlari dan memelukku lalu menangis tersedu-sedu. Aku membalas pelukan ibuku tanpa berusaha menghibur beliau. Aku hanya bisa membelai punggung ibuku dengan lembut.


"Kenapa Freya tega melakukan ini pada Mama? Meninggalkan Mama?" pekik Mama di sela tangisnya. Aku menghembuskan nafas berat. Saat aku mengangkat kepalaku, aku bisa melihat wajah Papa yang sama berdukanya seperti wajahku sendiri.


"Jangan disini, ayo ke dalam," ajak Papa. Dia menatap pria yang tadi bicara padaku sambil menunjuk koperku. "Yadi, tolong bawa koper ini ke lantai dua."


Pria bernama Yadi itu mengangguk sambil menatapku dengan bingung. Kelihatannya dia tidak mengenal diriku. Aku tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih lalu membantu ibuku untuk masuk ke dalam rumah. Ayahku berdiri disamping ibuku sambil ikut merangkulnya. Aku baru melepaskan ibuku saat kami berada di kamar tidur. Aku mendudukkan ibuku ke ranjangnya. Aku duduk di depannya sambil menatap matanya yang sembab itu.


"Mama tidak tau kenapa Freya melakukan semua ini pada Mama. Kenapa dia tega meninggalkan Mama?" bisik Mama dengan begitu tersiksa. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa membelai pipi ibuku dengan lembut, berusaha menghapus air matanya.


"Sekarang Mama istirahat. Flo akan disini. Flo janji," kataku sambil membaringkan tubuh ibuku dengan lembut. Aku menyelimuti tubuh ibuku dan mengecup keningnya dengan lembut, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.


Saat aku melihat ibuku sudah tertidur, meskipun aku masih mendengar suara sesegukannya, aku dipanggil oleh ayahku untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Aku melepaskan jaket yang masih ku kenakan karena aku mulai terasa kepanasan. Aneh, saat tadi aku tidak mampu merasakan apapun tapi saat melihat ibuku akhirnya kesadaranku kembali. Aku duduk di bangku yang ada di seberang ayahku. Kelihatannya ayahku masih syok dengan kematian Freya tapi dia mampu menyembunyikan perasaannya dengan baik. Ayahku terlihat beberapa kali menghembuskan nafas. Aku meraih tangan ayahku dan menggenggamnya dengan erat.


"Papa baik-baik saja, Flo," ujar Papa dengan lembut saat melihat wajah cemas ayahku. "Justru kamu yang bikin Papa cemas. Kamu kelihatan tenang."


Kata siapa? Pikirku. Aku sama syoknya dengan kalian. Aku berusaha bersikap tenang karena tidak mau menambah perasaan duka kalian. Tapi aku tidak mengucapkan pikiranku itu dan malah menatap ayahku. Beliau kelihatan lebih tua. Kerutan diwajahnya semakin banyak. Mungkin karena kematian Freya begitu memukul Papa dengan keras.


"Papa tidak tahu harus bicara apa," ujar Papa sambil membalas genggaman tanganku, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan lagi setelah Freya lahir. "Jujur, Papa tidak tahu harus mengucapkan apa saat Papa menelepon kamu kemarin. Papa kaget karena melihat kamu langsung datang. Papa kira kamu akan menunggu sampai keadaan lebih tenang."


Aku hanya bisa tersenyum tipis. "Kalian butuh aku disini."


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu?"


"Pekerjaan aku bisa menunggu. Lagipula masih ada Brenda, dia yang akan handle semua," jawabku sambil menatap ayahku.


Ada keheningan terbentang di pembicaraan kami. Aku tidak tahu harus bicara apa. Semua kejadian ini masih belum mampu aku cerna sepenuhnya. Tapi ada sesuatu yang sejak tadi ingin kutanyakan. Mengenai ucapan Yadi saat aku sampai tadi.


"Papa... Papa harus cerita apa yang terjadi ke aku. Kami masih bicara sehari sebelum kematiannya," kataku pelan sambil berusaha menghilangkan nama Freya dalam pembicaraan kami karena takut aku akan menangis di depan ayahku.


Ayahku terlihat bernafas berat. Dia menarik tangannya dari genggamanku dan malah melipat tangannya sendiri. Dia menundukkan kepalanya.


"Papa juga tidak mengerti. Dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Dia masih mengucapkan 'dadah' pada Papa dan Mama sebelum dia berangkat. Tiba-tiba Papa ditelepon oleh pihak sekolah dan mengatakan kalau Freya sudah..."


Aku mengerti kenapa Papa tidak melanjutkan ucapannya. Perasaan duka yang dialami ayahku pasti jauh lebih besar dari perasaan dukaku. Aku menunduk, berusaha agar ayahku tidak melihat air mataku.


"Papa bukan hanya terkejut saat mendengar Freya meninggal, tapi Papa jauh lebih terkejut lagi saat mereka memberi tahu Papa kalau Freya hamil. Anak Papa... Anak yang selama ini Papa didik baik-baik ternyata hamil diluar nikah dan memutuskan untuk bunuh diri."


Ini pertama kalinya aku melihat ayahku menangis. Pelan namun justru terdengar sangat menyakitkan. Melihat tangisan itu, hatiku seperti tersayat. Aku tidak mampu menahan tangisanku lebih jauh. Pada akhirnya, aku ikut menangis bersama ayahku.


...***...


Aku membelai foto Freya yang digantung di dinding kamarnya dengan lembut. Aku membelai seluruh isi kamar Freya. Kamar yang di dominasi warna merah jambu, warna kesukaan Freya, membuat mataku kembali teraliri air mata. Masih ada wangi Freya disini. Aku menatap laptop yang masih kami gunakan dua hari yang lalu untuk berkomunikasi. Aku duduk di atas ranjang lembut milik Freya dan berbaring di atasnya. Aku menatap langit-langit yang dihiasi oleh glow in the dark berbagai bentuk yang dulu memang kubelikan untuk Freya untuk ulang tahunnya. Aku memang tidak datang ke acara ulang tahun Freya tapi aku mengirimkan berbagai macam hadiah untuk Freya dan tempelan ini adalah salah satunya.


Aku bangkit dari tidurku dan berjalan menuju lemari baju Freya. Aku membelai setiap baju milik Freya sambil tersenyum saat melihat baju yang kukirim berada dilipatan paling atas. Bukan hanya itu, jaket yang kukirimkan juga warnanya terlihat kusam, seakan sering dipakai. Keningku mengerut saat melihat sebuah kotak yang ada di ujung lemari itu. Aku menarik keluar kotak kardus itu dan membuka tutupnya.


Aku semakin tidak mengerti saat melihat isi kotak itu.

__ADS_1


Ini seragam milik Freya yang anehnya seperti bekas dicabik-cabik. Bukan hanya satu tapi beberapa pasang seragam lain juga sama. Aku menggigit kuku jariku, kebiasaanku kalau sedang bingung, dan berlari menuju laptop milik Freya.


Aku membuka laptop milik Freya dan terdiam saat melihat kalau laptop Freya dipasangi sandi. Karena aku tidak mau menunggu terlalu lama, aku membongkar laptop Freya dan memasang motherboard nya ke laptop milikku. Aku memang sudah terbiasa melakukan hal ini karena ini memang pekerjaanku. Tidak perlu menunggu lama saat motherboard laptop Freya terhubung ke laptop milikku. Aku membuka tiap folder yang ada di laptop milik Freya. Aku merasa aneh saat melihat ada satu folder yang diberi sandi oleh Freya, seakan takut ada yang membaca folder itu. Aku menghela nafas panjang dan mulai mengetik secepat yang kubisa untuk membongkar sandi folder itu. Aku mengerutkan keningku saat melihat judul file yang ada di dalam folder itu. Judulnya berupa bulan dan tahun file itu dibuat. Aku membuka salah satu file dengan bulan yang paling baru.


1 Oktober 20xx


Dear Kak Flo.


Aku nggak tau harus bicara apa, Kak, tapi Freya kangen sama Kakak. Freya butuh Kakak disini. Lagi-lagi mereka usilin Freya. Mereka bilang kalau Freya nggak lebih dari hooker. Mereka bahkan membuang seragam Freya ke tong sampah. Andai Kakak disini.


2 Oktober 20xx


Dear Kak Flo.


Aku nggak tahan Kak. Mama dan Papa lagi-lagi berantem. Papa bahkan menampar Mama dan Mama balas teriak ke Papa. Andai Kakak ada disini.


3 Oktober 20xx


Dear Kak Flo.


Aku nggak tau harus bicara apa, Kak. Tapi Freya butuh Kakak disini. Andai Kakak ada disini dan menghibur Freya.


4 Oktober 20xx


Dear Kak Flo.


Mereka membuang buku Freya, Kak. Mereka bahkan tertawa saat melihat Freya memungut buku Freya yang jatuh dan malah mendorong Freya. Andai Kakak ada disini.


Sekolah Freya nggak sebaik yang Kakak pikirin. Mereka menertawai Freya, sembunyiin baju Freya, mencabik-cabik seragam Freya, manggil Freya dengan sebutan menjijikan. Freya bisa bertahan karena tau Kakak pasti akan kembali dan membela Freya. Freya bohong sama Kakak dengan mengatakan kalau Freya baik-baik aja karena nggak mau bikin Kakak cemas akan Freya. Freya nggak mau Kakak benci sama Freya apalagi karena Freya alasan kenapa Kakak nggak bahagia. Freya minta maaf karena lahir di dunia ini, Kak. Kalau Kakak pulang, Freya akan langsung hapus file ini dan berusaha kalau hidup Freya sebaik yang Kakak pikirin. Freya sayang sama Kak Flo.


Aku menutup mulutku menggunakan kedua tanganku. Kenapa aku buta selama ini? Kenapa aku tidak bisa melihat penderitaan Freya? Tanpa sadar, air mataku mengalir. Bukan hanya karena perasaan dukaku tapi juga perasaan bersalahku. Kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku tidak lebih perhatian pada Freya?


Aku langsung menutup laptopku dan menghapus air mataku saat mendengar suara pintu yang diketuk. Wajah ibuku muncul dari balik pintu sambil menatapku. Matanya terlihat nanar saat melihatku yang habis menangis.


"Kamu itu selalu menyembunyikan perasaan kamu dan baru melepaskannya saat kamu seorang diri. Mama tidak kaget akan menemukan kamu disini," kata Mama dengan lembut sambil membelai wajahku. Aku tersenyum dan menggenggam tangan ibuku.


"Mama kenapa nggak istirahat? Biar Flo aja yang beresin tempat ini," kataku pelan tapi Mama malah menggeleng.


"Biarin aja semua ada di tempatnya," kata ibuku dengan pelan. Dia berjalan menuju ranjang Freya dan berbaring di atasnya. "Masih ada wangi Freya disini," ujarnya sambil mencium bantal milik Freya lalu kembali menangis. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku hanya diam sambil menundukkan kepalaku.


"Apa kamu akan kembali ke Amerika?" tanya Mama sambil menatapku memohon. Aku mengangguk pelan.


"Tapi nggak sekarang. Aku akan disini sampai Mama lebih kuat," jawabku tanpa berusaha berbohong. Ibuku hanya tersenyum tipis sambil menatap foto Freya dan diriku yang ada dimeja kecil disamping tempat tidur.


"Freya meletakkan foto itu disana agar bisa dia lihat setiap saat. Dia menyayangi kamu dan dia selalu bilang kalau kamu adalah best sister in the world. Setiap habis bicara pada kamu, dia pasti akan cerita pada kami dimeja makan. Sejak kamu masuk MIT, dia selalu menceritakan pada semua orang siapa kakaknya. Apalagi saat kamu berhasil menjadi programmer, membuat dia semakin bangga sama kamu. Dia bahkan bilang kalau suatu saat dia akan seperti kamu..." Mama tidak mampu melanjutkan ceritanya karena terisak.


Aku tidak bisa menangis. Tidak mengerti kenapa aku tidak bisa menangis. Aku malah merasa marah. Aku langsung bangkit dari tempat duduk dan meraih laptopku.

__ADS_1


"Mama, Flo mau istirahat. Jet-lag," pamitku. Ibuku hanya mengangguk saat aku memasukkan bukan hanya laptopku tapi juga laptop milik Freya ke dalam tas punggungku.


Aku masuk ke dalam kamar yang dulu aku tempati. Kamar itu sedang dibersihkan oleh pembantu tapi aku meminta mereka untuk meninggalkanku seorang diri. Aku mengunci kamarku dan mengeluarkan laptopku. Aku mencari setiap jejak yang ditinggalkan oleh Freya di laptopnya. Mencari folder mana yang paling baru dia buka. Perhatianku teralih saat melihat sebuah file berbentuk video dan aku langsung menonton video itu. Aku terkesiap dan menutup mulutku saat melihat isi video itu.


Freya, yang tengah di dorong ke dinding yang ada dibelakangnya. Beberapa gadis tengah menyiramkan cairan berwarna hitam ke atas kepala adikku itu. Freya diam saja sambil menggigit bibir bawahnya sedangkan orang yang menuangkan cairan itu malah tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya itu, mereka menyebut Freya dengan kata-kata menjijikan. Aku langsung menutup video itu dan menundukkan kepalaku. Ternyata apa yang Freya katakan padaku selama ini hanyalah kebohongan. Dia tidak pernah bahagia dengan teman-teman sekolahnya. Mereka malah memĀ­-bully Freya. Kenapa pihak sekolah tidak berbuat apapun?


Dan kenapa aku begitu buta?


Aku mengepalkan tanganku. Ini mungkin kedengaran gila tapi hanya cara ini yang ada diotakku. Aku mengambil ponselku yang ada di dalam tasku dan menelepon Brenda.


"Thank goodness, kamu telepon aku juga. Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Freya bunuh diri," jawabku pelan dan aku bisa mendengar suara terkesiap. "Cerita aku belum selesai. Dia hamil dan menjadi korban bullying."


Aku bisa mendengar Brenda mengutuk pelan. "Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku akan di Jakarta, paling lama enam bulan, untuk menyelidiki kematian Freya. Aku yang akan bicara ke headquarters tentang cuti aku ini. I'll finish my job and send it to you as soon as I can. Pokoknya selama enam bulan ini, kamu jangan jauh-jauh dari komputer."


"Don't worry about it, Flo. Apapun yang terjadi, kabari aku. Dan kalau kamu butuh sesuatu, just call me. Okay?"


Aku hanya tersenyum dan langsung menutup telepon. Aku menutup mataku.


Baiklah, Flo, lo udah gila.


Tapi lo akan jauh lebih gila kalau lo nggak mencari tahu dibalik kematian Freya.


Aku membuka mataku dan mencari nama teman terdekatku diponselku yang bisa dibilang memiliki track record yang hitam. Aku menghembuskan nafasku sebelum menelepon dia.


"Hey, wassup, Flo? This is the first time you call me since... I don't know. Two years? Three years?" goda suara berat itu. Aku menutup mataku.


"Yeah, I know and I miss you too, Brax. I need your help," ujarku. Braxton adalah, bisa dibilang sahabat terdekatku. Aku membantunya lolos dari pengejaran polisi karena dia adalah kakak kembar Brenda sekaligus orang yang selalu membantuku.


"Woah, what is it? What do you need? Passport?" tanyanya. Ya, Braxton memang ahlinya dalam pemalsuan dokumen dan aku membutuhkan bantuannya.


"Not passport," jawabku. "It's something else."


"Okaaay. What is it?"


Aku menghembuskan nafas panjang dan menutup mataku. "Aku butuh kamu untuk palsuin akta lahir, ijazah SD dan SMP dan buat seakan aku lulusan luar negeri dan buat surat pindah dari SMA yang ada disana."


"Woah... woah... woah... Hang on there. Kenapa kamu tiba-tiba butuh semua surat itu?"


"Aku mau melakukan tindakan tergila yang pernah terlintas di otak aku."


"Bukannya kamu udah cukup gila mau kalahin Bill Gates?"


"Ini jauh lebih gila," ujarku lalu menarik nafas panjang. "Aku mau masuk SMA."

__ADS_1


"WHAT!?"


"Yap, dan kalau Brenda sampai tau, mati kamu!"


__ADS_2