
Aku terpaksa ijin tidak masuk sekolah selama tiga hari karena penyakitku yang semakin memburuk. Panasku tidak turun dan aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku berbohong pada ibuku dengan mengatakan padanya kalau aku melakukan perjalanan dinas selama tiga hari ke luar kota. Untunglah ibuku tidak curiga. Jadi selama aku sakit, aku dirawat sepenuhnya oleh Brenda. Selama aku sakit, ayahku selalu mengunjungiku dan membawakanku buah-buahan. Dan setiap datang, wajahnya selalu cemas. Aku berkata padanya kalau aku baik-baik saja. Aku memang sudah terbiasa terjangkit virus menyebalkan setiap setahun sekali dan biasanya ini akan sembuh sendiri. Apalagi ditambah dengan stress dan tidurku yang kurang yang membuat penyakitku makin parah.
Selama tiga hari, aku tidak mampu menggerakkan tubuhku karena aku lemas. Aku hanya bisa memantau sekolahku menggunakan laptop yang selalu berada disampingku. Tidak ada yang berubah, aktivitas yang dilakukan masih sama.
Aku menajamkan mataku saat melihat Davin di layar laptopku. Dia menatap kamera CCTV seakan tahu kalau aku sedang mengawasinya. Aku langsung menutup layar laptopku dan jantungku berdetak seperti aku baru saja kepergok melakukan sesuatu.
Aku mengambil buku yang ada diatas meja samping ranjangku. Buku pelajaran SMA. Aneh memang. Dua bulan yang lalu, aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh guru privatku. Tapi sekarang, aku bahkan lebih jago dari guruku itu. Aku membuka buku itu dan membacanya. Aku merasakan betapa masa SMA-ku dulu ternyata menyedihkan. Dulu aku hanya menghabiskan waktuku untuk belajar dan belajar. Aku bahkan tidak memiliki teman disekolahku. Saat aku kuliah, keadaan lebih baik. Aku memiliki teman meskipun lebih sering menghabiskan waktuku untuk belajar.
Saat disini, aku merasa aneh. Sesuatu yang membuatku merasa memiliki alasan setiap bangun pagi. Aku terbiasa di datangi oleh Daisy setiap pagi sambil memeluk lenganku, menyapa teman-teman sekelasku atau bahkan bertengkar dengan Stella. Hari ini, pertama kalinya, aku merasa bingung melakukan sesuatu. Padahal sebelumnya aku bisa fokus pada pekerjaanku baik itu saat aku sakit atau sedang libur. Tapi baru kali ini tangan dan otakku tidak mau membuat program yang sudah diminta oleh bosku.
Perhatianku teralih saat aku mendengar suara Brenda yang memanggil namaku. Aku memasang jaketku dan menggunakan sendalku. Aku baru saja akan berjalan keluar kamarku saat pintu kamarku terbuka tiba-tiba dan Brenda menatapku dengan panik.
"Kenapa, Bre—" Aku tidak bisa menyelesaikan ucapanku karena mulutku sudah dibekap lebih dulu dengan tangan Brenda.
"Your friends are here," bisiknya yang membuatku terbelalak
"But my stuff, the board, pictures and everything..." kataku dengan panik seraya melemparkan pandanganku ke seisi kamarku yang berantakan oleh hasil investigasiku ini.
"Jangan biarin mereka masuk ke kamar ini dan biar aku yang sebunyiin semua barang ini," ujarnya. Dia mendorong tubuhku. "Now, entertain your guests."
Aku mengangguk dan keluar dari kamar. Tidak lupa, aku memasang kaca mataku agar penyamaranku tidak terbongkar. Aku terkejut saat melihat banyaknya temanku yang datang. Hampir seluruh teman sekelasku datang, bahkan termasuk Stella dan gengnya.
"Hai!" sapa mereka bersamaan. Astaga, apartemenku yang biasanya luas jadi sempit sekali saat mereka datang.
"Maaf, tadinya aku dan beberapa teman yang datang tapi mereka maksa buat ikut," ujar Daisy dengan wajah penuh penyesalan. Tapi aku tersenyum dan menggeleng.
"Nggak apa-apa. Makasih udah datang," kataku pada teman-temanku yang lain.
"Kita bawa buah," kata Danar, ketua kelasku. Dia menunjuk plastik yang ada di atas meja. Aku mengucapkan terima kasih pada mereka.
"Stella beli selimut buat lo," ujar Caesar tiba-tiba yang membuat alisku naik.
"Bukan selimut bekas, kan?" tanyaku dengan bercanda. Stella menatapku dan memutar matanya. Aku tersenyum melihat kelakuannya.
"Iya. Gue ambil dari tempat sampah. Mungkin masih ada bekas kotoran tikus," desisnya yang membuatku tertawa.
"Makasih," ujarku dengan tulus pada Stella. Aku menatap teman-teman kelasku. "Sorry bikin kalian repot dan malah datang ke sini."
"Bukan masalah. Nggak ada lo sepi. Nggak ada yang bisa tantangin Stella," ujar temanku yang lain. Aku tersenyum padanya lalu menatap Stella.
"Jadi lo kangen sama gue? Astaga, gue jadi terharu," kataku yang mengundang tawa teman-temanku. Aku bisa melihat Stella bergumam sesuatu yang tidak jelas, seperti sedang mengutukiku, tapi aku pura-pura tidak dengar.
"Kalian datang tiba-tiba, jadi gue nggak bisa siapin apa-apa," ujarku dengan nada menyesal. Tapi mereka malah menyeringai.
"Kita datang buat jenguk lo, kok," kata seorang temanku. Aku tersenyum.
"Lagipula gue mau lihat tempat tinggal lo," tambah Stella yang membuatku mengerutkan keningku.
"Darimana kalian tau tempat tinggal gue?" tanyaku dengan penasaran.
"Pak Yusron. Dia titip salam buat lo," jawab Danar. "Gue nggak nyangka waktu baca tempat ini. Gue kira gue salah baca."
Aku mengerutkan keningku. "Memangnya kenapa?" tanyaku dengan bingung.
"Kaget aja. Nggak nyangka kamu tinggal di apartemen mewah padahal tiap pergi dan pulang sekolah kamu selalu naik angkutan umum," jawab Daisy.
Jujur, aku tidak tahu. Aku menyewa apartemen ini karena letaknya berada ditengah-tengah antara rumahku dan sekolah. Aku juga tidak peduli dengan biaya yang aku keluarkan karena saat itu aku memang butuh apartemen ini.
__ADS_1
"Memangnya nyokap lo kerja apa?" tanya temanku yang lain.
Aku tersenyum manis padanya. "Kerja di Pioneer Technosoft." jawabku.
Teman sekelasku terlihat ternganga.
"Yang isinya orang-orang jenius itu?" tanya salah seorang temanku dan aku mengangguk pelan. "Bagian apa?"
"Asisten pribadi ketua bagian teknisi," jawabku. Sebenarnya bukan bagian teknisi, lebih tepatnya bagian tester alias penguji kelayakan program.
Mereka semakin ternganga.
"Berarti kenal kakaknya Freya dong? Seingat gue, kakaknya Freya juga kerja disana soalnya dia pernah bantu sekolah kita satu kali," kata Caesar. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
Lho, kalian sedang lihat kakaknya kok. Aku bukan hanya sekali membantu sekolah, tapi dua kali. Memangnya kalian pikir siapa yang membantu kalian beberapa hari yang lalu? Perhatianku teralih saat mendengar pintu apartemenku yang terbuka.
"What the—?" Braxton mengumpat saat melihat apartemenku yang penuh dengan teman-temanku itu.
"Teman-teman, kenalin, dia kakaknya nyokap gue," kataku pada teman-temanku yang memperkenalkan Braxton pada mereka. Aku bisa melihat sebagian besar teman-teman perempuanku melihat Braxton dengan mata melotot.
"Your friends?" tanya Braxton sambil menunjuk temanku menggunakan kepalanya. Aku mengangguk pelan. "Halo, saya Braxton."
"Hai, Om," sapa mereka semua bersamaan yang membuatku hampir tertawa. Braxton tidak pernah dipanggil Om atau Uncle sebelumnya. Dia menolak karena terdengar sangat tua.
"Om?" tanya Braxton tidak percaya. Aku menginjak kakinya dan saat dia memelototiku, aku tersenyum manis padanya. "Where's Brenda?" tanyanya dan tidak mempedulikan injakanku.
Aku menunjuk kamarku. "My room. Tidying some stuff," jawabku. Dia mengerti dan mengangguk lalu langsung pergi ke kamarku.
"Kalian nggak mirip," ujar temanku tiba-tiba. "Maaf. Habis nyokap dan om lo berambut cokelat dan kelihatan banget foreigner sedangkan elo..."
Aku tersenyum. "Gue anak angkat," jawabku apa adanya. Seketika, ruangan langsung sepi. "Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Nggak apa. Udah biasa ditanyain kok," jawabku sambil mengingat betapa tidak miripnya aku dengan orang tuaku ataupun dengan Freya.
"Eh, Om lo udah punya pacar belum?" tanya Stella tiba-tiba. Aku menaikkan alisku.
"Seingat gue nggak ada," jawabku. Stella kelihatan tersenyum. "Sampai saat ini sih, dia nggak punya pacar. Tapi punya istri dan satu anak."
"Sayang, lo nggak ada kesempatan," dengus Caesar yang membuat aku dan teman-temanku tertawa.
...***...
"Makasih udah datang, ya," ujarku dengan tulus saat aku mengantarkan teman-temanku sampai di lift. "Maaf gue cuma bisa kasih kalian sirup dan biskuit."
"Bukan masalah. Minggu depan kamu masuk udah masuk, kan?" tanya Daisy. Besok memang hari Sabtu dan sekolah libur. Aku mengangguk.
Danar mengeluarkan buku dari dalam tasnya. "Ini catatan pelajaran selama lo sakit. Minggu depan ulangan PKn dan sejarah," katanya.
Beberapa temanku yang lain juga meminjamkan catatan mereka padaku. Aku menerima buku itu sambil mengucapkan terima kasih pada mereka. Aku tidak menyangka kalau mereka akan sebaik ini padaku. Aku melambaikan tanganku pada mereka saat mereka memasuki lift. Untung saja ada enam lift, kalau tidak mereka harus menaiki lift secara bergantian. Aku membalikkan tubuhku dan kembali ke apartemenku.
"Mereka udah pulang?" tanya Braxton dan aku mengangguk. Dia menatap buku-buku catatan yang ada ditanganku. "Apa itu?"
"Catatan pelajaran yang harus aku baca dan aku tulis ulang. Minggu depan ada ulangan soalnya," jawabku lalu masuk ke kamarku untuk meletakkan buku-buku itu. Aku tidak menyadari kalau Braxton mengikutiku dan baru sadar saat dia sedang menatapku di pintu.
"Itu yang akan kamu tinggalkan saat kamu pergi nanti. Kamu udah siap?" tanyanya.
Aku menatapnya sambil mengerutkan keningku. "Maksudnya?"
__ADS_1
Braxton bernafas kasar. Dia menatapku dengan lurus. "Ini pertama kalinya aku lihat kamu sebahagia itu. Bahkan saat kamu diterima kerja, kamu nggak sebahagia itu. Apa kamu siap meninggalkan semua itu empat setengah bulan lagi? Bagaimana kalau kamu udah ketahuan duluan?" tanyanya.
Aku menutup mataku dan menghela nafasku panjang. "Itu urusan nanti. Aku akan cari cara lain kalau misalnya aku terlalu terikat atau memang ketahuan."
Braxton menggelengkan kepalanya. "Nggak semuanya bisa kamu pikir secara logika, Flo. Yang namanya perasaan berbeda dengan logika. Pikirin baik-baik," ujarnya sebelum meninggalkanku.
Aku menghela nafasku lagi. Aku tahu hal itu! Aku mengerti! Aku pasti akan menemukan cara lain kalau memang misalnya penyamaranku terbongkar. Aku melemparkan tubuhku ke ranjang. Perhatianku teralih pada sebuah map yang ada di atas meja samping ranjangku. Seingatku map tadi tidak ada. Aku meraih map itu dan membuka map itu lalu membaca isinya. Aku tahu kalau Braxton yang meninggalkan map itu, terlihat dari isinya. Hebat, Braxton hanya perlu memakan waktu seminggu untuk menemukan informasi mengenai Azka yang tidak bisa kutemukan. Bagaimanacara dia melakukannya? Aku melupakan pertanyaan itu dan membaca isinya.
Azka, anak satu-satunya dari pengusaha perkebunan. Ibunya menghilang sejak dia kecil dan ayahnya meninggal dua tahun yang lalu. Anak paling pintar di kelasnya makanya dia mampu mendapatkan program pertukaran pelajar. Aku tertawa membaca semua info itu. Bahkan Braxton menuliskan semua mantan pacar Azka sampai sekarang, termasuk nama Freya. Aku mengerutkan keningku. Sudah kuduga Azka bukanlah ayah dari bayi yang dikandung oleh Freya. Tidak mungkin karena Azka tidak pernah pulang ke Indonesia sejak dia berangkat ke Singapura. Tidak ada catatan kalau Azka liburan atau sekedar mengunjungi makam ayahnya di Jakarta. One down, three to go.
Aku membalik dokumen selanjutnya yang berisi foto Davin. Aneh, kertas itu hanya berisi persis seperti informasi yang kutemukan. Hanya nama, tanggal lahir. Yang berbeda hanya tempat dimana Davin tinggal saat ini. Aku bangkit dari dudukku dan pergi ke kamar Braxton. Aku masuk bahkan tanpa perlu mengetuk. Untung saja dia tidak sedang telanjang atau semacamnya. Dia malah sedang sibuk membaca bukunya. Aku menaikkan kertas yang ada ditanganku di depannya.
"Kenapa informasi Davin cuma segini?" tanyaku. Braxton meletakkan bukunya ke samping dan menegakkan tubuhnya.
"Ini pertama kalinya aku nggak bisa menemukan satu jejakpun mengenai seseorang. Bahkan agen CIA sekalipun masih bisa aku temukan rahasianya. Dia itu kayak lahir ke dunia ini dengan tiba-tiba. Aku bahkan nggak bisa menemukan dimana dia lahir," katanya dengan kesal. "Aku curiga kalau itu bukan nama aslinya."
Aku mengerutkan keningku karena bingung.
"Mungkin dia sama kayak kamu, Flo. Dia pakai identitas baru. Aku cari dia melalui ID numbernya tapi malah nggak muncul. Cari dari face recognition, nggak ada. Seakan sejak awal nama itu nggak exist."
Aku terbelalak.
"Kamu harus hati-hati sama dia, Flo. Aku curiga sama dia," ujarnya sambil menatapku dengan dalam. "Kamu ingat waktu aku jemput kamu disekolah minggu lalu?" Aku mengangguk. "Aku lihat dia mengikuti kamu dari belakang tapi begitu lihat mobil aku muncul, dia langsung balik badan."
Aku terdiam. Baiklah, aku mulai ketakutan.
"Nggak usah cemas. Dia nggak akan berani menyentuh kamu. Don't forget what I taught you." Braxton mencium keningku sambil mendorongku keluar dari kamarnya. "Good night, Flo. Ivy gave you her regards." Ivy adalah istri Braxton dan aku hanya mengangguk.
Dia tersenyum dan membelai kepalaku. "He's not going to touch you. I can promise you that," katanya berusaha meyakinkanku.
Aku tidak merasa yakin. Tapi daripada menambah kecemasan Braxton, aku hanya mengangguk pelan lalu meninggalkan kamar Braxton.
...***...
Aku bersiul sambil mengikuti musik yang aku dengar melalui earphone-ku yang kupasang ditelinga. Aku menutup mataku sambil menikmati angin pagi yang masih segar ini. Padahal aku baru sembuh tapi aku sudah nekat datang pagi dan langsung ke tempat ini. Selama aku sakit, aku begitu merindukan adikku. Dan datang ke tempat ini mengobati rasa rinduku.
Aku tersentak saat sebuah tangan menepuk bahuku. Aku mengutuk dan membalikkan tubuhku sambil melepaskan earphone dari telingaku. Aku terbelalak saat melihat Davin berdiri di belakangku. Dia masih menggunakan jasnya padahal biasanya dia melepaskan jas itu setiap sampai ke sekolah. Aku merasa aneh. Biasanya dia ke sini setiap hari Selasa pagi. Lalu apa yang dia lakukan di Senin pagi seperti ini?
Dia yang seperti bisa membaca pikiranku, menanyakan hal yang sama. "Kenapa kamu bisa ada disini? Biasanya kamu ada disini setiap hari Selasa?" tanyanya.
"Salah, saya disini setiap saya bosan," kataku sambil memundurkan tubuhku. Sejak mendengar ucapan Braxton kemarin, aku jadi agak takut padanya. Kelihatannya dia menyadari perubahan sikapku. Bukannya menjauh, dia malah semakin mendekatiku.
"Kamu sudah sembuh? Bukannya sudah saya bilang kalau kamu sakit?" tanyanya. Sesekali dia terbatuk dan berdeham.
"Saya udah sembuh, justru sekarang saya lihat Bapak lagi sakit," jawabku.
Dia kembali terbatuk. "Oh, ini. Saya ketularan. Kantor guru sedang kena wabah flu," jawabnya disela-sela batuknya.
Aku kasihan padanya. Pantas saja dia menggunakan jas tebalnya itu. Aku saja yang meskipun sudah sembuh masih merasa kedinginan. Untung saja Brenda mengingatkanku untuk membawa syalku. Aku menatap syalku. Aku tidak terlalu membutuhkan syal ini. Aku melepaskan syalku yang melingkari leherku dan melingkarkan syal itu ke leher Davin. Syalku yang berwarna hitam itu memang tidak terlalu tebal namun hangat karena itu memang dirajut sendiri olehku.
"Bapak lebih butuh itu daripada saya," jawabku sebelum dia bertanya. Aku mengambil permen pedasku dan dalam saku jaketku dan memberikan permen itu ke tangannya. "Buat tenggorokan Bapak. Tenggorokan saya jauh lebih nyaman setelah saya makan permen itu. Cepat sembuh, Pak."
Aku berjalan meninggalkannya tapi saat aku melewatinya, dia malah menahan tanganku. Aku menengokkan kepalaku dan baru menyadari kalau ini pertama kalinya kami sedekat ini.
"Terima kasih, pasti akan saya kembalikan," ujarnya sambil tersenyum lembut padaku.
"Don't bother," jawabku sambil membalas senyumannya. Aku melepaskan tangannya dari lenganku dan langsung berjalan secepat mungkin menjauhinya.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku saat aku ditangga. Aku menghembuskan nafas panjang sambil meletakkan tanganku di dadaku. Ini tidak boleh terjadi! Dia salah satu tersangkaku. Malah tersangka utamaku! Aku tidak boleh seperti ini! Oh, demi Tuhan! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya!