Floriana

Floriana
Bab 3: Senyum Manis


__ADS_3

Mari kita awali bab ini dengan senyuman Flo yang manis.



***


"Perasaan tadi pagi lo bilang mau gak sekolah gara-gara gak enak badan, tapi ini ternyata masih aja sekolah. Lo gak tahu gimana hebohnya berita ada cewek kelas X.I yang pingsan di koridor dan digendong sama Kak Varel ganteng—untung yang gendong ganteng," Arina merepet, tepat dua detik setelah Flo membuka mata di salah satu ranjang UKS. "Dan waktu gue kepo ke sini, gue kaget banget tahu ternyata yang pingsan itu lo!"


"Kamu kaget karena aku pingsan atau karena aku di gendong Kak Varel 'ganteng'?" Satu kata terakhir ditekankan oleh Flo. Suaranya masih terdengar lemah.


Flo duduk dibantu Arina. Ia melirik jam di dinding. Ia pingsan istirahat pertama, sedang sekarang sudah masuk jam istirahat kedua. Lama sekali ia pingsan.


"Dua-duanya," jawab Arina, terus terang.


Perlu diketahui si Kak Varel ganteng ini adalah ketua kelas XII IPA 1, mantan ketua OSIS, anggota senior PMR dan pernah memenangkan olimpiade sains di Singapura, gosipnya ia belum pernah berpacaran—dan dia lebih populer dikalangan adik kelas IPA ketimbang Farrell. Lucu bagaimana dua siswa paling populer itu punya nama serupa walau berbeda ejaan. Dan—hei!—serius ia digendong ke UKS? Oleh Kak Varel?


Astaga! Itu sangat memalukan. Rasanya sinetron sekali. Bagaimana jika ia bertemu Kak Varel? Syukur laki-laki itu sebentar lagi akan segera lulus. Setidaknya ia hanya perlu mengurangi kunjungan ke kantor guru selama beberapa bulan sebab disanalah ia biasa berpapasan dengan Kak Varel.


Perihal Kak Varel selesai, tapi tidak dengan murid lain. Insidennya ini pasti akan jadi gosip hangat untuk beberapa hari. Sungguh ia tidak ingin jadi pusat perhatian, apalagi soal begini.


Flo megusap wajahnya frustrasi.


"Tapi ngapain sih lo sekolah?" tanya Arina. Keningnya berkerut.


"Ulangan kimia."


"Karena itu?!" Arina syok.


"Kamu kan tahu aku suka kimia," Flo membela diri.


Itu betul, Flo suka sekali kimia. Bahkan jika tak berhasil berkarir sebagai balerina nantinya, ia berpikir akan menjadi ahli farmasi saja.


"'Gini ya, Flo, sesuka-sukanya gue sama jam kosong, gue gak bakal berangkat sekolah padahal lagi sakit cuma karena ada jam kosong."


Flo tertawa. "Ya itu beda, Rin. Kamu gak bisa dapat nilai kalo jam kosong."


"Tetap aja, lo itu konyol."


Didahului sebuah ketukan ringan, hadirlah dua orang siswa X.5 lain. Farrell dan Genta yang sama sekali Flo tak sangka akan mengunjunginya di UKS.


"Hai Flo," sapa Genta. "Udah baikan?"


Flo tersenyum tipis sambil mengangguk. Kemudian ia melirik Farrell yang begitu datang langsung bicara pada Arina, menyuruh sahabatnya itu untuk makan siang dulu di kantin.


"Bentar lagi, gue mau mintain Flo izin pulang dulu ke guru piket."


Menoleh Flo pada Arina mendengar perkataan gadis itu. "Gak usah, Rin, aku udah baikan, kok. Bentar lagi juga jam pulang, tanggung."


"Gak ada tanggung-tanggung," tolak Arina. "Pokoknya lo pulang!"


"Benar katanya Arina, Flo. Gak usah maksain. Nanti malah makin parah," Genta ikut membujuk. "Ya, kan, Rell?"


Farrell mengangguk. "Pulang aja."


"Dengar, tuh," timpal Arina. Puas gagasannya didukung penuh.


"Ya udah, deh," Flo pasrah. Tiga lawan satu. Ia kalah telak.


Arina menoleh pada Genta. "Lo bisa anterin Flo kan, Ta?" tanyanya, penuh harap.


"Gue mau, tapi gue lagi gak bawa motor."


"Aku—"


"Gue aja yang nganterin," Farrell mengajukan diri, memotong ucapan Flo. Ia mengejutkan tiga orang lain di ruang UKS yang hening itu.


—naik gojek aja... lanjut Flo, dalam benak.


"Biar gue bisa punya alasan bolos pelajaran terakhir," Farrell meneruskan, menghilangkan gurat heran di wajah teman-temannya dan Flo. "Tahu sendiri doa gue biar Bu Kimia gak berangkat gak pernah diijabah."


"Ya doa lo jelek," cela Genta.


"Tapi kan doa gue mewakili kepentingan bersama."

__ADS_1


"Apaan?!"


Belum pernah Flo mendengar hal semacam itu. Sebab kelasnya selalu antusias di setiap pelajaran, terutama dibidang sains.


"Udahlah, lo berdua gak malu memaparkan aib X.5 di depan anak X.1?" Arina menyudahi.


"Jadi lo mau kan dianterin Farrell, Flo?" tanya Arina.


Sekali lagi Flo melihat ekspresi yang sama di wajah gadis cantik itu, seperti yang ia lihat tempo hari.


Apa Arina cemburu sebab ada rasa pada Farrell? Tapi seharusnya Arina tak perlu khawatir, Farrell tak akan menyukainya. Arina jauh lebih cantik. Farrell mengajukan diri karena memang laki-laki itu baik, seperti yang dilakukannya pagi tadi. Farrell juga punya alasan lain.


Flo melirik Farrell yang tampak berharap. Dia pasti sangat tidak suka kimia.


"Farrell gak gigit kok," canda Arina. Air mukanya kini lebih terkontrol. "Dia itu baik, gak bakal macam-macam."


"Iyalah, mana berani gue macam-macam sama teman Ibu Negara," sahut Farrell, menanggapi gurauan Arina, membuat gadis itu tertawa dan memukul lengannya pelan.


Semua menatap Flo, menantikan jawaban.


Flo pun mengangguk. "Asal gak ada yang keberatan," imbuhnya.


***


Telah lewat lima menit perjalanan paling canggung dalam hidup Flo. Baru lima menit! Rasanya sudah setengah abad. Sungguh. Waktu lambat sekali berlalu, dan jalanan menuju rumah terasa panjang sekali. Ini pasti karena Flo merasa tertekan. Ia seolah dipaksa mencari bahan obrolan sekadar untuk sedikit membalas kebaikan Farrell hari ini. Kan tidak sopan bila ia terus mengabaikan Farrell.


Baru saja Flo membuka mulut, Farrell sudah lebih dulu bicara. Kepala sedikit menoleh. "Gak pa-pa kan kalo gue agak pelan bawa motornya?"


"Oh, iya... gak pa-pa," jawab Flo, ragu-ragu.


Flo mengerti kenapa Farrell mengendarai dalam kecepatan rendah. Jalanan sedang ramai. Bukan cuma oleh pengendara, tapi juga pejalan kaki. Flo tidak yakin pejalan kaki yang berpawai itu dalam rangka apa, yang pasti mereka mayoritas usia sekolah dasar dan berpakaian seragam, jadi mungkin itu acara sekolah.


"Rumah lo dekat rumah Arina, kan?"


"Iya. Pas di sebelahnya."


"Gue gak tahu loh kalo lo itu tetangga Arina, sahabat malah. Soalnya gue gak pernah lihat kalian bareng," ujar Farrell.


Walau agak mengejutkan, Flo bersyukur Farrell berinisiatif membuat obrolan. Setidaknya itu mengendurkan ketegangannya.


Itu tidak mengherankan. Sekolah mereka luas dengan begitu banyak murid. Flo sendiri ada yang tidak familiar dengan siswa ataupun siswi di sekolah. Apalagi Farrell, laki-laki yang terbiasa menjadi pusat perhatian bukanlah sejenis makhluk pemerhati seperti Flo. Farrell hanya akan mengenal murid yang populer atau anggota kelasnya. Dan Flo tak memenuhi kedua kategori itu.


"Sampai kemarin itu, pas ketemu di depan rumah Arina, waktu lo masih pakek seragam dengan badge logo sekolah kita," Farrell melanjutkan dengan santai. "Aneh banget gak, sih?" ia mengakhir dengan tanya. Nadanya terdengar kurang nyaman. Barangkali merasa tak enak.


"Enggak kok," sahut Flo. "Aku juga ada yang gak tahu sama anak sekolah kita. Itu biasa."


"Tapi lo sama Genta kayaknya saling kenal, ya?"


"Baru kenal kemarin. Tapi sebelumnya sering lihat dia sih, kalo pagi. Genta kan suka duduk di bawah pohon beringin depan kelas kalian."


Mendengar jawaban Flo itu, Farrell tertawa. "Iya. Udah kayak penunggunya dia itu. Hobi banget nongkrong di sana. Belum aja ketempelan."


Flo tersenyum mendengar tawa Farrell. Ia melirik kaca spion, tanpa disangka ternyata Farrell juga tengah melihat ke arah yang sama.


Buru-buru Flo membuang pandang. Menatap lurus ke depan, pada jalanan, dan kendaraan yang lalu lalang. Sejenak, Farrell juga tak lagi berucap. Canggung itu kembali memerangkap.


Motor berhenti. Lampu merah. Flo yang tak siap, terantuk bagian belakang helm Farrel, menimbulkan bunyi.


Flo segera menarik diri, membenarkan posisi. Atmosfernya jadi makin tak menyenangkan.


"Flo," panggil Farrell.


"Iya?"


"Lo keliatan manis kalo lagi senyum. Jadi jangan suka ditahan. Gue perhatiin lo suka banget nahan senyum."


Oke. Flo tak pernah mengharapkan kalimat itu. Sebab ia tak tahu harus meresponnya bagaimana. Dan ini Farrell yang berbicara!


Saking syoknya, Flo tak sadar ketika motor yang mereka tumpangi sudah kembali melaju membelah jalanan. Sampai jauh hingga memasuki komplek rumahnya barulah ia bisa mengendalikan diri beserta pikirannya yang kacau karena kalimat Farrell.


"Yang ini kan, Flo?" tanya Farrell, berhenti di depan rumah berwarna merah yang dihiasi begitu banyak pohon perdu berbunga dan semak mawar dan berbagai kembang lain.


"Iya."

__ADS_1


Flo turun dari motor. Ia mencoba melepaskan helm. Namun sulit sekali menguraikan selot di bawah dagunya. Serat.


Betapa terkejutnya Flo ketika Farrell mendekat, membantu melepaskan helm di kepala Flo. Laki-laki itu sopan sekali sebab tak lupa mengucapkan kata maaf.


Dalam spasi yang tak seberapa ini, Flo merasa bernapas bukanlah sebuah keputusan baik. Dan jantungnya seperti ikan yang jauh dari air, menggelepar. Ini pasti efek tak pernah punya pengalaman asmara.


"Udah," ujar Farrell. Menjauhkan diri.


Flo yang sedikit linglung melepaskan helm dan menyerahkannya pada Farrell. "Makasih," ucapnya.


"Sama-sama."


Keduanya sama-sama diam. Flo sendiri bingung mau berkata apalagi. Sekali lagi ia tegaskan, bicara bukanlah keahliannya. Ia bukan orang yang asik seperti Arina.


"Ya udah," Farrell menggaruk tengkuknya. "Gue balik, ya. Lo istirahat."


Flo menangguk.


Saat berbalik, Farrell tak sengaja menyenggol helm yang ia taruh di jok. Benda itu pun jatuh dengan rusuh. Gelagapan ia—dibantu Flo, menggapai helm yang menggelinding di jalanan menurun.


***


Apa yang dimaksud 'jadi kelihatan'? ketik Flo pada mesin percari di ponsel pintarnya.


"Flo, kartu perpustakaan lo." Arina masuk ke kamar Flo tanpa permisi, seperti biasa. "Dari Genta," tambahnya dengan menggoda. Ia meletakkan selembar kertas kuning kaku di atas meja belajar yang tertata rapi.


"Iya. Makasih," sahut Flo. Ia yang tengah rebah di pembaringan bernuansa serba pink itu ia asik dengan ponselnya. Membiarkan Arina mengobrak-abrik salah satu rak berisi DVD film.


"Lo udah mendingan?" tanya Arina.


"Udah."


Terus menerus Flo men-scroll laman yang menampilkan artikel related, satu pun tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diinginkannya. Sama sekali tak ada.


"Gue gak tahu lo dekat sama Genta," tutur Arina. "Sampai pinjam-pinjaman kartu perpustakaan." Ada nada mengejek dalam suaranya.


"Gak dekat," Flo membantah dari balik ponselnya. "Cuma pernah gak sengaja ketemu aja di perpus."


"Dekat juga gak pa-pa lagi. Genta itu baik."


Farrell juga baik, pikir Flo.


"Jomblo lagi."


"Apaan sih, Rin..." Flo melepaskan ponselnya. Menyerah akan pencarian yang sebetulnya kurang penting. Matanya ganti mendelik pada sang sahabat.


"Kenapa sih Flo...?"


Memilih satu DVD, Arina melangkah ke arah pintu. "Gue pinjam, ya?" Mengangkat benda ditangannya.


"Iya."


Dan Arina pergi begitu saja, tanpa menutup kembali pintu. Tapi saat Flo hendak beranjak untuk menutup pintu, Arina timbul kembali, menggugurkan niatnya.


"Flo, tadi Farrell minta nomor lo," beritahu Arina. "Terus gue kasih. Gak pa-pa, kan?"


"Buat apaan?"


Arina hanya mengangkat bahu. "Katanya supaya enak nanya jadwal jemput kakaknya dari akademi balet. Soalnya kakaknya baru putus, jadi Farrell yang terpaksa antar-jemput. Dan kadang kakaknya susah dihubungin. 'Gitulah pokoknya."


Ah, iya! Flo baru ingat jika Farrell adalah adik dari seniornya di akademi balet juga kakak kelas XII IPS 1 di sekolah. Farah.


Pantas tadi di jalan Farrell berkata seolah mereka pernah bertemu di luar sekolah sebelumnya, selain di depan rumah Arina. Akademi balet, itu tempatnya. Walau sangat jarang, Farrell pernah menjemput Kak Farah dan pasti disanalah Farrell pernah melihatnya... dengan rambut terurai.


"Ya udah gue balik dulu," pamit Arina. Lagi-lagi tak menutup pintu.


Ponsel Flo berdenting. Ia segera meraihnya. Melihat dua pesan baru diterima.


Genta Ghiffari: Gimana, Flo? Udah baikan?


Genta Ghiffari: Makasih ya kartu perpusnya.


***

__ADS_1


Buat yang penasaran sama Kak Varel, ini aku kasih foto gantengnya



__ADS_2