Floriana

Floriana
Bab 1: Kartu Perpustakaan


__ADS_3

Suara dengik kipas angin menjadi satu-satunya suara yang mengisi telinga Flo di dalam perpustakaan siang ini. Perpustaan sepi pengunjung di jam pelajaran terakhir seperti sekarang. Ia pun seharusnya tak berada di sini jika guru matematika kelas sepuluh tidak mendadak ada urusan, menyisakan jam kosong yang membosankan.


Rambut Flo yang dikuncir ekor kuda bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap kali ia melangkah di sela-sela rak buku di bagian belakang yang jaraknya cukup rapat. Matanya meneliti judul yang tercetak dalam berbagai jenis huruf pada punggung buku yang berbau apak.


Dari sudut matanya Flo mendapati makhluk lain selain dirinya berjalan melintasi ruang di antara dua rak yang diisi novel-novel lawas itu. Flo pun menoleh, langsung bertemu tatap dengan laki-laki yang sering ia lihat duduk di kursi bawah pohon beringin depan kelas X.5, yang merupakan kelas sahabatnya—Arina.


Laki-laki itu tersenyum sopan, Flo pun membalas sekenanya. Kemudian keduanya kembali sibuk meneliti buku di posisi masing-masing. Sampai sebuah suara asing menyapa nama Flo.


"Flo... kan?"


Flo menoleh, memandang laki-laki yang melempar senyum padanya kurang dari tiga menit yang lalu. "Iya," balasnya.


Laki-laki itu mendekat, langkahnya mengiringi suara kipas angin yang terdengar kian terang. Dalam jarak yang dekat, Flo dapat membaca nama pada label di dada bagian kiri kemeja putih laki-laki itu. Namanya Genta Ghiffari. Dia tinggi, ramping, dan punya potongan rambut seperti kebanyakan anak lelaki seumurnya.


"Gue Genta," ucap laki-laki itu, memperkenalkan diri. Menurut Flo, Genta kelihatan gugup.


Flo mengangguk.


"Gue sekelas sama Arina," Genta menerangkan.


Sekali lagi Flo mengangguk. Ia sudah tahu. Sudah berbulan-bulan ini mereka kerap berpapasan tanpa pernah saling sapa.


Genta menggaruk tengkuknya. "Gue boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?" balas Flo.


"Gue mau pinjem buku buat tugas bahasa Indonesia, tapi gak bawa kartu perpus. Boleh pinjem punya lo?" Genta melirik selembar kartu yang menggantung di ujung tangan Flo.


Flo mengikuti arah lirikan Genta. Ia pun mengangguk. "Boleh." Lalu langsung diberikannya kartu perpustakaan miliknya.


Usai Genta menerima dan mengucapkan terima kasih, Flo langsung melangkah menjauh. Ia memutar arah sebab tak yakin melewati sela tipis antara pundak Genta dan rak buku. Takut akan adanya kontak fisik yang membuat canggung.


Belum ada dua langkah Flo lemparkan, suruan pelan namanya kembali terdengar dari arah yang ia tinggalkan. Maka Flo pun berpaling.


"Kenapa?" tanya Flo sederhana.


Untuk kedua kalinya Genta mendekat. "Boleh minta tolong lagi?" tanyanya. Dan Flo bisa melihat pergolakan batin yang tergambar jelas di wajah Genta. Membuatnya mengulum bibir menahan senyum. Ia kira Genta merasa tak enak meminta bantuan lagi.


"Iya boleh," terima Flo dengan baik hati.


"Teman gue..." ucapan Genta menggantung, seolah tak yakin. "Teman gue," ulangnya, "tadi nitip novel juga. Tapi gue gak tau dia mau novel yang mana..."


Alis Flo terangkat menunggu Genta melanjutkan. Ia betul-betul kasihan melihat laki-laki itu terlihat sangat tak nyaman. Padahal Flo sama sekali tak keberatan membantu. Tapi entah mengapa orang-orang sering kali merasa tak nyaman di dekatnya.

__ADS_1


"Boleh gue pinjem handphone lo buat nanya teman gue?" pinta Genta cepat. "Punya gue lagi dipinjem teman."


Cepat, tanpa berpikir lama Flo segera menyuluhkan ponselnya. Anehnya hal itu membuat Genta agak melongo. Pundak laki-laki itu pun yang sejak tadi tegang kini tampak lebih rileks.


"Halo, Rel?" Genta menelepon. "Mau pinjem novel apa? ... Oke, oke ..." Kemudian Genta mengambalikan ponsel Flo dengan cepat. "Makasih," ujarnya seraya tersenyum lebar. Ia punya senyum yang menarik. Ketika tersenyum gusinya terlihat, membuatnya punya tampilan seperti orang yang ceria dan menyenangkan.


Flo mengangguk.


"Gue tadi simpan nomor gue di handphone lo, gak pa-pa?" Genta bertanya, kaku.


"Gak pa-pa."


"Eh... makasih."


"Buat apa?" tanya Flo tak mengerti.


"Yah... buat... Makasih, pokoknya."


"Okey..." Flo mengangguk bingung, lalu tersenyum ragu. Memamerkan sedikit lesung pipinya.


***


Sore itu berangin. Flo melenggang santai sambil menuntun sepedanya melalui jalanan komplek yang lengang. Tergantung di stang sepeda, kantung plastik indomaret berukuran besar.


Flo yang masih menggunakan seragam sekolah walau sudah lebih santai dengan ujung kemeja yang dikeluarkan serta sepasang sendal jepit sebagai alas kakinya, dapat melihat Arina tengah bercakap-cakap dengan seorang laki-laki yang berdiri di samping skuter berwarna biru gelap di depan rumahnya. Flo mengenali laki-laki itu. Dia adalah teman sekelas Arina, juga salah satu murid paling terkenal di sekolah mereka. Bukan hanya karena memiliki tampang rupawan serta  pemegang sabuk hitam karate, namun juga karena laki-laki itu adalah murid paling rajin lari pagi keliling lapangan sekolah. Dia adalah Farrell Fadillah.


Flo menoleh mendengar suara Arina memanggil namanya. Ia pun menepi, menghampiri sahabatnya itu.


"Dari mana?" tanya Arina, dengan wajahnya yang selalu ceria.


"Indomaret," jawab Flo, setelah sebelumnya mengerling Farrell sekilas seraya membenarkan rambutnya yang tertiup angin sore. Tindakan yang membuatnya sadar jika Farrell memperhatikannya.


"Gue baru balik dari sekolah, capek banget latihan paskib," keluh Arina tanpa diminta. "Untung ada Farrell yang nganterin pulang," terangnya, walau menurut Flo itu tak perlu.


Flo balas tersenyum tipis pada Farrell—yang tersenyum lebar menanggapi ucapan Arina. Sama sepertinya, Farrell punya dua lesing pipi yang siap ditampilkan ketika tersenyum.


"Baguslah," Flo menanggapi. Ia memang tak pandai mengobrol, jadi ia hanya membalas sekenanya. Setidaknya ia tak mengabaikan ucapan lawan bicaranya begitu saja.


"Gue nanti nginap, ya? Mama sama Papa gue lagi ke rumah Eyang."


Flo mengangguk. "Ke rumah aja."


"Sip." Arina mengacungkan jempolnya. "Tapi gue agak malaman ke rumah lo, soalnya mau nonton dulu sama Farrell. Lo mau ikut, gak? Nanti kita ajak Genta sekalian. Ya kan, Rell?"

__ADS_1


Genta. Nama siswa yang tadi siang bercakap-cakap dengannya di perpustakaan, disinggung.


Farrell mengangguk. "Gue emang ngajak Genta."


Entah hanya perasaan Flo atau memang benar, menurutnya Arina terlihat sedikit kecewa dengan ucapan Farrell itu.


"Tuh, Flo, ayo ikut!" Arina segera mengendalikan ekspresinya.


"Enggak, deh, makasih. Aku ada mengerjain ppt buat presentasi besok."


"Pulangnya aja ngerjainnya , Flo," bujuk Arina.


"Enggak, deh, Rin," tegas Flo. Tahu benar bujukan Arina bukalan tindakan benar. "Ya udah aku pulang ya," pamitnya Arina. Lalu ia mengangguk kecil pada Farrell sebagai bentuk pamit non verbal.


Flo melanjutkan perjalannya pulang ke rumah sebelah. Baru beberapa langkah, ia berhenti sebab ponselnya berdenting. Ada pesan masuk.


Genta Ghiffari: Flo.


Genta Ghiffari: Besok ya kartu perpustakaannya.


Flo membalas dengan sekata 'iya' tak kurang tak lebih.


Genta Ghiffari: Oke.


Genta Ghiffari: Lagi ngapain? Sibuk gak?


***


Sadarkah kalian bahwa modusnya Genta itu alus banget?


Btw ini Floriana Adinda versiku. Kalian boleh punya visualisasi sendiri sih



Terus ini Farrell Fadillah



Ini Genta Ghiffari



Ini Arina Cantika Poetry

__ADS_1



Visualisasi other cast nanti nyusul bersamaan dengan kemunculan karakter


__ADS_2